Negara yang cukup kuat membangun rumah sakit cukup kuat juga memenjarakan tanpa pengadilan.

Bukan kebebasan yang di atas kertas. Bukan pasal, bukan hak pilih. Yang dimaksud di sini kebebasan yang benar-benar terasa: bisa berbeda pendapat, bisa menikah dengan orang yang kamu pilih, tanpa dihancurkan kekuasaan atau dihabisi lingkungan sendiri.

Jawaban buku ini kenapa hal seperti itu langka sama sekali tidak romantis.

Ada dua kekuatan yang saling tarik. Negara, dengan tentara, polisi, pengadilan, pajak, dan birokrasinya. Dan masyarakat, orang biasa yang terorganisir dan sanggup melawan.

Kebebasan bukan hasil dari salah satunya. Ia cuma ada kalau dua-duanya sama kuat dan dua-duanya terus tumbuh.

Kalau negaranya melesat jauh, yang keluar penindasan. Kalau negaranya tidak ada, yang keluar bukan kebebasan tapi kuasa adat yang tidak bisa dibanding ke mana pun. Kebebasan hidup di celah sempit tempat tidak ada satu pun dari keduanya menang telak, dan celah itu yang mereka sebut lorong.

Contoh yang paling gampang dipegang: negara yang cukup kuat membangun rumah sakit adalah negara yang cukup kuat juga memenjarakan orang tanpa pengadilan. Kemampuannya sama persis. Yang menentukan kamu dapat yang mana bukan kemampuannya.

Kenapa teori yang ini saya terima

Di catatan Antifragile saya bilang kata-kata Taleb berguna tapi teorinya tidak. Buku ini juga menawarkan satu kiasan besar, dan yang ini saya terima. Bedanya bukan soal selera.

Taleb menamai sebuah sifat lalu menempelkannya ke apa saja: badan, portofolio, negara, cara membesarkan anak. Istilah yang muat ke segala hal berhenti menyisihkan apa pun.

Acemoglu dan Robinson menyebutkan dua hal yang bergerak, dan menyebutkan ke arah mana. Kekuatan negara naik atau turun. Kekuatan masyarakat naik atau turun. Itu bisa ditengok, dan yang bisa ditengok bisa juga terbukti keliru.

Ini sekaligus jawaban atas pendirian yang saya pakai di Seeing Like a State, bahwa alat pendataan itu netral dan yang menentukan siapa pemegangnya serta apakah ia masih mau mendengar. Buku ini menambahkan satu lapis: mau atau tidaknya ia mendengar bukan soal watak orangnya, tapi soal apakah masyarakatnya cukup kuat untuk memaksa.

Empat wajah

Negara kuat dan masyarakat lemah menghasilkan negara yang menindas. Hadir di mana-mana, dan kehadirannya itu ancamannya.

Negara yang tidak ada menghasilkan sesuatu yang sering dibayangkan indah dan ternyata tidak. Bukan kebebasan, cuma pergantian penjara.

Negara kuat dan masyarakat kuat, saling menahan, itu isi lorongnya. Negaranya sanggup bertindak tapi tidak sanggup semena-mena.

Dan yang keempat paling menarik: negara yang kelihatan lengkap dari luar tapi kosong di dalam. Ada kementerian, ada logo, ada prosedur, sampai ke tingkat desa. Yang tidak ada cuma satu, yaitu kemampuannya benar-benar mengerjakan sesuatu.

Yang keempat itu kita

Logikanya terbalik tapi runut. Elite tidak membangun negara yang benar-benar bekerja bukan karena tidak mampu, tapi karena negara yang bekerja akan menggerakkan masyarakat, dan masyarakat yang bergerak akan menuntut pertanggungjawaban. Lebih enak berkuasa di atas sesuatu yang tidak jalan.

Dan asal-usulnya mereka sebutkan sendiri: pemerintahan tidak langsung ala penjajah. Bangunan administrasi yang kelihatan modern dipasang di atas, sementara elite setempat diberi kuasa memerintah nyaris tanpa kendali dan tanpa keikutsertaan rakyat.

Itu bukan gambaran umum. Itu gambaran susunan yang dipakai di sini selama berabad-abad, dan alasannya ada di Plagues and Peoples: orang Eropa tidak pernah cukup banyak bertahan hidup di sini untuk memerintah langsung, jadi mereka memerintah lewat raja dan perantara setempat.

Bedanya, waktu kapal terakhir berangkat, yang ikut pulang cuma orangnya. Cara memerintahnya tinggal.

Penjara yang tidak berdinding

Bagian yang paling berat dibaca bukan yang soal negara menindas. Itu gampang dikutuk dari jauh.

Yang berat bagian tentang masyarakat tanpa negara. Kita sering bermanis-manis soal kampung yang guyub dan hidup tanpa banyak aturan resmi. Buku ini menunjukkan yang hilang di situ cuma jeruji besinya. Penggantinya norma yang tidak tertulis, dan yang menghukum bukan polisi tapi tetangga, keluarga, kadang ibu kandung sendiri.

Manoj dan Babli, sepasang pengantin muda di Haryana, dibunuh keluarga sendiri pada 2007 karena menikah beda kasta. India punya konstitusi, punya pemilu, punya mahkamah agung. Dewan desanya memihak keluarga pembunuh.

Yang paling bikin ngilu, aturan kasta yang mereka langgar itu aturan yang sudah tercatat di kitab Kautilya hampir dua puluh lima abad sebelumnya, dan masih ditegakkan sampai hari ini. Catatan kitabnya ada di The Arthashastra.

Tidak perlu jauh-jauh ke Haryana untuk melihat bentuknya. Pasangan yang kawin lari karena tidak direstui masih bisa dikucilkan sekampung, dan pengucilan itu tidak melanggar satu pasal pun. Orang yang berpindah keyakinan bisa kehilangan tempatnya di keluarga sendiri tanpa ada yang perlu melapor ke mana-mana. Yang benar-benar memutuskan sering bukan camat atau polisi, tapi rapat tokoh yang keputusannya tidak tertulis dan tidak bisa dibanding ke mana pun.

Negara tidak absen di tempat seperti itu. Negara cuma memilih tidak masuk.

Efek Ratu Merah

Namanya diambil dari Alice in Wonderland. Untuk tetap berada di tempat yang sama, kamu harus berlari sekencang-kencangnya.

Begitu juga hubungan negara dan masyarakat. Masyarakat tidak bisa berhenti mengawasi, berorganisasi, bersuara. Bukan karena ada kemenangan yang menunggu di depan, tapi karena berhenti bukan berarti diam di tempat. Berhenti berarti mundur.

Lalu tengok keadaan sekarang. Banyak orang lelah dengan politik, apatis, menyerah pada kalimat toh semua sama saja. Justru di titik kelelahan itulah negara paling gampang bergeser dari yang dibelenggu jadi yang menguasai.

Kelelahan warga bukan tanda demokrasi yang sudah aman. Itu tanda satu pihak mulai kalah dalam balapan tadi.

"Liberty needs the state and the laws. But it is not given by the state or the elites controlling it. It is taken by regular people, by society."

Kebebasan butuh negara dan hukum. Tapi kebebasan tidak diberikan oleh negara, dan tidak diberikan oleh orang yang menguasainya. Kebebasan diambil orang biasa, oleh masyarakatnya sendiri.

Yang tetap tidak bisa dipegang

Mesinnya nyata, tapi lorongnya sendiri tidak pernah diberi batas yang bisa diperiksa. Tidak ada ukuran untuk menyatakan sebuah negeri sedang di dalam atau sudah di luar, selain melihat hasilnya lalu menyimpulkan ke belakang. Empat wajah tadi juga digambar sesudah kasusnya diketahui, dan hampir tiap negeri bisa dimasukkan ke lebih dari satu kotak tergantung dasawarsa mana yang dipilih.

Dan Cina berdiri di ruangan yang sama seperti di Why Nations Fail, buku mereka sebelumnya. Jawabannya juga sama: susunan seperti itu tidak akan sanggup melahirkan hal-hal baru dalam jangka panjang. Sudah beberapa dasawarsa jawaban itu diucapkan, dan sementara itu mobil listrik, panel surya, dan jaringan telekomunikasi dunia sebagian besar dibikin di sana.

Mungkin mereka benar dan waktunya belum tiba. Tapi dalil yang pembuktiannya selalu ditaruh di masa depan susah dibedakan dari harapan.

Lima hari pada Agustus 2025

Bukunya menuntut dua-duanya berlari. Akhir Agustus 2025 kita sempat melihat larinya, dan sekaligus melihat harganya.

Pemicunya kecil dan gampang dihitung: tunjangan perumahan anggota DPR lima puluh juta rupiah sebulan. Orang mulai berkumpul di depan gedungnya 25 Agustus. Malam 28 Agustus seorang pengemudi ojek daring bernama Affan Kurniawan, yang tidak ikut aksi, terlindas kendaraan polisi di Bendungan Hilir. Sesudah itu marahnya pindah sasaran, dan meluas ke Bandung, Makassar, Yogyakarta, Solo, Surabaya, sampai ada gedung pemerintah dan kantor polisi yang dibakar.

Jawabannya datang cepat. Tunjangan perumahannya dihentikan terhitung 31 Agustus, kunjungan kerja ke luar negeri dihentikan sementara mulai 1 September, dan daftar tuntutan tujuh belas ditambah delapan itu beredar ke mana-mana.

Sampai di situ, itu Efek Ratu Merah yang bisa ditunjuk dengan jari. Masyarakat mendorong, negara mengalah dalam hitungan hari, dan yang mengalah bagian yang paling kelihatan.

Tapi Ratu Merah menuntut larinya diteruskan, jadi ukurannya bukan lima hari itu. Ukurannya apa yang terjadi pada tuntutan yang sama setahun kemudian, waktu jalanannya sudah kosong.

Delapan tuntutan jangka panjang di daftar itu diberi tenggat sendiri oleh yang menyusunnya: 31 Agustus 2026. Salah satunya pengesahan undang-undang perampasan aset, rancangan yang sudah belasan tahun berpindah meja.

Pada 25 Agustus 2026, enam hari sebelum tenggat itu lewat, Komisi III mengumumkan sasarannya: disahkan paling lambat di rapat paripurna Desember. Ketuanya sendiri yang menghitung sisa waktunya, sekitar delapan pekan efektif kalau masa reses tidak dihitung, untuk pekerjaan yang masih harus melewati harmonisasi, rapat dengan pemerintah, dan daftar inventarisasi masalah.

Jadi tenggat yang dipasang dari jalanan dijawab dengan tenggat yang dipasang dari dalam gedung, sekitar tiga setengah bulan lebih mundur. Tidak ada yang menolak, dan tidak ada yang cukup terdesak untuk mempercepat. Begitulah yang paling sering terjadi waktu dorongannya sudah reda, dan tidak perlu ada yang berniat begitu.

Tenggat Desember itu yang bisa dicek. Kalau lewat tanpa paripurna, tenggat dari dalam gedung pun terbukti bisa digeser tanpa ada yang menagih.

Angka yang lain berlawanan arah dengan lima hari tadi. Indeks demokrasi susunan EIU untuk Indonesia turun terus: 6,71 pada 2022, 6,53 pada 2023, 6,44 pada 2024, dan 6,37 pada 2025. Bagian yang paling banyak menyumbang penurunannya justru kebebasan sipil.

Lima hari itu dan indeks tadi terjadi di tahun yang sama, dan saya belum bisa menjumlahkannya jadi satu kesimpulan. Menang lima hari untuk satu pos tunjangan, dan turun terus selama empat tahun untuk hal yang membuat lima hari seperti itu mungkin terjadi lagi nanti.

Yang tersisa buat saya bukan rasa pesimis, tapi satu hal yang tidak enak diakui.

Kalau kita memang negara kertas, maka yang kurang bukan orang baik di kursi yang tepat. Yang kurang tekanan dari bawah yang cukup terus-menerus sampai kursi mana pun terpaksa menjawab.

Dan tekanan seperti itu melelahkan. Di situ persoalannya, dan di situ juga yang membuat berhenti terasa masuk akal.

Infografis

Infografis The Narrow Corridor bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya