Daftar larangan itu peta keinginan, dibaca terbalik.

Label "non-halal" di depan restoran itu tanda yang tidak perlu dibaca. Sekali lihat semua orang sudah tahu maksudnya, dan tidak ada yang merasa perlu bertanya kenapa.

Catatan ini ditulis dari kursi orang yang dulu memegang aturan itu dengan yakin, lalu keyakinan itu luntur pelan-pelan. Dari kursi itu pertanyaannya berubah. Bukan lagi boleh atau tidak boleh, melainkan kenapa aturan sebesar itu pernah dibuat, dan kenapa aturan itu sanggup bertahan ribuan tahun tanpa sekali pun menerangkan sebabnya kepada siapa-siapa.

Marvin Harris punya jawaban yang dingin. Banyak aturan suci soal makanan, pada mulanya, hitungan alam dan ekonomi yang sangat masuk akal.

Dua keterangan yang bocor

Yang paling sering dipakai: babi kotor dan membawa penyakit. Umurnya panjang, dari Maimonides di abad kedua belas sampai ditemukannya trikinosis pada abad kesembilan belas, yang waktu itu disambut sebagai bukti bahwa kitab sudah tahu lebih dulu.

Harris membongkarnya dengan daftar. Bruselosis dibawa kambing dan domba. Antraks dibawa sapi, domba, kambing, kuda, dan bagal, dan tidak dibawa babi. Semuanya halal. Antraks pun bukan penyakit yang belum dikenal waktu kitab itu ditulis: wabahnya tercatat di Kitab Keluaran, menimpa ternak sekaligus manusia. Kalau ukurannya penyakit, yang mestinya paling keras dilarang justru yang tidak dilarang sama sekali.

Keterangan kedua, babi jorok karena berkubang di kotorannya sendiri, juga tidak berdiri. Babi tidak punya bulu pelindung dan tidak bisa berkeringat, jadi kulitnya harus dibasahi dari luar. Yang dicarinya lumpur bersih. Di bawah dua puluh sembilan derajat, babi yang dikandangkan membuang kotorannya jauh dari tempat tidur dan tempat makannya. Di atas suhu itu, kalau tidak ada air dan tidak ada lumpur, barulah ia memakai apa pun yang ada. Itu bukan watak. Itu satu-satunya cara mendinginkan badan.

Yang sebenarnya sedang dihitung

Sapi, kambing, dan domba punya kantong pencernaan yang membuat mereka sanggup mengolah rumput dan dedaunan, bahan yang perut manusia tidak bisa apa-apakan. Mereka mengubah yang tidak bisa dimakan jadi susu, daging, dan tenaga.

Babi tidak begitu. Babi hewan hutan dan tepi sungai yang teduh. Berat badannya naik paling bagus dari biji-bijian, kacang, buah, dan umbi, persis daftar belanja manusia. Ia tidak bisa hidup dari rumput saja. Memelihara babi berarti memberi makan pesaing di meja yang sama.

Lalu keadaannya memburuk. Antara tujuh ribu dan dua ribu tahun sebelum Masehi, penduduk Timur Tengah bertambah enam puluh kali lipat. Hutannya menyusut, sebagian besar karena kawanan domba dan kambing yang merusaknya secara permanen. Naungan dan air, dua hal yang justru paling dibutuhkan babi, makin susah dicari.

Di tanah seperti itu babi bukan sekadar boros. Babi jadi barang mewah.

Larangan yang paling keras menandai keinginan yang paling besar

"As in the case of the beef-eating taboo, the greater the temptation, the greater the need for divine interdiction."

Sama seperti pada larangan makan sapi, makin besar godaannya, makin besar kebutuhan akan larangan yang datang dari langit.

Ini bagian bukunya yang paling saya pakai, dan gunanya jauh melampaui urusan makanan.

Tidak ada kitab yang perlu melarang orang makan pasir. Larangan cuma dibuat untuk hal yang memang ada peminatnya. Harris menuliskannya terang: babi rasanya enak, cuma memberinya makan dan menjaganya tetap sejuk terlalu mahal. Memelihara sedikit-sedikit pun tidak menolong, sebab justru itu yang memperbesar godaannya. Lebih aman ditutup sekalian.

Pakai cara baca itu di luar bukunya dan hasilnya langsung terasa. Apa yang paling sering diperingatkan di sebuah tempat biasanya menandai apa yang paling sering dilanggar di tempat itu. Aturan yang ditempel paling besar di dinding kantor biasanya aturan yang paling banyak diakali. Daftar larangan itu peta keinginan, dibaca terbalik.

Sapi India: kekurangan yang disangka kelebihan

Bagian sapinya lebih mengejutkan daripada bagian babi, sebab yang dibongkar Harris bukan cuma keterangan orang lain, tapi seluruh gambaran yang sudah telanjur ada di kepala.

Gambaran itu begini: India kelaparan, sapinya berkeliaran di jalanan sampai menghambat kereta dan lalu lintas, dan orangnya tidak mau menyembelihnya karena agama. Kelihatannya jelas siapa yang salah.

Harris membalik hitungannya. Sapi jantan itu sumber tenaga bajak utama di sana, dan satu pasang cukup untuk sawah seluas empat hektare ke bawah. Sapi betina gunanya melahirkan jantan itu. Jadi pertanyaannya bukan kenapa sapinya kebanyakan, sebab yang terjadi justru kebalikannya: India kekurangan sapi, bukan kelebihan.

Angka susunya juga sering dipakai untuk menertawakan, sekitar dua ratus kilogram setahun, jauh di bawah sapi perah Amerika. Tapi membandingkannya salah kaprah, sebab susu bukan tugas utamanya. Menghitung sapi India dengan ukuran sapi perah Amerika sama seperti menilai mesin traktor dari sedikitnya susu yang keluar.

Yang paling telak, Harris menguji dugaan bahwa agamalah yang bikin sapi betina berlebih. Pakistan Barat, yang muslim dan tidak memuja sapi sama sekali, punya enam puluh betina untuk tiap seratus jantan. Uttar Pradesh, negara bagian India yang paling kental Hindunya, angkanya justru lebih rendah. Kalau pemujaan sapi yang menentukan, angkanya mestinya terbalik.

Dan soal boros, hitungannya juga berbalik. Efisiensi tenaga sapi India, yaitu kalori berguna yang dihasilkan dibagi kalori yang dimakan, sekitar tujuh belas persen. Sapi potong Amerika yang digembalakan di padang barat, kurang dari empat persen. Di Amerika tiga perempat lahan pertaniannya dipakai memberi makan sapi, bukan memberi makan orang.

Yang selama ini dianggap contoh paling terang tentang agama mengalahkan akal sehat ternyata sistem yang jauh lebih hemat daripada sistem yang menertawakannya.

Katupnya mengarah ke bawah

Ada satu hal yang jarang ikut disebut. Larangan itu tidak pernah berlaku merata.

Dua puluh juta sapi mati sendiri tiap tahun di India, dan kasta paling rendah punya hak mengurus bangkainya lalu memakan dagingnya. Waktu kelaparan besar melanda Benggala pada Perang Dunia Kedua, sapi dan hewan bajak pun disembelih.

Saya justru membaca itu sebagai tanda aturan yang mempan, bukan aturan yang bocor. Aturan yang sama sekali tidak punya kelenturan akan patah begitu keadaan menekan cukup keras, dan yang sudah patah tidak pernah tersambung lagi. Yang punya celah di bawah bisa bertahan ribuan tahun tanpa pernah benar-benar diuji sampai putus.

Bagian yang tidak enaknya tetap perlu ditulis: katup itu arahnya ke bawah. Yang dijaga suci di atas sampai di bawah dalam bentuk bangkai. Dua-duanya benar sekaligus, dan Harris sendiri mencatat bahwa yang paling dirugikan kalau rumah potong diperbanyak justru petani miskin yang sapinya kurus, bukan orang kota yang mampu membeli daging.

Aturannya ikut orangnya, bukan ikut tanahnya

Dilihat dari sini, penjelasan soal babi langsung goyah.

Seluruh alasan Harris soal babi bertumpu pada satu keadaan: Timur Tengah yang kering, hutannya habis, naungan dan air langka.

Di sini keadaannya kebalikan sempurna. Hutan, hujan hampir sepanjang tahun, kubangan di mana-mana, dan babi hutan hidup subur tanpa ada yang mengurus. Tidak ada satu pun sebab material Harris yang berlaku di kepulauan ini. Tapi justru di sinilah penganut pantangan itu paling banyak sedunia.

Bacaan saya, aturannya ikut orangnya, bukan ikut tanahnya. Begitu masuk jadi bagian dari agama, aturannya berpindah bersama pedagang dan mubalig ke tempat yang alamnya sama sekali lain, dan sebab asalnya tidak ikut dibawa. Yang menyeberang bukan hitungan pakannya, cuma perintahnya.

Ini bukan cacat bukunya, dan bukan pula alasan untuk mengangkat alis pada siapa pun. Ini cuma batas dari apa yang sanggup diterangkan hitungan alam. Ia bisa menerangkan kenapa aturan itu lahir. Ia tidak menerangkan apa-apa tentang kenapa aturan itu bertahan enam ribu kilometer dari tempat lahirnya, di tanah yang setiap syaratnya berlawanan.

Dugaan saya, dan kenapa dugaan itu lemah

Waktu membaca bagian ini saya sempat menyimpulkan sendiri bahwa bungkus imannya sengaja dipilih sejak awal. Orang zaman dulu bukan orang bodoh. Mereka melihat akibatnya bertahun-tahun, tahu babi bersaing pakan dengan manusia, lalu memilih bahasa yang paling mempan untuk menyampaikannya, sebab menerangkan daya dukung lahan pakai logika kepada orang sekampung tidak akan ke mana-mana.

Harris tidak bilang begitu, dan sesudah dipikir lagi dugaan saya memang lemah.

Sebab dugaan itu butuh terlalu banyak. Ia butuh ada orang yang paham ekologi berabad-abad sebelum ada kata untuk itu, butuh orang itu sengaja membungkusnya, dan butuh bungkus itu diteruskan turun-temurun tanpa isinya pernah bocor. Tidak ada catatan siapa pun melakukannya.

Versi Harris tidak butuh siapa pun paham apa pun. Kampung yang kebetulan punya pantangan itu lebih tahan waktu kemarau panjang, jadi penduduknya bertahan dan aturannya ikut menyebar. Yang tidak punya, menyusut. Aturannya menang karena mempan, bukan karena ada yang merancangnya.

Dugaan yang meminta lebih sedikit biasanya yang lebih layak dipegang. Tapi jujur saja, dua-duanya tidak bisa diuji, dan itu justru penyakit yang sama yang menempel di seluruh cara kerja Harris.

Yang tidak bisa dijawab hitungan pakan

Keberatan terbesar terhadap Harris datang dari sesama antropolog, bukan dari orang yang tersinggung: keterangan macam ini terlalu gampang dibuat. Ambil kebiasaan apa pun, cari keadaan alam yang cocok, lalu susun ceritanya mundur. Seandainya babi justru diwajibkan, alasan alam yang sama meyakinkannya juga bisa dikarang. Keterangan yang tidak bisa salah bukan keterangan yang kuat.

Keberatan yang lebih telak justru ditulis Harris sendiri, di paragraf yang sama tempat ia menutup bagian itu. Ia mengakui banyak pertanyaan yang belum terjawab, terutama kenapa makhluk lain yang dilarang oleh ayat yang sama, burung nasar, elang, ular, siput, kerang, dan ikan tak bersisik, ikut kena larangan yang sama. Hitungan pakan tidak menerangkan satu pun dari daftar itu.

Ada juga keterangan lain yang tidak butuh kalori sama sekali. Babi janggal karena berkuku belah tapi tidak memamah biak, jadi ia tidak masuk golongan mana pun, dan yang tidak masuk golongan selalu bikin risi. Harris mencantumkan buku yang mengajukan keterangan itu di daftar bacaannya, lalu memilih jalan yang lain.

Jadi bukunya membuka satu pintu yang lama tertutup. Bukan menutup perkaranya.

Penyihir yang sengaja diperbanyak

Satu bab lain layak disebut, sebab di situ cara berpikir yang sama dipakai ke perkara yang sama sekali berbeda.

Selama ini diandaikan tugas pemburu penyihir adalah menghabisi penyihir. Harris mengajukan kebalikannya: mereka justru memperbanyak pasokannya, tahun demi tahun, dan sistem itu memang dirancang supaya tidak pernah kehabisan.

Gunanya bukan cuma harta sitaan dan ongkos penyiksaan, meski itu ada. Gunanya, tulis Harris, kegilaan penyihir itu memecah dan menceraikan seluruh tenaga protes yang sedang mengumpul. Orang miskin jadi tidak bergerak, jarak antar mereka melebar, dan mereka saling mencurigai. Tetangga diadu dengan tetangga.

Bandingkan dengan gerakan mesias yang ia bahas di bab sebelahnya, yang justru mengumpulkan orang dari wilayah luas ke satu tempat dan satu waktu, lalu berujung pada bentrokan terbuka melawan yang di puncak.

Bedanya cuma satu: kemarahan yang sama diarahkan ke atas atau ke samping.

Sapi yang didatangkan, di negeri yang tidak minum susu

Kalau Harris masih hidup, saya kira bagian ini yang akan ia ambil.

Program makan bergizi gratis memasang susu sebagai salah satu tiangnya. Tujuh puluh sampai delapan puluh persen susu yang diminum di negeri ini datang dari luar. Sapi perah yang ada 540.657 ekor, dan untuk berdiri sendiri dibutuhkan sekitar dua juta. Peta jalannya menyebut satu juta sapi perah didatangkan sampai 2029, ditambah satu juta sapi pedaging.

Cara Harris bertanya selalu sama: hitungan apa yang membuat kebiasaan makan sebuah tempat jadi begitu bentuknya. Dipakai ke sini, jawabannya keluar sendiri. Sapi perah butuh hawa sejuk dan rumput yang banyak, dua hal yang tidak berlimpah di sebagian besar kepulauan ini, dan sebagian besar orang dewasa di kawasan ini memang tidak mencerna susu dengan enak. Susu tidak pernah jadi lauk di sini bukan karena orangnya belum tahu gizi.

Yang menarik bukan itu saja. Bab tentang sapi India di buku ini menerangkan kenapa sapi lebih berharga hidup daripada disembelih, dan hitungannya hitungan setempat: tenaga bajak, kotoran untuk pupuk dan bahan bakar, susu sedikit tapi terus-menerus. Sapi yang sekarang didatangkan tidak berdiri di atas hitungan setempat mana pun. Ia berdiri di atas daftar gizi yang disusun untuk kebiasaan makan tempat lain.

Harris akan menyebut itu hal biasa. Kebiasaan makan memang selalu ikut hitungan yang lebih kuat, dan sekarang yang lebih kuat anggaran negara.

Yang belum ketahuan hitungan itu bertahan berapa lama sesudah dua juta ekor sapinya sampai, dan siapa yang memelihara mereka waktu programnya berganti nama.

Harris tidak menutup bukunya dengan kesimpulan. Ia cuma menyalakan lampu di ruangan yang lama gelap.

Dan yang tersisa buat saya bukan soal larangan babi. Yang tersisa daftar hal yang saya kerjakan tiap hari tanpa pernah tahu sebabnya. Hari baik untuk memulai sesuatu. Urutan yang harus diikuti waktu ada yang meninggal. Pantangan yang disebut ibu waktu kecil dan tidak pernah dijelaskan alasannya.

Sebagian mungkin punya hitungan yang masuk akal di zamannya, dan hitungan itu sudah lama tidak berlaku. Sebagian mungkin memang tidak pernah punya alasan apa-apa.

Yang bikin tidak enak bukan kemungkinan itu. Yang bikin tidak enak adalah menyadari bahwa dari dalam, dua-duanya terasa persis sama.

Infografis

Infografis Cows, Pigs, Wars, and Witches bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya