Angka rata-rata untuk memutuskan arahnya, kaki sendiri untuk tahu apakah arah itu sampai.

Pinker menumpuk ratusan halaman grafik untuk satu pernyataan: diukur dari angka, manusia hari ini paling sehat, paling aman, paling melek huruf, dan paling makmur sepanjang tiga ratus ribu tahun umur spesies ini.

Saya membacanya dengan curiga, dan sampai halaman terakhir masih curiga. Cuma sasarannya berpindah. Bukan lagi ke angkanya, tapi ke kebiasaan saya sendiri menganggap peduli pada keadaan orang banyak itu harus sepaket dengan murung.

Titik nol kita memang berat

Bagian paling kering di bukunya justru yang paling penting, dan isinya soal kemiskinan.

Alam bergerak ke arah berantakan. Itu hukum termodinamika yang kedua, dan tidak ada niat jahat di dalamnya. Kelaparan, wabah, dan mati muda bukan sesuatu yang diciptakan pihak tertentu untuk menyusahkan orang. Itu keadaan bawaan, dan dari situ semua orang berangkat.

Yang perlu diterangkan justru kebalikannya. Bukan kenapa masih ada orang miskin, tapi kenapa ada yang tidak.

Kekayaan bukan keadaan alami. Kekayaan itu hasil kerja, dibangun sepetak demi sepetak di tengah alam yang tidak peduli, lewat lembaga, dagang, ilmu, dan nalar.

Sekali cara pandang itu masuk, pertanyaan yang biasa kita ajukan terdengar agak salah alamat.

Tapi pembalikan itu perlu dipagari, sebab gampang sekali dibawa terlalu jauh.

Kenapa manusia dulu miskin semua itu satu pertanyaan, dan jawabannya memang tidak butuh pelaku. Kenapa kampung ini miskin sekarang pertanyaan yang lain sama sekali, dan yang kedua hampir selalu punya sebab yang bisa ditunjuk: tanah yang dirampas, waduk yang menenggelamkan, aturan yang menguntungkan sebagian orang.

Dua pertanyaan itu jangan dicampur. Yang pertama menerangkan sejarah panjang. Yang kedua menagih pertanggungjawaban, dan menjawabnya dengan hukum termodinamika sama saja menutup perkara yang jelas ada pelakunya.

Angka yang paling dekat justru bukan angka Pinker

Buku ini penuh grafik dunia, dan grafik dunia selalu terasa seperti urusan orang lain. Padahal contoh yang paling telak ada di rumah sendiri, dan Pinker tidak menyebutnya sama sekali.

Waktu Bung Karno masih presiden, umur rata-rata orang di sini masih empat puluhan tahun. Catatan Bank Dunia untuk 1960 duduk di sekitar 47 tahun, dan pada 1965 sempat turun ke 42,8. Angka terakhir yang mereka catat, untuk 2023, 71 tahun.

Kematian bayi bergerak lebih jauh lagi. Dari seribu bayi yang lahir pada 1960, seratus empat puluh tujuh tidak sampai ulang tahun pertama. Sekarang lima belas.

Kemiskinan baru mulai dicatat BPS pada 1976, dan angkanya waktu itu di atas empat puluh persen. Pada Maret 2026 tinggal 8,07 persen, atau 22,93 juta orang.

Dan geraknya masih jalan sampai sekarang. Dua tahun sebelumnya angka itu masih 9,03 persen, dan dalam satu periode pencatatan saja empat ratus tiga puluh ribu orang keluar dari hitungannya.

Tidak ada satu pun dari perubahan itu yang terasa waktu sedang berlangsung. Tidak ada hari ketika orang mengumumkan bahwa kematian bayi sudah turun, dan tidak ada pagi ketika empat ratus tiga puluh ribu orang itu merasa ada yang berubah. Yang terasa cuma harga naik, jalan rusak, dan berita yang bikin gerah tiap pagi.

Itu bukan berarti keluhannya salah. Itu berarti kita memang tidak diperlengkapi untuk merasakan perubahan yang berjalan pelan.

Kenapa kepala kita selalu bilang keadaan makin parah

Ada dua kecenderungan yang jalan bersamaan di kepala hampir semua orang.

Yang pertama, ancaman menempel jauh lebih kuat daripada kabar baik. Nenek moyang yang melewatkan satu bahaya bisa mati; yang melewatkan satu buah matang cuma lapar sebentar. Kepala yang kita pakai sekarang lolos dari saringan itu.

Yang kedua, kita menakar seberapa sering sesuatu terjadi dari seberapa gampang contohnya muncul di ingatan. Dan yang paling gampang muncul selalu yang paling ramai diberitakan.

Media hidup persis dari dua kelemahan itu. Berita melaporkan kejadian: bom meledak, wabah menyebar, jembatan roboh. Tidak ada media mana pun yang memasang judul "hari ini seratus tiga puluh tujuh ribu orang keluar dari kemiskinan ekstrem", karena itu bukan kejadian. Itu proses, pelan, dan tidak ada gambarnya.

Pinker menyebut hasilnya progressophobia, keadaan waktu kepala kita menolak percaya bahwa ada kemajuan meski angkanya terbentang di depan mata.

Komplain Google Map, besoknya buka Google Map

Cara kerja yang sama jalan di ukuran yang jauh lebih kecil, dan di ukuran itu siapa pun bisa memeriksanya sendiri.

Google Map barang luar biasa. Seluruh jalan di negeri ini masuk ke saku, gratis, lengkap dengan macetnya. Dan tiap hari ada yang mengeluhkannya: belokannya salah, gangnya buntu, jalan yang disuruh lewat ternyata sedang ditutup. Keluhan itu benar semua. Besok paginya orang yang sama membukanya lagi sebelum berangkat.

Sepuluh ribu belokan yang benar tidak pernah jadi bahan obrolan, sebab belokan yang benar bukan kejadian. Yang jadi kejadian cuma yang salah.

Sekarang ini saya menulis sendiri beberapa alat untuk dipakai orang sekantor. Sebagian besar barisnya diketik mesin, dan langganan mesinnya dibayari kantor. Ada yang jalan berbulan-bulan tanpa disebut sekali pun. Satu angka meleset di satu laporan, dan angka itu yang dibicarakan sampai rapat berikutnya.

Waktu itu terasa seperti orangnya yang tidak adil. Dibaca dengan bab keempat bukunya, yang sedang jalan cuma hal yang sama di ruangan yang jauh lebih kecil. Yang mulus tidak berbunyi, dan yang tidak berbunyi tidak bisa diingat.

Kalau begitu ukurannya memang tidak boleh diambil dari yang terdengar. Yang terdengar selalu sisi yang salah. Yang bisa dihitung berapa orang membukanya hari itu, berapa berkas yang lewat, dan berapa lama pekerjaan yang dulu makan sehari sekarang selesai. Angka itu kering dan tidak ada yang bertepuk tangan untuknya. Cuma angka itu yang ada.

Yang paling keras menolak kemajuan justru yang paling menikmatinya

Di sini bukunya paling tajam, dan paling bikin tersinggung.

Orang yang paling rajin menulis bahwa zaman modern merusak jiwa biasanya bukan orang yang benar-benar melarat. Justru sebaliknya: hidup mereka yang paling banyak ditopang hasil kemajuan itu.

"Intellectuals hate progress. Intellectuals who call themselves 'progressive' really hate progress."

Kaum cendekia benci kemajuan. Kaum cendekia yang menyebut dirinya progresif lebih benci lagi.

Esai tentang racunnya zaman modern diketik di laptop keluaran terbaru. Industri obat dikecam oleh orang yang anaknya diimunisasi. Peradaban yang katanya di ujung tanduk didiskusikan di ruangan ber-AC oleh orang yang datang naik pesawat.

Ada anggapan tak tertulis bahwa murung itu tanda cerdas dan peka, sementara optimisme yang bersandar pada angka dianggap naif atau antek. Padahal kalau ditawari benar-benar bertukar tempat dengan masyarakat praindustri yang katanya lebih murni, hampir semua orang akan menolak.

Tempat jahitannya kelihatan

Sampai di sini bukunya menang. Sesudah ini mulai kelihatan jahitannya.

Angkanya dipilih. Pinker memilih ukuran yang naik, dan memang banyak yang naik. Tapi ukuran yang mendatar atau turun tidak dapat porsi yang sama: keamanan kerja, harga rumah dibanding penghasilan, kesehatan jiwa anak muda, dan kepercayaan orang terhadap lembaga di sekitarnya. Buku yang berdalil "lihat angkanya" punya kewajiban lebih besar untuk menunjukkan angka yang tidak menyenangkan juga.

Sebabnya dilompati. Bahwa keadaan membaik itu bisa diperiksa. Bahwa yang membuatnya membaik adalah Pencerahan Eropa itu pendapat, bukan temuan, dan Pinker sering memperlakukan keduanya sebagai satu hal.

Di sini saya justru ingin membelanya sedikit, sebab keberatan yang paling sering dilempar orang ke bagian ini meleset. Kata mereka yang menyelamatkan nyawa di negeri ini bukan gagasan Pencerahan, melainkan vaksin, antibiotik, dan pupuk. Padahal ketiganya justru anak kandung cara berpikir yang persis ia bela. Vaksin tidak lahir dari renungan, tapi dari orang yang menguji dugaannya lalu bersedia dibantah.

Yang benar-benar tidak ia bahas justru satu tingkat di bawahnya. Alat yang sama sudah ada di hampir semua negara, dan hasilnya tetap berbeda jauh. Yang membedakan justru siapa yang sanggup mengantarkannya sampai ke desa terakhir, dan itu soal lembaga, bukan soal gagasan.

Lawannya diperkecil dulu sebelum dipukul. Kritik terhadap zaman modern dirangkum jadi satu golongan murung yang gampang ditertawakan. Padahal keberatan yang paling serius sama sekali tidak menyangkal angkanya. Yang mereka tanyakan justru siapa yang menanggung ongkosnya, dan pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan menunjukkan grafik yang naik.

Dan soal iklim ia terlalu tenang. Ia mengakui masalahnya nyata, lalu menaruh harapan pada kemampuan menyelesaikan masalah yang selama ini terbukti. Buat negeri kepulauan yang kota-kota pesisirnya sudah amblas beberapa sentimeter tiap tahun, ketenangan seperti itu terasa seperti ketenangan orang yang rumahnya jauh dari pantai.

Buat siapa buku ini berguna

Bukunya layak dibaca, terutama oleh orang yang sudah telanjur yakin semuanya rusak. Bukan supaya berbalik yakin semuanya beres, tapi supaya punya bandingan.

Ambil dua bagian awalnya: soal titik nol, dan soal kenapa kepala kita tidak bisa merasakan kemajuan yang berjalan pelan. Dua bagian itu mengubah cara membaca berita, dan tidak bergantung pada benar tidaknya seluruh dalil besarnya.

Sisanya baca sebagai pembelaan, bukan sebagai laporan. Pinker memang sedang membela sesuatu, dan ia tidak menyembunyikannya.

Tinggal satu hal yang dulu bikin saya buntu. Angka rata-rata naik, dan rata-rata bukan tempat siapa pun tinggal. Orang yang antre di puskesmas subuh-subuh memang hidup di zaman paling sehat sepanjang sejarah manusia, dan itu sama sekali tidak menghiburnya pagi itu.

Sekarang saya kira dua-duanya bisa dipegang, asal tidak dipakai untuk pekerjaan yang sama.

Angka rata-rata dipakai memutuskan ke mana anggaran diarahkan. Untuk pekerjaan itu tidak ada alat lain, dan menolaknya cuma bikin keputusannya diambil berdasarkan tebakan. Antrean subuh dipakai mengukur apakah keputusan itu sampai. Yang keliru justru memakai salah satunya untuk pekerjaan yang lain: menyodorkan grafik ke orang yang sedang antre, atau membatalkan seluruh arah kebijakan gara-gara satu antrean.

Dan alat kedua itu punya syarat yang tidak enak. Yang dilaporkan ke atas selalu sudah dirapikan lebih dulu. Satu-satunya cara mengetahui apakah sesuatu benar-benar sampai adalah datang sendiri melihatnya, di hari yang tidak diumumkan, waktu tidak ada yang sempat bersiap.

Buku setebal ini tidak menyediakan yang kedua, dan memang bukan itu tugasnya. Yang bisa dikerjakan bukunya cuma memastikan kita tidak salah menilai arahnya. Menilai apakah arah itu sampai ke orangnya tetap pekerjaan yang harus didatangi sendiri.

Delapan tahun sesudahnya, dan ke mana penulisnya pergi

Bukunya terbit 2018 dengan satu pesan: keadaan membaik, dan yang membuatnya membaik akal, ilmu, dan lembaga yang lahir dari Pencerahan.

Ke mana penulisnya pergi sesudah itu enak dicatat, sebab itu jawaban atas pertanyaannya sendiri.

Ia tidak menghabiskan delapan tahun berikutnya mengumpulkan lebih banyak grafik yang naik. Sejak 2023 ia ikut mendirikan dan memimpin sebuah dewan kebebasan akademik di kampusnya, bersama puluhan pengajar lain, dan sejak itu sebagian besar tenaganya habis di situ. Pada 2025 ia menulis di koran membela kampus yang selama ini ia kritik, waktu tuntutan datang dari pemerintah federal soal siapa yang memimpin dan siapa yang boleh diterima di sana.

Kalau bukunya benar bahwa yang menghasilkan perbaikan itu lembaganya, maka mengurus satu lembaga supaya tidak rusak memang pekerjaan yang lebih penting daripada menerbitkan grafik berikutnya. Dan pekerjaan itu tidak masuk ke grafik mana pun. Tidak ada garis yang naik untuk menunjukkan sebuah aturan berhasil dipertahankan setahun lagi.

Itu justru menambal lubang yang saya keluhkan di atas tadi. Buku ini menghitung hasilnya dan melompati sebabnya. Yang dikerjakan penulisnya sesudahnya persis mengurus sebabnya, dan bagian itu tidak bisa dihitung.

Infografis

Infografis Enlightenment Now bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya