Ramalan yang tidak memasang tenggat tidak bisa kalah, dan buku ini tidak memasang satu pun.

Buku ramalan paling enak dinilai seperti rapor, dan rapor baru bisa dibuka sesudah semesternya lewat. Buku ini terbit 2017. Sudah cukup lama untuk dibuka.

Alat yang dipakai Allison satu kalimat Thucydides: yang membuat perang tidak terhindarkan naiknya Athena dan rasa takut yang ditimbulkannya pada Sparta. Dari situ ia menyusun jebakan Thucydides, lalu mengujinya. Ia dan timnya mengumpulkan enam belas kasus sepanjang lima ratus tahun, waktu sebuah kekuatan yang sedang naik mengancam menggeser kekuatan yang sedang berkuasa. Dua belas berakhir perang.

Yang saya nilai bukan tebakannya, tapi mesinnya: bagian mana dari keterangan buku ini yang sampai sekarang masih menerangkan sesuatu, dan bagian mana yang cuma bunyi.

Mesin yang memang kena

Bab tentang Inggris dan Jerman yang paling kuat, dan rinciannya dipilih dengan baik.

Inggris kekuatan mapan yang punya angkatan laut, jajahan, dan pusat keuangan. Jerman punya ekonomi yang tumbuh lebih cepat, universitas yang lebih bagus, industri yang lebih baru, dan perasaan datang terlambat ke dunia yang sudah habis dibagi. Dua pemerintahan itu sama-sama tidak menginginkan perang pada 1900. Perdagangan mereka besar. Keluarga rajanya masih bersaudara.

Mesinnya justru di situ. Tekanan tetap menekan lewat rangkaian keputusan yang tiap satunya terasa bertahan diri buat yang mengambilnya dan terasa menyerang buat yang menontonnya. Tidak ada yang perlu berniat jahat.

Krisis Venezuela 1902 contoh kecil yang bagus. Jerman memblokade Venezuela karena utang yang tidak dibayar, menenggelamkan kapal Venezuela, dan Roosevelt membacanya sebagai usaha mendirikan pangkalan angkatan laut tetap di belahan bumi Amerika. Pesannya ke Berlin dititipkan lewat duta besar Jerman:

"tell the Emperor that it is not safe to try to bluff me, because poker is the American national game and I am prepared to call his bluff."

Sampaikan kepada Kaisar bahwa menggertak saya itu tidak aman, karena poker permainan nasional Amerika, dan saya siap menantangnya membuka kartu.

Bagian itu tidak bisa dibantah waktu bukunya dibaca hari ini. Tarif dipasang bergantian sejak 2018. Ketua DPR Amerika berkunjung ke Taiwan pada Agustus 2022, dan balasannya latihan tembak yang mengepung pulau itu. Penjualan cip tercanggih ke Cina dibatasi mulai Oktober tahun yang sama. Tiap satu langkah tadi bertahan diri buat yang mengambilnya dan menyerang buat yang menontonnya. Persis bentuk yang digambar Allison sebelum satu pun dari semua itu terjadi.

Ada satu lapis lagi yang sering hilang waktu bukunya diringkas orang, yaitu pemercik dan pemercepat. Tabrakan kapal yang tidak disengaja baru jadi perang kalau ada yang mempercepatnya, dan pemercepat paling kuat menurut Allison kabut yang sudah dinamai Clausewitz dua abad lebih dulu: tiga perempat dari hal yang jadi dasar perhitungan tersembunyi di baliknya.

Rapor sembilan tahun

Halaman 16 memasang taruhannya, dan tidak berkelit.

"Indeed, on the historical record, war is more likely than not."

Kalau dilihat dari catatan sejarahnya, perang lebih mungkin terjadi daripada tidak.

Kalimat berikutnya lebih keras lagi. Kalau para pemimpin di Beijing dan Washington terus mengerjakan apa yang sudah mereka kerjakan sepuluh tahun terakhir, tulisnya, Amerika dan Cina hampir pasti berakhir perang.

Sembilan tahun sesudah kalimat itu dicetak, kedua pihak memang terus mengerjakan apa yang sudah mereka kerjakan. Perangnya belum datang.

Itu tidak membatalkan mesinnya. Mesin yang benar bisa jalan jauh lebih lambat daripada perkiraan orang yang menemukannya. Yang perlu dicatat cacat jenisnya, dan cacatnya bukan salah tebak. Ramalan ini tidak punya tenggat. "Dalam beberapa dasawarsa ke depan" sanggup membela bukunya sampai kapan pun, dan tiap tahun yang lewat tanpa perang bisa dibaca sebagai bukti bahwa waktunya belum tiba.

Di halaman 137 Allison memuji Xi Jinping justru karena kebalikannya. Xi, tulisnya, melanggar satu aturan pokok bertahan hidup dalam politik: jangan pernah menyebut sasaran yang tegas dan tanggalnya dalam satu kalimat. Sebulan sesudah berkuasa pada 2012, Xi menyebut dua sasaran sekaligus tanggalnya. Masyarakat cukup makmur pada 2021. Negara maju yang kaya dan kuat pada 2049.

Buku yang memuji orang karena berani memasang tanggal tidak memasang satu pun tanggal untuk dirinya sendiri.

Yang meleset berikutnya letaknya di andaian dasarnya. Seluruh rangka ini berdiri di atas satu hal: yang sedang naik terus naik. Pada 2022 jumlah penduduk Cina mulai menyusut, pertama kali sejak awal 1960-an, dan yang menyusut lebih dulu bagian usia kerjanya. Allison sendiri mencatat daftar dua puluhan masalah yang dipegang penasihat ekonomi Xi, dan butir pertama di daftar itu persis pertanyaannya: apakah Cina jadi tua sebelum sempat jadi kaya.

Butirnya ada di bukunya, satu kalimat, lalu ditinggalkan.

Empat yang selamat, dan porsi yang mereka dapat

Bagian paling berguna di buku ini justru yang paling sedikit dibahasnya.

Empat kasus selesai tanpa perang, dan yang paling banyak pelajarannya perpindahan dari Inggris ke Amerika. Selama kira-kira tiga puluh tahun Inggris menerima digeser. Mereka mengalah di Karibia dan Amerika Latin, memberi jalan soal Terusan Panama, dan memilih memperlakukan pesaing yang sedang naik sebagai calon sekutu, bukan sebagai ancaman hari ini.

Allison menuliskannya sendiri: keempat kasus itu lolos dari perang cuma karena ada penyesuaian sikap dan tindakan yang besar dan menyakitkan.

Itu bukan keberuntungan dan bukan kepastian sejarah. Itu kasus yang paling pantas dibedah rinci, dan porsinya sepersekian dari porsi kasus yang berakhir perang.

Sumber yang paling sering dipakainya di bab-bab itu Paul Kennedy sendiri, sampai bagan pergeseran kekuatannya pun diambil dari The Rise and Fall of the Great Powers. Bedanya, Kennedy menghitung ongkosnya. Inggris mengalah di Karibia bukan semata karena bijak, tapi karena menjaga segalanya sekaligus sudah lebih mahal daripada yang sanggup ditanggung lantai ekonominya. Keputusan menyakitkan itu punya harga yang bisa ditunjuk di neraca, dan harga itu tidak ikut dibedah di sini.

Yang diringkas supaya bukunya laku

Enam belas kasus itu disusun timnya sendiri, dengan ukuran yang mereka tetapkan sendiri. Tiap kasus harus dinilai dulu apakah ada "yang sedang naik", ada "yang sedang berkuasa", dan ada "ancaman menggeser", dan ketiga penilaian itu tidak punya batas yang tegas. Portugal melawan Spanyol pada abad kelima belas jelas bukan gejala yang sama dengan Amerika melawan Uni Soviet, dan dua-duanya duduk di daftar yang sama.

Jebakannya sendiri cuma kiasan, dan kiasan itu sedang disuruh mengerjakan pekerjaan sebab akibat. Memberi nama pada sebuah pola tidak sama dengan menemukan mesin yang menggerakkannya, dan bukunya bolak-balik antara "ini sering terjadi" dan "tekanan inilah yang mendorongnya".

Thucydides ikut disederhanakan. Bukunya menyebut banyak sekali sebab, dan kalimat yang terkenal itu satu baris dalam karya yang sebagian besar isinya justru menunjukkan betapa segalanya bisa berjalan lain.

Lalu perdebatan ahlinya. Perdebatan itu tidak ada di badan bukunya. Tempatnya di lampiran kedua, dan lampiran itu berjudul Tujuh Orang-orangan Sawah. Kalimat pembukanya menerangkan cara kerja lawan debat: bikin orang-orangan sawah, bakar, lalu mengaku sudah merobohkan dalilnya.

Bisa jadi memang begitu kelakuan sebagian pengkritiknya. Yang tetap tercatat, yang dijawab di lampiran itu cuma keberatan yang dipilih penulisnya sendiri, dan bentuknya juga dia yang menentukan. Pembaca yang berhenti di halaman terakhir badan bukunya tidak pernah berpapasan dengan satu pun ahli yang tidak setuju.

Dua karang yang ikut bergerak

Buku ini bertanya apa yang sebaiknya dikerjakan Washington dan Beijing. Jakarta muncul sekali di dalamnya, di satu daftar: kota tempat sebuah bom nuklir mungkin meledak dalam hidup kita, sebaris dengan Mumbai, Los Angeles, dan Shanghai.

Itu wajar. Bukunya ditulis untuk pembaca yang tinggal di salah satu dari dua ibu kota yang sedang dibicarakannya, dan kita bukan pembacanya. Yang tidak wajar kalau kita ikut memakai kacamatanya, sebab pertanyaan kita memang lain. Bukan apa yang harus dikerjakan dua kekuatan besar, tapi apa yang dikerjakan negeri yang jadi lintasannya.

Pertanyaan itu sudah dijawab di sini sebelum Allison menanyakannya.

September 1948. Republik sedang berjuang untuk tetap ada, ibu kotanya di Yogyakarta, dan dua blok besar sama-sama menawarkan syarat. Mohammad Hatta berpidato di depan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat, dan pidato itu berjudul Mendayung antara dua karang. Isinya dua kalimat yang sampai sekarang belum diganti: kita tidak boleh jadi objek dalam pertarungan orang lain, dan tidak boleh membeli rasa aman dengan cara memilih majikan.

Pendirian itu tidak nyaman. Tidak ada pelindung yang disediakannya, dan kita dituntut cukup berguna bagi dua pihak sekaligus sampai tidak ada satu pun dari keduanya yang merasa perlu memaksa kita memilih. Kedudukan begitu harus diperoleh ulang terus-menerus, dan tidak ada tahun yang aman.

Halaman 146 memuat hitungan yang menerangkan kenapa kedudukan kita tidak sama dengan tetangga. Sampai Juni 2015, luas daratan baru yang ditimbun Cina di Laut Cina Selatan hampir tujuh belas kali lipat gabungan yang ditimbun Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Taiwan. Kita tidak ada di daftar itu, sebab kita memang tidak mengaku punya pulau di sana. Yang kita punya cuma perairan, dan garis putus-putus di peta orang lain memotongnya di utara Natuna.

Pada tahun yang sama dengan terbitnya buku ini, tanpa menyebut pihak mana pun, kita menamai perairan itu Laut Natuna Utara di peta kita sendiri. Mendayung memang begitu bentuknya. Tidak ada pengumuman, tidak ada sekutu yang dipanggil, cuma nama yang diganti dan dipakai terus sampai jadi kebiasaan orang lain juga.

Angka yang naik di pulau yang jadi pokok perkaranya

Sejak catatan ini disusun, satu bagian dari gambarannya bergerak, dan bergeraknya bisa dihitung.

Belanja pertahanan Taiwan untuk 2026 dipasang di 949,5 miliar dolar Taiwan, sekitar 30,3 miliar dolar Amerika, atau 3,32 persen dari produk domestik brutonya. Itu pertama kalinya melewati tiga persen sejak 2009. Presidennya menjanjikan angka itu naik ke lima persen pada 2030, dan meluncurkan paket belanja pertahanan tambahan sekitar 1,25 triliun dolar Taiwan.

Sebagian dorongannya datang dari luar. Pemerintah Amerika berulang kali meminta sekutunya menanggung lebih banyak ongkos pertahanan sendiri.

Buku ini menyediakan dua cara membaca angka itu, dan dua-duanya ada di dalamnya.

Satu, ini yang disebut Allison sebagai keputusan sulit yang membuat empat dari enam belas kasus tidak berakhir perang: pihak yang terancam menaikkan ongkos menyerangnya sampai penyerangan berhenti masuk akal.

Dua, ini juga bentuk yang di dua belas kasus lain justru mempercepat. Persiapan satu pihak terbaca pihak lain sebagai niat, dan tiap kenaikan menuntut kenaikan balasan.

Bukunya tidak menyediakan cara membedakan keduanya sebelum kejadian, dan itu keberatan yang sama yang saya tulis di bawah nanti. Yang berubah cuma sekarang ada angka yang bertanggal, dan angka itu akan naik tiap tahun sampai 2030.

Jebakannya nyata sebagai gambaran tentang tekanan. Sebagai ramalan, tidak.

Dua belas dari enam belas berakhir perang, yang juga berarti empat tidak, dan di keempatnya selalu ada orang yang mengambil rangkaian keputusan sulit alih-alih membiarkan polanya berjalan sendiri.

Yang belum bisa saya putuskan itu cara memberi nilai pada buku yang jamnya tidak pernah habis. Mesinnya saya pakai hampir tiap kali membaca berita dari selat mana pun. Tanggalnya tidak pernah diberikan, jadi tidak ada satu tahun pun yang sanggup membuat bukunya salah. Rapor semacam itu tidak bisa ditandatangani siapa-siapa, dan saya tetap membacanya.

Baca berikutnya