Waktu Masada dikepung, seluruh tentara Roma berjumlah dua puluh sembilan legiun untuk menjaga kekaisaran dari Britania sampai Suriah. Satu legiun penuh dikirim ke sebuah gunung di gurun Yudea, tempat beberapa ratus orang bertahan di puncaknya. Gunung itu tidak punya nilai perang dan tidak punya nilai dagang, dan perangnya sendiri sudah selesai.
Roma tidak menunggu air mereka habis, padahal ada mata air di Ein Gedi tidak jauh dari situ dan menunggu itu cara paling murah. Roma juga tidak menyerbu, padahal dengan beberapa ribu orang menekan dari segala arah, pertahanan di atas sana tidak akan lama. Yang dikerjakan pekerjaan tanah, dan menurut hitungan Luttwak berlangsung tiga tahun: menumpuk tanjakan raksasa sampai setinggi puncak gunungnya. Sesudah itu Josephus dipasang di Roma dan menulis riwayat pengepungannya dalam bahasa Yunani, bahasa yang dipakai orang di provinsi timur.
Luttwak membuka bukunya dengan adegan itu. Saya membacanya bukan sebagai riwayat niat orang Roma, tapi sebagai pembukuan: berapa ongkos tiap cara menjaga tepi kekuasaan, dan siapa yang membayarnya.
Kurs yang berganti tiap kali susunannya diganti
Ada tiga zaman di bukunya, dan tiap zaman punya cara sendiri menukar tenaga jadi keamanan.
Zaman Julio-Claudian bertumpu pada raja-raja bawahan. Legiunnya sedikit, dan penguasa setempat yang mengurus wilayahnya masing-masing. Yang menahan orang bukan tentara yang hadir, tapi kepercayaan semua pihak bahwa Roma bisa datang kalau perlu. Sebagian besar kekuatannya belum terpakai, dan justru belum terpakainya itu yang jadi kekuatannya.
Zaman Antonine menggantinya dengan perbatasan yang benar-benar dijaga: tembok, benteng, jalan, pasukan yang berdiri di garisnya. Semua orang di dalam jadi aman betulan, dan cadangannya habis. Tiap legiun sekarang punya tempat yang harus dia tunggui.
Susunan abad ketiga memasang pertahanan berlapis. Pasukan perbatasan menahan dan memperlambat, pasukan gerak cepat datang menghadapi yang tembus. Cara ini manjur, dan harganya menerima kenyataan bahwa daerah dekat perbatasan akan jadi tempat berperang.
Yang bergerak di antara ketiganya bukan jumlah tentaranya. Yang bergerak kursnya: berapa keamanan yang bisa dibeli dengan satu legiun, dan siapa yang kebagian.
Cacat yang dibetulkan, dan keleluasaan yang ikut hilang
Kalimat paling kepakai dari buku ini ada di halaman 23.
"Above all, the Romans clearly realized that the dominant dimension of power was not physical but psychological—the product of others' perceptions of Roman strength rather than the use of that strength."
Di atas segalanya, orang Roma paham betul bahwa sisi kekuasaan yang paling menentukan bukan sisi jasmaninya tapi sisi kejiwaannya: hasil dari cara orang lain menaksir kekuatan Roma, bukan dari pemakaian kekuatan itu.
Di halaman 262 Luttwak menaruhnya sebagai hitungan dagang. Tenaga itu yang dimasukkan, kuasa itu yang keluar, dan yang efisien memasukkan sesedikit mungkin untuk keluaran sebanyak mungkin. Pasukan yang berdiri di satu titik menukar tenaga jadi keamanan dengan kurs tetap, dan cuma bisa ada di satu tempat. Nama besar menjaga semua tempat sekaligus, ongkosnya hampir nol, dan habis seketika begitu diuji dan ternyata kosong.
Contohnya yang paling telanjang ada di halaman 50. Perbatasan timur di Anatolia dianggap punya cacat, lalu cacat itu dibetulkan: dibikin sektor pertahanan baru berikut jalan-jalan pendukungnya, menggantikan perbatasan yang tadinya tidak kelihatan dan dijaga orang lain tanpa ongkos langsung buat Roma. Cacatnya memang hilang. Bersamanya hilang juga kekuatan Roma yang masih bisa dipindah-pindahkan, dan hilangnya untuk selamanya.
Bentuk yang sama jalan di jalan raya kita. Kamera tilang elektronik menahan orang bukan karena semuanya menyala, tapi karena pengendara tidak tahu yang mana yang menyala, dan pos polisi yang kosong pun masih bikin kaki turun dari gas. Begitu daftar kamera yang mati beredar di grup, tiap titik itu harus diisi petugas sungguhan, dan petugasnya cuma bisa berdiri di satu tempat.
Paul Kennedy menamai gejala yang sama dengan cara lain di The Rise and Fall of the Great Powers: kewajiban ketentaraan yang tumbuh lebih cepat daripada lantai ekonominya. Bedanya alat ukurnya. Kennedy menghitung bagian dari hasil bumi sebuah negara. Luttwak menghitung legiun yang tidak bisa lagi dipindahkan.
Dua kalimatnya yang tidak bisa berdiri bersama
Ahli sejarah Romawi menghantam buku ini keras, dan yang mereka hantam cara kerjanya, bukan rinciannya.
Roma tidak punya peta dalam arti yang bisa dipakai, tidak punya markas besar perencana, tidak punya arsip rencana, dan tidak punya satu pun lembaga yang tugasnya berpikir setingkat itu. Benjamin Isaac dalam The Limits of Empire dan Susan Mattern dalam Rome and the Enemy berargumen bahwa keputusan Roma di perbatasan lebih ditentukan oleh kebutuhan kaisar akan kehormatan, oleh kesempatan yang kebetulan lewat, dan oleh apa yang sedang dikerjakan legiun yang ada. Kalau begitu, "siasat besar" cuma istilah abad kedua puluh yang dimasukkan ke bukti yang tidak sanggup menanggungnya.
Di kata pengantar edisi 2016 Luttwak merangkum tuduhan itu dengan getir. Para pengkritiknya memarahinya karena menyimpulkan adanya siasat menyeluruh yang tidak mungkin pernah ada, sebab orang Roma dianggap tidak sanggup berpikir sejauh itu. Jawabannya dua. Kelakuan bisa tersusun rapi tanpa ada dokumen yang menyatakannya. Dan soal peta gampang dijawab: orang Roma memang cuma punya daftar rute, tapi mereka rutin mengukur wilayah dengan alat ukur untuk keperluan pajak, dan itu tidak dibantah siapa pun.
Pendirian saya berdiri di antara keduanya, dan tidak memihak salah satu.
Kesalahan menilai yang paling sering saya buat sendiri itu mengira orang lebih terencana daripada aslinya. Begitu kuasa dijadikan kacamata, siasat kelihatan di mana-mana, padahal banyak hal cuma reaksi sesaat, kelalaian, dan kebetulan yang menumpuk rapi. Jadi sebelum menuduh rancangan, periksa dulu apakah kelalaian sudah cukup menerangkan. Ujinya satu: adakah sesuatu yang tidak bisa diterangkan tanpa mengandaikan ada yang merancang.
Untuk sebagian besar bukunya, tidak ada. Dan Luttwak menuliskannya sendiri di halaman 208, waktu menerangkan pergeseran ke pertahanan berlapis. Tidak dibutuhkan markas besar berisi perwira terlatih dan peta yang memang tidak pernah ada untuk menghitung semuanya lalu mencocokkan perubahan di lapangan dengan perubahan siasat menyeluruh, sebab penyesuaian itu terjadi karena memang harus terjadi.
Lalu di halaman 25, soal Masada, kalimatnya berbunyi sebaliknya. Dugaan bahwa pengepungan itu perang urat saraf yang dihitung, katanya, memang cuma dugaan. Tapi keterangan yang satunya tidak masuk akal, sebab kekerasan kepala yang buta akan bertentangan dengan semua yang kita tahu tentang orang-orangnya, terutama Vespasianus.
Dua kalimat itu ada di buku yang sama. Yang satu bilang polanya bisa muncul tanpa perencana. Yang satu lagi bilang keterangan tanpa perencana tidak masuk akal.
Untuk Masada, menurut saya dia yang benar. Beberapa ratus orang di puncak gunung yang tidak berharga, satu legiun dari dua puluh sembilan, tiga tahun, tanjakan raksasa, lalu riwayatnya diterbitkan dalam bahasa yang dibaca provinsi yang mau ditakuti. Kelalaian tidak menerangkan rangkaian itu. Untuk tiga susunan besarnya, kelalaian sudah cukup.
Kuman yang cuma dapat kolom keterangan
Ada satu hal lagi yang bergerak persis di titik pergantian susunannya, dan itu bukan siasat.
Wabah disebut lima kali di buku ini, dan tiap kali sebagai keadaan yang memperberat. Pasukan yang pulang dari timur pada 165 membawa wabah yang mematikan, dan dua legiun baru dibentuk di tengah krisis keuangan yang berat serta kekurangan orang yang makin parah karena wabah tadi.
Kyle Harper menaruh wabah yang sama di tengah meja. Di The Fate of Rome ia menghitung Wabah Antoninus, yang paling ringan di antara tiga wabah besar Roma, tetap menghabisi kira-kira tujuh juta orang, dan puncak jumlah penduduk kekaisaran itu jatuh persis sebelum wabahnya datang.
Kekaisaran yang kehilangan orang sebanyak itu punya lebih sedikit tubuh untuk berdiri di garis perbatasan, ada doktrin atau tidak. Jadi ada dua keterangan untuk satu kejadian. Yang satu bilang cadangannya habis karena susunannya diganti. Yang satu lagi bilang susunannya diganti karena orangnya habis.
Buku ini tidak pernah mengadu dua keterangan itu.
Ujian yang sama, dibawa ke sini
Soal yang digambarkan Luttwak itu soal semua kekuasaan yang tepinya jauh lebih panjang daripada tenaganya, dan itu keadaan tetap kita sejak dulu.
Sriwijaya menguasai lalu lintas Selat Malaka dan Selat Sunda berabad-abad tanpa menaruh pasukan di sepanjang pantainya. Yang mereka kerjakan membuat penguasa setempat bergantung: keabsahan seorang raja datang dari pengakuan mereka, dan kapal dagang diarahkan supaya singgah di pelabuhan mereka. Jangkauan Majapahit jalan dengan cara yang mirip, dan daftar panjang di Nagarakretagama mencatat siapa yang mengakui, bukan siapa yang diduduki. Tidak satu pun dari keduanya membangun garis benteng seperti Roma di zaman Antonine, sebab dua-duanya memang tidak sanggup.
Itu susunan pertama Luttwak, ditemukan sendiri di belahan bumi lain. Dan pertanyaan para pengkritiknya jadi lebih tajam kalau dibawa ke sini, sebab tidak ada satu pun prasasti yang menerangkan siasat. Yang ada catatan pemberian, laporan pedagang Cina, dan sumpah.
Yang paling dekat ke dokumen niat justru sumpahnya. Prasasti Telaga Batu berisi kutukan yang ditujukan bukan kepada orang banyak, tapi kepada putra raja, panglima, juru tulis, dan pengurus pajak. Yang ditakuti penulisnya bukan rakyat yang membangkang, tapi orang dalam yang berpindah pihak.
Ongkos menjaga selat sepanjang itu memang bukan ongkos tentara. Ongkosnya menjaga kesetiaan orang yang mengurusnya, dan seseorang di Palembang sudah menghitungnya cukup teliti sampai perlu memahatnya di batu.
Yang sedang dipilih di sini lebih dekat ke susunan kedua Luttwak. Tanah di utara Jakarta turun tiga sampai empat sentimeter setahun, di Muara Baru sekitar sepuluh. Jawabannya tanggul laut raksasa: 535 kilometer sepanjang pantai utara Jawa dari Banten sampai Jawa Timur, taksiran 1.300 triliun rupiah, dan menurut presiden sendiri pada Agustus 2026 harus dimulai meski selesainya lima belas sampai dua puluh tahun. Bagian Jakarta 19 kilometer, dan peletakan batu pertamanya direncanakan September 2026, meski per Agustus tanggalnya belum pasti.
Tembok itu mirip zaman Antonine di satu hal: begitu berdiri, garisnya harus ditunggui terus, dan tidak ada legiun yang boleh pergi dari situ. Bedanya, tanah yang dijaganya turun terutama karena air tanahnya disedot, dan penyebab itu tidak tertahan tembok setinggi apa pun.
Dibaca sebagai riwayat niat orang Roma, buku ini banyak dibantah dan dalam bentuknya yang keras kemungkinan besar salah.
Dibaca sebagai daftar ongkos, sampai sekarang belum ada yang lebih jernih, dan ongkos itu tidak ikut berhenti berlaku waktu Roma jatuh.
Yang belum beres buat saya justru bagian tengahnya. Kalau polanya nyata dan perencananya belum tentu ada, siapa sebenarnya yang sedang kita nilai waktu kita menyebut sebuah kekuasaan pandai bersiasat. Roma tidak meninggalkan satu pun berkas yang bisa dimintai keterangan. Sriwijaya cuma meninggalkan kutukan.
Angka yang diteken di Den Haag
Yang dibedah Luttwak sebenarnya satu perkara: berapa mahal menjaga perbatasan yang panjang, dan susunan mana yang paling murah untuk hasil yang sama.
Perkara itu diputuskan lagi pada 24 dan 25 Juni 2025, di Den Haag, dan kali ini angkanya diteken.
Tiga puluh dua anggota NATO, kecuali satu yang dapat pengecualian, sepakat menaikkan belanja pertahanan dan keamanan jadi lima persen dari produk domestik bruto pada 2035. Sebelumnya patokannya dua persen, dan itu sudah berlaku sejak 2014. Angka lima persen itu dipecah dua: sekurangnya 3,5 persen untuk kebutuhan pertahanan pokok, dan sampai 1,5 persen untuk melindungi prasarana penting, jaringan, kesiapan warga, dan industri pertahanannya sendiri.
Pemecahan itu yang paling Luttwak dari seluruh kesepakatannya.
Bukunya membedakan susunan yang menaruh pasukan di garis depan dari susunan yang menaruh sedikit di depan dan menyimpan cadangan yang bisa digerakkan. Yang kedua lebih murah selama musuhnya percaya cadangannya benar-benar akan datang. Pos 1,5 persen itu bukan pasukan dan bukan senjata. Itu ongkos supaya bagian belakangnya tidak roboh duluan, dan ongkos macam itu tidak muncul di daftar kekuatan mana pun.
Yang tidak berubah dari zaman Roma tetap hitungan yang paling sederhana. Perbatasan yang panjang selalu bisa dijaga, asal ada yang membayar, dan yang membayar tidak pernah orang yang tinggal di garisnya.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Tiga bab besar, dan tiap bab satu susunan pertahanan yang dipakai Roma pada satu zaman. Bab satu zaman Augustus sampai Nero, bab dua zaman Vespasianus sampai Marcus Aurelius, bab tiga zaman sesudah krisis besar abad ketiga. Ditambah pengantar dan satu bab penutup.
Tiap bab memakai susunan yang sama persis: gambaran umumnya, cara pasukannya diatur, cara perbatasannya dijaga, lalu kesimpulan. Karena bentuknya seragam, ketiga bab itu bisa dibandingkan langsung, dan memang itu maksudnya.
Bukunya terbit 1976 dan ditulis orang yang pekerjaannya menasihati soal pertahanan zaman Perang Dingin. Itu terasa, dan sebaiknya disadari sejak awal.
Bab 1: negara boneka dan pasukan yang bergerak
Susunan pertama, dan yang paling murah. Roma hampir tidak menjaga garis perbatasan sama sekali. Yang dipakai deretan kerajaan kecil di sekelilingnya yang dibiarkan berdiri asal patuh, ditambah pasukan yang sedikit tapi bisa dikirim ke mana saja. Yang menahan lawan bukan tembok, tapi bayangan bahwa pasukan Roma bisa datang.
Bab ini yang paling menarik, karena di situ Luttwak menerangkan bagaimana sebuah kekuasaan bisa menahan banyak sekali orang dengan kekuatan yang sebenarnya kecil, selama semua orang percaya kekuatan itu ada.
Bab 2: perbatasan yang digambar dan dijaga
Susunan kedua. Kerajaan-kerajaan kecil itu diambil alih satu per satu jadi wilayah langsung, dan gantinya garis perbatasan yang benar-benar dijaga, lengkap dengan tembok dan benteng. Kelihatannya lebih rapi dan lebih kuat.
Kesimpulan Luttwak, yang justru hilang di situ keleluasaannya. Pasukan yang tadinya bisa dikirim ke mana saja sekarang terpasang di tempatnya masing-masing, jadi tiap kali ada serangan di satu titik, tidak ada lagi cadangan yang bisa dipanggil tanpa mengosongkan titik lain.
Bab 3: pertahanan berlapis
Susunan ketiga, lahir dari krisis abad ketiga. Perbatasan dibiarkan bisa ditembus, dan lawannya baru dihadapi setelah masuk, oleh pasukan bergerak yang ditaruh di belakang. Secara militer masuk akal, dan ongkosnya ditanggung penduduk yang tinggal di daerah yang sengaja dibiarkan jadi medan.
Yang jadi jantungnya
- Bab 1, karena di situ ada gagasan yang paling terpakai di luar urusan Roma: kekuatan yang dipercaya orang bisa menghemat kekuatan yang sebenarnya harus dikerahkan.
- Kesimpulan bab 2, untuk pertukaran antara kerapian dan keleluasaan. Cacat yang dibetulkan sering menghabiskan kelonggaran yang dulu tidak disadari ada.
- Bab penutupnya, tempat Luttwak menimbang seluruh perbandingannya.
Yang boleh dilewat
- Bagian yang merinci susunan pasukan, jumlah legiun, dan penempatannya per wilayah. Panjang, dan tidak menyangga dalilnya.
- Sebagian besar bab 3 kalau waktunya sempit; dalilnya sudah selesai di bagian pembukanya.
- Pengantar edisi baru, kecuali kalau ingin tahu bantahan apa saja yang diterimanya selama empat puluh tahun.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Ini bagian yang paling penting dari peta ini. Judul bukunya menyebut rencana besar, dan seluruh isinya menerangkan seolah ada meja tempat rencana itu disusun. Padahal Roma tidak punya kementerian pertahanan, tidak punya peta yang bisa dipakai merencanakan, dan tidak punya satu pun dokumen rencana yang tersisa.
Yang benar-benar ditunjukkan bukunya, Roma berkelakuan seolah punya rencana. Itu bisa lahir dari rencana, bisa juga lahir dari puluhan keputusan sesaat yang lama-lama menghasilkan pola. Luttwak sendiri kadang mengakui itu, lalu meneruskan seperti tidak pernah mengakuinya.
Satu lagi yang perlu dicatat: keruntuhan Roma diterangkan hampir seluruhnya lewat susunan pertahanan, sementara wabah besar yang menghantam penduduknya cuma dapat keterangan sepintas.
Kalau buru-buru
Pengantar, bab 1, dan kesimpulan bab 2. Tiga potong, dan yang tersisa cukup: kekuatan yang dipercaya orang bekerja lebih murah daripada kekuatan yang harus dikerahkan, membetulkan cacat sebuah susunan bisa menghabiskan keleluasaan yang dulu jadi kekuatannya, dan berkelakuan seolah punya rencana bukan bukti bahwa rencananya pernah ada.