Yang bertahan berabad-abad jarang versi yang paling bijak, melainkan yang paling rapi pengurusnya.

Hampir semua agama besar lahir sebagai pembangkangan.

Yesus bukan pendiri lembaga. Ia pengacau di Yudea yang sedang diduduki Romawi, dan omongannya cukup bikin gerah otoritas agama setempat sampai mereka ingin dia mati. Muhammad tidak sedang membangun kerajaan. Ia mengganggu tatanan ekonomi Mekah yang hidup dari penyembahan berhala dan perdagangan ziarah yang mengikutinya. Buddha seorang pangeran yang meninggalkan semua yang sudah disiapkan untuknya.

Ketiganya, pada zamannya, dianggap berbahaya.

Lalu pengikut mereka membangun gedung.

Lembaga selalu hidup lebih lama daripada gagasannya

Di sinilah polanya jadi menarik sekaligus menyedihkan. Lembaga terbentuk. Lembaga menarik kekuasaan. Kekuasaan butuh aturan. Aturan butuh penegak. Dan pelan-pelan, sampai hampir tidak terasa, ajaran yang tadinya membebaskan berubah jadi alat untuk mengatur orang.

Tidak ada satu tokoh jahat dalam cerita ini, dan tidak pernah ada saat seseorang sengaja merusak semuanya.

Agama juga tidak sendirian. Perusahaan begitu, partai begitu, yayasan yang niat awalnya paling bagus pun begitu. Organisasi kemahasiswaan yang lahir dari semangat melawan, sepuluh tahun kemudian sibuk mengurus siapa yang berhak jadi ketua.

Bedanya, agama menaruh taruhannya di akhirat. Itu yang bikin semuanya jauh lebih panas, dan jauh lebih sulit dikritik dari dalam.

Jembatan yang disembah, dan siapa yang diuntungkan

Holloway punya perumpamaan yang sederhana. Kitab, tafsir, dan ritual itu jembatan. Tanda yang menunjuk ke sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Persoalannya, manusia gampang jatuh cinta pada jembatannya sampai lupa jembatan itu mau membawa ke mana.

Gambarannya bagus. Menurut saya terlalu halus.

Sebab dalam gambaran itu tidak ada pelakunya. Jembatan tidak jadi berhala dengan sendirinya, seperti barang yang kebetulan dipuja karena orang khilaf. Ia jadi berhala waktu ada yang berhasil memegang hak menerangkan artinya, lalu hak itu dipertahankan.

Dan ongkosnya bukan ongkos kekhilafan. Orang terbelah, pernikahan tidak direstui, jamaah pecah, dan sesekali ada yang mati. Menyebut itu jatuh cinta pada jembatan terdengar terlalu lembut untuk hal yang sebesar itu.

Pertanyaan yang tidak Holloway ajukan: waktu jembatannya disembah, siapa yang berdiri di sebelahnya dan diuntungkan?

Neraka yang tumbuh, dan hitungan yang bisa kamu lakukan sendiri

Gambaran neraka tidak selalu seperti yang kita kenal sekarang.

Israel kuno lama sekali tidak terlalu peduli pada kehidupan sesudah mati. Tuhan ditemui di dalam waktu, dan begitu orang mati, waktunya habis dan ia meninggalkan panggung. Yang tersisa cuma Sheol, dunia bawah yang samar, tempat melupakan, tempat bahkan Tuhan pun tidak lagi diingat. Bukan tempat siksaan.

Yang mengubah itu, kata Holloway, kitab Daniel. Dari situ tumbuh gagasan bahwa pada akhir sejarah mereka yang tidur di dalam debu akan dibangunkan.

Api abadi dan jeritan kekal datang jauh belakangan lagi, sedikit demi sedikit, dan tumbuh paling subur justru pada masa lembaga agama paling butuh alat untuk menjaga umatnya tetap patuh.

Boleh saja itu disebut kebetulan. Tapi kalau mau memeriksanya sendiri, tidak perlu membuka buku sejarah.

Duduk saja di pengajian mana pun, di kampung atau yang disiarkan televisi nasional, lalu hitung. Berapa kali muncul perintah berbuat baik kepada sesama manusia, siapa pun dia, dan berapa kali muncul ancaman neraka.

Saya tidak akan menyebutkan hasil hitungan saya. Hitung sendiri, di pengajian yang biasa kamu ikuti, dan hasilnya jadi milikmu.

Keterangan yang lebih sederhana

Holloway menutup dengan alasan kenapa agama tidak pernah benar-benar habis: pertanyaan yang melahirkannya belum terjawab. Dari mana kita datang, ke mana kita pergi, kenapa semua ini ada.

Itu terdengar benar, dan saya kira ada keterangan yang lebih sederhana dan lebih dekat.

Yang menahan agama bukan pertanyaan sebesar itu. Yang menahan agama urusan lahir, mati, menikah, dan orang yang perlu ditemani waktu susah.

Waktu ada yang meninggal jam dua pagi, yang datang bukan filsafat. Yang datang tetangga, yang tahu harus mengerjakan apa, dalam urutan yang sudah ada sejak dulu, tanpa perlu ada yang mengatur. Waktu ada yang menikah, yang menyediakan bentuknya juga itu. Waktu ada yang jatuh, yang menengok juga itu.

Ilmu tidak menyediakan itu, dan sejauh ini belum ada yang menyediakan gantinya. Selama urusan-urusan itu masih ada, dan itu tidak akan hilang, agama tidak akan ke mana-mana.

Pertanyaan besar tetap ada. Tapi bukan pertanyaan besar yang bikin orang datang ke rumah duka.

Yang bertahan bukan yang paling bijak

Sejarah punya jawaban yang pahit didengar, entah kamu percaya atau tidak. Yang bertahan berabad-abad jarang versi yang paling dalam renungannya. Yang bertahan yang punya pengurus, punya cabang sampai ke kecamatan, punya sekolah, punya rumah sakit, punya cara yang jelas untuk menentukan siapa yang berhak bicara atas nama siapa.

Di Nusantara polanya sama. Yang bertahan bukan aliran yang paling hati-hati tafsirnya, tapi yang paling sanggup mengurus dirinya: yang punya pesantren, punya kader, punya jaringan sampai ke desa. Sementara tafsir yang paling terbuka sering berhenti di satu dua orang, lalu ikut hilang bersama mereka.

Itu bukan alasan menolak agama. Itu keterangan tentang cara kerja kekuasaan, dan kekuasaan tidak peduli sedang memakai baju apa.

Yang tidak ada di bukunya, dan kenapa itu wajar

Satu hal kecil yang menarik dihitung. Kristen disebut enam puluh delapan kali, Islam enam puluh empat, Muhammad lima puluh tiga. Untuk ukuran bekas uskup Anglikan, itu pembagian yang jauh lebih adil daripada yang biasa kita temui.

Indonesia disebut nol kali.

Dan itu wajar, sebab yang ia tulis sejarah gagasannya, bukan sejarah sebarannya. Ajarannya memang tumbuh di Arab, India, dan Eropa. Di mana penganutnya paling banyak sekarang urusan yang lain, dan bukan urusan bukunya.

Yang layak dicatat justru bukan kelalaian bukunya, tapi apa yang jadi kelihatan begitu kita berdiri di sini. Islam yang dijalani sebagian besar orang di negeri ini bukan Islam yang berhenti di kitab dan mazhab. Ia bercampur dengan selamatan, dengan tahlilan, dengan hitungan hari, dengan kebiasaan yang umurnya lebih tua daripada masuknya agama itu sendiri.

Dan begitulah agama dijalani hampir seluruh manusia sepanjang sejarah: tidak pernah murni, selalu bercampur dengan yang sudah ada duluan di tempat itu. Yang jarang muncul di buku justru bentuk yang paling banyak dijalani orang.

Holloway menutup bukunya begini. Agama itu landasan besi yang sudah mengauskan banyak palu. Pencerahan sudah mencoba, rasionalisme sudah mencoba, ateisme Soviet mencoba dengan seluruh perangkat negara. Tidak ada yang berhasil menghabisi. Ia mungkin akan hidup lebih lama daripada humanisme sekuler, dan sampai sekarang masih pertunjukan terbesar di bumi, sedang berlangsung di rumah ibadah dekat rumahmu.

Lalu kalimat terakhirnya:

"But it's entirely up to you whether you buy a ticket."

Tapi sepenuhnya terserah kamu mau beli tiket atau tidak.

Seorang bekas uskup menutup sejarah agama tanpa memenangkan siapa pun, dan itu yang bikin bukunya bisa dibaca dari kursi mana saja.

Saya membacanya dari kursi orang yang tidak membeli tiketnya. Dari situ pun bukunya tetap berdiri, dan itu ujian yang tidak banyak dilewati buku sejenis.

Sebab yang ia telusuri bukan benar atau tidaknya, melainkan bagaimana sesuatu bertahan. Dan itu pertanyaan yang jawabannya sama saja, mau kamu di dalam maupun di luar.

Garis yang berhenti turun

Bukunya bergerak menuju satu kesan yang jarang diucapkan terus terang: agama-agama besar sedang surut di tempat asalnya sendiri, dan yang tersisa lembaganya.

Angka terbaru dari Amerika menyarankan supaya kesan itu ditahan dulu.

Pew mensurvei hampir tiga puluh tujuh ribu orang dewasa di sana dan menerbitkan hasilnya Februari 2025. Bagian orang yang menyebut dirinya Kristen sekitar 62 persen, dan angka itu bergerak di antara 60 dan 64 persen sejak 2019. Yang menyebut dirinya tidak beragama naik dari 16 persen pada 2007 ke 23 persen pada 2014, lalu 29 persen pada 2023 dan 2024, dan sesudah itu berhenti naik. Angka orang yang berdoa dan yang datang beribadah juga berhenti turun.

Pew sendiri hati-hati: kalau ditarik dari 2007, arahnya tetap turun. Yang berubah cuma lima tahun terakhir, dan lima tahun bukan waktu yang panjang untuk urusan seperti ini.

Justru kehati-hatian itu yang menempel dengan bukunya. Holloway menulis sejarah dua ribu tahun, dan dalam rentang itu lima tahun tidak berarti apa-apa. Tapi tiap orang yang pernah menyimpulkan agama sedang habis juga sedang berdiri di dalam rentang yang pendek, dan menyangka rentangnya panjang.

Bukunya sudah menyediakan penawarnya, di bagian tentang lembaga yang hidup lebih lama daripada gagasannya. Yang berhenti turun mungkin bukan keyakinannya. Mungkin cuma jumlah orang yang masih merasa perlu menyebut dirinya bagian dari sesuatu.

Infografis

Infografis A Little History of Religion bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya