Tuntutan supaya sebuah bangsa berhenti percaya tanpa bukti, ditulis dari ingatan, dalam persembunyian, tanpa satu pun bukti yang bisa diambil.

Tan Malaka menulis Madilog di Rawajati, dekat pabrik sepatu Kalibata di Cililitan, dari 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943. Waktunya ia hitung sendiri: kurang lebih delapan bulan, berhenti lima belas hari, semuanya sekitar tujuh ratus dua puluh jam, kira-kira tiga jam sehari.

Ia tidak punya perpustakaan. Ia menulis dari ingatan, dengan nama palsu, sementara Jepang mencarinya dan Belanda sebelum Jepang juga mencarinya.

Polisi Jepang dua kali datang menggeledah pondoknya. Naskahnya selamat karena hurufnya terlalu kecil dan ditaruh di tempat yang tidak menarik perhatian siapa pun.

"Pena merayap di atas kertas dekat Cililitan, di bawah sayapnya pesawat Jepang yang setiap hari mendengungkan kecerobohannya di atas pondok saya."

Judulnya singkatan dari tiga hal yang ia ingin tanamkan ke kepala orang Indonesia: materialisme, dialektika, logika. Singkatan itu sudah saya hafal jauh sebelum isinya, dan buku yang terlanjur jadi lambang memang biasanya begitu.

Musuhnya diberi nama

Musuh itu ia namai logika mistika.

Kebiasaan menerangkan kejadian lewat kehendak yang tidak kelihatan, bukan lewat sebab yang bisa ditelusuri. Panen gagal karena ada yang tersinggung. Anak sakit karena ada tempat yang terganggu. Rencana berantakan karena harinya salah.

Ia tidak sedang bilang orang Indonesia bodoh. Yang ia bilang, bangsa yang menerangkan dunia dengan cara begitu tidak bisa membangun apa pun, sebab tidak ada yang bisa diuji, dan siapa yang menguasai tafsir atas hal yang tidak kelihatan menguasai semua orang.

Ia menulis ini untuk negeri yang belum ada, tentang kemerdekaan yang belum datang. Dalilnya: merdeka secara politik tanpa perubahan cara berpikir ini cuma akan jadi kulit.

Dibuka dengan foto koran, bukan dengan filsafat

Halaman pertamanya bukan filsafat. Halaman pertamanya sebuah foto di koran.

Senin, 13 Juli 1942. Sukarno dan Hatta berjabatan tangan di depan umum, di bawah naungan Jepang, dengan keterangan foto soal bekerja bersama-sama guna masyarakat.

Tan Malaka mencari di koran-koran itu tulisan salah satu dari keduanya tentang bagaimana bentuk negara Indonesia merdeka nanti. Hasil pencariannya ia tulis begitu saja: "dengan hampa tangan saya cari". Kesimpulannya kering dan keras, dua pemimpin itu sudah mulai menjalankan cita-citanya "di bawah ujung pedang Samurai".

Tiga tahun kemudian dua orang yang ia tulis jadi presiden dan wakil presiden.

Nujum yang gagal, dan nama yang tetap laku

Tan Malaka menyalin tabel ramalan Joyoboyo lengkap dengan tahun Jawa dan tahun Masehinya, lalu membubuhi tiap barisnya sendiri. Di baris 1933: ini nujum gagal. Di baris 1945: nujum ini pun meleset. Sesudah tabelnya habis ia menutup:

"Semua nujumnya sampai tahun 1942 gagal, meleset sama sekali. Tenungan Pak Belalang belaka. Dari jempol mana Jayabaya isap lagi kejadian tahun 1947 dan 2027?"

Lalu ia mengerjakan sesuatu yang tidak banyak dikerjakan orang zaman itu: contohnya diambil dari dua arah. Jutaan orang Kristen yang percaya kerajaan seribu tahun akan datang sesudah perang besar, dan lupa bahwa perang 1914 sampai 1918 sudah membatalkan hitungan itu. Lalu ingatan masa kecilnya sendiri di Tanjung Ampalu dekat Sawahlunto, dua kali ikut sembahyang luar biasa di masjid karena ada pohon pisang berjantung dua dan orang mengira dunia akan kiamat.

"Begini kerasnya 'pengharapan' dan begitu lemahnya mata, telinga dan peringatan manusia pada bukti yang sudah terjadi, yang menentang 'pengharapan' tadi."

Ramalan yang sudah terbukti meleset tetap sanggup membangunkan orang lewat tengah malam. Perang Jawa berdiri di atas mesin yang sama, dan yang menyalakannya juga harapan yang sudah menunggu orangnya, seperti yang ditelusuri Peter Carey di Kuasa Ramalan.

Satu hal layak ditaruh di sebelah tabelnya. Baris 1945 yang ia tandai meleset itu ia tandai pada 1943. Dua tahun kemudian orang Eropa memang datang lagi dan mencoba mendirikan pemerintahan. Bukan berarti Joyoboyo benar; ramalannya terlalu longgar untuk bisa salah. Tapi kelonggaran itu berlaku dua arah, dan yang menyatakan gagal pun bisa kepagian.

Kata-katanya sendiri

Karena bukunya berbahasa Indonesia, kata-katanya bisa dibahas langsung, dan itu keuntungan yang tidak dimiliki buku terjemahan.

Ia menulis "tiada", bukan "tidak ada". "Ialah", bukan "adalah". "Lebih kurang" ia singkat jadi "l.k" di tengah kalimat. Pembacanya ia sapa "tuan", dan disapa langsung: janganlah tuan pembaca marah, periksalah, pakailah pikiran yang jernih.

Nadanya nada orang yang sedang mengajar di depan kelas, sabar tapi tidak sabaran.

Bahasa Indonesia pada 1942 belum jadi bahasa yang dipakai menulis filsafat. Sebagian dari yang ia kerjakan di buku ini justru membuktikan bahwa bahasa ini sanggup, dan pembuktiannya dilakukan tanpa satu pun kamus di meja.

Takaran yang tidak ia pakai untuk dirinya sendiri

Kalimat paling keras di pembukanya ditujukan kepada dua pemimpin yang bergerak di bawah naungan pendudukan Jepang.

Tidak lama sesudah naskahnya selesai, penulis kalimat itu mengambil pekerjaan di tambang batu bara Bayah, lalu jadi pengurus makanan, kesehatan, pemulangan, dan urusan sakit-mati ribuan romusha, lewat kantor urusan prajurit pekerja bikinan pendudukan yang sama.

Ia tidak menyembunyikannya. Ia sendiri yang menuliskannya di kata pengantar, dan justru itu sisi bukunya yang paling patut dihormati: pilihannya diakui sendiri, tanpa dibungkus alasan yang lebih mulia. Yang tetap berdiri: ukuran yang ia pakai untuk Sukarno dan Hatta tidak pernah ia arahkan ke dirinya sendiri, di halaman mana pun.

Kebocoran kedua ada di bagian tengah yang panjang, waktu ia menarik akar cara berpikir orang Indonesia ke warisan filsafat Hindu dan Buddha. Itu polemik, bukan kajian.

Ia menggambarkan susunan kasta yang pecah sampai kira-kira tiga ribu golongan yang tidak boleh bercampur dan tidak boleh saling menikahi. Ia mencatat golongan Brahmana mengaku turunan bangsa Aria, bangsa yang waktu itu sedang digembar-gemborkan Hitler. Dan ia berargumen bahwa filsafat yang memandang dunia sebagai tempat menumpang sementara tidak akan melahirkan orang yang tertarik memperbaikinya.

Ada isinya. Ada juga banyak yang keliru, dan memampatkan dua tradisi sebesar itu jadi satu keterangan tunggal tentang keterbelakangan, dibaca sekarang, susah ditelan.

Yang lebih memberatkan itu bentuk buktinya. Ia menulis 99 dari 100 calon surga dari kasta Brahmana hidup dengan membungakan uang, lalu menambahkan "seperti kasta Sayid di Indonesia ini juga". Angka itu tidak datang dari mana pun, dan yang menuliskannya orang yang baru saja menuntut pembacanya menolak apa pun yang tidak bisa diperiksa.

Bab-bab sainsnya bermasalah dari arah sebaliknya. Itu fisika dan biologi tahun 1943, diingat tanpa rujukan, oleh orang yang memang tidak bisa memeriksa apa-apa. Kelemahan yang itu datang dari keadaan. Yang di atas tadi datang dari pilihan.

Kenapa istilahnya belum juga mati

Logika mistika biasanya dibayangkan sebagai dukun dan sesajen, dan kalau cuma itu, bukunya sudah lewat zaman.

Bentuk yang lebih tahan lama justru yang tidak kelihatan seperti mistik sama sekali.

Harga naik, dan penjelasan pertama yang muncul bukan soal panen, ongkos angkut, atau kurs, tapi soal ada pihak yang bermain. Kebijakan gagal, dan yang dicari siapa yang menyusupi, bukan rancangannya yang keliru. Bencana datang, dan yang ramai dibicarakan siapa yang murka, bukan tata ruangnya.

Susunannya sama persis dengan yang dibedah Tan Malaka. Kejadian diterangkan lewat kehendak yang tidak kelihatan, bukan lewat sebab yang bisa dilacak. Yang berganti cuma pakaiannya: dulu roh, sekarang pihak. Akibatnya juga sama. Kalau sebabnya kehendak tersembunyi, tidak ada yang bisa diuji, tidak ada yang bisa diperbaiki, dan yang paling untung tetap orang yang paling pandai menebak siapa dalangnya.

Di satu hal saya tidak sejalan dengannya. Tan Malaka membaca kebiasaan ini sebagai cacat di kepala bangsanya, yang obatnya mengajar orang berpikir lurus. Menurut saya letaknya bukan di kepala, tapi di ongkos. Memeriksa sesuatu sampai ke sumbernya butuh waktu, bahan, dan tenaga, dan tiga-tiganya barang mahal buat orang yang harinya sudah habis untuk hal lain. Orang memakai keterangan yang paling murah didapat, dan itu bukan kebodohan, itu hitungan. Jadi pertanyaannya bukan kenapa orang tidak memeriksa, tapi kenapa hampir tidak ada yang dibayar untuk memeriksa.

Soal kenapa gagasan tentang yang gaib begitu awet di kepala manusia, Pascal Boyer menerangkannya dengan cara yang sama sekali berbeda dan sama menariknya di Religion Explained. Dan mantra kekebalan yang buat Tan Malaka jelas contoh logika mistika, buat Tony Day justru jadi bahan kajian tentang pengetahuan yang melawan negara. Dua vonis atas benda yang sama, dan catatan bukunya ada di Fluid Iron.

Bukunya ditutup dengan sebuah impian: penulisnya berjalan-jalan di Indonesia masa depan yang sudah maju, lengkap dengan taman, patung, dan tugu.

Salah satu tugunya bertuliskan huruf baja: TUGU PERINGATAN MANUSIA NAJIS. Di sisi-sisinya tertulis nama para pengkhianat negara dan penjual rakyat.

Perhatikan kata yang ia pilih. Manusia najis justru sebutan yang ia kutuk habis-habisan tiga ratus halaman sebelumnya, waktu membedah kasta Paria. Sebutan yang sama sekarang ia pasang di tugunya sendiri, dengan daftar nama di bawahnya. Sebagian besar sisinya masih kosong.

"Rupanya pemerintah Republik menunggu pelamar najis yang baru."

Enam tahun sesudah kalimat itu ditulis, tentara Republik menembak mati Tan Malaka di Kediri, dan letak kuburnya masih diperdebatkan sampai hari ini.

Ironi yang lain menempel di tiap halaman dan tidak pernah ia sebut. Sebuah buku yang menuntut pembacanya tidak menerima apa pun tanpa bukti, ditulis sepenuhnya dari ingatan, tanpa satu pun bukti yang bisa diambil, oleh orang yang bahkan tidak boleh membubuhkan namanya sendiri di sampulnya.

Itu tidak membatalkan dalilnya. Buat saya itu cuma menunjukkan berapa ongkosnya, dan ongkos segitu jarang saya lihat dibayar orang untuk sebuah buku.

Bukunya diletakkan di atas kuburnya

Februari 2026, di peringatan tujuh puluh tujuh tahun kematiannya, sebuah salinan Madilog ditaruh orang di makamnya di Selopanggung, Kediri.

Susunan kejadian di sekitar makam itu perlu disebut lengkap supaya kelihatan bentuknya. Tan Malaka diangkat jadi pahlawan nasional lewat keputusan presiden pada 1963, empat belas tahun sesudah ia ditembak mati oleh tentara Republik yang sama. Letak kuburnya baru ditemukan pada 2007, dan yang menemukannya seorang peneliti Belanda yang menghabiskan puluhan tahun mengurus riwayat hidupnya.

Bukunya sendiri menuntut satu hal: jangan menerima apa pun karena orangnya besar, karena ceritanya enak, atau karena sudah lama dipercaya orang. Periksa dulu.

Meletakkan sebuah buku di atas kubur orang yang menulisnya persis bukan itu. Itu ziarah, dan ziarah jalan lewat mesin yang dibedah bukunya di bab-bab awal: benda yang diperlakukan lain karena ada riwayat yang menempel padanya.

Saya tidak sedang menyalahkan yang meletakkannya. Saya juga tidak yakin Tan Malaka akan menyalahkannya. Yang enak dicatat cuma bahwa orang yang menghabiskan hidupnya melawan cara berpikir seperti itu akhirnya jadi tempat cara berpikir itu dijalankan, dan tidak ada seorang pun yang berniat jahat di sepanjang urutan tadi.

Baca berikutnya