Tuhan jadi lebih lapang waktu tetangga berguna, dan alat untuk memeriksanya sudah dicetak kecil di kepala tiap surat.

Cara kerja Wright sederhana dan nakal sekaligus. Kitab dibaca menurut urutan turunnya, bukan urutan jilidnya, lalu tiap bagian ditanya satu hal: waktu ini ditulis, apa yang sedang menimpa orang-orangnya?

Jawabannya, sesudah empat ratus halaman, muat dalam satu kalimat. Tuhan jadi lebih lapang waktu tetangga berguna, dan jadi lebih keras waktu tetangga jadi ancaman.

"Thus theological open-mindedness can boil down to economic self-interest. Because both parties in a trade can benefit from it—because economic interaction is 'non-zero-sum'—two once-alien gods may find common ground."

Jadi keterbukaan teologis bisa berujung pada kepentingan ekonomi sendiri. Karena dua pihak yang berdagang sama-sama untung, karena dagang itu permainan yang tidak berjumlah nol, dua dewa yang tadinya asing bisa menemukan titik temu.

Saya kenal cara membaca ini jauh sebelum kenal nama Wright, dan bukan dari buku. Dari satu baris kecil di kepala tiap surat pada mushaf yang ada di rumah. Nanti sampai ke situ.

Yosia meratakan tempat-tempat tinggi

Bahan paling padat datang dari Alkitab Ibrani, dan yang paling melekat bukan soal Tuhan yang mana, tapi soal siapa yang memegang tafsirnya.

Nabi Hosea, abad kedelapan sebelum Masehi, orang pertama yang jelas-jelas menuntut Israel menyembah Yahweh saja. Wright memasangkan zamannya dengan galian arkeolog: masa itu ketimpangan ekonomi melebar, perdagangan luar negeri membesar, dan yang paling dekat dengan perdagangan itu orang kaya. Menolak dewa asing dan menolak orang kaya yang berkawan dengan orang asing jadi satu suara.

Seabad kemudian raja Yosia meratakan semua tempat ibadah di luar Yerusalem. Wright menerangkan untuk apa:

"So long as those altars had been in service, manned by local priests or prophets beyond Jerusalem's easy control, the interpretation of Yahweh's will was dangerously open-ended."

Selama mezbah-mezbah itu masih dipakai, dijaga imam atau nabi setempat yang tidak gampang dikendalikan Yerusalem, tafsir atas kehendak Yahweh terbuka lebar, dan itu berbahaya.

Mesin itu tidak berhenti di Yerusalem. Tiap kali ada usul supaya naskah khotbah Jumat disusun dari pusat, yang menolak paling keras bukan orang yang jarang salat. Yang menolak orang yang tahu persis mimbar itu milik siapa.

Wright menahan diri di titik yang gampang dilewati penulis lain. Sejarah yang kebetulan membenarkan Yosia, tulisnya, bukan berarti hasil kebohongan yang disengaja. Riwayat lisan bergeser sendiri ke arah yang menguntungkan penuturnya tanpa ada satu orang pun yang mengemudikannya. Itu urutan periksa yang benar: kelalaian dulu, baru rancangan.

Dan Yosia sendiri, menurut satu ahli yang ia kutip, gagal total. Ia mati lebih dulu, negerinya runtuh tidak lama sesudahnya. Wright menyebutnya orang yang paling sukses secara terbalik dalam sejarah, sebab justru kegagalan itulah yang melahirkan bab berikutnya.

Satu Tuhan lahir di pembuangan

Tahun 586 sebelum Masehi Yerusalem jatuh, dan orang-orangnya dibawa ke Babilonia. Di situlah, kata Wright, untuk pertama kalinya muncul kalimat yang tegas bahwa dewa lain tidak ada. Bukan cuma tidak boleh disembah. Tidak ada.

Logikanya ia bongkar tanpa hiasan. Kalau bangsamu dihancurkan kekaisaran terbesar yang kamu kenal, dan kamu tetap mau percaya Tuhanmu yang mengatur semuanya, maka Tuhanmu harus lebih besar dari kekaisaran itu. Makin besar yang menghantammu, makin besar Tuhanmu.

"Monotheism was, among other things, the ultimate revenge."

Ketuhanan yang satu itu, di antara hal-hal lain, balas dendam yang paling pamungkas.

Kalimat itu pahit, dan Wright tidak menaruh pelunak sesudahnya. Nabi yang sama yang mengumumkan Tuhan yang satu juga mengumumkan bangsa-bangsa yang pernah menindas Israel kelak akan bersujud ke Sion. Dua-duanya di halaman yang sama.

Baris kecil di kepala tiap surat

Buka mushaf cetakan mana pun di rumah orang Indonesia. Di bawah nama tiap surat ada satu kata: Makkiyah atau Madaniyah. Turun di Mekah, atau turun di Madinah.

Baris itu alat Wright. Seluruh bagian Alqurannya berdiri di atas pembedaan yang sudah dicetak tradisinya sendiri berabad-abad, lengkap dengan ilmu tersendiri tentang sebab turunnya tiap ayat. Yang ia lakukan cuma membaca label itu seperti membaca tanggal, dan itu kebanggaan yang layak: tradisi ini menyimpan sendiri urutan yang dibutuhkan untuk memeriksanya.

Yang ia temukan dari label itu: surat-surat Mekah, waktu jemaat masih kecil dan dimusuhi, berisi "bagimu agamamu, bagiku agamaku". Sesudah hijrah, waktu jemaat sudah jadi negara dengan musuh, muncul kalimat "taatilah Allah dan taatilah Rasul", yang menurut hitungan Wright ada beberapa kali di surat Madinah dan tidak sekali pun di surat Mekah. Piagam Madinah, yang menurutnya tampak asli, masih mengakui orang Yahudi hidup dengan agamanya sendiri. Yang terjadi sesudahnya tercatat di Sirah Nabawiyah, lengkap dengan daftar nama.

"In no other scripture do you so quickly move from 'To you be your religion; to me my religion' to 'Kill the polytheists wherever you find them' to 'There is no compulsion in religion,' and back again."

Tidak ada kitab lain yang secepat ini berpindah dari "bagimu agamamu, bagiku agamaku" ke "bunuhlah orang musyrik di mana pun kalian temukan" ke "tidak ada paksaan dalam agama", lalu kembali lagi.

Ayat yang kedua itu, ayat pedang, dikutip Osama bin Laden pada 1996, dan Wright menunjukkan bahwa makin dekat dibaca makin sempit izin yang diberikannya. Yang mengutipnya untuk berperang memotong ayat sesudahnya. Yang mengutip "tidak ada paksaan" untuk membantah biasanya memotong ayat pedangnya. Dua-duanya memakai gunting yang sama, ke arah yang berlawanan, dan itu kenyataan yang berlaku ke semua pihak. Tradisinya sendiri tahu ketegangan itu, dan punya ilmu tersendiri untuk mengurus ayat mana yang menghapus ayat mana.

Ada satu lubang yang jangan ditutup-tutupi. Urutan turun yang dipakai Wright sebagian ditetapkan dari isi ayatnya sendiri, jadi kecocokan ayat dengan keadaan bisa berputar: ayat yang keras ditaruh di masa yang keras karena bunyinya keras. Dan Tom Holland di In the Shadow of the Sword meragukan sumber-sumber yang dipakai Wright begitu saja. Dua buku itu tidak bisa dua-duanya benar sepenuhnya, dan Wright tidak menyediakan halaman untuk keraguan itu.

Sumpah leluhur di Maluku yang menguji dalilnya

Dalil Wright menghasilkan ramalan yang bisa diuji: di tempat orang benar-benar saling membutuhkan, batas antar-kelompok melunak.

Maluku punya lembaga yang menguji itu langsung. Pela gandong itu ikatan persaudaraan antarnegeri, disumpahkan leluhur dan diwariskan ke keturunannya. Negeri yang berpela wajib saling menolong membangun rumah ibadah dan menolong waktu susah, dan orang dari dua negeri berpela secara adat tidak menikah satu sama lain, karena statusnya saudara. Banyak dari ikatan itu berjalan antara negeri yang sekarang Kristen dan negeri yang sekarang Islam, dan ikatannya lebih tua dari dua agama itu.

Itu dalil Wright dalam bentuk lembaga. Negeri-negeri yang saling membutuhkan menyusun bentuk yang membuat kebutuhan itu tetap, lalu menaruhnya di tempat yang tidak bisa dijangkau perdebatan ajaran.

Ujian beratnya datang pada 1999 sampai 2002. Sebagian pela bertahan, dan ada negeri yang tidak diserang karena ikatan itu. Sebagian putus, dan yang memutuskannya sering justru orang yang datang dari luar, yang tidak punya pela dengan siapa pun di situ. Wright akan meramalkan persis begitu: ikatannya kuat, dan tetap kalah waktu ada pihak yang berhasil membuat untung yang satu berarti rugi yang lain.

Anak panah yang digambar sesudah kejadian

Sampai di mekanismenya saya ikut Wright, dan itu sebagian besar bukunya. Aturan agama yang bertahan ribuan tahun hampir selalu punya dasar yang bisa dihitung, dan Marvin Harris di Cows, Pigs, Wars, and Witches sudah menghitungnya untuk babi dan sapi. Wright menghitungnya untuk Tuhan.

Di satu langkah berikutnya saya berhenti. Wright menyimpulkan ada arah: kemajuan moral bersih dalam sejarah, anak panah yang tertanam di dalamnya, dan di bab penutup ia menduga sumber tatanan moral itu mungkin layak disebut Tuhan, dengan perbandingan ke fisikawan yang percaya elektron tanpa pernah bisa membayangkannya.

Buktinya sendiri yang paling menolak itu. Kalimatnya tentang kitab yang berpindah dari lapang ke keras ke lapang ditutup dengan "lalu kembali lagi". Yang kembali lagi bukan anak panah. Itu bandul, dan arahnya ditentukan keadaan, persis seperti yang ia buktikan selama empat ratus halaman. Anak panahnya baru kelihatan kalau kita berdiri di ujung dan menoleh ke belakang.

Soal elektron, keterangannya lebih sederhana dari yang ia mau. Fisikawan mempertahankan elektron karena hitungannya meramalkan sesuatu yang bisa diperiksa besok. Sumber tatanan moral tidak meramalkan apa-apa. Wright sendiri buru-buru menyebut kalimatnya itu pada dasarnya agnostik. Setuju, dan justru karena itu kata Tuhan tidak perlu ada di dalamnya.

Wright menyebut Indonesia satu kali, sebagai tempat yang menurutnya hampir tidak ada orang membaca bukunya. Satu sudah.

Yang terpakai dari buku ini bukan kesimpulannya, tapi satu pertanyaan yang kena tiap kali ada ayat disodorkan, dari mimbar, dari grup sebelah, atau pas musim kampanye: ayat yang mana, dari masa yang mana, dan waktu itu apa yang sedang menimpa orang-orang yang pertama menerimanya.

Jawabannya sudah dicetak kecil di kepala tiap surat. Yang belum saya temukan: cara bertanya begitu di pengajian tanpa dianggap sedang menggugat.

Mesinnya berjalan mundur, dan itu ada di bukunya

Dalil Wright yang paling sering diringkas orang: gambaran tentang Tuhan cenderung jadi lebih luas dan lebih menerima seiring waktu, karena hubungan antarkelompok makin sering jadi hubungan yang menguntungkan kedua belah pihak.

Yang jarang ikut diringkas separuh keduanya, dan separuh itu yang sedang berlaku sekarang. Mesin yang sama berjalan ke arah sebaliknya. Waktu hubungan antarkelompok berubah jadi keadaan yang keuntungan satu pihak berarti kerugian pihak lain, gambaran tentang Tuhan ikut mengeras, dan ayat-ayat yang mengeras itu memang tersedia di kitab mana pun.

Sejak Oktober 2023 kita melihat versi besarnya. Dua tahun lebih perang, dan di dua sisinya bahasa keagamaan dipakai lebih keras daripada beberapa dasawarsa sebelumnya, oleh orang yang selama ini paling jarang memakainya.

Wright tidak akan menyebut itu membantah bukunya. Ia justru sudah menyediakan tempatnya, dan itu bagian yang bikin bukunya lebih jujur dari kesan judulnya.

Yang jadi soal buat saya bagian sesudahnya. Kalau arah mesinnya ditentukan keadaan hubungan antarkelompok, maka mengajak orang melembutkan tafsirnya, dari mimbar mana pun, hampir tidak ada gunanya selama keadaannya belum berubah.

Dan itu kesimpulan yang tidak enak, sebab keadaan antarkelompok bukan hal yang bisa diperbaiki dari mimbar.

Baca berikutnya