Kitab sirah yang paling tua tidak pernah sampai ke tangan kita. Yang ditulis Ibnu Ishaq, wafat sekitar tahun 767 Masehi, kira-kira satu setengah abad sesudah peristiwanya, sudah lama lenyap. Yang beredar sampai sekarang susunan Ibnu Hisyam, enam puluh tahun lebih kemudian.
Dan Ibnu Hisyam tidak menyusunnya diam-diam. Di halaman pembuka ia menyebutkan sendiri apa yang ia buang dari naskah gurunya. Hal yang tidak pernah dikatakan Rasulullah, yang tidak ada ayat Alquran turun tentangnya, dan yang tidak ada penguatnya.
"Saya meninggalkan syair-syair yang dia sebutkan yang tidak pernah -menurutku- ada dari kalangan orang-orang berilmu yang mengetahuinya dan sebagian lainnya berisikan prasangka buruk pada sebagian manusia."
Potongan kitab ini sudah saya dengar sejak TPA, lalu bertahun-tahun sesudahnya di pengajian Maulid. Nama Ibnu Hisyam tidak pernah ikut disebut, apalagi daftar guntingannya.
Jatah pasukan berkuda tiga, pejalan kaki satu
Saya membacanya sebagai buku catatan, dan itu bukan penurunan derajat. Catatan yang rapi lebih susah dibantah daripada cerita yang bagus.
Yang dibayangkan orang dari ringkasan sirah biasanya jalan ceritanya: kelahiran, kenabian, tekanan di Makkah, hijrah. Isi kitabnya jauh lebih rinci dan jauh lebih kering daripada itu.
Silsilah ditarik mundur sampai Ismail. Makkah sebelum kenabian, marganya, sumur-sumurnya, siapa menggali yang mana. Lalu bagian maghazi, riwayat peperangannya, yang memakan porsi terbesar: tiap ekspedisi disebut satu per satu, lengkap dengan daftar peserta, jumlah yang gugur di kedua pihak, dan hitungan pembagian harta.
Sesudah Bani Quraizhah, pembagiannya dicatat sampai ke pecahannya. Pasukan berkuda dapat tiga jatah, dua untuk kudanya dan satu untuk penunggangnya; pejalan kaki dapat satu (hal 573). Di tempat lain Nabi berdiri di samping seekor unta, mengangkat sehelai bulunya yang paling halus, lalu menyuruh pasukannya mengembalikan benang dan jarum yang terlanjur diambil sebelum harta rampasan dibagi (hal 690).
Benang dan jarum. Kitab yang dibaca berabad-abad di surau menyempatkan diri mencatat benang dan jarum.
Bacanya memang berat, dan penerjemah edisi Indonesianya mengakui itu di kata pengantar:
"Banyak kesulitan yang kami hadapi dalam menerjemahkan buku ini, terutama tatkala menerjemahkan syair-syair klasik yang rumit, membosankan dan menjemukan."
Rantai yang dicetak di badan tulisan
Kalimat yang paling sering berulang di sini bukan kalimat kejadian, tapi penyebutan sumber. "Ibnu Ishaq berkata" lewat seribu dua ratus kali. "Ibnu Hisyam berkata" lewat enam ratus.
Rantainya tidak berhenti di dua nama itu. Satu contoh dari tengah kitab, tepat sebelum kisah Ar-Raji': telah menuturkan kepada kami Abdul Malik bin Hisyam, dari Ziyad bin Abdullah al-Bakka'i, dari Muhammad bin Ishaq, dari Ashim bin Umar bin Qatadah (hal 550). Empat nama berjejer sebelum satu kalimat kejadian keluar.
Dan waktu dua riwayat bertabrakan, tidak ada yang dimenangkan. Dua belas kali kitab ini berhenti pada Wallahu a'lam, tujuh di antaranya persis dalam bentuk mana yang paling benar. Perpindahan kiblat disebut di dua tempat dengan bulan yang berlainan, Rajab di satu halaman dan Sya'ban di halaman lain (hal 350 dan 407). Dua-duanya dibiarkan berdiri.
Sebelum kiblat pindah ke Makkah, arah salat menghadap Baitul Maqdis. Kota itu punya ceritanya sendiri dari sisi yang lain, dan catatannya ada di Jerusalem.
Penyusunnya ikut masuk timbangan
Tradisi ini punya alat untuk menimbang rantai tadi, dan cara paling telak membuktikannya bukan dengan memuji alatnya. Cukup lihat siapa yang pernah kena.
Pengantar edisi ini memuat penilaian ulama terhadap Ibnu Ishaq sendiri, penyusun kitab yang sedang dipegang pembacanya. Malik bin Anas dan Hisyam bin Urwah mengeluarkannya dari daftar orang yang riwayatnya bisa dipakai, dengan alasan yang dicatat apa adanya: menurut mereka ia berdusta. Ada juga yang menuduhnya menipu dan mengambil riwayat dari orang yang tidak tepercaya (hal 23).
Perkaranya dengan Hisyam bin Urwah bahkan ketahuan sebabnya. Ibnu Ishaq mengaku meriwayatkan dari istri Hisyam. Bagi Hisyam, periwayatan cuma sah kalau kedua orangnya bertemu muka, jadi pengakuan itu sama saja dengan menuduh istrinya bertatap muka dengan lelaki lain (hal 23). Yang dipersoalkan bukan isi riwayatnya, melainkan apakah pertemuannya mungkin terjadi.
Cabang yang mengurus perkara semacam itu punya namanya sendiri, ilmu rijal, dan begitulah bentuknya waktu dipakai. Itu kebanggaan yang layak disebut tanpa sungkan. Pertanyaan siapa yang memberitahumu dan siapa yang memberitahunya sudah disusun jadi ilmu di dalam tradisi ini, berabad-abad sebelum sejarawan Eropa menjadikan pemeriksaan sumber sebagai bidang tersendiri.
Perhatikan juga siapa yang menyimpan tuduhan itu. Bukan pembongkar dari luar, tapi penerbit kitabnya sendiri, di halaman pembuka, sebelum pembacanya sampai ke silsilah.
Pertanyaan yang sama sekarang hampir tidak pernah kita ajukan lagi. Satu kiriman masuk ke grup keluarga, entah sudah diteruskan berapa kali, dan yang ditanya paling jauh masuk akal atau tidak isinya. Siapa yang pertama menulisnya, dan apakah dia ada di tempat kejadian, tidak jadi urusan siapa-siapa. Memeriksa memang mahal. Kitab berumur seribu dua ratus tahun ini menaruh jawabannya di depan hampir tiap paragraf.
Yang hilang begitu tangan manusianya dihapus
Sirah diajarkan di hampir semua pesantren dan madrasah, dan sebagian besar dari kita mengenalnya sejak kecil. Yang sampai ceritanya. Yang jarang ikut sampai riwayat naskahnya.
Pendirian saya soal itu sederhana.
Mengetahui riwayat naskahnya tidak melemahkan apa pun. Yang melemahkan justru menyajikannya seolah turun utuh tanpa tangan manusia, sebab dengan begitu perkakas pemeriksa yang dipunyai tradisi ini jadi tidak kelihatan sama sekali. Pembaca yang tidak pernah diberi tahu ada penyunting, ada guntingan, dan ada perawi yang ditolak dari dalam, suatu hari akan menemukannya dari sumber yang niatnya memang membongkar. Pada saat itu semuanya terasa seperti rahasia yang ketahuan, padahal tidak ada yang dirahasiakan. Semuanya tercetak, di kitabnya sendiri, di halaman paling depan.
Batas alatnya juga perlu disebut, dan itu pun sudah disebut dari dalam. Rantai perawi menimbang jalannya keterangan, bukan kejadiannya. Rantai yang bersih memberi tahu bahwa sebuah berita memang berjalan lewat orang yang bisa dipegang. Rantai yang bersih tidak bisa memberi tahu apa yang terjadi di Badar pada suatu pagi. Jarak satu setengah abad itu nyata, dan perdebatan tentang apa yang boleh disimpulkan darinya sudah panjang sekali. Salah satu pesertanya ada di In the Shadow of the Sword.
Holloway menulis bahwa sebuah kitab berubah jadi jembatan yang menyambungkan yang kekal dengan yang berwaktu, dan karena itulah kitab semacam itu dipandang dengan takzim (A Little History of Religion). Sirah bukan kitab suci dan tidak pernah diakui begitu oleh penyusunnya. Yang terjadi di ruang kelas kita satu tingkat lebih halus. Bukan disembah, cuma diperlakukan sebagai bahan yang tidak punya asal-usul.
Guntingan yang masih bisa dilacak
Sebagian guntingan Ibnu Hisyam bisa ditemukan kembali, karena ath-Thabari menyimpan bahan dari Ibnu Ishaq yang tidak dimuat Ibnu Hisyam. Membandingkan keduanya kegiatan ilmiah yang sungguhan, dan hasilnya ada.
Sebagian lagi bahkan tidak perlu dicari ke luar, sebab diumumkan di tempatnya. Di tengah kisah Uhud, Ibnu Hisyam menyela untuk memberi tahu bahwa ada dua bait syair yang sengaja tidak ia cantumkan karena terlalu vulgar (hal 513). Di bagian Perang Al-Fijar ia menyebut uraiannya sebenarnya lebih panjang, dan ia potong karena khawatir mengurangi porsi sirah Nabi (hal 122). Sesekali sebuah syair ia tolak terang-terangan, dan kalimatnya cuma satu, syair yang dibikin-bikin.
Jadi penghimpun yang setia pun memperlakukan sebagian sumbernya sebagai barang yang tidak bisa dipegang, dan mengatakannya di halaman yang sama.
Rantainya juga belum berhenti. Edisi yang beredar di sini dikerjakan penerjemah yang, waktu mentok pada syair-syairnya, mengaku terbantu oleh terjemahan Inggris A. Guillaume (hal 10). Ibnu Ishaq, al-Bakka'i, Ibnu Hisyam, berabad-abad penyalin, seorang penerjemah Inggris, penerjemah Indonesia, lalu kita. Tiap sambungannya punya nama, dan tiap nama bisa dicari.
Keterangan tanpa satu nama pun di belakangnya
November 2025, di musyawarah nasionalnya, MUI membahas panduan pemakaian kecerdasan buatan untuk urusan agama. Kesimpulannya alat itu tidak bisa dijadikan rujukan hukum agama. Alasan yang disebut: mesin tidak punya kesadaran, dan kesadaran itu syarat untuk berfatwa. Sesudahnya mereka mencanangkan apa yang mereka sebut jihad digital, mengingatkan orang supaya tidak belajar agama dari mesin tanpa guru, dan membuka kemungkinan fatwa khusus untuk menghadapi konten keagamaan palsu.
Keberatan mereka masuk akal. Buat saya justru keberatan yang tidak dipakai yang lebih enak dibaca, padahal umurnya sudah lebih dari seribu tahun dan sudah tercetak di badan tulisan buku ini.
Tiap keterangan di kitab ini membawa rantai namanya. Siapa mendengar dari siapa, sampai ke siapa. Rantai itu yang membuat sebuah keterangan bisa diperiksa, dan yang membuat orang bisa berselisih tentang mutunya tanpa berselisih tentang isinya.
Keluaran mesin tidak punya satu pun sambungan seperti itu. Kalimatnya berdiri sendiri, rapi, dan tidak menyebutkan siapa pun. Bukan karena rantainya disembunyikan. Memang tidak pernah ada.
Jadi soalnya bukan mesin tidak punya kesadaran. Manusia yang menyalin di abad kesembilan pun tidak dinilai dari kesadarannya; ia dinilai dari apakah namanya bisa dicari, dan apakah orang yang mengenalnya menganggapnya bisa dipegang.
Tidak enaknya, keadaan itu sudah lama datang duluan tanpa mesin. Ceramah potongan tiga puluh detik yang beredar di beranda juga sudah lama tidak membawa nama siapa pun.
Ibnu Hisyam menutup daftar guntingannya dengan satu janji: yang bisa memberi manfaat tetap akan ia sampaikan (hal 20). Ukuran manfaat itu miliknya sendiri, dan ia tidak menerangkannya lebih jauh.
Anak yang duduk di TPA sekarang akan mendengar cerita yang sama dengan yang saya dengar dulu, dan kemungkinan besar tetap tanpa nama penyuntingnya. Saya belum menemukan cara menyebutkan hal itu di ruangan seperti itu tanpa terdengar sedang membongkar sesuatu. Padahal yang mau disebut justru yang paling layak dibanggakan.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Kitab paling tebal berbahasa Indonesia di rak ini, dan bentuknya perlu diterangkan lebih dulu karena tidak seperti buku sejarah biasa.
Naskah aslinya tidak ditulis Ibnu Hisyam. Kitabnya susunan ulang atas karya Ibnu Ishaq yang hidup satu keturunan sebelumnya, dan naskah Ibnu Ishaq sendiri tidak sampai ke kita secara utuh. Jadi yang kita baca sebenarnya kitab yang sudah lewat dua tangan, dan Ibnu Hisyam menyebutkan sendiri di pembukanya bagian apa saja yang ia buang.
Isinya juga bukan cerita mengalir. Tiap peristiwa dibuka dengan rangkaian nama orang yang mengabarkannya, dan rangkaian itu dicetak di badan tulisan, bukan disembunyikan di catatan kaki. Bagi pembaca yang tidak terbiasa, deretan nama itu terasa mengganggu; padahal justru di situ letak alat pemeriksanya.
Susunannya urut menurut waktu: sebelum kelahiran, masa Mekah, hijrah, masa Madinah berikut peperangannya, lalu penutupnya.
Bagian sebelum Mekah
Silsilah panjang, keadaan Arab sebelum Islam, dan kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Bagian yang paling padat nama dan paling banyak dilewat pembaca, meski di dalamnya ada bahan yang menarik tentang keadaan jazirah sebelum semuanya dimulai.
Bagian Mekah
Kelahiran, masa muda, permulaan wahyu, dan tahun-tahun sesudahnya sampai hijrah. Bagian ini yang paling banyak dibaca orang dan paling banyak dikutip di ceramah.
Bagian Madinah
Bagian terpanjang, dan sebagian besarnya berisi peperangan: sebabnya, jalannya, siapa ikut, dan pembagian hasilnya. Perincian yang mengejutkan pembaca yang mengira ini kitab keagamaan: ada aturan pembagian rampasan yang menyebutkan jatah pasukan berkuda tiga bagian dan pejalan kaki satu bagian, ada daftar nama orang yang ikut tiap perang, dan ada surat perjanjian yang dikutip lengkap.
Bagian ini yang paling menunjukkan bahwa kitab ini disusun sebagai catatan, bukan sebagai renungan.
Yang jadi jantungnya
- Pembukanya, tempat Ibnu Hisyam menyebut apa saja yang ia buang dari naskah Ibnu Ishaq. Kalau satu bagian saja yang muat di waktunya, ambil yang ini, karena di situ sebuah kitab menyebutkan sendiri guntingannya.
- Bagian perjanjian di Madinah, yang dikutip lengkap dan bisa dibaca sebagai naskah hukum.
- Bagian pembagian rampasan, karena angka semacam itu menunjukkan jenis kitab apa ini sebenarnya.
Yang boleh dilewat
- Silsilah panjang di depan, kecuali kalau memang sedang menelusuri satu nama.
- Sebagian besar syair yang disisipkan di antara peristiwa, yang jumlahnya banyak sekali dan sebagiannya sudah diragukan keasliannya oleh penyusunnya sendiri.
- Daftar nama peserta tiap perang, kecuali kalau memang sedang mencari satu orang.
Cara membacanya
Rangkaian nama pengabar di kepala tiap peristiwa jangan dilewat begitu saja, dan juga jangan dibaca sebagai daftar yang harus dihafal. Perhatikan satu hal saja: seberapa panjang rantainya, dan apakah penyusunnya memberi catatan tentang salah satu namanya. Sekali kebiasaan itu terpasang, kitab ini berubah dari cerita jadi bahan yang bisa ditimbang.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Ini bagian yang paling penting, dan yang justru paling jujur disediakan tradisinya sendiri.
Ibnu Ishaq, yang jadi sumber utama kitab ini, pernah dinilai lemah oleh sebagian ahli hadis pada zamannya, dan penilaian itu tercatat rapi dalam kitab-kitab tentang para pengabar. Jadi keberatan terhadap kitab ini bukan datang dari luar; keberatannya sudah dicatat di dalam.
Ada perbedaan takaran antara kitab hadis dan kitab sirah, dan itu yang perlu dipegang. Kabar yang dipakai dalam sirah tidak dituntut seketat kabar yang dipakai untuk menetapkan hukum, dan itu memang disepakati. Karena itu kitab ini kaya sekali bahannya sekaligus lebih longgar takarannya, dan dua hal itu harus dipegang bersamaan.
Satu lagi: begitu rangkaian nama pengabarnya dihapus, seperti yang terjadi di banyak ringkasan yang beredar sekarang, yang hilang bukan hiasannya melainkan satu-satunya alat yang tersedia untuk memeriksa. Yang tersisa jadi cerita yang tidak bisa ditimbang siapa pun.
Kalau buru-buru
Pembukanya, bagian permulaan wahyu, dan bagian perjanjian di Madinah. Tiga potong, dan yang terbawa pulang sudah lumayan: pengakuan penyusunnya tentang apa yang ia buang, bagian yang paling banyak dikutip orang, dan satu naskah perjanjian yang menunjukkan kitab ini juga catatan urusan duniawi.