Tom Holland menulis enam ratus halaman untuk mengatakan satu hal: nilai yang oleh Barat disebut akal sehat, hak asasi, kesetaraan, kewajiban membela yang lemah, bukan hasil penemuan akal. Itu endapan dari satu tradisi keagamaan yang sangat khusus, dan yang paling fasih memakainya justru orang yang paling yakin sudah meninggalkannya.
Saya membacanya dari luar tradisi itu, dan dari luar bukunya terbaca lain. Holland bicara "kita" sepanjang bukunya, dan "kita" itu bukan kita. Justru karena itu pertanyaannya tidak berhenti di Eropa. Kalau orang Eropa bisa tidak sadar sedang menjalankan warisan siapa, kita juga bisa.
Dunia yang menganggap membuang bayi itu wajar
Holland membuka dengan Roma dan Yunani, dan sengaja tidak menghaluskannya. Di dunia itu tidak ada gagasan bahwa orang miskin, budak, atau pihak yang kalah punya harga yang harus dihormati. Tatanannya tidak sedang rusak. Tatanannya memang begitu. Ringkasannya:
"Everyone in antiquity had taken for granted that infanticide was perfectly legitimate; that to turn the other cheek was folly; that 'Nature has given the weak to be slaves'."
Semua orang di zaman kuno menganggap wajar bahwa membuang bayi itu sah, bahwa memberikan pipi yang lain itu bodoh, dan bahwa alam memang menjadikan yang lemah sebagai budak.
Lalu datang satu gerakan kecil yang menaruh seorang terpidana mati, dieksekusi dengan cara paling hina yang bisa dipikirkan Roma, di pusat seluruh tatanan moralnya. Paulus yang menuliskan akibatnya, dalam surat ke jemaat Galatia:
"There is neither Jew nor Greek, slave nor free, male nor female, for you are all one in Christ Jesus."
Tidak ada lagi Yahudi atau Yunani, budak atau merdeka, laki-laki atau perempuan, sebab kalian semua satu di dalam Kristus Yesus.
Kalimat semacam itu, kata Holland, cuma mungkin diumumkan oleh dunia yang sudah dijungkirbalikkan. Dari situ, pelan sekali, mengalir gagasan bahwa yang lemah bisa jadi pusat, bukan pinggiran. Berabad-abad kemudian gagasan itu berganti baju jadi hak asasi, serikat buruh, dan pasal-pasal konstitusi.
Voltaire mengadili gereja dengan ukuran gereja
Bagian paling telak bukunya bukan soal orang beriman. Soal orang yang paling keras menyerang iman.
Toulouse, 1762. Jean Calas, pedagang kain Protestan, dihukum mati di atas roda karena dituduh membunuh anaknya sendiri supaya anak itu tidak pindah Katolik. Voltaire mengangkat perkara itu jadi kampanye melawan apa yang ia sebut kekejian, dan menang: dua tahun kemudian dewan kerajaan membatalkan vonisnya. Holland lalu memasang cermin:
"The standards by which he judged Christianity, and condemned it for its faults, were not universal. They were not shared by philosophers across the world. They were not common from Beijing to Cayenne. They were distinctively, peculiarly Christian."
Ukuran yang ia pakai untuk menghakimi Kekristenan dan mengecam cacatnya bukan ukuran yang berlaku di mana-mana. Tidak dipegang filsuf di seluruh dunia, tidak lazim dari Beijing sampai Cayenne. Ukuran itu khas, dan khusus, Kristen.
Gambar orang tidak bersalah yang dipatahkan tulangnya di atas roda, lalu dibela justru karena penderitaannya, itu gambar salib. Voltaire memakainya tanpa sadar.
Pola yang sama Holland tarik ke Revolusi Prancis, yang mengumumkan hak asasi tidak berutang apa pun pada sejarah Kristen padahal istilahnya, derechos humanos, sudah dipakai dua abad sebelumnya oleh las Casas, pendeta Dominikan, untuk membela orang Indian dari perbudakan. Ke Marx, yang mengaku sudah lepas dari penghakiman moral tapi tiap halamannya meledak oleh amarah atas buruh yang diperas. Sampai ke Nietzsche, satu-satunya yang berani melihat ujungnya:
"Naiveté: as if morality could survive when the God who sanctions it is missing!"
Naif sekali: seolah moral masih bisa hidup waktu Tuhan yang mengesahkannya sudah tidak ada.
Kata "sekuler" pun keluar dari biara
Yang paling jarang sampai ke ringkasan bukunya: pemisahan antara urusan agama dan urusan dunia, yang kita anggap syarat negara modern, juga buatan gereja.
Kata saeculum dalam bahasa Latin awalnya berarti rentang hidup manusia. Agustinus memakainya untuk menyebut tatanan dunia yang fana, lawan dari Kota Tuhan yang kekal. Enam abad kemudian para pembaru di sekitar Paus Gregorius VII memakainya supaya bukan cuma biara, tapi seluruh gereja, berdiri terpisah dari arus dunia. Sejak itu, kata Holland, pemisahan agama dan dunia jadi dasar Barat "untuk pertama kali dan untuk selamanya". Kalimat ringkasnya di bab penutup: sekularisme berutang keberadaannya pada kepausan abad pertengahan.
Pemisahan itu lalu diekspor bersama kapal dagang. Baroda, 1825: seorang saksi Inggris bernama Kennedy menonton janda bernama Ambabai naik ke tumpukan kayu bakar suaminya. Inggris ingin melarang sati tapi takut mencampuri agama orang Hindu. Jalan keluarnya datang dari Rammohun Roy, pembaru Hindu yang hafal cara kerja Kompeni, yang meyakinkan mereka bahwa membakar janda itu gejala duniawi semata, bukan bagian dari Hindu yang asli. Ada Hindu yang murni, ada Hindu yang dicemari adat. Pertanyaan semacam itu, kata Holland, tidak akan masuk akal bagi siapa pun di India sebelum orang Inggris datang.
Kita mengenal pembedaan itu dengan baik, sebab negara ini memakainya. Supaya diakui sebagai agama, sebuah keyakinan harus bisa menunjukkan Tuhan yang satu, kitab, dan nabi. Umat Hindu di Bali baru diakui sesudah menyusun ajarannya menurut ukuran itu, dengan Sang Hyang Widhi di depan. Yang tidak muat di kotaknya dinamai kepercayaan, dan sampai belum lama ini kolomnya di KTP dikosongkan. Ukuran itu tidak lahir di sini, dan tidak lahir di surau mana pun.
Nilai itu tidak turun dari atas
Sampai di sini saya ikut Holland, dan di satu langkah berikutnya saya berhenti.
Holland benar soal kosakatanya. Kata hak asasi, martabat, sekuler, memang bisa ditelusuri ke pendeta dan ahli hukum kanon di Eropa, dan silsilahnya ditunjukkan dengan rapi. Yang tidak ia pisahkan: kosakata dan isinya.
Jangan bunuh anak sendiri, tolong yang celaka, jangan ambil harta yang lemah. Perkakas itu ada di hampir semua kelompok manusia yang berhasil bertahan, karena kelompok yang tidak memegangnya bubar lebih dulu. The Selfish Gene menerangkan mesin balas-membalasnya sampai ke gen. Pascal Boyer di Religion Explained membalik urutannya lebih tegas lagi: agama tidak menopang moral, naluri moral orang yang membuat agama terasa masuk akal.
Holland sendiri menyodorkan buktinya, di halaman yang gampang terlewat. Ia mengutip ajaran Muhammad tentang membebaskan budak dan memberi makan anak yatim, lalu menulis bahwa Gregorius dari Nyssa akan langsung setuju. Kalimat berikutnya: tapi Muhammad bukan orang Kristen. Jawaban Holland jadi isi bukunya yang lain, In the Shadow of the Sword: Islam tumbuh di dunia yang sudah lama direndam Kristen dan Yahudi. Ada keterangan yang lebih hemat. Dua tradisi yang sama-sama lahir di tengah orang miskin, anak yatim, dan budak sampai pada aturan yang mirip, karena persoalannya sama.
Jadi waktu Nietzsche bilang moral akan runtuh bersama Tuhannya, saya tidak ikut. Moral itu tidak pernah datang dari sana. Yang datang dari sana bahasanya, dan satu hal lagi yang jauh lebih penting daripada bahasa.
Yang benar-benar disumbangkan gereja: pengurusnya
Naluri menolong yang lemah ada di mana-mana. Yang tidak ada di mana-mana: lembaga yang menjadikannya kewajiban, mencatatnya, dan menagihnya berabad-abad.
Holland menunjukkan saatnya. Para ahli hukum kanon abad pertengahan memutuskan bahwa orang kelaparan yang mencuri tidak berdosa, yang berdosa si kaya yang menahan hartanya, dan uskup wajib memastikan yang kaya membayar sedekahnya. Sedekah, tulisnya, tidak lagi sukarela tapi jadi kewajiban hukum. Itu yang membedakan Eropa, bukan nalurinya. Yang bertahan berabad-abad, seperti kata A Little History of Religion, bukan yang paling bijak tapi yang paling rapi pengurusnya. Pengurus Kekristenan luar biasa rapi, dan mereka menulis undang-undang.
Di sini mesinnya sama, cuma pengurusnya lain. Zakat sudah jadi kewajiban jauh sebelum ada negara yang memungutnya. Anak yatim dijaga, tanah wakaf tidak boleh dijual walau pemiliknya sudah lama tiada, tetangga wajib datang waktu ada kematian tanpa diundang. Tidak ada di antaranya yang lahir sendiri dari nalar, dan tidak ada juga yang lahir di Eropa. Semuanya endapan tradisi yang sudah terlalu lama kita tinggali sampai tidak terasa sebagai pilihan. Yang mengecam pejabat korup di kolom komentar memakai bahasa yang sama dengan khotbah Jumat, termasuk yang sudah lama tidak ikut salatnya.
Pertanyaannya tetap satu: nilai ini menahan siapa. Asal-usulnya dari gereja, dari surau, atau dari hukum kanon tidak mengubah jawabannya.
Garis yang ditarik terlalu lurus
Hampir semua yang baik di dunia modern ditarik Holland ke satu sumber, dan jarang ada garis sejarah yang seluruhnya lurus.
Islam sering muncul di bukunya, hampir selalu sebagai pembanding, bukan sebagai tradisi yang diikuti jalan pikirannya sendiri. Di bab yang berujung pada Islamic State, Holland menulis dari dalam kepala kaum militan: menjadi Muslim berarti tahu bahwa manusia tidak punya hak, tidak ada hukum alam dalam Islam, yang ada cuma hukum. Itu suara satu golongan. Yang jumlahnya jauh lebih banyak, dan yang di negeri ini menulis bab hak asasi ke dalam konstitusinya sendiri, tidak diberi halaman. Untuk buku tentang Barat itu wajar. Cuma perlu diingat waktu kesimpulannya dibawa keluar Barat.
Satu hal ia tulis lugas. Barat, katanya, sudah terampil mengemas ulang gagasan Kristen untuk pembeli yang bukan Kristen, dan doktrin hak asasi jauh lebih laku kalau asal-usulnya di antara ahli hukum kanon bisa disimpan rapat. Di sini ada yang menolak HAM karena dianggap barang impor Barat. Holland, dari arah yang sama sekali lain, membenarkan mereka: memang impor. Yang tidak dijawab dua-duanya: barangnya jalan atau tidak, dan buat siapa.
Kalimat yang paling lama mengendap ada di bab terakhir:
"Christianity, it seemed, had no need of actual Christians for its assumptions still to flourish."
Kekristenan, rupanya, tidak butuh orang Kristen sungguhan supaya anggapan-anggapannya tetap tumbuh.
Kalimat sesudahnya jarang ikut dikutip, padahal di situ Holland menahan dirinya sendiri: apakah itu cuma bayangan, dan apakah kuasa yang dipegang korban atas penindasnya sanggup bertahan tanpa dongeng yang melahirkannya, katanya cuma waktu yang bisa menjawab.
Gereja di Eropa makin kosong. Perdebatan soal siapa yang paling lemah dan paling berhak dibela tidak pernah sepi, di parlemen mereka maupun di kolom komentar kita. Kita cuma tidak lagi memanggilnya dengan nama lamanya, dan saya belum yakin nama barunya sudah ada.
Orang yang pindah gara-gara membaca bukunya
November 2023 Ayaan Hirsi Ali mengumumkan dirinya sekarang Kristen. Selama dua puluh tahun sebelumnya ia salah satu nama paling keras di kalangan yang menolak agama sama sekali.
Alasan yang ia sebut menarik justru karena bentuknya. Ia tidak bercerita tentang pengalaman batin lebih dulu. Yang ia sebut kekosongan zaman ini, ancaman dari beberapa arah, dan kebutuhan akan sesuatu yang sanggup menopang. Dan ia menyebut buku ini sebagai salah satu yang mengubah pikirannya, karena di situ ia melihat kebebasan-kebebasan yang ia bela selama ini ternyata berakar di tempat yang dulu ia lawan.
Balasannya datang cepat dari Richard Dawkins, lewat surat terbuka: kamu tidak lebih Kristen daripada aku. Sesudah keduanya duduk berdebat, Dawkins menutup dengan mengakui ia datang untuk meyakinkan Hirsi Ali bahwa dia bukan Kristen, dan pulang dengan kesimpulan bahwa dia memang Kristen. Dawkins sendiri belakangan menyebut dirinya Kristen kebudayaan, dan itu ada catatannya sendiri di The Selfish Gene.
Bagi buku ini, urutan itu agak ganjil. Dalil Holland, anggapan-anggapan Kristen tetap tumbuh meski orang Kristennya berkurang. Kalimat yang saya kutip di atas menyebutnya tidak butuh orang Kristen sungguhan. Lalu bukunya justru membuat orang jadi Kristen sungguhan.
Yang perlu ditandai alasannya. Yang disebut Hirsi Ali sebagian besar alasan tentang guna: menopang, mengikat, menahan kekosongan. Itu alasan yang sama bentuknya dengan alasan orang memilih sebuah lembaga, dan Holland sendiri menulis bahwa sumbangan terbesar gereja memang pengurusnya.
Saya belum tahu apakah sebuah keyakinan yang dipeluk karena gunanya akan mengerjakan hal yang sama dengan yang dipeluk karena dipercaya. Holland juga bilang cuma waktu yang bisa menjawab, dan ia menulis itu sebelum ada orang yang pindah gara-gara membaca bukunya.
Infografis
Buka ukuran penuh
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Dua puluh satu bab dalam tiga bagian besar: zaman kuno, zaman Kristen, dan zaman modern. Tiap bab dinamai satu kata, dan tiap bab dibuka satu adegan pada satu tahun tertentu, lalu melebar dari situ. Jadi ini dua puluh satu potret yang dijejer, bukan sejarah yang berjalan rata, dan tiap potret harus mengangkat satu langkah dalam dalilnya.
Dalilnya satu kalimat: hal-hal yang orang modern anggap sebagai akal sehat sejagat, terutama bahwa yang lemah punya hak dan yang kuat punya kewajiban, sebenarnya warisan Kristen yang sudah lupa asalnya. Termasuk warisan itu, kata Holland, sikap menolak agama itu sendiri.
Bagian Satu: Zaman kuno, bab 1 sampai 7
Tujuh bab dari Athena sampai penyebaran gereja mula-mula. Bab pembuka menyusun dunia sebelum Kristen, dan itu bagian yang paling penting di seluruh buku, karena tanpa membaca betapa asingnya nilai dunia itu, dalil bukunya tidak akan terasa. Di dunia yang digambarkannya, membuang bayi yang tidak diinginkan adalah hal yang wajar, dan penyaliban adalah hukuman yang justru dipakai untuk mempermalukan orang yang paling hina.
Bab 2 sampai 5 soal Yerusalem, Paulus, dan pembalikan yang dibawanya: yang hina justru ditaruh di puncak. Bab 6 dan 7 soal bagaimana pembalikan itu menyebar.
Bagian Dua: Zaman Kristen, bab 8 sampai 14
Tujuh bab dari pertobatan Konstantinus sampai Reformasi. Isinya bagaimana gereja jadi lembaga, dan bagaimana lembaga itu berkali-kali menyerang dirinya sendiri atas nama ajarannya sendiri. Bab 9 soal pembaruan abad kesebelas yang memisahkan urusan gereja dari urusan raja, dan di situ letak asal-usul pembedaan yang sekarang kita sebut agama dan negara. Bab 10 dan 11 soal penindasan dan tubuh, dua bab yang paling tidak nyaman. Bab 13 soal Reformasi, dan bab 14 soal pergantian gambaran alam semesta.
Bagian Tiga: Zaman modern, bab 15 sampai 21
Tujuh bab dari abad ketujuh belas sampai sekarang: Pencerahan, penemuan kata agama sebagai golongan, ilmu, Darwin, Nietzsche, Hitler, gerakan hak-hak, sampai perdebatan zaman ini. Bagian ini yang paling banyak dibantah orang, karena di sinilah Holland menarik garisnya paling jauh.
Bab 16 memuat bagian yang paling telak: Voltaire menyerang gereja dengan memakai ukuran yang dipasang gereja itu sendiri. Bab 19 soal Nietzsche dan orang-orang yang benar-benar mencoba keluar dari ukuran itu, dan apa yang mereka bangun sesudahnya.
Yang jadi jantungnya
- Bab 1 sampai 3. Untuk waktu yang cuma cukup tiga bab, ambil ketiganya. Di situ ditunjukkan betapa asingnya dunia sebelum Kristen, dan tanpa keasingan itu seluruh sisa bukunya cuma terdengar seperti pembelaan.
- Bab 9, karena pembedaan gereja dan negara yang kita anggap modern justru lahir dari dalam gereja.
- Bab 16, karena di situ dalilnya paling jelas terbukti: penyerangnya memakai senjata milik yang diserang.
Yang boleh dilewat
- Bab 20 dan 21 hampir seluruhnya. Isinya perdebatan mutakhir di Barat, dan di situ garisnya ditarik paling lurus dan paling gampang dibantah.
- Bab 12 dan 14 kalau waktunya sempit; keduanya menegaskan hal yang sudah dibangun bab sebelumnya.
- Bagian akhir bab 17, yang isinya sejarah kata agama di Eropa, kecuali kalau memang sedang mengurus istilah.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Buku ini menarik garis lurus dari satu asal ke banyak hal yang kita punya sekarang, dan garis selurus itu selalu perlu diperiksa. Nilai yang sama sering tumbuh di beberapa tempat sekaligus tanpa saling menurunkan, dan bukunya jarang menyediakan ruang untuk kemungkinan itu. Yang kuat dari bukunya bukan garisnya, tapi bukti bahwa asalnya memang bukan dari langit dan bukan dari akal sehat yang berlaku di mana-mana.
Kalau buru-buru
Bab 1, 3, 9, 16. Empat bab, dan alurnya tersambung: dunia sebelumnya memang punya ukuran yang sangat berbeda, satu pembalikan menaruh yang hina di puncak, pembedaan gereja dan negara lahir dari dalam gereja sendiri, dan orang yang paling keras menyerang gereja ternyata memakai ukuran gereja untuk menyerangnya.