Yang dituntut orang memang pengakuan, dan pengakuan itu barang paling murah bagi yang memberinya.

Fukuyama mulai dari Plato, dan itu barang pinjaman terbaik di seluruh bukunya.

Di Republik, jiwa punya tiga bagian: akal, keinginan, dan thymos, bagian yang ingin dianggap berharga. Dua yang pertama sudah lama dihitung ilmu ekonomi dan psikologi. Yang ketiga hampir selalu dilewati. Catatan bukunya sendiri ada di The Republic, dan di sana bagian tengah itu memang yang paling tahan waktu.

Dari situ Fukuyama menurunkan dua kata yang menopang seluruh bukunya. Isothymia, tuntutan supaya diakui setara dengan orang lain. Megalothymia, tuntutan supaya diakui lebih tinggi.

Bagian Plato-nya saya setujui penuh. Makin jauh dari situ, makin sering saya berhenti untuk bertanya siapa yang untung kalau semua orang percaya bahwa yang mereka tuntut adalah pengakuan.

Bagian ketiga dari jiwa, di ruang rapat

Contoh Plato tentang Leontius, yang ingin melihat tumpukan mayat lalu membenci dirinya karena lemah, dipakai Fukuyama untuk satu kalimat:

"Desire and reason are component parts of the human psyche (soul), but a third part, thymos, acts completely independently of the first two."

Keinginan dan akal itu bagian-bagian jiwa manusia, tapi bagian ketiga, thymos, bergerak sepenuhnya lepas dari dua yang pertama.

Lalu di bab sembilan dia menagih ekonom:

"Economists assume that human beings are motivated by what they label 'preferences' or 'utilities,' desires for material resources or goods. But they forget about thymos..."

Ekonom mengandaikan manusia digerakkan oleh apa yang mereka sebut preferensi atau utilitas, keinginan akan barang dan sumber daya. Tapi mereka lupa pada thymos.

Bagian ini tidak perlu diterjemahkan ke sini. Orang tidak keluar dari kantor karena gajinya kurang seratus ribu. Orang keluar karena idenya dipakai tanpa disebut namanya, atau karena tidak diundang ke rapat yang isinya tidak penting. Yang dituntut pengakuan, dan pengakuan tidak masuk di kolom mana pun di slip gaji.

Cabang di abad kesembilan belas

Bagian sejarahnya, dari Luther ke Rousseau ke Herder, sampai di satu persimpangan:

"The politics of recognition and dignity had reached a fork by the early nineteenth century. One fork led to the universal recognition of individual rights... The other fork led to assertions of collective identity, of which the two major manifestations were nationalism and politicized religion."

Politik pengakuan dan martabat sampai di persimpangan pada awal abad kesembilan belas. Satu cabang menuju pengakuan atas hak tiap orang yang berlaku untuk semua. Cabang lainnya menuju penegasan jati diri kelompok, dan dua wujud terbesarnya kebangsaan dan agama yang dijadikan politik.

Dua-duanya sudah ada sejak hari pertama Revolusi Prancis, yang mengibarkan dua bendera sekaligus, hak manusia yang tidak peduli batas negara dan pembelaan tanah air dari orang asing. Menurut Fukuyama, kebangsaan dan Islamisme dua sisi dari satu mata uang: sama-sama tuntutan supaya jati diri kelompok yang dipendam diakui di depan umum, dan sama-sama tumbuh waktu modernisasi merobohkan ikatan lama tanpa menyediakan gantinya.

Contoh pembukanya Mohamed Bouazizi, pedagang sayur di Tunisia yang gerobaknya disita, ditampar polisi perempuan di depan umum, dan timbangannya diambil. Dia membakar diri, dan seluruh kawasan ikut terbakar. Fukuyama menekankan yang dituntut orang-orang itu bukan roti. Yang dituntut supaya tidak dihina.

Harga diri sebagai bahasa terapi

Bagian paling tajam bukunya justru bukan soal politik, tapi soal terapi, dan angkanya dia sebut.

"...the term self-esteem was virtually absent from U.K. newspapers in 1980, but references to low self-esteem began to rise steadily to well over thirty-three hundred by the year 2000."

Istilah harga diri nyaris tidak ada di koran Inggris pada 1980, tapi sebutan tentang harga diri yang rendah naik terus sampai lewat tiga ribu tiga ratus pada tahun 2000.

Jumlah tenaga kesehatan jiwa naik empat kali lipat antara 1970 dan 1995. Lalu agama menyusul, sebab gereja yang jemaatnya menyusut menemukan bahwa orang kembali kalau ajaran diganti pendampingan yang berporos pada harga diri. Robert Schuller, pengkhotbah televisi yang gerejanya termasuk terbesar di Amerika, menulis buku berjudul Self-Esteem: The New Reformation. Rick Warren meneruskannya lewat Purpose Driven Life, yang menurut Fukuyama menomorduakan dosa dan memperlakukan Injil sebagai buku petunjuk untuk bahagia di dunia ini.

Fukuyama tidak mengejek. Dia mencatat: begitu sebuah masyarakat memberi tahu orang-orangnya bahwa harga dirinya terletak pada perasaan tentang diri sendiri, lembaga yang selama ini menawarkan hal lain harus ikut berubah atau kehilangan pendengarnya.

Gejala yang sama tidak susah dikenali di sini, di ceramah yang bahasanya makin mirip seminar motivasi dan di kantor yang mengganti teguran dengan sesi penghargaan. Itu bukan kemunduran dan bukan kemajuan. Itu pasar yang sama, yang dicatat Fukuyama di tempat lain.

Barang yang murah bagi yang memberi

Bab delapan judulnya alamat yang salah. Isinya kiri Eropa dan Amerika yang berpindah dari urusan kelas ke urusan jati diri, dan kaum pekerja yang merasa tidak lagi dilihat lalu pindah ke kanan. Di situ Fukuyama paling dekat dengan cara kerjanya, dan di situ juga dia berhenti.

Menurut saya setengahnya benar. Orang memang menuntut diakui, dan tuntutan itu nyata. Setengah yang tidak ditulisnya: pengakuan itu barang yang paling murah bagi yang memberi. Sebuah masyarakat adat bisa diakui lewat surat keputusan bupati, lengkap dengan upacara dan foto, sementara tanahnya tetap di dalam konsesi. Seorang tokoh bisa diangkat jadi pahlawan nasional tanpa satu rupiah pun berpindah tangan. Sebuah kelompok bisa diberi hari peringatan, kursi kehormatan, dan sebutan yang lebih sopan, dan semua itu tidak menyentuh siapa yang memegang apa.

Pertanyaan yang selalu berguna untuk nilai mana pun: nilai ini menahan siapa? Kalau perkaranya diterjemahkan jadi pengakuan, yang diuntungkan pihak yang punya banyak pengakuan untuk dibagikan dan tidak ingin membagikan yang lain. Fukuyama menyebut politik martabat sebagai kebutuhan manusia, dan itu benar. Yang tidak disebutnya bahwa kebutuhan itu juga alat tawar yang murah di tangan yang tepat.

Kita ada di bukunya dua kali

Indonesia disebut di dua tempat, dan dua-duanya layak diperiksa.

Yang pertama di bab tentang cerita kebangsaan, sebagai contoh yang dipuji:

"The founders of Indonesia and Tanzania in effect created new national languages to unify their highly diverse societies."

Para pendiri Indonesia dan Tanzania pada dasarnya menciptakan bahasa nasional baru untuk menyatukan masyarakatnya yang sangat beragam.

Fukuyama benar, dan kasusnya lebih berani daripada satu kalimat itu. Bahasa Jawa penuturnya paling banyak, dan yang dipilih pada 1928 justru Melayu, bahasa dagang pelabuhan yang bukan bahasa ibu siapa pun di pusat kekuasaan. Sebuah bangsa memilih bahasa yang bukan milik kelompok terbesarnya, supaya tidak ada yang merasa jadi tamu. Pancasila bentuk yang sama: lima asas yang sengaja tidak menunjuk satu suku dan satu agama. Resep bab terakhirnya, jati diri kebangsaan yang berdasar keyakinan bersama, sudah dijalankan di sini tujuh puluh tahun sebelum bukunya terbit.

Dan hasilnya jauh lebih rumit daripada satu kalimat pujian. Tujuh puluh tahun kemudian kata "asli" dan "pribumi" masih dipakai, dan masih ada warga negara turunan ketiga yang ditanya asalnya dari mana. Di kertas, jati diri kita berdasar keyakinan bersama. Di praktiknya sebagian orang masih membacanya sebagai keturunan. Yang kurang bukan ceritanya, ceritanya sudah bagus. Yang kurang negara di belakang cerita itu, dan soal negara yang lengkap bentuknya tapi tipis isinya sudah ada di The Narrow Corridor. Fukuyama sendiri menulis soal itu lebih panjang di The Origins of Political Order, dan di buku ini hampir tidak menyinggungnya.

Yang kedua di bab tentang agama yang dijadikan politik:

"In Indonesia, the popular Christian governor of Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), was attacked for alleged blasphemy by increasingly self-confident Islamist groups and eventually jailed after narrowly losing his reelection bid."

Di Indonesia, gubernur Jakarta yang beragama Kristen dan populer, Basuki Tjahaja Purnama, diserang dengan tuduhan penistaan agama oleh kelompok Islamis yang makin percaya diri, dan akhirnya dipenjara sesudah kalah tipis dalam pemilihan ulangnya.

Satu keterangannya meleset: putaran kedua 2017 selisihnya bukan tipis, hampir enam puluh lawan empat puluh. Tapi cara kerja yang dia gambarkan pas dengan bukunya sendiri, dan pas dengan cara kita mengalaminya. Yang mengisi jalan waktu itu bukan pertanyaan besar tentang iman. Yang mengisi jalan tuntutan supaya kelompoknya diakui tidak boleh dihina, dan tuntutan itu dijawab dengan pemilihan dan pengadilan. Politik martabat, dalam wujud yang paling dekat dari yang bisa kita tunjuk.

Resep yang ditulis untuk benua lain

Dari empat belas bab, cuma bab terakhir yang berisi resep, dan resepnya untuk Amerika dan Eropa: bangun jati diri kebangsaan berdasar keyakinan, lalu serap pendatang ke dalamnya lewat kebijakan. Negeri yang sudah setengah abad hidup di dalam resep itu tidak ditanya lebih dari dua kalimat.

Dia juga memperlakukan politik identitas dari kiri dan kebangsaan dari kanan sebagai dua jawaban yang setara atas rasa lapar yang sama. Setara itu rapi kalau dibuat bagan, dan menghapus satu perbedaan yang nyata: seberapa besar kuasa masing-masing untuk benar-benar berbuat sesuatu terhadap pihak lain.

Riwayat "diri batin" yang dia susun, dari Luther ke Rousseau ke Herder, silsilah Eropa yang disajikan seolah silsilah manusia. Soal bagaimana agama Kristen membentuk cara Barat memandang manusia perorangan, Tom Holland menuliskannya jauh lebih lengkap di Dominion.

Bendera bajak laut, dua minggu sebelum tujuh belasan

Juli 2025, menjelang peringatan kemerdekaan yang kedelapan puluh, orang mulai mengibarkan bendera kru bajak laut dari sebuah komik Jepang di depan rumah, di gang, dan di bak truk. Bulan Agustus jumlahnya sudah di mana-mana.

Tanggapan dari atas terbelah dalam beberapa hari. Menteri Sekretaris Negara membuka kemungkinan bertindak. Seorang wakil ketua fraksi di MPR menyebutnya provokasi yang bertujuan menjatuhkan pemerintah. Ada juga yang sampai memakai kata makar. Anggota DPR yang lain menyebutnya bentuk penyampaian pendapat, dan menyarankan pemerintah berkaca.

Fukuyama menyediakan alat yang pas untuk membaca ini, dan alatnya bagian jiwa yang cuma ingin dianggap ada. Barang yang dipilih orang untuk menyampaikannya justru yang paling enak dibedah.

Resep Fukuyama untuk negeri yang beragam sebuah jati diri yang bisa dimasuki siapa saja, tidak berdasar keturunan. Kita sudah punya itu tujuh puluh tahun lebih, lengkap dengan bahasanya dan lima asasnya. Waktu sebagian orang merasa tidak didengar, yang mereka angkat bukan lambang golongan, bukan lambang agama, dan bukan bendera daerah. Yang mereka angkat gambar dari komik, milik kru fiktif yang tidak punya negara, tidak punya ajaran, dan tidak punya syarat masuk.

Sebagai bentuk penyampaian, itu justru menepati resepnya. Sebagai kejadian, ia sekaligus memperlihatkan bahwa lambang resminya sedang dirasa bukan tempat yang enak dipakai bicara.

Yang paling menerangkan reaksinya. Bukunya menyebut pengakuan barang yang murah bagi yang memberi. Ternyata mencabutnya tidak murah, dan yang mahal bahkan cuma kelihatan mempertimbangkan mencabutnya, gara-gara selembar gambar tengkorak bertopi jerami.

Bagian Plato-nya tetap berdiri. Ada bagian jiwa yang cuma ingin dianggap berharga, dan ekonomi memang tidak punya kolomnya.

Yang belum selesai buat saya justru soal harganya. Kita sudah dapat pengakuan yang paling besar, bahasa yang bukan milik kelompok terbesar dan lima asas yang tidak menunjuk siapa pun. Tujuh puluh tahun kemudian yang memegang tanah, izin, dan kursi masih orang yang kurang lebih sama. Saya belum tahu pengakuan yang tidak menyentuh itu bisa menahan berapa lama, atau cuma menunda tagihannya.

Baca berikutnya