Ada satu pertanyaan yang cukup mengganggu tidur saya beberapa hari setelah menutup buku ini: *kapan terakhir kali saya betul-betul yakin bahwa saya benar?*
Bukan soal hal kecil. Soal sesuatu yang besar — tentang bagaimana dunia bekerja, tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia, tentang masa depan.
David Deutsch, fisikawan kuantum yang rupanya tidak bisa berhenti memikirkan segalanya, punya satu argumen yang terdengar sederhana tapi punya ekor panjang: pengetahuan tidak datang dari pengalaman yang terakumulasi. Pengetahuan lahir dari tebakan — lalu tebakan itu dikritik, diuji, dan mungkin dibuang. Ini bukan soal metode sains formal. Ini soal bagaimana pikiran manusia *seharusnya* bekerja.
Empirisisme — keyakinan bahwa kita belajar dengan mengamati pola — sudah terlanjur merasuk ke cara kita berpikir sehari-hari. Kita percaya pada "pengalaman". Kita percaya pada "data berbicara sendiri". Tapi Deutsch bilang: data tidak bicara. Data tidak pernah bicara. Yang bicara adalah *interpretasi* — dan interpretasi itu selalu dimulai dari sebuah tebakan tentang dunia.
---
Saya berhenti di sini cukup lama.
Karena kalau ini benar, maka banyak otoritas yang kita percaya — termasuk yang mengklaim "berbasis data" — sebenarnya hanya menjual tebakan yang belum cukup dikritik. Dan kita menerimanya bukan karena terbukti, tapi karena tidak ada yang berani membantah.
---
Yang lebih menggelisahkan adalah konsep tentang **penjelasan yang baik** (*good explanation*). Deutsch punya standar yang kedengarannya elegan: sebuah penjelasan yang baik adalah penjelasan yang *sulit diubah*. Artinya, kalau kamu ubah satu detail kecilnya, seluruh penjelasan itu runtuh — karena setiap bagiannya ada untuk alasan yang spesifik.
Bandingkan dengan penjelasan yang buruk: "Gempa terjadi karena dewa bumi marah." Kamu bisa ubah "dewa bumi" jadi "roh leluhur", ubah "marah" jadi "sedih", dan penjelasan itu tetap berjalan. Tidak ada yang rusak karena tidak ada yang menahan beban logika sejak awal.
Sekarang ganti objeknya: berapa banyak narasi sosial-politik yang kita konsumsi setiap hari yang sebenarnya bekerja dengan logika yang sama? Yang bisa kamu ganti nama pelakunya, ganti tahunnya, ganti negaranya — dan cerita tetap berjalan mulus? Itu bukan penjelasan. Itu template.
---
Ironi terbesar dalam buku ini, menurut saya, adalah soal **kreativitas manusia**.
Deutsch berargumen bahwa kreativitas — kemampuan kita untuk membayangkan hal yang belum ada — awalnya berevolusi justru untuk tujuan yang berlawanan: menyalin. Di masyarakat purba, survival bergantung pada kemampuan meniru tradisi leluhur secara presisi. Tidak boleh ada improvisasi. Kreativitas digunakan *untuk konformitas*.
Dan kemudian, tanpa perencanaan, tanpa desain, tanpa ada yang berniat — mekanisme yang sama itu mulai menghasilkan pemberontakan, inovasi, seni, sains.
Senjata yang dibuat untuk mempertahankan status quo, berbalik menghancurkannya.
Saya tidak tahu apakah ini menginspirasi atau justru menakutkan. Mungkin keduanya.
---
Ada satu bagian yang membuat saya sedikit tidak nyaman — dan justru itu yang paling jujur.
Deutsch menolak narasi *sustainability* yang saat ini menjadi konsensus moral global. Bukan karena ia tidak peduli lingkungan, tapi karena ia melihat "keberlanjutan" sebagai visi yang pada dasarnya statis: kita ingin membekukan dunia pada kondisi sekarang, dengan teknologi sekarang, dengan miskonsepsi yang sekarang masih kita pegang.
Argumennya: solusi bukan mengurangi, tapi *menembus*. Energi bersih bukan soal pakai lebih sedikit — tapi soal menemukan cara yang cukup baik sehingga kelimpahan tidak lagi jadi masalah.
Saya tidak sepenuhnya setuju. Tapi saya tidak bisa juga dengan mudah membantah strukturnya.
---
Yang tersisa di kepala saya setelah menutup buku ini bukan optimisme naif. Bukan juga pesimisme.
Deutsch bilang: *"Problems are inevitable. Problems are soluble."* Dua kalimat itu terdengar seperti klise motivasi — sampai kamu sadar bahwa keduanya bisa benar secara bersamaan tanpa kontradiksi. Masalah tidak akan habis. Dan masalah bisa diselesaikan. Bukan *semua* masalah, bukan *sekarang*, bukan oleh *kita*. Tapi oleh seseorang, di suatu waktu, dengan pengetahuan yang belum ada hari ini.
Itu bukan janji. Itu hanya deskripsi tentang bagaimana hal-hal pernah berjalan sejauh ini.
Dan mungkin — hanya mungkin — itu cukup untuk tidak berhenti berpikir.
---
*Meski tentu saja, kita tetap bisa salah.*