Alatnya netral. Yang menentukan siapa yang memegangnya, dan apakah ia masih mau mendengar.

Hutan Prusia abad kedelapan belas ditanami satu jenis pohon saja, berbaris lurus, berjarak seragam. Tujuannya supaya kayunya bisa dihitung. Dilihat dari atas indah sekali, dan di atas kertas rapi.

Dalam dua sampai tiga keturunan pohon, hasil kayunya turun dua puluh sampai tiga puluh persen. Hama datang, tanahnya habis, dan seluruh rantai kehidupan yang dulu menopang hutan itu sudah lebih dulu dibersihkan karena tidak masuk hitungan. Orang Jerman sampai membuat kata baru untuk itu: Waldsterben, kematian hutan.

James C. Scott memakai satu buku tebal untuk menunjukkan pola yang sama terjadi pada manusia. Dan ia meringkas seluruh isinya sendiri dalam satu kalimat:

"...the progenitors of such plans regarded themselves as far smarter and farseeing than they really were and, at the same time, regarded their subjects as far more stupid and incompetent than they really were."

Orang yang menyusun rencana semacam itu menganggap dirinya jauh lebih pintar dan jauh lebih jauh pandangannya daripada yang sebenarnya. Dan pada saat yang sama menganggap orang yang diaturnya jauh lebih bodoh dan jauh lebih tidak becus daripada yang sebenarnya.

Keterbacaan

Kata yang ia pakai legibility, keterbacaan. Kemampuan negara membaca warganya: berapa orangnya, tinggal di mana, tanahnya berapa, namanya siapa.

Kemampuan itu tidak datang sendiri. Ia dibuat, dan membuatnya berarti menyederhanakan. Nama keluarga yang tetap, satuan ukur yang seragam, petak tanah yang bersudut siku, jalan yang lurus. Yang tidak muat ke dalam bentuk itu bukan cuma tidak tercatat. Lama-lama ia dianggap tidak ada.

Keyakinan bahwa masyarakat bisa disusun ulang dari nol dengan ilmu dan perencanaan itu ia sebut high modernism. Dan pengusungnya tidak selalu diktator. Bisa kepala dinas. Bisa konsultan yang datang membawa delapan puluh halaman salindia. Bisa juga orang di rapat yang mengusulkan sistem baru padahal sehari pun belum pernah turun ke lapangan.

Berhasil menurut ukuran siapa

Bagian paling tajam bukunya bukan cerita rencana yang gagal, tapi rencana yang gagal di satu ukuran dan berhasil di ukuran lain.

Soal skema perkebunan karet dan sawit bentukan pemerintah Malaysia, Scott menulis biayanya jauh melewati apa yang mau dikeluarkan pengusaha waras mana pun. Lalu kalimat berikutnya: secara politik dan secara administrasi, keuntungan skema besar yang dirancang dan dijalankan dari pusat itu banyak sekali.

Pola yang sama ia tunjukkan pada kolektivisasi Soviet dan ujamaa di Tanzania, program yang memindahkan jutaan petani ke desa bentukan negara. Panen anjlok dan orangnya sengsara. Tapi kemandirian warga patah, kendali terkumpul di pusat, dan penduduk yang tadinya terlalu berserak untuk diatur jadi gampang diawasi.

Jadi pertanyaannya bukan berhasil atau gagal. Pertanyaannya berhasil menurut ukuran siapa, dan siapa yang tidak pernah ditanya waktu ukurannya disusun.

Tanzania sembilan puluh sembilan kali, gambut nol

Nama tempat di buku ini kalau dihitung: Tanzania sembilan puluh sembilan kali, Vietnam lima belas. Kalimantan muncul sekali di badan tulisannya, itu pun soal orang Meratus di perbukitan yang sejauh ini lolos dari jangkauan negara. Kata gambut tidak muncul sama sekali.

Wajar saja, bahan yang ia punya memang dari sana. Tapi contoh paling murni dari tesisnya justru ada di pulau yang cuma ia singgung sekali, di dataran yang tidak ia sebut.

Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar berangkat dari Keputusan Presiden Nomor 82 Tahun 1995, dan pekerjaannya jalan mulai Januari 1996. Sejuta hektar rawa gambut hendak diubah jadi sawah, dan caranya dikeringkan lewat kanal lurus sepanjang ratusan kilometer. Tanpa kajian kelayakan yang memadai, tanpa analisis dampak lingkungan.

Daftar Scott terpenuhi satu per satu. Petak lurus di peta, ukuran seragam, satu jenis tanaman. Dan yang paling menentukan: tanah diperlakukan seolah semua tanah sama.

Begitu dikeringkan, gambut berhenti jadi spons dan berubah jadi bahan bakar. Kanalnya membuang air waktu kemarau lalu tidak sanggup menahannya waktu hujan, persis kebalikan dari yang dibutuhkan di kedua musim.

Sawahnya tidak pernah jadi. Dari 15.594 keluarga yang dipindahkan ke sana, kira-kira separuhnya pergi. Kebakaran hutan dan gambut pada 1997 melepaskan karbon dalam hitungan miliaran ton, dan asapnya sampai ke negara tetangga. Sebagian dari kita yang waktu itu masih SD ingat beritanya di televisi.

Proyeknya dinyatakan gagal lewat Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 1998, tiga tahun sesudah dimulai, dan yang menyatakannya negara sendiri.

Tapi kanalnya tidak ikut dibatalkan. Galiannya masih di sana, dan tiap kemarau gambutnya masih kering.

Itu bagian yang paling Scott dari seluruh cerita ini. Rencananya bisa dicabut lewat satu keputusan presiden. Yang sudah dirobohkannya tidak bisa.

Orang Dayak di situ sudah lama tahu gambut itu tempat air disimpan, bukan tempat padi ditanam. Tidak ada satu pun dari yang mereka tahu masuk ke dokumen perencanaannya, sebab pengetahuan seperti itu memang tidak punya bentuk yang bisa dilampirkan.

Kota yang sudah berdiri sebelum keputusannya diteken

Contoh gambut tadi sudah selesai, dan sudah dinyatakan gagal oleh negara sendiri. Yang belum selesai ada di pulau yang sama.

Ibu Kota Nusantara dipasang lewat undang-undang pada 2022, dan sampai sekarang keputusan presiden yang benar-benar memindahkan ibu kotanya belum terbit. Statusnya sebagai ibu kota politik dipatok mulai 2028. Anggarannya tahun ini 6,26 triliun rupiah, sesudah usulan tambahan 14,92 triliun ditolak Badan Anggaran DPR, dan yang sedang dikerjakan gedung DPR, MPR, DPD, Mahkamah Agung, dan Mahkamah Konstitusi. Seluruhnya ditaksir 466 triliun sampai 2045, dengan 1,9 juta penduduk di ujungnya.

Yang sudah benar-benar pindah ke sana sekitar dua ribu pegawai negeri. Sasaran yang diteken presiden untuk sampai 2029 antara 1.700 dan 4.100 orang.

Dua deret angka itu enak dijejerkan. Yang satu kota untuk hampir dua juta orang. Yang satu lagi jumlah orang yang benar-benar ada di sana, dan belum sampai jumlah karyawan satu pabrik sedang.

Scott punya bab khusus untuk kota yang digambar sebelum penduduknya ada, dan yang ia bedah Brasilia. Bentuknya sama betul: kotanya sudah rapi di peta, dan orang yang mesti tinggal di dalamnya menyusul belakangan sebagai angka sasaran.

Rem yang tadi dipasang berlaku juga di sini. Jakarta memang turun tiap tahun, memang sudah terlalu penuh, dan memindahkan pusat pemerintahan tidak dengan sendirinya kesombongan. Yang membuat ini berbentuk Scott urutannya: gedungnya berdiri lebih dulu, keputusan yang memindahkan ibu kotanya belum diteken, dan orang yang harus mengisinya masih dipetakan ulang tiap tahun.

Kalimat yang saya pakai untuk gambut tadi berlaku di sini juga, cuma arahnya belum ketahuan. Yang sudah dibangun tidak bisa dibatalkan lewat satu keputusan presiden, dan keputusan presiden itu sendiri belum ada.

Pengetahuan yang tidak bisa dilampirkan

Scott menamainya dengan kata Yunani, mētis, dan memberinya satu bab sendiri. Pengetahuan yang cuma bisa datang dari mengerjakan sesuatu berulang-ulang, sampai tahu betul kapan aturan harus dituruti dan kapan boleh dilanggar sedikit.

Petani tahu kapan tanahnya perlu diistirahatkan. Nelayan membaca cuaca dari warna langit, bukan dari aplikasi. Pedagang kaki lima hafal jalur barang yang tidak tercatat di peta mana pun.

Rencana resmi hampir tidak pernah jalan tanpa itu. Orang di lapangan terus mengakali diam-diam supaya sistem yang kaku tidak ambruk. Akal-akalan itu tidak tercatat, tidak dihargai, dan sewaktu-waktu bisa dianggap pelanggaran.

Saya pernah jadi orangnya

Bagian yang paling tidak enak dibaca justru bukan yang soal negara.

Saya pernah menyusun rencana yang di atas kertas rapi, lalu meleset begitu turun ke lapangan. Bukan karena ada yang menyabotase. Yang meleset justru bagian yang tidak pernah masuk ke dokumennya, sebab waktu menyusun saya tidak tahu bagian itu ada.

Kalimat Scott tadi kena persis di situ, dan bukan di paruh yang pertama. Tidak ada yang merasa dirinya lebih pintar waktu sedang menyusun rencana. Yang kena paruh keduanya: menganggap orang yang diatur lebih tidak becus daripada yang sebenarnya. Itu tidak pernah diucapkan siapa pun. Ia cuma kelihatan dari daftar orang yang tidak ditanya sebelum rencananya jadi.

Keluhan yang menyebut nomor berkasnya

Bentuknya sekarang lain, dan pertanyaannya jadi lebih praktis. Tiap minggu ada keluhan masuk atas sesuatu yang saya rancang sendiri lalu dipakai orang tiap hari di kantor. Jumlahnya banyak, dan sebagian besarnya terdengar seperti orang yang sekadar tidak suka.

Kalau mētis benar, sebagian dari keluhan itu justru barang paling berharga yang bisa diterima orang yang membuat alatnya, dan bentuknya memang selalu jelek. Orang yang tahu bahwa berkas jenis tertentu selalu datang terlambat di tanggal tertentu tidak akan menyampaikannya sebagai kajian. Ia menyampaikannya sebagai gerutuan di ujung rapat.

Cara memisahkannya ternyata cukup satu pertanyaan: keluhan ini menyebut kejadian atau menyebut sifat. Keluhan yang menyebut satu berkas, satu tanggal, satu nasabah, hampir selalu ada isinya, dan isinya persis bagian yang tidak muat ke dalam rancangan. Keluhan yang menyebut sifat, ribet, belum matang, kurang praktis, hampir tidak pernah ada isinya, dan memaksa orangnya menjelaskan biasanya cuma menghasilkan sifat yang lain.

Pertanyaan itu tidak menyelesaikan apa-apa sendirian. Harganya juga jarang disebut: keluhan yang paling berisi hampir selalu yang paling tidak sedap didengar, sebab yang sanggup menyebut nomor berkasnya orang yang sedang repot gara-gara berkas itu.

Yang tidak terdaftar tidak ada

Sepanjang Januari sampai Juli 2026, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 43.805 orang kena pemutusan hubungan kerja. Angka itu ditarik dari peserta jaminan kehilangan pekerjaan, dan batas itu disebutkan kementeriannya sendiri.

Rincian per bulannya janggal kalau diurutkan. Mei 8.197 orang, Juni 6.114, lalu Juli 552. Susah dipercaya pemutusan kerja tiba-tiba berhenti pada bulan Juli. Yang lebih masuk akal, pendaftaran untuk bulan terakhir belum masuk waktu laporannya disusun.

Asosiasi pengusaha menarik angka dari daftar lain, peserta BPJS Ketenagakerjaan yang berhenti aktif karena diberhentikan, dan hasilnya 126.000 orang untuk Januari sampai Mei saja. Untuk lima bulan yang sama, rincian kementerian tadi berjumlah 37.139.

Scott tidak akan membaca selisih itu sebagai upaya menutupi. Dua-duanya daftar negara, dan negara memang cuma melihat lewat daftarnya. Angka kementerian ditarik dari yang paling sempit, daftar yang dibuat untuk membayarkan santunan, bukan untuk menghitung orang yang kehilangan pekerjaan. Buruh harian, kontrak yang tidak diperpanjang, dan orang yang disuruh mengundurkan diri sendiri tidak lewat pintu itu.

Soalnya, angka yang keluar dari daftar itu dipakai lagi untuk memutuskan apakah keadaannya sudah gawat atau belum.

Kesimpulannya tidak saya ikuti

Bukunya bergerak satu arah, dan sesudah beberapa bab arahnya sudah bisa ditebak. Tiap kali negara mendata dan merapikan, hasilnya bencana.

Scott sendiri sebenarnya berhati-hati. Ia menyatakan terang-terangan bahwa keberatannya bukan pembelaan atas pasar yang dibiarkan lepas, dan bahwa kesimpulan yang sama berlaku juga untuk kekacauan yang dibuat perusahaan besar. Tapi susunan bukunya tetap menumpuk bencana dan melewati yang selamat.

Padahal keterbacaan yang sama juga yang membuat sebagian hal paling berharga jadi mungkin. Imunisasi menuntut negara tahu jumlah anaknya, umurnya, dan tempat tinggalnya. Menangani kelaparan menuntut negara tahu panen mana yang gagal sebelum orangnya mati. Sertifikat tanah, betapa pun berantakan urusannya di sini, melindungi petani kecil dari orang yang datang membawa surat lebih rapi.

Jadi buat saya alatnya sendiri netral. Mendata tidak salah dengan sendirinya, dan menolak mendata bukan kearifan. Yang menentukan siapa yang memegang hasil pendataan itu, dan apakah ia masih mau mendengar sesudah angkanya keluar.

Bahayanya juga datang dari arah sebaliknya. Kalau tiap rencana dari pusat dianggap kesombongan, maka tiap penolakan terhadap perubahan bisa dibungkus jadi kearifan lokal, termasuk yang isinya cuma mempertahankan siapa yang selama ini diuntungkan di kampung itu.

Sekarang negara dan perusahaan bisa membaca kita jauh lebih dalam daripada sensus mana pun. Titik lokasi, pola belanja, riwayat pencarian, siapa saja teman kita. Keterbacaan bukan lagi proyek yang butuh pendataan bertahun-tahun. Sekarang ia terjadi sendiri, terus-menerus, dan kita yang menyerahkannya.

Scott menulis buku ini sebelum ada ponsel pintar, dan justru sekarang isinya makin kena.

Kalau alatnya memang netral, maka seluruh pertanyaannya pindah ke satu hal: siapa yang sekarang memegangnya, dan kapan terakhir kali ia bertanya kepada kita.

Infografis

Infografis Seeing Like a State bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya