Nama Hayek dipakai di sini untuk menahan yang di bawah, dan halaman 115 bukunya menahan orang yang memakainya.

Hayek menulis buku ini pada 1944 di Cambridge, waktu bom Jerman masih jatuh. Bacanya juga terasa begitu. Tiap halaman seperti sedang berdebat dengan orang yang duduk di depannya.

Namanya jauh lebih besar daripada dalilnya, dan hampir semua yang dikutip darinya lebih longgar daripada aslinya. Hayek tidak bilang jaminan kesehatan berujung ke kamp kerja paksa. Yang ia bilang lebih sempit: ekonomi yang diatur dari satu pusat butuh satu daftar urutan tentang apa yang penting dan apa yang boleh ditunda, lembaga yang isinya orang banyak tidak pernah bisa menyepakati daftar seperti itu, jadi daftarnya akan datang dari orang yang tidak perlu bertanya lagi.

Di kepala bab tujuh ia memasang kalimat Hilaire Belloc:

"The control of the production of wealth is the control of human life itself."

Menguasai cara kekayaan dihasilkan berarti menguasai hidup orangnya.

Ini argumen, bukan ramalan. Dan argumen cuma perlu ditanya dua hal: penulisnya bertahan pada pendiriannya sendiri sampai akhir atau tidak, dan sebelah mana yang bocor. Dua-duanya ketemu, dan yang bocor bukan bagian yang biasa diserang orang.

Sepuluh ribu perkara kecil

Dewan perwakilan bisa memutuskan aturan umum. Yang tidak bisa mereka putuskan sepuluh ribu perkara kecil yang lahir tiap minggu dari ekonomi yang diatur: pabrik yang mana, jatah berapa, baja dikirim ke siapa duluan.

Jadi urusan itu diserahkan ke bawah. Penyerahan itu bukan tanda rencananya gagal; justru begitulah rencananya jalan. Dan begitu keputusan pindah ke bawah, hukumnya ikut berubah bentuk. Di halaman 75 Hayek menunjuk gejalanya: undang-undang mulai memakai kata-kata seperti adil dan wajar, dan kata seperti itu memindahkan keputusannya ke pertimbangan pejabat atau hakim yang kebetulan memegang perkaranya.

Lalu kalimat yang paling telak di seluruh bukunya, di halaman 79:

"By giving the government unlimited powers, the most arbitrary rule can be made legal; and in this way a democracy may set up the most complete despotism imaginable."

Dengan memberi pemerintah kuasa tanpa batas, pemerintahan yang paling sewenang-wenang pun bisa dijadikan sah, dan dengan cara itu sebuah demokrasi bisa mendirikan kelaliman yang paling lengkap yang bisa dibayangkan.

Perhatikan bahwa yang ia bicarakan bukan pelanggaran hukum. Semuanya sah. Suratnya lengkap, dasar hukumnya ada, nomor keputusannya bisa dicari. Yang hilang cuma satu: kepastian bahwa keputusan yang sama akan keluar untuk orang yang berbeda.

Bentuk itu kita kenal tanpa perlu diterangkan. Aturan yang syaratnya berbunyi sesuai pertimbangan, izin yang bisa keluar bulan ini dan tidak keluar tahun depan tanpa satu kata pun berubah di aturannya, pasal yang bisa dipakai ke dua arah sekaligus. Tidak ada yang melanggar. Semua sah.

Cengkih, dan satu pembeli

Bukunya paling gampang dimengerti kalau dibaca dari sini, dan contohnya tidak perlu dicari jauh.

Selama tiga dasawarsa, hampir semua yang bisa diperdagangkan di negeri ini butuh izin. Bukan izin dalam arti syarat tertulis yang bisa dipenuhi siapa saja, tapi izin dalam arti ada orang yang boleh dan ada yang tidak, dan yang menentukan tidak perlu menjelaskan alasannya.

Cengkih contoh yang paling telanjang. Pada 1990 dibentuk satu badan yang memegang hak tunggal membeli cengkih dari petani. Petaninya jutaan, pembelinya satu. Harga di tingkat petani jatuh, sebagian kebun ditebang, dan cengkih yang menumpuk dibakar supaya harganya tidak turun lebih jauh. Badannya dibubarkan pada 1998, sebagai salah satu syarat dalam kesepakatan dengan IMF.

Tidak ada satu orang pun dalam rantai itu yang perlu membenci petani cengkih. Cukup satu pihak yang berhak memutuskan, dan keputusannya tidak bisa digugat ke mana-mana.

Acemoglu dan Robinson menamai bentuk seperti itu lembaga yang menyedot, dan bukti utamanya justru bukan orang yang dirugikan, tapi orang yang berhenti mencoba, di Why Nations Fail.

Yang perlu dicatat, yang menjalankan monopoli cengkih bukan orang sosialis, dan tidak satu pun dari mereka pernah membaca satu halaman Marx. Cara kerja yang Hayek gambarkan ternyata jalan tanpa ideologi yang jadi sasaran bukunya.

Halaman 115, dan siapa yang berhenti membaca di situ

Di sini bukunya membalik orang yang paling sering mengutipnya.

"there can be no doubt that some minimum of food, shelter, and clothing, sufficient to preserve health and the capacity to work, can be assured to everybody."

Tidak ada keraguan bahwa sejumlah minimum pangan, tempat tinggal, dan pakaian, cukup untuk menjaga kesehatan dan kemampuan bekerja, bisa dijamin untuk semua orang.

Di halaman yang sama ia menulis bahwa untuk risiko yang benar-benar bisa diasuransikan, seperti sakit dan kecelakaan, alasan bagi negara untuk ikut menyusun satu sistem jaminan sosial yang menyeluruh sangat kuat. Bukan belas kasihan yang jadi dasarnya. Bantuan semacam itu, tulisnya, tidak melemahkan keinginan orang menghindari celaka, jadi tidak merusak hitungan siapa pun.

Pertanyaan yang saya bawa ke tiap nilai yang diserukan orang: nilai ini menahan siapa, dan yang menyerukan ikut kena atau tidak.

Di sini nama Hayek hampir selalu dipakai untuk menahan yang di bawah. Subsidi bikin manja, jaminan kesehatan bikin malas, pasar akan mengurus dirinya sendiri. Yang paling sering mengucapkannya bukan orang yang antre di puskesmas, dan bukan orang yang satu kali rawat inap sudah cukup untuk menghabiskan sertifikat rumahnya.

Halaman 115 menahan mereka, bukan yang mengantre. Dan halaman itu ada di bukunya, bukan di tafsir orang.

Bab sepuluh, dan kenapa alasannya bukan alasan ekonomi

Bab yang paling tidak lekang judulnya "Why the Worst Get on Top". Yang ia pasang di kepalanya bukan kutipan ekonom, tapi Lord Acton: kekuasaan cenderung merusak, dan kekuasaan mutlak merusak secara mutlak.

Ia menyusun tiga saringan, dan ketiganya ditulis sebagai cara kerja, bukan sebagai tuduhan pada orangnya.

Satu, kesepakatan orang banyak paling gampang dikumpulkan pada tingkat yang paling rendah. Bukan karena orang banyak bermoral rendah, tulisnya, tapi karena kelompok terbesar yang nilainya benar-benar seragam memang kelompok yang seleranya paling tidak rewel.

Dua, jumlahnya ditambah dari orang yang penurut dan gampang percaya, yang tidak punya pendirian sendiri dan siap menerima daftar nilai jadi asal cukup keras dan cukup sering diperdengarkan.

Tiga, dan ini yang paling kepakai:

"It seems to be almost a law of human nature that it is easier for people to agree on a negative program—on the hatred of an enemy, on the envy of those better off—than on any positive task."

Hampir seperti hukum alam bahwa orang lebih gampang sepakat pada program yang menolak sesuatu, pada kebencian terhadap musuh, pada iri kepada yang lebih beruntung, daripada pada satu pekerjaan yang harus dikerjakan bersama.

Di sini saya justru merasa Hayek terlalu sopan pada targetnya sendiri. Ketiga saringan itu tidak menunggu ekonomi diatur dari pusat. Ketiganya jalan di kepanitiaan, di organisasi kampung, di kantor mana pun yang jabatannya diperebutkan. Jabatan menyaring keyakinan diri, sebab keyakinan diri bisa dilihat dari jauh dan kecakapan tidak. Hayek menempelkan saringan itu ke satu jenis susunan ekonomi, padahal saringannya milik semua susunan.

Swedia, dan dua hal yang ia campur jadi satu

Ramalannya, dalam bentuk yang keras, meleset. Inggris, Swedia, dan Belanda sama-sama membangun jaminan sosial yang besar sesudah perang, dan ketiganya tetap bebas, dengan pemilihan umum yang berkali-kali menjatuhkan pemerintahnya sendiri.

Ia mencampur dua hal yang ternyata bisa dipisah: negara yang memiliki pabriknya, dan negara yang menanggung biaya sekolah dan rumah sakitnya. Negara-negara Skandinavia mengerjakan yang kedua besar-besaran tanpa banyak mengerjakan yang pertama.

Dan ada kelicinan di susunan argumennya. Tiap langkah menuju pengaturan dihitung sebagai bukti. Tidak runtuhnya kebebasan tidak dihitung sebagai bantahan, sebab keruntuhannya selalu masih di depan. Dalil yang disusun begitu tidak punya cara untuk kalah.

Karl Popper, yang menerbitkan bukunya sendiri setahun kemudian dan menyebut Hayek di catatan kakinya, menyediakan lawannya: yang ia sebut membangun masyarakat secara besar-besaran itu kira-kira sama dengan yang Hayek sebut perencanaan terpusat, dan lawannya perubahan kecil yang akibatnya bisa diamati dan langkahnya bisa ditarik kembali. Itu di The Open Society and Its Enemies. James C. Scott menambahkan bagian yang tidak dipegang keduanya: bukan cuma rencananya yang keliru, tapi pengetahuan setempat yang dibuang lebih dulu supaya rencananya muat di atas kertas, di Seeing Like a State.

Sesudah semuanya, perkaranya bukan Hayek benar atau salah tentang sosialisme.

Perkaranya ini: alasan yang ia susun ternyata tidak butuh sosialisme sama sekali. Yang dibutuhkannya cuma satu keadaan. Ada pihak yang berhak menentukan apa yang boleh diproduksi, oleh siapa, dan dengan harga berapa, dan keputusannya tidak bisa dilawan ke mana pun.

Buat orang yang berdiri di seberang meja, mau pihak itu menyebut dirinya perencana pusat, pemegang izin, atau perusahaan keluarga yang dapat konsesi, rasanya sama saja.

Akhir 2025 banjir dan longsor menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sampai akhir Desember, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 1.138 orang meninggal dan 449.846 orang mengungsi.

Walhi menghitung 1,4 juta hektare hutan di tiga provinsi itu hilang sepanjang 2016 sampai 2025, dan menyebutkan siapa yang mengerjakannya: 631 perusahaan pemegang izin tambang, hak guna usaha sawit, izin pemanfaatan hutan, panas bumi, dan pembangkit listrik tenaga air.

Walhi tidak menyebut berapa dari 631 perusahaan itu yang melanggar, dan untuk dalil Hayek jumlahnya tidak menentukan. Hutan seluas itu bisa hilang meski semua suratnya lengkap, nomornya bisa dicari, batas konsesinya ada di peta, dan tiap izin diterbitkan kantor yang memang berwenang menerbitkannya. Kalau ada yang mau menggugat, yang digugat bukan pelanggaran tapi keputusan, dan keputusan yang sah jauh lebih susah digugat orang yang tidak diundang waktu keputusannya diambil.

Hayek menulis melawan bayangan tentang satu kantor yang memutuskan apa yang boleh diproduksi. Yang ada di hulu tiga provinsi itu bukan satu kantor, tapi 631 perusahaan, masing-masing dengan suratnya sendiri, dan tidak satu pun suratnya cukup besar untuk jadi berita pada hari ditandatangani.

Penawarnya yang belum saya temukan. Tiap jalan keluar yang bisa saya bayangkan berbentuk kantor baru dengan wewenang menilai, dan kantor itu punya meja, dan mejanya punya seberang.

Yang merencanakan sekarang bukan yang ia bayangkan

Hayek menulis melawan gagasan bahwa satu kantor bisa tahu cukup banyak untuk memutuskan apa yang perlu diproduksi. Keberatannya soal pengetahuan: keterangan yang dibutuhkan tersebar di kepala jutaan orang dan tidak pernah sampai utuh ke satu meja.

Delapan puluh tahun kemudian keberatan itu sedang diuji lagi, dan yang mengujinya bukan negara sosialis.

Belanja modal beberapa perusahaan teknologi terbesar untuk kecerdasan buatan ditaksir menembus tujuh ratus miliar dolar setahun pada 2026, sebagian besarnya dibiayai utang. Bank for International Settlements sudah menaruh peringatan soal itu di laporan tahunannya. Di sisi lain dunia, pemerintah Cina justru mengeluhkan pemerintah-pemerintah daerahnya sendiri kebanyakan menanam modal di bidang yang sama.

Dua keluhan itu datang dari dua susunan yang berlawanan. Yang satu pasar, yang satu perencanaan. Bunyinya sama: terlalu banyak uang ditaruh di satu tempat, dan tidak ada yang bisa memastikan tempat itu memang butuh sebanyak itu.

Buat saya itu tidak membatalkan Hayek. Justru memperluasnya. Yang ia tunjukkan bukan bahwa pasar lebih pintar. Yang ia tunjukkan tidak ada satu pun tempat yang bisa tahu cukup, dan susunan yang lebih baik cuma susunan yang kesalahannya ketahuan lebih cepat dan lebih murah dibetulkan.

Diukur begitu, pertanyaannya berpindah. Bukan siapa yang merencanakan, tapi berapa lama sebuah keputusan yang keliru bisa terus dibiayai sebelum ada yang berani menghentikannya. Perusahaan yang salah taruh uang akan tahu dari harga sahamnya. Kantor pemerintah yang salah taruh uang akan tahu waktu proyeknya sudah berdiri.

Baca berikutnya