Sasaran Day itu satu kebiasaan yang sudah begitu mendarah daging sampai susah dilihat: menggambarkan kerajaan-kerajaan awal Asia Tenggara dengan kata-kata yang dibuat untuk negara Eropa.
Perbatasan, kedaulatan, wilayah, pemerintahan. Empat kata yang saya pakai hampir tiap hari tanpa pernah bertanya dari mana asalnya. Tiap satu membawa andaian tentang ruang berbatas dengan satu kekuasaan yang seragam di dalamnya, dan tidak satu pun andaian itu berlaku di sini. Yang berlaku lebih mirip cahaya lampu: paling terang di tengah, menipis makin ke luar, dan tidak ada satu garis pun yang menandai tempat cahayanya berhenti.
Judul bukunya sendiri datang dari tempat yang tidak diduga. Day mengambilnya dari mantra penahan peluru orang Dayak Meratus, yang direkam Anna Tsing:
"…A clotted drop. Closed with a key. Fluid iron."
Setetes yang membeku. Terkunci rapat. Besi cair.
Besi yang cair, kata Day, itu bentuk kuasa di kawasan ini: keras dan memaksa, sekaligus bisa berubah bentuk dan bisa dielakkan.
Utang budi sebagai bahannya
Yang paling kepakai dari Day, ia menjadikan utang, bukan tanah, sebagai satuan dasarnya.
Hubungan antara yang memerintah dan yang diperintah dibangun di atas cetakan yang sama dengan hubungan orang tua dan anak, tuan dan abdi, roh dan yang meminta. Di tiap pasangan itu satu pihak berutang selamanya, dan karena itu selamanya butuh dilindungi. Utang jenis ini memang tidak dirancang untuk bisa lunas.
Naskah Tagalog abad keenam belas tentang sepuluh perintah menyebut semua orang sebagai budak Tuhan yang cuma menumpang di bumi, dan akan diperlakukan sebagai anak kalau hormat. Negara Spanyol tinggal menyelipkan diri ke tempat yang sudah ada: perlindungan yang lebih besar sebagai ganti kepatuhan yang lebih besar.
Satu kalimat dari Vietnam abad keempat belas memperlihatkan mesinnya paling jelas. Lê Quát, ahli Konfusius yang jengkel melihat desa-desa lebih taat pada Buddha daripada pada ajarannya sendiri, menulis:
"When today they hand something over to a temple or pagoda, they are as happy as if they have received in return the guarantee that tomorrow they get their reward."
Hari ini mereka menyerahkan sesuatu ke kuil, dan wajahnya segembira orang yang baru saja menerima jaminan bahwa besok imbalannya turun.
Kita punya katanya sendiri, dan masih dipakai tiap hari. Utang budi. Tidak ada angkanya, tidak ada tanggal jatuh temponya, dan tidak ada cara melunasinya. Justru karena tidak bisa lunas, utang itu bisa dipakai memerintah orang seumur hidup. Yang menolong seseorang masuk kerja dua puluh tahun lalu masih punya hak yang tidak tertulis atas orang itu, dan semua yang ada di ruangan tahu.
Daftar tempat yang kita baca sebagai peta
Waktu kita membaca deretan nama tempat dalam naskah lama, kita otomatis membacanya sebagai peta, sebab begitulah arti daftar semacam itu buat kita sekarang. Kata Day, yang sebenarnya didaftar hubungan: siapa yang sudah mengakui, siapa yang mengirim upeti, siapa yang menerima seorang istri atau menyerahkan seorang anak. Bacaan itu saya pakai waktu menulis catatan The Grand Strategy of the Roman Empire, dan buku ini yang menerangkan kenapa.
Tapi Day tidak berhenti di situ, dan bagian keduanya jarang ikut dikutip orang. Di Jawa awal, tanah perdikan dibebaskan pajak dan pemungut cukainya dilarang masuk, dan semua urusan itu dituliskan di piagam logam dan daun lontar. Desawarnana sendiri, yang di sekolah kita disebut Nagarakretagama, menurut Day justru mencatat dengan rinci bagaimana kerajaannya menandai dan mengurus daerahnya. Jadi kertasnya sudah ada, dan tanahnya memang ditandai. Yang tidak ada cuma garis yang mengelilingi semuanya.
Lontar rampasan dari Lombok
Satu-satunya salinan lontar naskah itu yang diketahui waktu itu dirampas tentara Belanda ketika menaklukkan Lombok pada 1894. Naskahnya diterbitkan di Leiden antara 1905 dan 1914. Budi Utomo berdiri pada 1908. S. Supomo yang menjejerkan ketiganya:
"And what better model for this one Indonesia which was free and united than the great Majapahit, the real Majapahit which had just been brought back to life by the labour of great scholars like Brandes, Kern and Krom, and the expanse of which coincided with, or was even larger than, the Netherlands Indies?"
Model apa lagi yang lebih pas untuk satu Indonesia yang merdeka dan bersatu selain Majapahit yang besar, Majapahit yang sungguhan, yang baru saja dihidupkan kembali oleh kerja para ahli seperti Brandes, Kern, dan Krom, dan yang luasnya kebetulan sama dengan Hindia Belanda, malah lebih besar?
Bacaan yang keliru itu ternyata bacaan yang paling berguna. Daftar hubungan dibaca sebagai daftar wilayah, wilayahnya kebetulan sebesar jajahan yang mau direbut kembali, dan sejak itu peta di dinding kelas kita punya bentuknya. Georges Coedès mengenali Sriwijaya pada 1918, dan lewat pekerjaan seperti itu masa lalu prakolonial sampai ke kaum kebangsaan dalam bentuk yang sudah disaring lebih dulu. Bukunya saya bahas di The Indianized States of Southeast Asia.
Kalimat "wilayah kekuasaan Majapahit" yang dulu terdengar seperti keterangan geografi jadi terdengar lain sesudah kita tahu dari lontar mana keterangan itu diambil, dan siapa yang merampasnya.
Yang meneliti kita, dan untuk siapa penelitiannya
Laporan penyelidikan paling rinci tentang pemberontakan petani dan gerakan kebangsaan awal di Hindia Belanda tidak ditulis tentara. Ditulis ahli bahasa Arab dan ahli Jawa yang terlatih: Snouck Hurgronje, Hazeu, Schrieke.
Mengikuti Foucault, Day menolak menyebut itu kajian ilmiah yang kebetulan berguna buat kekuasaan. Kajiannya dan pemerintahannya satu pekerjaan yang sama.
Ia menyambungkannya dengan pengamatan Hendrik Maier: sepanjang abad kesembilan belas dan kedua puluh, bahasa dan pengetahuan yang bercampur dan tumpang tindih dirapikan jadi kotak-kotak resmi yang bersih, lalu diberi nama Jawa, Melayu, dan Belanda. Membuat sebuah tempat bisa dibaca dan membuatnya bisa diperintah itu satu pekerjaan, dan seluruh buku James Scott berdiri di atas gagasan yang sama, Seeing Like a State. Day menyebut Scott sendiri waktu membahas pengetahuan tukang yang tergeser pengetahuan baku.
Uraian watak bangsa yang dibuat untuk dipakai pihak yang berniat memerintah sudah saya bahas di The Chrysanthemum and the Sword. Bedanya, yang di sini bukan pesanan masa perang, tapi pekerjaan sehari-hari sebuah pemerintahan yang punya jenjang karier dan sekolahnya sendiri.
Bahasa yang rata dan bahasa yang bertingkat
Pada April 1841 ahli bahasa Taco Roorda berpidato di depan Raja Willem II, dan pidato itu ikut melahirkan sekolah calon pejabat kolonial di Delft. Isinya: hentikan pemakaian bahasa Melayu dalam urusan resmi dengan para bupati.
Bukan salah paham yang jadi alasan pokoknya. Dalam kutipan yang dipakai Day, alasan pokoknya ditulis begini:
"Most particularly, Malay was objectionable because it placed the person spoken to on the same footing as the speaker."
Yang paling utama, bahasa Melayu ditolak karena bahasa itu menempatkan lawan bicara sejajar dengan yang mengajaknya bicara.
Kutipan itu meneruskan: Melayu bahasa yang tidak menyatakan dan tidak memperhitungkan perbedaan pangkat dan lapisan, dan justru itu ciri yang paling menonjol pada bahasa Jawa. Maka pejabat Belanda yang menguasai bahasa Jawa dianjurkan bicara kepada lawan bicaranya dengan tingkatan yang rendah, memilih kata supaya keunggulannya terasa, sementara orang Jawanya wajib menjawab dengan tingkatan yang tinggi.
Berhenti sebentar di situ. Ada pemerintah asing yang memutuskan tidak memakai bahasa yang rata, lalu sengaja menyekolahkan pegawainya pada bahasa yang bertingkat, supaya tingkatnya bisa dipakai.
Yang tumbuh di lingkungan Jawa menjalankan sisa mesin itu tiap hari. Kata untuk diri sendiri dan kata untuk lawan bicara berganti sebelum isi kalimatnya sempat dipikirkan, dan rasa sungkan sudah menentukan sebelum urusannya dibicarakan. Tan Malaka menyebut tingkatan itu warisan yang harus dikikis habis, dan alasannya persis alasan Roorda dibalik: bahasa yang melemaskan lutut orang tidak akan melahirkan orang yang berani memeriksa. Catatan bukunya ada di Madilog.
Pendirian saya belum bulat di sini, dan itu terus terang saja. Tingkatan yang sama juga yang membuat orang tua dihormati tanpa perlu meminta, dan membuang seluruhnya berarti ikut membuang itu.
Teori yang berdiri di depan bahannya
Ini kumpulan esai yang memakai jas monografi. Bab-babnya memutari sekumpulan kepedulian, bukan membangun satu argumen, dan pembaca yang menunggu dalil pokoknya akan menunggu terus.
Bekal teorinya juga tebal. Foucault, Bourdieu, dan cukup banyak teori sastra berdiri di antara pembaca dan bahannya, dan tulisannya tidak selalu membayar kembali usaha itu.
Dan "cair" itu kiasan yang sanggup menyerap bukti apa pun. Penggolongan yang tidak pernah perlu menolak apa pun tidak banyak gunanya.
Yang menolong, Day tidak menutupi bahwa lapangan ini masih ribut. Ia berdiri di atas gagasan Clifford Geertz tentang negara pertunjukan, kerajaan yang kuasanya benar-benar dijalankan lewat upacara, bukan cuma dipamerkan lewat upacara. Lalu ia mencatat bantahan Geoffrey Robinson: Geertz mengabaikan kekacauan politik Bali yang sedang berlangsung persis waktu ia meneliti di sana pada akhir 1950-an, dan gambaran Bali yang rukun dan tidak berpolitik itu sendiri bikinan kolonial Belanda. Anthony Reid membantah dari arah lain, dengan menaruh upacara negara di bab hiburan.
Perdebatannya belum selesai, dan buku ini tidak menyelesaikannya. Yang dipastikan bukunya cuma satu: pembacanya tahu perdebatan itu ada.
Cerita yang paling menempel dari buku ini soal seorang dukun perempuan Meratus, Uma Adang.
Ia melawan negara Orde Baru yang sedang menandai dan menertibkan tanah orang, dan senjatanya sebuah Majapahit tak berwaktu yang menurutnya dulu datang ke Kalimantan, mengubah batu jadi besi, dan membawa kelonggaran beragama serta adat.
Lalu Anna Tsing mencatat hal lain. Dari semua dukun Meratus yang ia kenal, Uma Adang yang paling rajin menyusun aturan hidup bermasyarakat, denda untuk tiap pelanggaran yang mungkin terjadi, dan contoh baku untuk tiap upacara.
Yang melawan kantor akhirnya membikin kantornya sendiri, lengkap dengan daftar dendanya. Saya belum tahu apakah itu kekalahan, atau justru satu-satunya bentuk perlawanan yang sanggup bertahan.
Kawasan yang masih diurus dengan cara yang dibedah bukunya
Dalil pokok buku ini soal cara kuasa bekerja di kawasan ini: bukan lewat garis di peta dan bukan lewat kantor, tapi lewat ikatan antarorang, dan lewat upacara yang memperbarui ikatan itu.
Ada satu urusan yang berjalan sekarang dan bentuknya persis begitu.
Krisis Myanmar sudah masuk tahun kelima. Alat resmi ASEAN untuk mengurusnya sebuah kesepakatan lima butir, dan para pemimpinnya sendiri menyimpulkan pelaksanaannya tidak menunjukkan kemajuan berarti. Yang dikerjakan sesudahnya bukan mengganti alatnya. Yang dikerjakan menegaskan bahwa lima butir itu tetap jadi rujukan, membentuk kelompok tiga ketua yang lama, yang sekarang, dan yang berikutnya, dan tidak mengizinkan Myanmar memegang giliran ketuanya, yang lalu diserahkan ke Filipina.
Hukuman yang paling keras yang dijatuhkan ke sebuah negara anggota, sesudah lima tahun, mencabut gilirannya jadi tuan rumah.
Dibaca dengan buku ini, itu bukan kelemahan yang aneh. ASEAN tidak punya polisi, tidak punya pengadilan, dan tidak punya kas yang bisa ditahan. Yang ia punya kedudukan, giliran, dan tempat duduk di meja, dan itu memang alat kuasa yang dibedah Tony Day sepanjang bukunya.
Di dalam negeri hal serupa bisa dihitung. Kabinet yang dilantik 21 Oktober 2024 berisi 48 menteri dan 56 wakil menteri, jumlah wakil menteri terbanyak dalam satu kabinet di sini. Beberapa minggu sebelumnya, revisi undang-undang kementerian negara menghapus batas tiga puluh empat kementerian. Sesudah perombakan September 2025, menurut hitungan CNN Indonesia, empat belas menteri dan wakil menteri berlatar TNI dan Polri, sepuluh dari TNI dan empat dari Polri.
Undang-undang itu cuma membuka pintu, dan siapa yang masuk tidak diatur di sana. Kalau dihitung dari beban kerja, kursi sebanyak itu susah dijelaskan. Yang lebih masuk akal cara yang dibedah Day: kursi dibagikan untuk memperbarui ikatan.
Yang belum terjawab tetap yang paling praktis. Giliran dan kursi cuma mempan pada pihak yang masih peduli pada kedudukannya. Untuk junta yang sudah tidak peduli, tidak ada butir keenam yang bisa ditambahkan ke kesepakatan lima butir itu.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Lima bab, dan susunannya menurut pokok bahasan, bukan menurut waktu: cara meneliti negara di Asia Tenggara, ikatan antarorang, pandangan tentang alam semesta dan kekebalan, birokrasi dan upacara, lalu kekerasan dan keindahan. Ditutup satu bab kesimpulan.
Ini buku akademik, ditulis untuk sesama peneliti, dan itu terasa di tiap halaman. Bagian yang membahas teori sering lebih panjang daripada bagian yang membahas bahannya.
Judulnya diambil dari sebuah ungkapan tentang besi yang bisa mengalir, yang dipakai dalam mantra kekebalan. Judul itu juga dalilnya: kekuasaan di kawasan ini keras dan cair sekaligus, dan alat yang dibawa dari Eropa untuk mengukurnya selalu meleset karena mengandaikan batas yang tetap.
Bab 1: cara menelitinya
Bab pembuka yang membongkar cara-cara yang selama ini dipakai orang untuk membicarakan negara di kawasan ini. Bagian ini yang paling penting sekaligus paling berat, karena isinya perdebatan dengan puluhan peneliti sebelumnya.
Bawa satu hal saja dari bab ini: hampir semua alat yang dipakai untuk memahami kawasan ini disusun di tempat lain, untuk keperluan lain, dan sering untuk keperluan yang memerintah.
Bab 2: ikatan antarorang
Bab yang paling terpakai. Isinya bagaimana kekuasaan di kawasan ini berdiri di atas ikatan antarorang. Yang menentukan bukan seberapa luas tanah yang dikuasai, tapi berapa banyak orang yang terikat, dan bahan pengikatnya sebagian besar utang budi.
Sekali dimengerti, banyak hal jadi masuk akal: kenapa peperangan zaman itu sering ditujukan untuk merebut orang bukan tanah, dan kenapa peta yang kita gambar sekarang untuk kerajaan-kerajaan lama itu menyesatkan.
Bab 3: alam semesta dan kekebalan
Bab tentang pandangan tentang tatanan alam semesta, dan tentang kekebalan sebagai tanda bahwa seseorang memang berhak berkuasa. Di situ juga dibahas naskah-naskah dan bagaimana sebagian di antaranya sampai ke perpustakaan Eropa, termasuk yang diambil sebagai rampasan perang.
Bab 4 dan 5: kantor dan kekerasan
Bab 4 tentang birokrasi, dan dalilnya bahwa mengurus lewat kertas dan mengurus lewat upacara itu dua bentuk dari kegiatan yang sama, bukan dua hal yang berlawanan. Bab 5 tentang kekerasan dan keindahan, dan bagaimana keduanya sering muncul bersamaan dalam pertunjukan kekuasaan.
Yang jadi jantungnya
- Bab 2. Kalau harus memilih satu bab saja, ambil yang ini, karena gagasan bahwa kekuasaan berdiri di atas orang bukan di atas wilayah menerangkan hampir seluruh sejarah kawasan ini.
- Bagian di bab 1 tentang siapa yang menyusun alat penelitiannya dan untuk siapa.
- Bab 4, untuk gagasan bahwa kantor dan upacara itu dua wajah dari hal yang sama.
Yang boleh dilewat
- Sebagian besar bagian yang berdebat dengan peneliti lain, yang porsinya sangat besar dan yang sulit diikuti tanpa mengenal perdebatannya.
- Bab 5 kalau waktunya sempit; isinya paling longgar sambungannya dengan bab lain.
- Daftar pustaka dan catatan, kecuali kalau memang sedang meneliti.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Buku ini menuduh peneliti lain membawa alat dari luar dan memaksakannya ke bahan kawasan ini, lalu melakukan hal yang mirip dengan alat yang berbeda: teorinya sering berdiri di depan bahannya, dan bahannya dipanggil untuk membenarkan teorinya.
Bahan yang dipakainya juga sebagian besar naskah istana dan catatan orang yang dekat dengan kekuasaan. Itu menerangkan cara penguasa memandang dirinya sendiri dengan sangat baik, dan jauh lebih sedikit tentang bagaimana orang di bawahnya memandangnya.
Kalau buru-buru
Bab 1 bagian yang membahas siapa menyusun alatnya, lalu bab 2 utuh. Dua potong, dan yang terbawa pulang sudah lumayan: kesadaran bahwa hampir semua alat untuk memahami kawasan ini disusun di tempat lain, dan gagasan bahwa yang dikuasai penguasa di sini orangnya, bukan tanahnya.