Ada yang janggal dari cara kita merayakan keteraturan.

Kita senang ketika data lengkap, peta akurat, sistem administrasi rapi. Kita percaya bahwa semakin banyak yang "terbaca" oleh pemerintah, semakin baik pelayanannya. Tapi James C. Scott punya argumen yang cukup mengganggu: kemampuan negara untuk *membaca* warganya dengan presisi tinggi bukan selalu tanda kemajuan. Kadang, itu adalah prasyarat bencana.

Buku ini dimulai dari hutan — bukan metafora, tapi hutan Prusia abad ke-18 yang nyata. Demi efisiensi produksi kayu, negara menanam satu jenis pohon dalam barisan geometris yang lurus sempurna. Indah dari atas. Rapih secara administratif. Dan dalam beberapa generasi, seluruh hutan itu mati — diserang hama, kehabisan nutrisi, kehilangan ekosistem karena keanekaragamannya telah dihapus. Mereka menyebut fenomena ini *Waldsterben*: kematian hutan. Scott menyebutnya sebagai contoh sempurna tentang apa yang terjadi ketika seseorang begitu terobsesi pada tatanan yang *terlihat* masuk akal, sampai ia menghancurkan tatanan yang sesungguhnya *bekerja*.

Yang membuatku berhenti sejenak: ini bukan tentang niat jahat. Orang-orang yang merancang hutan itu bukan monster. Mereka hanya sangat yakin bahwa mereka tahu cara yang lebih baik.

---

Scott menyebut keyakinan ini *high modernism* — kepercayaan berlebihan pada sains, teknologi, dan perencanaan rasional untuk mendesain ulang masyarakat dari nol. Dan ia punya cara yang agak kejam untuk mendeskripsikan para pengusungnya: *"The progenitors of such plans regarded themselves as far smarter and farseeing than they really were and, at the same time, regarded their subjects as far more stupid and incompetent than they really were."*

Kalimat itu menghantam keras karena kita semua pernah bertemu orang seperti ini. Bukan diktator. Mungkin kepala dinas. Mungkin konsultan dengan slide PowerPoint 80 halaman. Mungkin seseorang di rapat yang mengusulkan "sistem baru" tanpa pernah sehari pun bekerja di lapangan.

High modernism bukan ideologi eksklusif rezim otoriter. Ia hidup subur di kantor-kantor perencanaan kota, di agensi pembangunan internasional, di startup yang percaya bahwa algoritma bisa menggantikan intuisi pedagang pasar yang sudah berdagang 20 tahun.

---

Tapi paradoks terbesar dalam buku ini bukan soal perencanaan yang gagal. Ini soal yang berhasil — dengan cara yang salah.

Kolektivisasi Soviet dan program *ujamaa* di Tanzania secara ekonomi adalah bencana. Panen anjlok, petani menderita, ekologi rusak. Tapi Scott menunjukkan sesuatu yang ironis: kedua program itu justru berhasil secara *politik*. Mereka berhasil mematahkan kemandirian warga, memusatkan kontrol, dan memudahkan pengawasan negara atas populasi yang sebelumnya terlalu "liar" untuk diatur.

Jadi ukuran keberhasilan sebuah kebijakan itu milik siapa?

Pertanyaan itu relevan setiap kali kita membaca laporan pemerintah yang penuh grafik menanjak. Berhasil menurut indikator siapa? Siapa yang mendefinisikan "kemajuan"? Dan siapa yang tidak pernah ditanya?

---

Ada konsep yang paling susah kulepaskan setelah menutup buku ini: *mētis*. Kata Yunani untuk pengetahuan praktis yang lahir dari pengalaman — bukan dari buku, bukan dari teori, tapi dari tangan yang sudah berkali-kali melakukan sesuatu sampai tahu betul kapan aturan harus diikuti dan kapan harus ditekuk.

Petani tahu kapan tanahnya butuh istirahat. Nelayan tahu cuaca dari warna langit, bukan dari aplikasi. Pedagang kaki lima tahu jalur distribusi informal yang tidak ada di peta manapun. Pengetahuan ini tidak bisa diaudit, tidak bisa di-*scale*, tidak bisa dimasukkan ke dalam spreadsheet. Dan karena itulah ia selalu diabaikan oleh perencana besar.

Yang tragis: rencana formal hampir tidak pernah benar-benar jalan tanpa *mētis*. Para pekerja di lapangan selalu melakukan improvisasi diam-diam agar sistem yang kaku itu tidak ambruk. Tapi improvisi itu tidak tercatat, tidak dihargai, dan sewaktu-waktu bisa dikriminalisasi.

---

Kita hidup di era di mana negara dan korporasi punya kemampuan "membaca" yang belum pernah ada sebelumnya — data lokasi, pola belanja, riwayat browsing, jaringan sosial. Legibilitas bukan lagi proyek abad ke-18 yang butuh bertahun-tahun sensus. Ia terjadi secara real-time, otomatis, tanpa kita sadari.

Scott menulis buku ini sebelum smartphone ada. Tapi tesisnya terasa lebih relevan sekarang dari sebelumnya.

Ironi terakhir yang susah dibuang: sistem yang paling efisien untuk mengontrol populasi bukan yang dipaksakan dari luar. Tapi yang kita bangun sendiri, dengan sukarela, karena kita pikir itu memudahkan hidup.

Hutan yang kita tanam sendiri, berbaris lurus sempurna. Indah sekali dari atas.

Infografis

Infografis Seeing Like a State bahasa Indonesia

Rekomendasi Bacaan Selanjutnya