Ada satu hal yang terus terngiang setelah menutup buku ini: bukan tentang betapa bodohnya manusia, tapi tentang betapa *salah konteks*-nya kita.

Otak manusia bukan produk gagal evolusi. Ia bekerja sangat baik — untuk padang savana, untuk mendeteksi predator, untuk membaca ekspresi wajah anggota suku. Tapi ketika kamu taruh otak itu di depan grafik eksponensial, atau minta ia menghitung probabilitas bersyarat, atau suruh ia mengevaluasi klaim tentang elit global yang mengontrol cuaca — ia mulai berhalusinasi. Bukan karena rusak. Tapi karena ia belum pernah didesain untuk itu.

Pinker menyebutnya semacam *ecological rationality* — kecerdasan yang sangat presisi di habitat aslinya, tapi tersesat di dunia modern yang penuh dengan abstraksi institusional dan informasi yang bergerak lebih cepat dari naluri.

---

Yang paling menggelisahkan buatku bukan teori konspirasi atau anti-vaksin. Yang paling menggelisahkan adalah **kebutaan terhadap pertumbuhan eksponensial**.

Bayangkan kamu punya kolam. Hari pertama, ada satu teratai. Setiap hari jumlahnya dua kali lipat. Di hari ke-29, kolam setengah penuh. Pertanyaan: kapan kolam penuh? Kebanyakan orang menjawab hari ke-58. Jawabannya: hari ke-30.

Kita tidak bisa merasakannya secara intuitif. Dan ini bukan soal pendidikan — ini soal bagaimana pikiran manusia dikonstruksi. Para epidemiolog di awal 2020 memahami kurva itu, tapi mereka tetap harus berjuang keras untuk meyakinkan pembuat kebijakan yang otaknya juga manusia. Hutang kartu kredit bekerja dengan cara yang sama. Bunga majemuk juga. Kita tahu angkanya, tapi tidak *merasakannya* — dan kita terus membuat keputusan berdasarkan perasaan, bukan angka.

---

Tapi ada paradoks yang lebih lucu sekaligus lebih gelap dari itu.

Pinker menjelaskan sesuatu dari teori permainan: kadang-kadang, **ketidakrasionalan adalah strategi yang paling rasional**. Kalau kamu bermain *chicken game* — dua mobil melaju ke arah yang berlawanan, siapa yang belok lebih dulu kalah — maka pemain yang paling rasional bukan yang menghitung probabilitas bertahan hidup terbaik. Pemain yang paling rasional adalah yang *mengunci setir dan membuang kuncinya*, sehingga lawan tahu kamu tidak punya pilihan.

Madman Theory. Nixon pakai ini di Vietnam. Kamu pura-pura tidak terkontrol agar musuh mengalah.

Sekarang pikir tentang politisi yang kamu anggap paling tidak rasional. Atau negara yang kebijakan luar negerinya terasa gila. Apakah mereka benar-benar irasional — atau sedang bermain game yang kamu tidak tahu aturannya?

*Berhenti sejenak di sini.*

---

Yang juga mengguncang adalah konsep *myside bias* — dan betapa kecerdasan tidak melindungimu darinya. Justru sebaliknya.

Orang pintar tidak menggunakan kecerdasannya untuk mencari kebenaran. Mereka menggunakannya untuk **mempertahankan** keyakinan yang sudah ada. Seperti pengacara, bukan hakim. Makin tinggi IQ, makin canggih argumen yang bisa dikonstruksi untuk membenarkan apa yang sudah diyakini.

Ini yang membuat diskusi di media sosial begitu melelahkan. Bukan karena orang bodoh. Tapi karena banyak orang cerdas yang sedang bekerja sangat keras — hanya saja ke arah yang salah.

---

Pinker punya kalimat yang terus membayangi:

> *"Impartiality is the core of rationality: a reconciliation of our biased and incomplete notions into an understanding of reality that transcends any one of us."*

Ini bukan kalimat tentang objektivitas dingin ala robot. Ini kalimat tentang usaha. Tentang kenyataan bahwa tidak ada satu pun dari kita yang bisa melihat gambaran penuh — dan rasionalitas adalah cara kita, secara kolektif, mencoba menambal kebutaan masing-masing.

Tapi siapa yang mau repot-repot melakukan itu, ketika algoritma sudah menyiapkan kolam gema yang hangat dan menyenangkan untuk kita berendam?

---

Buku ini tidak memberikan solusi bersih. Dan saya rasa itu bukan kelalaian — itu kejujuran.

Kita adalah makhluk yang cukup pintar untuk menciptakan vaksin, menghapus perbudakan, dan mendaratkan manusia di bulan — semua itu, kata Pinker, tidak terjadi karena nasib baik, melainkan karena ada orang-orang yang cukup keras kepala untuk menggunakan argumen logis melawan kekejaman yang sudah dinormalisasi.

Tapi kita juga makhluk yang masih perlu diingatkan bahwa kokok ayam tidak menyebabkan matahari terbit.

Dua hal itu benar secara bersamaan. Dan kita harus belajar hidup dengan ketegangan itu — bukan menyelesaikannya.

Infografis

Infografis Rationality bahasa Indonesia

Rekomendasi Bacaan Selanjutnya