Tiga filsuf Muslim memberi wahyu cara kerjanya, dan pilihan itu hampir tidak pernah sampai ke rak buku kita.

Ini karya untuk kalangan sendiri, dan memang tidak berlagak jadi buku umum. Davidson menyusun ulang, dengan rincian yang rapat, bagaimana tiga filsuf yang menulis dalam bahasa Arab menjawab satu pertanyaan yang ditinggalkan menggantung oleh Aristoteles.

Pertanyaannya sempit. Buat Aristoteles, berpikir berarti pikiran mengambil bentuk dari apa yang dipikirkannya. Tapi pikiran yang baru sanggup berpikir belum berpikir. Harus ada sesuatu yang menggerakkannya dari sanggup jadi berbuat. Aristoteles menyebut sesuatu itu akal, bilang datangnya dari luar, bilang cuma bagian itu yang abadi, lalu berjanji akan menerangkannya nanti.

"If such is in fact the issue that Aristotle promised to consider "later," nothing in his preserved works ever fulfills the promise."

Kalau memang itu persoalan yang dijanjikan Aristoteles akan dibahas "nanti", tidak ada satu pun karyanya yang masih tersimpan yang menepati janji itu.

Nama-nama di judul buku ini saya kenal sejak kecil, dari pengajian dan buku sekolah: Ibnu Sina bapak kedokteran, Al-Farabi guru kedua sesudah Aristoteles, Ibnu Rusyd yang bukunya dibaca orang Eropa. Yang tidak pernah diceritakan persoalan apa yang sebenarnya mereka urus. Ternyata yang mereka urus lubang di atas, dan yang mereka bangun untuk mengisinya jauh lebih besar daripada lubangnya.

Yang mereka bangun untuk mengisi lubang itu

Dari Sebab Pertama memancar satu akal. Dari akal itu memancar akal berikutnya beserta satu bola langit. Terus turun sepanjang rantai, sampai akal tak berbadan yang terakhir: akal aktif, yang mengurus segala sesuatu di bawah bulan.

Akal itu yang membuat pikiran manusia mungkin, dengan cara yang mereka umpamakan seperti cahaya matahari membuat mata bisa melihat. Dalam versi Ibnu Sina, akal itu juga pemberi bentuk: tiap kali ada badan yang campurannya sudah pantas, dari situ turun jiwa untuknya.

Akibatnya bikin pembacanya berhenti sebentar. Kalau berpikir berarti menjadi satu dengan yang dipikirkan, maka pikiran manusia yang berhasil menjadikan akal aktif sebagai isi pikirannya menjadi satu dengan sesuatu yang tak berbadan. Keabadian, menurut bacaan Alexander dari Aphrodisias yang mereka warisi, persis keadaan itu dan tidak lebih. Yang abadi bukan orangnya, cuma bagian pikirannya yang sempat bersentuhan dengan yang abadi.

Susunan ini rumit, dan rumitnya bukan gaya. Tiap tingkat dipasang untuk menjawab keberatan yang muncul dari tingkat sebelumnya.

Wahyu diberi cara kerjanya

Hal yang paling jarang sampai ke pengajian mana pun ada di sini.

"The emanation from the active intellect can, according to al-Madina al-Fadila, also pass beyond the intellect to the human imaginative faculty and there produce the natural phenomena that are known in religious nomenclature as prophecy and revelation."

Pancaran dari akal aktif, menurut al-Madina al-Fadila, bisa juga melewati akal dan sampai ke daya khayal manusia, dan di sana menghasilkan gejala alamiah yang dalam istilah agama disebut kenabian dan wahyu.

Gejala alamiah. Al-Farabi membedakan dua tingkat. Yang rendah, yang ia sebut nubuwah, bisa dialami orang yang akalnya belum sempurna: daya khayalnya menerima pancaran lalu melihat kejadian yang jauh atau yang belum terjadi, tanpa menalar selangkah demi selangkah. Yang tinggi, yang kadang ia sebut wahyu, cuma untuk orang yang akalnya sudah sampai ke tingkat tertinggi, dan pancarannya lewat dulu melalui akal yang sempurna itu sebelum turun ke khayal.

Ibnu Sina menambah satu lapis: kenabian akal, yaitu kesanggupan menangkap suku tengah sebuah silogisme seketika, tanpa mencari. Yang diterima akal itu lalu dibentuk daya khayal jadi gambar dan suara, dan gambar itulah yang perlu ditakwilkan, seperti mimpi perlu ditafsirkan.

Dan gambar itu ada gunanya. Ketika kebenaran metafisika dituangkan jadi gambaran, tulis Davidson, terutama dalam penggambaran alam gaib yang seperti manusia di dalam kitab suci, gambaran itu membimbing anggota masyarakat yang tidak sanggup mengikuti uraian filsafat yang abstrak. Filsuf yang daya khayalnya juga terilhami, dan punya bakat memimpin, jadi filsuf-nabi sekaligus filsuf-raja, satu-satunya yang layak memerintah negara utama.

Itu Plato, hampir tanpa diubah. Di The Republic para penjaga kota diberi cerita tentang asal usul mereka sendiri yang tidak benar, karena kota membutuhkannya. Al-Farabi memindahkan susunan itu ke dalam Islam, dan di dalam Islam susunan itu berdiri berabad-abad, ditulis orang Islam untuk orang Islam dalam bahasa Arab. Saya mencatatnya sebagai kenyataan, bukan sebagai temuan, dan bukan sebagai tuduhan.

Al-Ghazali yang tidak menutup pintu

Cerita yang beredar: Al-Ghazali datang, menulis Tahafut, filsafat di dunia Islam tamat. Davidson menaruhnya di bab tentang gema Al-Farabi dan Ibnu Sina, dan menyebutnya tokoh yang berubah-ubah rupa.

Al-Ghazali lebih dulu menulis ringkasan filsafat Ibnu Sina, Maqasid, sebelum menulis sanggahannya. Bahkan di dalam sanggahan itu ia tidak menolak adanya akal aktif. Dan di Misykat al-Anwar, yang ia bangun di atas ayat tentang pelita, tafsirnya atas ayat itu mengikuti tafsir Ibnu Sina, dengan beberapa perbedaan kecil: pelita yang minyaknya nyaris menyala sendiri walau belum tersentuh api itu daya kenabian.

Ibnu Rusyd yang datang sesudahnya tidak sabar melihat itu.

"Averroes belittled Ghazali as one who was "an Asharite with the Asharites, a Sufi with the Sufis, and a philosopher with the philosophers.""

Ibnu Rusyd merendahkan Al-Ghazali sebagai orang yang Asy'ari di antara orang Asy'ari, sufi di antara para sufi, dan filsuf di antara para filsuf.

Ejekan itu sekaligus keterangan. Orang yang katanya menutup pintu ternyata masih keluar masuk lewat pintu itu sampai akhir, dan sanggahannya cuma bisa ditulis oleh orang yang menguasai betul apa yang disanggah. Cerita "filsafat dibunuh Al-Ghazali" terlalu rapi untuk bahan yang serumit ini.

Catatan pinggir Ibnu Rusyd

Yang paling banyak pelajarannya justru ini: di akhir hidupnya, Ibnu Rusyd meninggalkan seluruh gagasan pemancaran tadi.

"Averroes now abandons the emanation thesis. He contends that, in general, beings do not proceed or emanate from one another."

Ibnu Rusyd sekarang meninggalkan dalil pemancaran. Ia berpendapat bahwa, pada umumnya, makhluk sama sekali tidak keluar atau memancar dari satu sama lain.

Ia berpuluh tahun di dalam susunan itu, lalu membongkarnya sendiri, dan bekas pembongkarannya masih bisa dilihat. Sesudah menulis ulasan panjang atas Metafisika di masa tuanya, ia kembali ke ringkasan yang ia tulis waktu muda dan membubuhkan catatan pinggir yang membantah isi halaman itu sendiri. Sebagian penyalin memindahkan catatan itu ke dalam teks, sebagian tidak, dan sampai sekarang ada naskah yang memuat pendapat mudanya saja.

Tidak ada pengumuman, tidak ada kisah pertobatan. Yang ada pendirian akhir yang ditulis di tempat pendirian lamanya berada. Bangunan yang ia bongkar itu bangunan yang ia sendiri ikut menegakkan, dan cara ia membongkarnya, di pinggir halaman, tanpa panggung, lebih saya hormati daripada bangunannya.

Lima puluh naskah Latin

Ke mana semua ini pergi kelihatan dari nasib salinannya.

"In the twelfth century, the Latin world received a cornucopia of translations of Greek and Arabic philosophic works."

Pada abad kedua belas, dunia Latin menerima limpahan terjemahan karya filsafat Yunani dan Arab.

Terjemahan Latin dari bagian tentang jiwa dalam al-Syifa' Ibnu Sina tersimpan dalam tidak kurang dari lima puluh naskah, di perpustakaan sepuluh negara Eropa. Thomas Aquinas menerima dalil mereka bahwa harus ada akal aktif, lalu menolak menaruhnya di luar manusia, dan menghabiskan berlembar-lembar melawan Ibnu Rusyd. Pada 1277 uskup Paris mengutuk puluhan dalil, dan yang paling dekat ke bahaya itu Siger dari Brabant, pengikut Ibnu Rusyd di fakultas seni.

Ada arah sebaliknya yang lebih jarang diceritakan. Terjemahan Arab atas De Anima Alexander sudah hilang. Yang tersisa terjemahan Ibraninya, dibuat dari bahasa Arab itu. Surat Ibnu Rusyd tentang kemungkinan bersentuhan dengan akal aktif juga hilang bahasa Arabnya dan bertahan dalam bahasa Ibrani. Sebagian dari yang ditulis dalam bahasa Arab cuma bisa dibaca sekarang karena orang Yahudi abad pertengahan menyalinnya.

Panggung tempat semua ini berlangsung, dua kekaisaran yang saling menghabiskan dan jemaat Kristen berbahasa Suryani di antara keduanya, sudah disusun ulang di In the Shadow of the Sword. Di panggung itu naskah Yunani mulai berpindah bahasa, dan Davidson mengambil ceritanya dari titik naskah-naskah itu sudah berbahasa Arab.

Yang nyaris tidak sampai ke sini

Tradisi ini hampir tidak ada di negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.

Yang sampai dan berakar kuat fikih dan tasawuf. Al-Ghazali dikenal luas, dan dikenal lewat Ihya Ulumuddin, sebagai pembimbing hidup batin. Bahwa ia juga meringkas Ibnu Sina sebelum menyanggahnya jarang jadi bagian dari cara ia diperkenalkan. Ibnu Rusyd lebih sunyi lagi: orang yang ulasannya masuk ke Eropa dan jadi lawan tetap Aquinas nyaris tidak ada di rak buku agama di sini.

Sebabnya barangkali yang sudah ditulis di catatan A Little History of Religion: yang bertahan bukan yang paling dalam renungannya, tapi yang paling rapi pengurusnya. Fikih punya pesantren, punya kitab kuning yang diajarkan berjenjang, punya jawaban untuk urusan sehari-hari. Tasawuf punya tarekat dan guru. Filsafat tidak pernah punya cabang sampai kecamatan.

Akibatnya satu kata bergeser artinya. Dalam banyak percakapan keagamaan di sini, akal ditaruh berhadapan dengan wahyu: yang satu jalan manusia, yang satu jalan Tuhan, dan tugas orang beriman memilih mana yang didahulukan. Dalam tradisi yang dibedah buku ini, susunannya sama sekali bukan itu. Akal justru alat yang dengannya manusia menyentuh sesuatu di atas manusia, dan wahyu sendiri diberi cara kerja yang lewat akal. Memakai akal sebaik-baiknya justru bentuk tertinggi hidup beragama, bukan saingannya.

Saya tidak sedang bilang mana yang benar. Yang tercatat cuma satu pilihan yang pernah dibuat orang Islam selama berabad-abad hampir tidak tersedia di rak kita, dan orang tidak bisa memilih sesuatu yang tidak pernah ia tahu ada.

Ibnu Rusyd menaruh pendapat akhirnya di pinggir halaman, dan tidak semua penyalin memindahkannya.

Sebagian besar dari kita menerima salinan tanpa catatan pinggir: nama-nama besar, gelar bapak kedokteran dan guru kedua, tanpa persoalan yang mereka urus dan tanpa jawaban yang mereka tinggalkan. Buku ini mengembalikan catatan pinggirnya, dengan harga yang tidak semua orang mau bayar: tiga ratus halaman lebih yang tidak sekali pun berusaha membuat pembacanya peduli.

Saya belum tahu apa yang berubah kalau pilihan itu tersedia di sini. Mungkin tidak banyak. Tapi yang tidak tersedia tidak bisa diuji, dan itu jawaban yang jauh lebih murah daripada yang pantas.

Lubang yang sama, dibuka lagi oleh mesin

Perkara yang dikerjakan tiga orang di buku ini kelihatan jauh sekali dari urusan sekarang. Dari mana datangnya pengertian? Kalau kepala manusia cuma bisa menerima, apa yang memberi? Aristoteles meninggalkan lubang di situ, dan mereka menghabiskan berabad-abad mengisinya dengan akal yang berdiri di luar manusia dan menyalakan pengertian di dalamnya.

Lubang itu terbuka lagi sekarang, dari arah yang sama sekali lain.

Mesin bahasa menghasilkan kalimat yang masuk akal, menjawab pertanyaan, dan menyusun uraian, tanpa ada yang bisa menunjuk di sebelah mana pengertiannya berada. Orang yang membangunnya pun tidak bisa. Yang ada lapisan hitungan, dan keluarannya kelihatan seperti hasil mengerti.

Perdebatan yang menyusul bentuknya persis perdebatan di buku ini, cuma kata-katanya berganti. Apakah yang keluar itu pengertian atau cuma bayangannya. Apakah ada sesuatu yang harus ditambahkan dari luar supaya sesuatu bisa disebut mengerti. Dan kalau ada, apa namanya.

Saya tidak sedang bilang mereka sudah menjawabnya. Justru sebaliknya: yang mereka susun jawaban yang sekarang tidak dipakai siapa pun, dan sebagian besarnya memang tidak bisa dipakai lagi.

Yang tetap berdiri cara mereka menaruh pertanyaannya, dan kesediaan menyebut lubangnya lubang. Delapan ratus tahun kemudian, di ruangan yang penuh orang yang mengerti hitungannya sampai ke baris terakhir, lubang yang sama masih di tempatnya, dan sekarang lebih jarang disebut.

Baca berikutnya