Popper menulis buku ini di Selandia Baru antara 1938 dan 1943, sesudah melarikan diri dari Wina. Ia menyebutnya sendiri sumbangannya untuk perang, dan ia menulisnya sambil yakin Hegel dan pengikut Hegel ikut bertanggung jawab atas apa yang sedang terjadi di Jerman. Suhunya terasa di hampir tiap halaman.
Sasarannya satu kebiasaan berpikir yang ia sebut historicism, historisisme: keyakinan bahwa sejarah bergerak menurut hukum yang bisa ditemukan, menuju tujuan yang bisa dipastikan.
Keberatannya bukan karena keyakinan itu bikin murung. Keberatannya karena keyakinan itu membenarkan apa saja. Kalau tujuannya sudah diketahui dan sudah pasti tiba, maka orang yang mengaku tahu tujuannya cuma sedang membantu yang memang sudah pasti, dan apa pun yang ia kerjakan terhadap orang yang menghalangi tidak dihitung sebagai kejahatan. Itu dihitung sebagai mempercepat.
Dalil pokok itu saya pegang juga, dan justru karena itu bukunya saya baca dengan ukuran yang lebih ketat, bukan lebih longgar. Orang yang sependapat dengan kita biasanya yang paling jarang diperiksa.
Sejarah tidak punya makna, dan itu bukan kesimpulan yang murung
Di halaman 668 ia menjawab pertanyaannya sendiri dalam empat kata:
"History has no meaning."
Sejarah tidak punya makna.
Lalu di halaman 679 ia menerangkan apa yang tersisa sesudah itu:
"Although history has no ends, we can impose these ends of ours upon it; and although history has no meaning, we can give it a meaning."
Meski sejarah tidak punya tujuan, kita bisa memaksakan tujuan kita sendiri ke atasnya; dan meski sejarah tidak punya makna, kita bisa memberinya makna.
Perhatikan bahwa yang kedua bukan penarikan kembali yang pertama. Memberi makna di sini pekerjaan orang yang hidup, bukan sifat yang ditemukan di dalam kejadiannya. Kalimat sesudahnya menutup lubang itu: alam maupun sejarah tidak bisa memberi tahu kita apa yang seharusnya kita perbuat.
Sejauh ini rak sejarah besar tidak punya kalimat yang lebih bersih dari itu.
Dua cara memperbaiki, dan alasannya soal pengetahuan
Melawan cara membangun masyarakat dari satu cetak biru besar, Popper menaruh cara yang ia sebut sedikit demi sedikit. Bedanya bukan soal keberanian, dan bukan soal ukuran ambisi.
"The piecemeal engineer will, accordingly, adopt the method of searching for, and fighting against, the greatest and most urgent evils of society, rather than searching for, and fighting for, its greatest ultimate good."
Orang yang memperbaiki sedikit demi sedikit akan memakai cara mencari dan melawan keburukan yang paling besar dan paling mendesak dalam masyarakat, bukan mencari dan memperjuangkan kebaikan terbesar yang paling akhir.
Yang membedakan keduanya soal pengetahuan. Rencana besar tidak bisa diuji, sebab terlalu banyak yang berubah sekaligus dan tidak ada akibat yang bisa ditunjuk sebabnya. Dan orang yang menjalankannya harus menekan bantahan supaya rencananya utuh, termasuk bantahan yang benar. Popper mengutip kalimat yang paling sering dipakai untuk itu: telur harus dipecah dulu kalau mau bikin telur dadar.
Bentuk yang paling gampang dikenali dari sini bukan proyek raksasa. Kurikulum sekolah. Diganti hampir tiap kali menterinya berganti, diberlakukan serentak dari Sabang sampai Merauke pada tahun ajaran yang sama, dan diumumkan sebagai perbaikan atas yang sebelumnya.
Yang tidak pernah ada satu pun: kelompok pembanding. Tidak ada satu provinsi yang sengaja dibiarkan memakai yang lama supaya lima tahun lagi ada yang bisa dibandingkan. Jadi tiap kali seorang menteri bilang kurikulumnya berhasil atau gagal, tidak ada satu angka pun yang bisa mendukung atau membantahnya, dan yang tersisa cuma pendapat orang yang mengganti melawan pendapat orang yang diganti.
Anak saya yang SMP sudah melewati dua kurikulum. Dua adiknya di TK hampir pasti akan melewati dua lagi. Tidak satu pun dari empat perubahan itu akan pernah punya bukti.
James C. Scott menambahkan bagian yang tidak dipegang Popper: sebelum rencananya dijalankan, pengetahuan setempat sudah dibuang lebih dulu supaya rencananya muat di atas kertas. Itu di Seeing Like a State.
Bukan cara menurunkan mereka, tapi berapa yang sanggup mereka rusak
Popper mengganti pertanyaan tertua ilmu politik, dan itu langkahnya yang paling sering dikutip. Yang dikutip orang biasanya bukan yang ia tulis.
"it forces us to replace the question: Who should rule? by the new question: How can we so organize political institutions that bad or incompetent rulers can be prevented from doing too much damage?"
Itu memaksa kita mengganti pertanyaan siapa yang pantas memerintah dengan pertanyaan baru: bagaimana kita menyusun lembaga politik supaya penguasa yang buruk atau tidak cakap bisa dicegah dari membuat terlalu banyak kerusakan?
Yang beredar biasanya versi yang lebih enak: bagaimana menyingkirkan penguasa buruk tanpa pertumpahan darah. Versi itu memindahkan seluruh beban ke hari pemilihan. Yang ia tulis di sini menaruh bebannya di antara dua pemilihan.
Kalau ukuran itu yang dipakai, jawaban kita terbelah. Sejak 1999 pemerintahan di sini berganti berkali-kali lewat pemungutan suara, termasuk pergantian yang hasilnya tidak disukai pihak yang sedang berkuasa. Itu bukan hal kecil, dan bukan hal yang jatuh sendiri.
Bagian yang kedua jawabannya lain. Undang-undang yang disahkan dalam hitungan hari, pembahasan yang selesai sebelum naskahnya beredar, lembaga pengawas yang kewenangannya dipangkas lewat perubahan undang-undang yang sah sepenuhnya. Semua itu terjadi di antara dua pemilihan, dan lima tahun ternyata waktu yang panjang sekali.
Serangannya pada Plato lebih pas ditimbang dari sisi Plato, dan itu urusan The Republic. Yang perlu disebut di sini cuma satu: pertanyaannya memang ganti, dan penggantinya lebih bisa dikerjakan.
Tempat arahnya dipasang kembali
Di sinilah bukunya bocor, dan bocornya persis di jenis kesalahan yang ia buru.
Seluruh buku ini berdiri di atas satu perpindahan: dari masyarakat tertutup, yang lembaganya keramat dan tidak boleh disentuh, ke masyarakat terbuka, tempat orang menghadapi pilihan sendiri. Perpindahan itu ia sebut salah satu revolusi paling dalam yang pernah dilewati manusia, ia taruh titik mulainya di Athena abad kelima sebelum Masehi, dan tentang kemungkinan kembali ia menulis bahwa kepolosan yang sudah hilang tidak bisa didapatkan lagi.
Lalu semua yang menolak perpindahan itu ia terangkan dengan satu sebab: the strain of civilization, tegangan peradaban. Rasa gamang yang lahir waktu orang kehilangan kelompoknya, dan yang membuat orang rindu pada susunan lama. Istilah itu ia pakai untuk menerangkan Plato, Hegel, nasionalisme, pemujaan pemimpin, dan hampir semua lawannya.
Keterangan yang bisa menerangkan sebanyak itu tidak menerangkan apa-apa. David Deutsch menyusun ujinya dengan rapi: keterangan yang baik itu yang susah diubah, sebab tiap bagiannya memikul beban, dan cabut satu maka semuanya runtuh. Ujinya ada di The Beginning of Infinity. Tegangan peradaban gagal di uji itu. Tukar sebabnya jadi kepentingan kelas, atau rasa terhina, atau harga beras, dan kalimatnya tetap jalan mulus.
Dan kalau semua yang tidak setuju sudah punya diagnosis lebih dulu, argumennya tidak bisa dilanjutkan. Itu persis yang ia tuduhkan kepada historisisme.
Tertutup dan terbuka juga bukan dua kotak yang muat buat kita. Kampung yang arisannya jalan, yang rukun kematiannya menanggung biaya pemakaman, dan yang penduduknya bisa pindah kapan saja ke kota tidak berada di salah satu dari dua kotak itu. Susunan seperti itu bukan tahap yang belum lewat.
Batas toleransi, dan garisnya ada di kepalan tangan
Gagasannya yang paling sering dikutip justru ia taruh di catatan kaki, dan aslinya jauh lebih hati-hati daripada bunyinya sekarang.
Toleransi tanpa batas berujung pada hilangnya toleransi. Tapi baca urutannya:
"as long as we can counter them by rational argument and keep them in check by public opinion, suppression would certainly be most unwise. But we should claim the right to suppress them if necessary even by force; for it may easily turn out that they are not prepared to meet us on the level of rational argument, but begin by denouncing all argument."
Selama kita masih bisa membantah mereka dengan argumen dan menahan mereka lewat pendapat umum, membungkam jelas tindakan yang paling tidak bijaksana. Tapi kita boleh menuntut hak untuk membungkam mereka, kalau perlu dengan kekerasan; sebab bisa saja ternyata mereka memang tidak bersedia menemui kita di tingkat argumen, dan malah mulai dengan menolak semua argumen.
Garisnya bukan di isi keyakinannya. Garisnya di kepalan tangan, dan Popper menyebutnya dengan kata itu juga: orang yang diajari menjawab argumen dengan tinju atau pistol.
Di sini garisnya sering dipasang di tempat yang lain. Yang ditertibkan biasanya isi keyakinannya, lewat izin yang tidak kunjung keluar atau tanda tangan tetangga yang tidak kunjung terkumpul. Sementara pihak yang datang membubarkan pertemuan orang lain jarang berhadapan dengan pasal apa pun. Dua-duanya keputusan kantor yang sama.
Yang menyerukan ketertiban di situ tidak pernah termasuk yang harus mencari tanda tangan.
Empat jam, dan garis yang ditarik di tempat lain
Bagian toleransi di atas tadi punya ujiannya sekarang, dan ujiannya berbentuk aturan.
Januari 2026 beredar rancangan undang-undang tentang disinformasi dan propaganda asing. Isinya banyak bersandar pada kata kepentingan nasional, ketertiban, dan keamanan. Di sisi pelaksanaannya sudah ada keputusan menteri, nomor 127 tahun 2026, yang menggolongkan disinformasi dan ujaran kebencian sebagai keterangan yang mengganggu ketertiban umum, dan mewajibkan platform menutup aksesnya paling lambat empat jam sesudah menerima perintah.
Empat jam itu angka yang perlu dipikirkan pelan-pelan. Dalam empat jam tidak ada pengadilan yang bisa memeriksa apa pun, dan tidak ada pihak yang dituduh yang sempat menjawab.
Popper menarik garisnya di tempat yang lain, dan itu yang bikin bagian ini tidak enak buat dua arah sekaligus. Yang boleh ditolak menurut dia bukan pendapat yang salah, dan bukan juga pendapat yang mengganggu ketertiban. Yang boleh ditolak penolakan berdebat, dan pemakaian kekerasan sebagai ganti perdebatan.
Ukuran itu susah dipakai kantor mana pun, dan justru itu gunanya. Ia menuntut yang memutuskan memperlihatkan bahwa pihak seberang memang menolak menjawab, bukan sekadar menjawab hal yang tidak enak didengar.
Ukuran salah dan mengganggu, sebaliknya, gampang sekali dipakai, dan bisa dipakai siapa pun yang sedang memegang tombolnya. Termasuk oleh orang yang niatnya betul-betul baik, yang di bukunya Popper anggap justru bagian paling berbahaya.
Cara sedikit demi sedikit punya satu syarat yang jarang ikut disebut: kelirunya harus murah dan bisa ditarik kembali.
Syarat itu yang paling susah dipenuhi di sini. Uangnya sudah dicairkan, gedungnya sudah berdiri, tahun ajarannya sudah berjalan, dan angkatan yang telanjur lewat tidak bisa disekolahkan ulang. Satuan terkecil yang tersedia sering sudah sebesar satu provinsi.
Popper menulis untuk masyarakat yang sudah punya alat menarik kembali langkahnya. Yang tidak ada di bukunya, dan yang belum saya temukan di mana pun, cara membuat langkah yang bisa ditarik kembali di tempat yang tiap langkahnya diumumkan serentak dulu, sebelum ada yang sempat mengukurnya.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Dua jilid, dan keduanya berbentuk sama: satu pemikir besar dibedah, lalu dituduh. Jilid satu Plato, jilid dua Hegel dan Marx. Ditulis selama Perang Dunia Kedua, di Selandia Baru, oleh orang yang keluarganya Yahudi Wina dan yang menyebut buku ini sumbangan perangnya sendiri.
Itu bukan keterangan sampingan. Nadanya keras, kadang tidak adil, dan Popper sendiri tahu itu. Ia menulisnya sebagai serangan, bukan sebagai kajian.
Susunannya bab pendek dengan catatan belakang yang panjangnya kadang melebihi babnya. Catatan itu bukan tempelan; sebagian bantahan terbaiknya justru ada di situ.
Jilid Satu: Plato
Bagian pertama menyerang gagasan bahwa sejarah punya arah yang bisa diketahui, dan bahwa tugas kita membaca arah itu lalu mengikutinya. Popper menamai cara berpikir itu, lalu menghabiskan seluruh bukunya membongkarnya.
Bagian tengahnya membaca Republik-nya Plato sebagai rancangan negara yang tertutup: keadilan diartikan sebagai tiap orang tetap di tempatnya, pemimpin yang dipilih karena tahu bentuk yang sempurna, dan perubahan diperlakukan sebagai kemerosotan.
Di jilid ini juga ada bagian yang paling terpakai dari seluruh buku, dan bagian itu cuma beberapa halaman: pergantian pertanyaan. Menurut Popper, pertanyaan siapa yang seharusnya memerintah adalah pertanyaan yang salah, dan sudah salah sejak Plato mengajukannya. Yang benar, bagaimana menyusun lembaga supaya penguasa yang buruk bisa disingkirkan tanpa pertumpahan darah, dan supaya kerusakan yang bisa dibuatnya dibatasi selama ia menjabat.
Jilid Dua: Hegel dan Marx
Bagian Hegel yang paling keras nadanya dan paling banyak dianggap tidak adil oleh ahli sesudahnya. Bagian Marx justru lebih hati-hati: Popper mengakui banyak hal pada Marx, memuji tuntutan moralnya, lalu menyerang tepat di satu titik, yaitu klaim bahwa jalannya sejarah bisa diramalkan secara ilmiah.
Di jilid ini juga ada pembedaan yang paling praktis dari seluruh buku: memperbaiki keadaan sedikit demi sedikit sambil memeriksa hasilnya, melawan merombak seluruhnya sekaligus menurut satu rancangan besar. Alasan Popper memilih yang pertama alasan pengetahuan, bukan alasan politik: kita tidak pernah cukup tahu, dan perbaikan kecil masih bisa dikoreksi kalau salah.
Yang jadi jantungnya
- Bagian pergantian pertanyaan di jilid satu. Kalau beberapa halaman saja yang muat di waktunya, ambil yang itu.
- Bagian tentang memperbaiki sedikit demi sedikit di jilid dua, berikut alasannya, karena alasannya yang membuatnya bukan sekadar sikap hati-hati.
- Catatan belakang tentang batas toleransi, yang isinya jauh lebih terkenal daripada tempatnya: masyarakat yang bertoleransi tanpa batas akan dihabisi oleh yang tidak bertoleransi, dan garisnya ditarik pada penolakan berdebat dan pemakaian kekerasan, bukan pada pendapat yang tidak disukai.
Yang boleh dilewat
- Sebagian besar bedah rinci atas teks Plato dan Hegel, yang berupa perdebatan tafsir dengan ahli klasik.
- Seluruh bagian Hegel kalau waktunya sempit. Nadanya paling tidak adil dan sumbangannya paling kecil.
- Kata pengantar berbagai edisi, yang sekarang berlapis-lapis.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Popper mengusir gagasan bahwa sejarah punya arah, lalu memasangnya kembali lewat pintu belakang. Seluruh bukunya disusun sebagai perpindahan dari masyarakat tertutup ke masyarakat terbuka, dan perpindahan itu diceritakan sebagai perjalanan yang mahal tapi memang harus ditempuh. Itu bentuk arah juga, cuma dengan tujuan yang berbeda dari yang ia serang.
Bacaannya atas Plato ditolak banyak ahli klasik sesudahnya, dianggap terlalu keras dan terlalu memilih. Yang tidak banyak ditolak justru bagian yang paling praktis, yaitu pergantian pertanyaannya, dan bagian itu tidak bergantung pada benar tidaknya bacaan atas Plato.
Kalau buru-buru
Bab-bab awal jilid satu tentang arah sejarah, bagian pergantian pertanyaan, bagian tentang memperbaiki sedikit demi sedikit di jilid dua, dan catatan tentang batas toleransi. Empat potong, tidak sampai seratus halaman, dan seluruh isi yang benar-benar terpakai sudah di tangan.