Ada satu pertanyaan yang diam-diam sering muncul di kepala saya setiap kali melihat label "non-halal" di sebuah restoran: apakah kita benar-benar tahu *mengapa*, atau kita hanya tahu bahwa kita *tidak boleh*?
Bukan berarti saya sedang mempertanyakan keyakinan siapapun. Tapi Marvin Harris, seorang antropolog yang bukunya baru saya selesaikan — *Cows, Pigs, Wars, and Witches* — mengajukan pertanyaan yang lebih menggelisahkan dari itu: bagaimana jika larangan yang kita rayakan sebagai identitas spiritual, pada mulanya, adalah sebuah kebijakan publik yang sangat pragmatis?
Harris membahas banyak hal dalam buku ini — dari kultus sapi di India sampai logika perang di suku-suku primitif. Tapi yang paling relevan untuk kita, yang hidup di negara mayoritas Muslim ini, adalah soal babi. Bukan karena saya ingin memprovokasi, tapi karena inilah larangan yang paling mendarah daging di kehidupan sehari-hari kita. Dan justru karena itu, ia layak untuk dimengerti, bukan hanya dipatuhi.
---
Mari kita mulai dari mitos yang paling populer: babi itu kotor dan membawa penyakit.
Argumen ini sudah beredar sejak Maimonides di abad ke-12, makin dikuatkan ketika trikinosis ditemukan di abad ke-19. Terdengar saintifik. Tapi begitu kamu periksa lebih jauh, argumentasinya mulai retak. Sapi dan domba — dua hewan yang sangat halal dan disucikan — ternyata sama-sama bisa membawa antraks dan bruselosis. Bahkan Kitab Keluaran sendiri mencatat wabah antraks yang menghantam manusia dan ternak. Jadi kalau standarnya "membawa penyakit", kategori haramnya seharusnya jauh lebih panjang.
Soal "kotor" juga sama menariknya. Babi berkubang di lumpur bukan karena jorok secara karakter, tapi karena mereka hampir tidak punya kelenjar keringat. Di suhu di atas 84 derajat Fahrenheit, mereka butuh lumpur segar untuk mendinginkan tubuh. Kalau mereka dikurung di tempat panas tanpa akses air, barulah mereka terpaksa berkubang di urin dan kotoran sendiri. Itu bukan perilaku hina — itu survival response. Manusia di sauna juga akan melakukan hal yang tak kalah memalukan kalau tidak punya handuk.
---
Jadi kalau bukan soal kesehatan, apa yang sesungguhnya terjadi?
Jawabannya ada di ekologi dasar. Leluhur agama-agama Semitik adalah penggembala nomaden di kawasan Timur Tengah yang panas dan gersang. Kambing, domba, sapi — mereka adalah mesin yang efisien: memakan rumput dan selulosa yang tidak bisa dicerna manusia, lalu mengubahnya menjadi daging, susu, dan tenaga kerja. Babi? Sebaliknya. Babi adalah hewan hutan. Mereka makan biji-bijian, buah, umbi — persis seperti yang dimakan manusia. Di ekosistem yang sedang berjuang keras mempertahankan sumber daya, memelihara babi berarti memelihara pesaing langsung di meja makan.
Bayangkan ini: seseorang di Pantura yang terik nekat memelihara segerombolan Husky salju di halaman rumah. Butuh ruangan ber-AC sepanjang waktu, makanan impor khusus, perhatian ekstra. Kalau satu kampung melakukan ini di tengah ancaman krisis air dan pangan, kampung itu tidak akan bertahan lama. Itulah persis posisi babi di Timur Tengah kuno — bukan karena ia jahat, tapi karena ia tidak *fit* secara ekologi.
Seiring hutan menghilang dan populasi manusia tumbuh, memelihara babi bukan lagi sekadar tidak efisien. Ia menjadi ancaman langsung terhadap kelangsungan komunitas.
---
Tapi di sinilah paradoksnya, dan ini yang membuat saya berhenti sejenak cukup lama.
Kalau babi itu menjijikkan secara alamiah — rasanya hambar, susah ditangkap, atau tidak menarik — tidak akan ada yang tertarik memakannya. Tidak perlu ada larangan. Masalahnya justru sebaliknya: babi itu *enak*. Dagingnya succulent, berlemak, memuaskan. Harris menulisnya dengan kalimat yang tidak bisa saya lupakan begitu saja:
*"As in the case of the beef-eating taboo, the greater the temptation, the greater the need for divine interdiction... Pigs tasted good but it was too expensive to feed them and keep them cool."*
Artinya: larangan itu muncul justru *karena* godaannya nyata. Kalau tidak ada yang ingin memakannya, tidak perlu ada yang dilarang.
Ini pola yang terus berulang dalam sejarah manusia. Kita tidak membuat aturan untuk hal-hal yang tidak menggoda. Kita membuat aturan justru untuk hal-hal yang paling kita inginkan tapi paling berbahaya untuk kita miliki.
---
Dan karena masyarakat pra-industri tidak punya kementerian lingkungan hidup, tidak punya lembaga riset ekologi, tidak punya kebijakan berbasis data — mereka punya satu-satunya alat yang benar-benar efektif untuk mengubah perilaku massal: sanksi ilahi.
Larangan itu bukan kemunafikan. Itu adalah *manajemen sumber daya* yang dibungkus dalam bahasa yang bisa dipahami dan ditaati oleh semua orang, dari pemimpin suku sampai anak gembala. Di dunia tanpa literasi ilmiah, "Tuhan melarang" adalah kebijakan publik yang paling murah sekaligus paling kuat yang pernah ada.
---
Yang menarik — dan sedikit ironis — adalah apa yang terjadi kemudian.
Kondisi ekologis yang melahirkan larangan itu sudah lama berubah. Kita punya lemari pendingin. Kita punya teknologi peternakan modern. Babi bisa dipelihara di kawasan yang jauh lebih lembap dan cocok. Ancaman ekologis yang menjadi akar larangan itu sudah tidak relevan secara teknis. Tapi larangannya tetap berjalan — bukan lagi sebagai solusi ekologi, melainkan sebagai penanda identitas.
Seorang yang menolak sepotong daging hari ini mungkin tidak sedang melindungi daya dukung habitatnya. Ia sedang menyatakan siapa dirinya. Dan itu — secara sosiologis — adalah fungsi yang sama kuatnya, hanya berbeda konteks.
Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi ada perbedaan besar antara melakukan sesuatu karena paham sejarahnya, dan melakukan sesuatu karena tidak pernah bertanya.
---
Buku Harris tidak memberikan jawaban yang rapi. Ia hanya menyalakan lampu di ruangan yang sudah lama gelap dan membiarkan kita melihat apa yang ada di sana. Yang menggelisahkan bukan apa yang kita temukan — tapi betapa nyamannya kita selama ini di dalam kegelapan itu.
Dan saya rasa, itu sudah cukup untuk membuat kita tidak bisa tidur nyenyak malam ini.
---
*Karena itulah, mungkin, pertanyaan yang paling jujur bukan "apakah ini benar atau salah?" — tapi "apakah kamu tahu mengapa kamu percaya pada apa yang kamu percaya?"*