Buku ramalan berumur dua puluh sembilan tahun, dan rapornya lebih menarik daripada dalilnya.

Selama berabad-abad kastil benteng paling mempan yang ada. Siapa punya kastil, punya kuasa. Lalu datang meriam, dan dalam satu generasi semua kastil jadi puing atau tempat wisata.

Davidson dan Rees-Mogg menulis bahwa negara bangsa itu kastil zaman informasi, dan meriamnya sudah ditembakkan.

Mereka menulisnya pada 1997. Sekarang 2026.

Buku ramalan yang umurnya dua puluh sembilan tahun punya satu keistimewaan yang jarang dimiliki buku lain: rapornya sudah bisa dibuka. Dan menurut saya rapornya lebih menarik daripada dalilnya.

Mesinnya, dan siapa yang dimenangkannya

Dalil pokoknya sebenarnya tidak rumit.

Yang menentukan siapa berkuasa, kata mereka, bukan gagasan. Yang menentukan berapa hasilnya kalau memakai kekerasan. Waktu kekerasan menguntungkan dan bisa diperbesar, yang muncul kekuasaan besar dan terpusat. Waktu hasilnya turun, kekuasaan itu pecah. Mesin cetak menghabisi monopoli Gereja atas pengetahuan, meriam menghabisi kastil, dan dua-duanya bukan karena ada yang menyerbu.

Bagian berikutnya jauh lebih membumi. Negara bisa memungut pajak karena kita tidak punya pilihan. Harta kita tidak bisa dipindahkan diam-diam, badan kita ada di dalam wilayah hukumnya, dan pergi itu mahal. Begitu ada cara menyimpan kekayaan yang tidak bisa disita, tidak bisa dilacak, dan tidak terikat tempat, hitungannya terbalik. Negara terpaksa bersaing memperebutkan warga, persis seperti perusahaan bersaing memperebutkan pelanggan.

Yang menang segelintir orang yang gampang berpindah, terdidik, dan hartanya berbentuk digital. Angkanya mereka sebut sendiri: kelas baru berisi sekitar 500 juta orang sangat kaya, dan 100 juta di antaranya cukup kaya untuk benar-benar berdaulat.

Yang kalah semua yang tidak bisa pergi. Peralihan ini, tulis mereka, akan brutal bagi yang tidak siap.

Kalimat itu ditulis tanpa satu pun nada prihatin, seperti catatan dokter.

Dan justru di situ nilainya. Buku ramalan yang menyelipkan simpati biasanya mulai melunakkan kesimpulannya sendiri. Yang dingin lebih bisa dipegang karena tidak sedang berusaha menyenangkan siapa-siapa. Kalau mau tahu bagaimana orang yang bisa pergi memandang orang yang tidak bisa, bacalah bagian ini. Tidak ada yang disamarkan.

Rapornya: yang kena

Yang harus saya akui lebih dulu, karena mereka menulisnya waktu belum ada yang melihatnya.

Penyandian jadi barang sehari-hari, persis seperti dugaan mereka. Kekayaan yang tidak terikat tempat memang lahir, dan bentuknya kira-kira seperti yang mereka bayangkan. Pekerjaan yang tidak lagi terikat satu perusahaan permanen juga tumbuh, dan sesudah 2020 tumbuh jauh lebih cepat daripada yang siapa pun duga pada 1997.

Persaingan antaryurisdiksi juga nyata. Perusahaan besar memang memindahkan labanya lewat belasan negara, dan negara memang saling menawarkan keringanan untuk menariknya.

Waktu buku ini ditulis, internet masih dipakai lewat sambungan telepon rumah. Menyebut penyandian sebagai hal yang akan mengubah susunan kuasa dunia, pada tahun itu, bukan tebakan yang murah.

Rapornya: yang meleset, dan melesetnya besar

Lalu bagian yang tidak enak buat bukunya.

Ramalan pokoknya bunyinya begini: kemampuan negara memungut akan turun hampir mendekati titik lenyap di milenium berikutnya.

Kenyataannya, rata-rata penerimaan pajak negara-negara OECD pada 2024 mencapai 34,1 persen dari produk domestik bruto. Itu bukan sekadar tidak turun. Itu angka tertinggi sepanjang pencatatan.

Yang kedua lebih telak lagi, karena membalik mesinnya. Inti bukunya bilang negara akan terpaksa saling menurunkan pajak berebut warga, sampai akhirnya kehabisan napas. Yang terjadi kebalikannya: 147 yurisdiksi menyepakati pajak minimum global lima belas persen, dan pada Januari 2026 kesepakatan itu diselamatkan lagi. Negara ternyata bisa bersekongkol.

Meski begitu, perusahaan multinasional Amerika akhirnya dikecualikan dari kesepakatan itu. Jadi persaingan antaryurisdiksi memang belum mati. Cuma bentuknya bukan negara kecil menggerogoti negara besar seperti bayangan mereka. Yang terjadi negara terbesar memakai kekuatannya untuk keluar dari aturan yang dia ikut susun.

Ramalan nomor sepuluh mereka menyebut negara bangsa pada akhirnya akan runtuh dalam krisis keuangan. Yang terjadi pada 2008 dan sekali lagi waktu pandemi justru sebaliknya. Negara membesar, mencetak, menjamin, dan menalangi, dan tidak ada yang menyebut itu tanda kelemahan.

Ada satu lagi yang menarik dinilai. Di halaman 497 mereka menulis bahwa Zaman Informasi akan membuat The Prince usang, dan menggantinya dengan resep yang justru menekankan kehormatan.

Dua puluh sembilan tahun kemudian, Machiavelli masih dibaca, masih dicetak ulang, dan cara kerja yang dia terangkan masih terpakai persis seperti dulu. Resep yang menekankan kehormatan itu belum pernah muncul.

Ramalan yang tidak bisa kalah

Buku ini gampang sekali dibela, dan justru di situ cacatnya.

Tiap kali angkanya tidak cocok, selalu tersedia jawaban yang sama: belum waktunya. Negara memperketat pungutan? Itu tahap sebelumnya, dan justru itu yang akan mendorong orang mencari jalan keluar. Negara melonggarkan? Nah, ramalannya mulai jalan. Apa pun yang terjadi, bukunya tetap benar.

Pembelaan yang bisa menyerap semua kemungkinan bukan pembelaan. Buat saya itu tanda ramalannya belum berbentuk ramalan.

Dan ukurannya bukan karangan saya. Superforecasting menunjukkan bahwa ramalan baru berarti kalau punya tanggal dan punya ambang: apa yang harus terlihat, sebesar apa, dan sampai kapan. Tanpa dua hal itu, yang tersisa bukan ramalan melainkan arah yang enak didengar.

Buku ini punya banyak sekali arah, dan hampir tidak punya tanggal.

Di sini arahnya justru terbalik

Bukunya baru benar-benar menarik waktu dibawa pulang.

Mereka mengira teknologi otomatis melemahkan negara. Di sini yang terjadi sebaliknya. Transaksi warung sudah tercatat lewat kode QR. Nomor induk kependudukan disambungkan ke urusan pajak. Yang dulu hilang di antara uang tunai dan buku tulis sekarang tercatat sendiri, tanpa ada yang perlu mencatat.

Jadi alatnya sama, dan yang diuntungkan tergantung siapa yang lebih dulu memakainya. Di sini negara yang lebih dulu.

Yang perlu dijujurkan, jaring itu tidak menjaring semua orang dengan rapat yang sama. Yang paling terjaring justru pedagang kecil dan pekerja bergaji, yang seluruh penghasilannya lewat satu pintu dan tercatat semua. Yang punya penasihat dan aset di luar tetap punya jalan.

Jadi ada satu hal yang menurut saya mereka ramalkan dengan benar, cuma bukan bagian yang mereka rayakan. Penjenjangan barunya memang datang. Yang tidak datang pembebasannya.

Yang terjaring bukan cuma uangnya

Di buku ini penyandian dibayangkan sebagai jalan keluar dari jangkauan negara. Yang tidak mereka bayangkan, telepon dan rekening yang sama bisa jadi pintu masuk negara, dan yang terjaring bukan cuma harta tapi juga kalimat.

Sejak 2 Januari 2026 kitab hukum acara pidana yang baru berlaku. YLBHI mempersoalkan dua bagiannya: penggeledahan, penyitaan, dan pemblokiran yang boleh jalan tanpa izin pengadilan kalau penyidik menilai keadaannya mendesak, dan pasal penyadapan yang belum diberi batas izin, waktu, dan pengawasannya.

Di jalur lain, SAFEnet mencatat 47 kasus pelanggaran kebebasan berekspresi sepanjang triwulan kedua 2026, naik dari 29 pada triwulan yang sama setahun sebelumnya.

Dari sudut bukunya, yang lebih penting siapa yang kena, bukan berapa. Menurut Davidson dan Rees-Mogg, orang berdaulat itu orang yang hartanya bisa dipindahkan dan badannya bisa pergi. Orang yang dijerat pasal gara-gara satu unggahan tidak punya dua-duanya. Teleponnya ada di dalam wilayah hukum, namanya ada di kartu penduduk, dan yang bisa dia pindahkan cuma unggahannya, itu pun sesudah tangkapan layarnya beredar.

Satu ramalannya yang mulai kena, tiga puluh tahun terlambat

Bukunya menyebut negara akan susah memungut karena penghasilan orang bisa pindah ke tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun, dan alat pemungutnya akan ketinggalan.

Bagian pertama meleset besar, dan sudah saya bahas di atas. Bagian kedua ternyata punya bentuknya sendiri, dan bentuknya jauh lebih membosankan daripada yang mereka bayangkan.

Awal 2025 direktorat pajak kita memasang sistem baru untuk menyatukan seluruh urusan perpajakan. Tahun pertamanya berat: sedikitnya dua puluh dua persoalan diakui sendiri oleh kantornya, disertai permintaan maaf kepada umum. Penerimaan Januari sampai Februari 2025 turun 30,2 persen dibanding tahun sebelumnya, dan sepanjang tahun itu penerimaan pajak berhenti di sekitar 87,6 persen dari sasaran. Sistem lamanya terpaksa dijalankan berdampingan.

Yang melemahkan pemungutan bukan orang berdaulat yang pindah ke awan. Yang melemahkannya perangkat lunak yang belum siap.

Dan susunan itu justru memperkuat cara memandang yang saya sebut di bawah nanti. Kuasa memungut memang urusan ongkos, dan ongkos itu bisa naik karena banyak sebab yang sama sekali tidak heroik. Tidak perlu ada yang memberontak. Cukup antreannya macet.

Yang tersisa dari buku ini bukan ramalannya, karena nilainya campur aduk, tapi satu cara memandang yang tetap kepakai: kuasa itu urusan ongkos dan hasil, bukan urusan siapa yang paling benar. Siapa yang bisa dipungut, siapa yang bisa pergi, dan berapa mahalnya memaksa orang yang tidak mau. Pertanyaan itu berlaku ke negara, ke kantor, ke kampung, dan tidak butuh satu pun ramalan mereka benar.

Ironisnya, saya masih membayar pajak bulan ini. Seperti biasa.

Infografis

Infografis The Sovereign Individual bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya