Pertanyaan Holland bukan pertanyaan orang luar. Tradisi yang ia periksa justru yang pertama menjadikannya ilmu.

Ini dua buku yang dijilid jadi satu, dan kedudukannya tidak sama. Yang pertama tentang dunia abad keenam: dua adikuasa yang saling menghabisi sampai kehabisan tenaga. Yang kedua tentang dari mana Islam datang, dan sumber mana yang boleh dipakai untuk menjawabnya. Saya membacanya sebagai dua buku, dan cuma satu yang bisa saya sarankan tanpa syarat.

Satu hal dulu, supaya jelas dari mana catatan ini berdiri. Pertanyaan pokok Holland, versi tertua sebuah catatan ditulis berapa lama sesudah kejadiannya dan oleh siapa, bukan pertanyaan orang luar. Tradisi yang ia periksa justru yang pertama menyusun pertanyaan itu jadi ilmu. Nanti sampai ke situ.

Raja Yahudi terakhir di tanah Arab

Holland membuka bukunya pada 525, dan bukan di Mekah. Di Yaman, seorang raja Himyar bernama Yusuf As'ar Yath'ar, Yahudi, kalah perang lalu menunggang kudanya ke laut sampai tenggelam bersama baju zirahnya. Beberapa tahun sebelumnya ia membantai orang Kristen di Najran. Balasannya datang dari Etiopia, yang menyeberang memakai armada pinjaman Roma, dan sesudah Yusuf jatuh, pedagang Roma bebas lagi memakai pelabuhan Yaman.

Raja Yahudi, martir Kristen, kapal Kristen, jalur dagang. Semuanya di satu meja, seabad sebelum hijrah. Holland lalu memasang ukuran kenapa zaman yang jarang diajarkan ini penting:

"At the start of the third millennium since the birth of Christ, some three and a half billion people—over half the population of the world—identify themselves with one or other of the various religions that assumed something approaching their modern form in the 250 years either side of Yusuf's death."

Pada awal milenium ketiga sejak kelahiran Kristus, sekitar tiga setengah miliar orang, lebih dari separuh penduduk bumi, mengaku sebagai pemeluk salah satu agama yang mendapat bentuknya yang sekarang dalam rentang 250 tahun sebelum dan sesudah kematian Yusuf.

Ia juga terus terang sejak awal soal bahannya: sumber untuk zaman ini hampir semuanya Kristen, dan tahun kematian Yusuf pun tidak disepakati, 525 atau 520. Kejujuran soal sumber itu nanti tidak selalu ia bawa sampai ke bab-bab akhir.

Garis di atas pasir

Ctesiphon, ibu kota Sasania, kota terbesar di Asia pada zamannya. Cuma sekali kaisar Roma berhasil merebutnya, tahun 283, dan sesudah itu ia langsung tersambar petir. Buat yang menyaksikan, itu bukti Ohrmazd tersinggung.

Perbatasan dua kekaisaran itu bukan sungai dan bukan gunung. Kalimat Holland: garisnya tidak lebih dari garis yang ditarik di atas pasir. Orang di dua sisinya bicara bahasa yang sama, kawin-mawin, dan berjualan di pasar yang sama, sampai ada pejabat Roma yang mengeluh karena mereka tidak saling takut. Dan ada perjanjian damai yang melarang benteng baru di dekat garis itu, sehingga waktu Persia menyerbu, Roma tidak punya tempat untuk menyusun jawaban.

Lalu perang Yustinianus, lalu wabah, lalu perang besar terakhir dari 602 sampai 628. Holland merangkum kemenangan Heraklius bukan sebagai kemenangan tentara:

"His insight, that in a world rendered a living hell by plague and war what mattered most was to have a convincing claim upon the favour of the heavens, had been proved correct in the most resounding fashion imaginable."

Tebakannya, bahwa di dunia yang sudah jadi neraka oleh wabah dan perang yang paling menentukan adalah klaim yang meyakinkan atas restu langit, terbukti benar dengan cara yang paling telak.

Dua kekaisaran dengan kas kering, wilayah yang kehilangan penduduk, dan pertarungan yang sudah berpindah dari medan perang ke soal siapa yang direstui Tuhan. Itu panggung tempat semua yang terjadi sesudahnya datang, dan hampir selalu panggung itu yang ditinggalkan.

Ilmu yang lebih dulu bertanya

Separuh kedua bukunya berdiri di atas satu keraguan: riwayat tentang Nabi baru dibukukan lama sesudah kejadiannya. Holland mengutip Joseph Schacht:

"The more perfect the isnad, the later the tradition."

Makin sempurna rantai perawinya, makin belakangan riwayat itu lahir.

Lalu Fazlur Rahman, yang bertanya kalau semua hadis dilepas, apa yang tersisa selain jurang empat belas abad antara kita dan Nabi. Lalu kenyataan bahwa tulisan Ibnu Ishaq sendiri tidak sampai ke kita, cuma susunan ulang Ibnu Hisyam, dan bahwa dengan satu pengecualian tidak ada gambaran Perang Badar yang lebih tua dari abad kesembilan.

Semua itu benar, dan ada satu hal yang Holland sebut sambil lalu padahal layak disebut dengan bangga. Rantai perawi itu bukan hiasan. Tradisi ini menyusun ilmu tersendiri untuk menimbangnya, kamus biografi ribuan entri tentang siapa bertemu siapa dan siapa hafalannya rusak di hari tua, dan menyimpan sendiri daftar riwayat yang ia tolak. Pertanyaan Schacht sudah ditanyakan dari dalam berabad-abad sebelum Schacht lahir, dengan jawaban yang berbeda. Catatannya ada di Sirah Nabawiyah, yang penyuntingnya sendiri mengumumkan apa yang ia buang.

Holland punya aturan seleksi, dan aturannya masuk akal: yang dikuatkan saksi luar diterima, yang cuma ditopang rantai perawi diragukan. Umar ia sebut tidak bisa dibantah kesejarahannya, sebab seorang uskup Armenia menulis tentangnya sepuluh tahun sesudah Qadisiyah. Piagam Madinah ia terima, bahkan menurutnya sarjana yang paling curiga pun menerimanya, karena di situ para pendatang disebut orang beriman, bukan Muslim, sebutan yang belum ada waktu itu. Dari sini itu terasa lucu sedikit: dokumen yang paling sering dikutip di seminar kebangsaan kita justru yang paling lolos saringannya.

Yang timpang dari aturan itu Holland sebut sendiri di halaman awal. Saksi luarnya hampir semua Kristen, dan yang menulis tentang musuhnya juga punya kepentingan. Aturan seleksi yang sama tidak dipakai seketat itu ke arah mereka.

Sembilan nama tempat

Langkahnya yang paling jauh berpangkal pada satu hitungan Holland: di seluruh Alquran cuma ada sembilan nama tempat, dan cuma dua yang bisa dipastikan dari catatan sezamannya, Gunung Sinai dan Yatsrib. Mekah, katanya, tidak termasuk, dan dari situ ia menyusun dugaan bahwa "rumah di Bakka" mungkin bukan di Hijaz.

Ia tidak berpura-pura yakin:

"The answers I have given to these questions are all of them unashamedly provisional—as I believe they have no choice but to be."

Jawaban yang saya berikan untuk pertanyaan-pertanyaan itu semuanya sementara, tanpa rasa malu, sebab menurut saya memang tidak bisa lain.

Sejak 2012 buktinya bergerak, dan bukan ke arahnya. Lembaran Alquran di Birmingham, yang penanggalan radiokarbonnya jatuh pada rentang yang berakhir di pertengahan abad ketujuh, dan palimpses Sana'a, dua-duanya menunjuk pada naskah tertulis jauh lebih awal daripada yang diizinkan pendirian yang paling curiga. Prasasti dan papirus yang diteliti belakangan mengarah ke tempat yang sama. Holland sendiri, dalam beberapa wawancara sesudahnya, mengakui sebagian susunannya didorong lebih jauh daripada yang sanggup ia bela.

Di sini pendirian saya sederhana. Caranya bertahan, kesimpulannya tidak. Pertanyaan tentang umur sumber ditanyakan rutin ke catatan Romawi dan ke Injil, dan tidak berubah jadi provokasi cuma karena ditanyakan ke sini. Tapi yang bertanya juga tidak boleh sudah memegang jawabannya, dan di separuh kedua bukunya Holland terlalu sering sudah memegangnya.

Abdul Malik memberi nama

Kalau ada satu dalil yang menyatukan dua separuh buku ini, itu bab tentang Abdul Malik bin Marwan. Koin Arab pertama yang menyebut Muhammad muncul 686. Kubah Batu mulai dibangun 689, tepat di atas bukit yang bagi orang Yahudi Yerusalem tempat kehadiran Tuhan, dan di dindingnya, dengan huruf emas, tertulis kenabian Muhammad dan bantahan atas keyakinan orang Kristen tentang Tuhan. Bahasa kekaisaran diganti jadi Arab, dan pegawai yang tidak bisa menulis Arab kehilangan pekerjaannya. Dan kata "penyerahan diri" di ayat yang dipahatkan di kubah itu, kata Holland, mulai dipakai sebagai nama diri: Islam.

Ceritanya dari sisi kota ada di Jerusalem. Cara kerjanya sudah ditulis Holloway di A Little History of Religion: yang bertahan bukan yang paling bijak, tapi yang paling rapi pengurusnya. Abdul Malik pengurus yang rapi sekali.

Holland menyebutnya penempaan, dan kata itu terlalu berat. Yang ia gambarkan seorang penguasa merapikan, menamai, dan mencetak sesuatu yang sudah ada, dan itu persis yang dikerjakan konsili dan ahli hukum kanon terhadap Kekristenan di bukunya sendiri, Dominion. Di buku yang satu cara kerja itu disebut warisan, di buku yang lain penempaan. Perkakasnya sama, yang berbeda kata yang dipilih untuk tiap tetangga.

Panggung yang biasanya kosong

Cara zaman ini diajarkan di sini melompat dari gambaran singkat tentang jahiliah langsung ke perjalanan kenabian. Bizantium dan Persia yang sedang saling menghabisi, jemaat Kristen berbahasa Suryani, raja Yahudi di Yaman, istana Zoroaster di Ctesiphon, hampir tidak muncul. Peristiwanya terlihat berlangsung di panggung kosong, dan panggung yang kosong membuat semua yang terjadi di atasnya tampak turun dari langit tanpa lawan bicara.

Yang beredar dalam bahasa Indonesia cuma dua ujungnya: terjemahan buku semacam ini yang dijual sebagai bongkaran, atau bantahan yang menolaknya tanpa menyebut isinya. Bagian tengahnya, tempat para ahli sebenarnya bekerja dan tempat bukti manuskrip belakangan justru menguatkan penanggalan yang awal, jarang sampai.

Holland menulis satu pertanyaan di bab pertamanya, sesudah menjejerkan semua keraguannya:

"Can it really be the case that the lack of a story is the only story?"

Mungkinkah ketiadaan cerita itu satu-satunya cerita yang ada?

Ia lalu menjawab tidak, dan menulis enam ratus halaman untuk membuktikannya. Separuh pertama membuktikannya. Separuh kedua mengisi kekosongan itu dengan cerita lain yang buktinya tidak lebih tebal dari yang diragukannya.

Garis di atas pasir itu masih ada, dan yang berdiri di dua sisinya sekarang orang yang meragukan dan orang yang membela. Saya belum menemukan cara berdiri di garisnya sendiri tanpa dianggap salah satu dari keduanya.

Kekosongan yang pelan-pelan diisi orang, dengan barang

Keberatan pokok Holland soal jarak: sumber tulis yang paling banyak dipakai orang disusun lama sesudah kejadiannya, dan bahan sezaman yang bisa dipegang sedikit sekali.

Sesudah bukunya terbit, bagian itu bergerak, dan bergeraknya pelan.

Sebuah kajian yang menghitung penerbitan ilmiah tentang Islam awal, terbit 2024, mencatat kenaikan besar jumlah penelitian di bidang ini, dan yang paling menonjol kenaikan porsi arkeologinya. Yang ditambahkan orang bukan tafsir baru atas naskah lama, tapi barang: prasasti, sisa bangunan, dan naskah yang digali dari tempat yang sebelumnya tidak diperiksa. Tulisan Kufi awal dari padang Yordania utara diterbitkan. Prasasti Islam di Sri Lanka dikumpulkan dan dibaca. Sebuah masjid dan permukiman di utara Pakistan digali dan diberi tanggal.

Tidak satu pun dari itu membenarkan atau membantah dalil Holland. Yang mereka kerjakan lebih membosankan dan lebih berguna: memperbanyak barang yang bisa diperiksa siapa pun.

Dan itu justru menyorot keberatan saya di atas tadi. Separuh kedua bukunya mengisi kekosongan dengan cerita, dan cerita mengisi lebih cepat daripada penggalian. Sepuluh tahun lebih sesudah bukunya, yang bertambah tetap prasasti satu-satu.

Garisnya masih di atas pasir. Yang berubah cuma pasirnya sekarang mulai ada yang menggali.

Baca berikutnya