1 Maret 1949. Pasukan Republik masuk Yogyakarta subuh-subuh, menguasai kota sekitar enam jam, lalu menarik diri sebelum tengah hari.
Diukur dengan ukuran ketentaraan, itu bukan apa-apa. Kotanya tidak direbut, Belanda masuk lagi siang harinya, dan tidak ada satu jengkal wilayah pun yang berpindah tangan. Tapi kabarnya sampai ke Bukittinggi, diteruskan ke Burma, ke New Delhi, lalu ke sidang Dewan Keamanan di New York, dan yang disampaikan cuma satu kalimat: Republik masih ada. Waktu itu Belanda sedang meyakinkan dunia bahwa Republik sudah bubar, ibu kotanya jatuh, pemimpinnya ditawan. Enam jam itu membatalkan kalimat tersebut di depan orang-orang yang keputusannya benar-benar menentukan.
Itu Clausewitz dalam bentuk yang paling murni, dan saya membacanya dengan cara yang berbeda dari The Art of War. Sun Tzu itu panduan, terang-terangan, karena memang ditulis sebagai perintah. Buku ini bentuknya lain. Clausewitz perwira Prusia dari zaman Napoleon yang mati kena kolera pada 1831 sebelum bukunya terbit; naskahnya disusun dan diterbitkan jandanya, Marie von Brühl, setahun kemudian. Isinya uraian, bukan perintah, dan di halaman 71 ia sendiri menolak dijadikan kitab aturan: seni perang berurusan dengan kekuatan yang hidup dan kekuatan batin, sehingga tidak pernah bisa sampai pada yang mutlak dan pasti. Jadi yang ini saya baca sebagai keterangan. Keterangan tentang kenapa panduan Sun Tzu bisa jalan, dan kapan tidak.
Kalimat yang dipakai untuk membenarkan apa saja
Perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain. Kalimat itu ada di halaman 72 sebagai judul bagian, dan sekarang dipakai untuk membenarkan hampir apa saja, seolah Clausewitz sedang memberi izin.
Yang ia tulis di bawah judul itu justru pengekang.
"We see, therefore, that war is not merely a political act, but also a real political instrument, a continuation of political commerce, a carrying out of the same by other means."
Jadi perang bukan cuma tindakan politik, tapi alat politik yang sungguhan: kelanjutan dari urusan politik, dikerjakan dengan cara lain.
Perang tidak punya tujuan sendiri. Tujuan politik yang jadi ukuran, dan di halaman 62 ia menyebutnya sebagai patokan untuk dua hal sekaligus: apa sasaran kekuatan bersenjata, dan berapa besar tenaga yang pantas dikeluarkan. Makin kecil tujuan politiknya, makin gampang kita melepaskannya.
Ada satu susunan lagi di halaman 75 yang jarang ikut dikutip. Perang tersusun dari tiga hal: kebencian yang buta, permainan peluang dan kebetulan, dan kedudukannya sebagai alat yang tunduk pada akal. Yang pertama milik rakyat, yang kedua milik jenderal dan pasukannya, yang ketiga milik pemerintah.
Simpan tiga sudut itu. Belanda menang di sudut yang kedua.
Belanda menang di medan, dan kalah di halaman 78
Dari 1945 sampai 1949 Belanda memenangkan hampir semua pertempuran besar. Agresi Militer Pertama merebut daerah-daerah yang paling menghasilkan. Agresi Militer Kedua mengambil Yogyakarta dan menawan Soekarno serta Hatta. Kalau perang diukur dari siapa yang menguasai kota dan siapa yang menawan pemimpin lawan, perkaranya selesai pada Desember 1948.
Clausewitz sudah menulis kenapa ukuran itu salah.
"...the war, that is, the hostile feeling and action of hostile agencies, cannot be considered as at an end as long as the will of the enemy is not subdued also; that is, its Government and its allies forced into signing a peace, or the people into submission; for whilst we are in full occupation of the country the war may break out afresh..."
Perang belum bisa dianggap selesai selama kehendak lawan belum ditundukkan juga, yaitu pemerintahnya dipaksa menandatangani perdamaian atau rakyatnya dipaksa tunduk. Sebab selama negeri itu diduduki penuh sekalipun, perangnya bisa pecah lagi.
Lalu di halaman 83 sampai 84 ia menerangkan cara yang dipakai pihak yang lebih lemah. Ia menyebutnya melelahkan lawan: bukan mengalahkan pasukannya, tapi menaikkan ongkos perang sedikit demi sedikit sampai tujuan politiknya tidak lagi sepadan dengan harganya. Cara ini, tulisnya, mencakup sebagian besar kasus waktu yang lemah melawan yang kuat.
Persis itu yang dikerjakan Sudirman dari tandu, dengan paru-paru yang sakit, keluar masuk hutan tanpa satu pun kemenangan yang bisa disebut kemenangan. Tiap kota yang direbut Belanda menambah wilayah yang harus dijaga tanpa menambah orang yang bersedia diperintah. Tiap penawanan pemimpin memindahkan perkaranya ke tempat yang paling tidak mereka kuasai, yaitu sidang di New York dan hitungan untung rugi Amerika di Asia. Tujuan politik Belanda, diakuinya kembali kekuasaan mereka di kepulauan ini, justru makin jauh tiap kali mereka menang.
Belanda menang di sudut jenderal dan kalah di dua sudut sisanya. Buku ini menerangkan kenapa itu bukan kebetulan.
Tiga perempat di balik kabut, dan kabar buruk yang lebih dipercaya
Sumbangan keduanya jarak antara perang di atas kertas dan perang di lapangan.
"War is the province of uncertainty: three-fourths of those things upon which action in war must be calculated, are hidden more or less in the clouds of great uncertainty."
Perang itu wilayah ketidakpastian: tiga perempat dari hal yang jadi dasar perhitungan tersembunyi di balik kabut.
Machiavelli memberi nasib setengah bagian, atau sedikit kurang, di The Prince. Clausewitz memberinya tiga perempat, dan itu untuk kegiatan yang orang-orangnya paling terlatih.
Lalu ada satu catatan yang awet luar biasa. Makin banyak yang kita ketahui tentang keadaan, kata halaman 98, ketidakpastiannya tidak berkurang, justru bertambah, sebab pengalaman datang sedikit demi sedikit dan tiap potongan baru menggoyang rencana yang sudah disusun. Di halaman 123 ada kalimat yang kepakai jauh di luar medan perang: kebanyakan laporan itu bohong, dan rasa takut orang jadi pengganda kebohongan itu, sebab semua orang lebih gampang percaya pada kabar buruk daripada kabar baik.
Siapa pun yang pernah duduk di rapat sehabis satu angka jelek keluar tahu persis cara kerjanya. Satu laporan buruk dipercaya tanpa diperiksa, tiga laporan baik sesudahnya diminta buktinya.
Sisanya ia sebut gesekan. Halaman 124: semua di dalam perang sangat sederhana, tapi yang paling sederhana pun sulit, dan kesulitan-kesulitan kecil itu menumpuk sampai menghasilkan hambatan yang tidak bisa dibayangkan orang yang belum melihatnya. Rencana yang di atas kertas tidak ada cacatnya bisa meleset di lapangan bukan karena ada yang melawan, tapi karena semua hal kecil yang tidak masuk rencana datang bersamaan. Clausewitz tidak menawarkan obat. Di halaman 128 ia menyebut satu-satunya pelumas untuk gesekan itu, kebiasaan berperang, dan itu tidak selalu tersedia waktu dibutuhkan.
Di dalam kabut itu ada orang yang harus memutuskan, dan halaman 99 punya satu kalimat pedas tentang mereka: pintar bukan tegas, sebab orang paling cerdas sering justru yang paling tidak sanggup memutuskan. Ketegasan, katanya, lahir dari kepala yang kuat, bukan yang cemerlang. Itu keterangan yang jarang disebut soal kenapa yang naik ke atas sering bukan yang paling melihat rumitnya. Jabatan menyaring orang yang sanggup memutuskan di dalam kabut, dan orang yang melihat semua rumitnya biasanya paling ragu.
Tiga kitab di satu meja
Di rak ini ada tiga buku tentang perkara yang sama, dan mereka tidak sepakat soal tipu daya.
Sun Tzu membuka dengan seluruh peperangan berdasar tipu daya, dan puncak keunggulannya mematahkan perlawanan lawan tanpa bertempur. Clausewitz menulis satu bab pendek tentang siasat, halaman 250 sampai 252, dan kesimpulannya dingin: mata yang tepat dan tajam jauh lebih dibutuhkan seorang jenderal daripada kelicikan. Lebih keras lagi halaman 335: negarawan dan jenderal di segala zaman berusaha menghindari pertempuran yang menentukan, dan menurutnya itu ketakutan yang mencari-cari alasan. Di halaman 53 ia menyebut orang yang mengira ada cara mengalahkan lawan tanpa banyak darah, lalu menulis:
"...in such dangerous things as war, the errors which proceed from a spirit of benevolence are just the worst."
Dalam hal seberbahaya perang, kesalahan yang lahir dari niat baik justru yang paling buruk.
Kalimat itu enak sekali buat pembaca yang condong ke Machiavelli, dan justru karena itu perlu diperiksa ke halaman berikutnya. Di halaman 79 Clausewitz sendiri menarik remnya: melucuti lawan sepenuhnya bukan syarat perdamaian dan tidak bisa dijadikan hukum, sebab tak terhitung perang yang selesai jauh sebelum itu. Kekerasan sepenuhnya itu perang dalam angan, dan seluruh bab pertamanya justru berisi cara kenyataan menariknya turun.
Di sini pendirian saya. Sun Tzu dipegang sebagai panduan, dan menang tanpa bertempur menurut saya bentuknya satu: membuat pihak seberang menghitung sendiri lalu mundur. Yang tidak pernah Sun Tzu terangkan, apa yang dihitungnya. Clausewitz yang menyediakan angkanya, di halaman 80 dan 84: nilai tujuan politik dibandingkan ongkosnya, dan ongkos itu bukan cuma besarnya tapi lamanya. Dan Schelling menambah bagian yang hilang dari keduanya: yang harus dilihat lawan supaya hitungannya benar bukan kemampuan kita, tapi keterikatan kita. Sembunyikan kemampuan, perlihatkan bahwa kita tidak bisa mundur.
Ketiganya bertemu di tandu Sudirman. Republik tidak menyembunyikan kemampuannya, sebab memang tidak ada yang bisa disembunyikan. Yang diperlihatkan cuma satu hal, dan diperlihatkan terus-menerus: kami tidak akan berhenti. Belanda menghitung sendiri, dan hitungannya diselesaikan di New York.
Jadi tipu daya Sun Tzu dan pertempuran Clausewitz tidak harus dipilih salah satu. Yang satu menyamarkan kemampuan supaya lawan salah menaksir ongkos. Yang satu memaksa lawan melihat bahwa ongkosnya akan panjang. Dua-duanya cara membuat orang menghitung, dan Schelling yang menyebut hal yang harus terlihat.
Yang dibaca tiap orang lewat kepalanya sendiri
Buku ini tidak pernah berhenti dipakai untuk membenarkan pendapat yang sudah ada, dan Clausewitz sendiri menyediakan alasannya di halaman 204: contoh yang sama bisa dipakai membela pendapat yang saling bertentangan. Penyeberangan Bonaparte di Alpen pada 1797 bisa disebut keputusan paling mulia atau nekat semata.
Edisi terbitan 2019 yang beredar sekarang membuktikannya sendiri. Pengantarnya ditulis seorang filsuf yang memakai Clausewitz untuk membela teorinya tentang benda, dan di dalamnya ia mengutip Kolonel Boyd, yang cuma butuh satu slide untuk meringkas Clausewitz dan dua slide untuk merobohkannya, sebab Boyd berpihak ke Sun Tzu. Tiap orang membawa keputusan yang sudah diambil dan pulang dengan Clausewitz di sakunya.
Ada satu batas lagi. Teorinya disusun untuk negara melawan negara, dengan tentara yang jelas bentuknya; di halaman 159 ia bilang strategi mengambil keadaan sebagaimana adanya di antara negara-negara Eropa. Rakyat bersenjata cuma lewat sekali, di halaman 225, sebagai catatan bahwa pegunungan medan terbaik buat mereka. Jadi 1945 sampai 1949 masuk ke buku ini lewat halaman 78 dan 84, bukan lewat bab yang memang ditulis untuknya. Luttwak bahkan menulis bahwa orang Romawi tidak pernah butuh Clausewitz untuk menundukkan tenaga militernya pada tujuan politik, dan Allison di Destined for War memakai kabutnya untuk perang yang belum terjadi.
Gencatan yang cuma berlaku di dua ibu kota
Pertanyaan penutup di bawah nanti sedang diuji orang sekarang, dan hasilnya belum keluar.
Perang di Ukraina sudah masuk tahun keempat. Awal September 2026 utusan Amerika membawa usul untuk mengakhirinya, dan selama mereka bolak-balik ke Moskwa dan Kyiv, kedua presiden sepakat berhenti saling menyerang ibu kota, tiga hari, 5 sampai 7 September. Di luar dua kota itu tembakan jalan terus, dan garis depannya tidak berubah karena kesepakatan tadi. Zelensky sendiri memperkirakan perangnya masih akan berjalan sampai musim dingin.
Susah mencari contoh yang lebih rapi untuk dalil pokok Clausewitz. Kekerasan diturunkan persis sebanyak yang dibutuhkan supaya perundingannya bisa jalan, di tempat yang persis dibutuhkan, dan tidak sebaris pun lebih. Yang berhenti bukan perangnya, tapi bagian perang yang mengganggu meja.
Ada juga bagian yang tidak muat ke bukunya. Clausewitz menulis untuk zaman waktu memperlihatkan kesungguhan berarti mengerahkan tentara. Sekarang sebagian dari memperlihatkan itu dikerjakan pesawat kecil tanpa awak yang harganya sepersekian tank, dan tiga perempat yang ia bilang ada di balik kabut sekarang direkam dari udara sepanjang hari. Kabutnya berkurang, dan perangnya tidak ikut lebih cepat selesai.
Jadi pertanyaannya tetap berdiri, cuma sekarang ada dua pihak yang sedang menjawabnya di lapangan, dan sudah empat tahun belum ada yang berkedip.
Dari buku ini saya tidak membawa pulang ajaran, sebab bukunya memang tidak memberi ajaran. Yang terbawa satu kebiasaan bertanya.
Sebelum menanyakan sebuah gerakan bisa berhasil atau tidak, tanyakan dulu keadaan politik seperti apa yang mau dihasilkan, dan kalau keadaan itu benar-benar tercapai, apakah perkaranya selesai. Belanda berhasil di pertanyaan pertama berkali-kali dan tidak pernah lolos di pertanyaan kedua.
Yang belum bisa saya jawab dari buku ini: berapa lama sebuah pihak sanggup memperlihatkan bahwa dia tidak akan berhenti, sebelum yang diperlihatkan itu berhenti dipercaya. Clausewitz menghitung ongkos perang yang berlarut dari sisi yang kuat. Dari sisi tandu, hitungannya tidak pernah ia tulis.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Delapan jilid, dan hampir tidak ada yang membacanya utuh. Itu bukan kelemahan pembacanya. Clausewitz meninggal sebelum naskahnya selesai, dan yang terbit disusun jandanya dari tumpukan catatan yang tingkat kematangannya berbeda-beda. Ia sendiri sempat menulis bahwa cuma jilid satu bab satu yang ia anggap sudah jadi.
Jadi buku ini harus dibaca dengan kesadaran bahwa sebagian isinya rancangan, bukan kesimpulan. Sebagian jilid tengahnya juga masih berisi bahasan taktik zaman senapan berlaras licin, yang umurnya paling kelihatan.
Susunannya: dua jilid pertama soal apa itu perang dan bagaimana memikirkannya, tiga jilid tengah soal siasat dan pertempuran, tiga jilid terakhir soal pertahanan, penyerangan, dan rencana perang.
Jilid Satu: hakikat perang
Jilid terpenting, dan yang paling matang. Di dalamnya ada hampir semua gagasan yang membuat kitab ini masih dibaca.
- Perang sebagai kelanjutan urusan politik dengan cara lain. Kalimat yang paling sering dikutip, dan paling sering dipakai untuk membenarkan apa saja. Yang dimaksudkannya justru pembatasan: tujuan perang ditentukan dari luar, oleh yang punya kepentingan, bukan dari dalam oleh logika pertempuran.
- Gesekan. Gagasan yang paling terpakai sampai sekarang: di atas kertas semuanya sederhana, tapi hal yang paling sederhana pun jadi susah begitu dikerjakan orang sungguhan di lapangan sungguhan.
- Kabut keterangan. Clausewitz menulis bahwa sebagian besar keterangan yang diterima panglima di medan perang itu keliru, dan kabar buruk cenderung lebih dipercaya daripada kabar baik.
- Tiga tarikan yang selalu bekerja bersamaan: kebencian rakyatnya, perhitungan panglimanya, dan kepentingan pemerintahnya.
Jilid Dua: cara memikirkan perang
Jilid soal apakah perang bisa dijadikan ilmu dengan rumus. Jawabannya tidak, dan alasannya perlu dibaca: yang bisa disusun cuma cara menimbang, bukan cara memutuskan. Jilid ini yang paling kering dan paling sering dilewat, padahal di situ Clausewitz memasang batas atas seluruh kitabnya sendiri.
Jilid Tiga sampai Lima: siasat, pertempuran, pasukan
Tiga jilid soal pemusatan kekuatan, kejutan, cadangan, dan cara menggerakkan pasukan. Umurnya paling kelihatan di sini. Yang masih terpakai gagasan titik berat kekuatan lawan, yaitu satu tempat yang kalau dipukul membuat seluruh sisanya ikut runtuh.
Jilid Enam sampai Delapan: bertahan, menyerang, rencana
- Jilid enam soal pertahanan, dan memuat gagasan yang paling melawan naluri: bertahan itu bentuk perang yang lebih kuat, meski tujuannya negatif. Di jilid ini juga ada bahasan perang rakyat.
- Jilid tujuh soal penyerangan, dan memuat gagasan puncak serangan, yaitu titik waktu pasukan yang menyerang sudah kehabisan tenaganya sendiri dan mulai melemah meski belum dikalahkan siapa pun.
- Jilid delapan soal menyusun rencana perang, dan di situ hubungan perang dengan politik dikembalikan lagi.
Yang jadi jantungnya
- Jilid satu, dibaca utuh. Kalau harus memilih satu bagian saja, ambil ini, dan sisanya bisa ditinggalkan tanpa banyak kehilangan.
- Gagasan puncak serangan di jilid tujuh, karena itu yang menerangkan kenapa pihak yang menang di hampir semua pertempuran masih bisa pulang dengan tangan kosong.
- Jilid enam bagian pertahanan dan perang rakyat, yang paling menyangkut riwayat kita sendiri.
Yang boleh dilewat
- Jilid tiga sampai lima hampir seluruhnya, kecuali bagian titik berat kekuatan. Isinya taktik zaman Napoleon.
- Bagian-bagian yang membandingkan gerakan pasukan di medan tertentu, lengkap dengan hitungan jarak tempuh harian.
- Pengantar penerjemah yang panjang, kecuali kalau memang ingin tahu bagian mana yang belum sempat direvisi penulisnya.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Kitab ini paling sering dikutip lewat satu kalimat, dan kalimat itu dipakai ke dua arah yang berlawanan. Ada yang memakainya untuk membenarkan perang sebagai alat politik yang sah, ada yang memakainya untuk menuntut politik mengendalikan tentaranya. Dua-duanya bisa dicarikan dukungannya di halaman yang berbeda, dan sebagiannya memang karena naskahnya belum selesai. Yang paling aman, baca kalimat itu bersama gesekan dan kabut keterangannya, karena bertiga itulah yang jadi satu pikiran utuh.
Kalau buru-buru
Jilid satu bab satu sampai tujuh, lalu bagian puncak serangan di jilid tujuh. Delapan potong pendek, dan yang tersisa justru bagian yang paling awet: perang ditentukan tujuannya dari luar, semua yang sederhana jadi susah di lapangan, sebagian besar keterangan yang sampai itu keliru, dan pihak yang menyerang punya titik waktu ia mulai melemah tanpa dikalahkan siapa pun.