**Peringatan Awal:** Kalau kamu termasuk orang yang nyaman dengan narasi bahwa dunia ini sedang sekarat dan kita semua korban dari sistem yang bobrok—artikel ini mungkin akan terasa seperti gangguan. Bukan karena saya mau membela status quo. Tapi karena data bicara, dan data itu kadang tidak sopan.
---
Sore kemarin, sambil duduk di warung kopi langganan saya di sudut kota Semarang, saya menutup buku setebal bantal ini dengan satu perasaan aneh: kombinasi antara lega dan sedikit malu. Lega karena dunia ternyata tidak seburuk yang saya kira. Malu karena selama ini saya pikir kepedulian sosial itu identik dengan pesimisme.
Buku yang saya maksud adalah _Enlightenment Now_ karya Steven Pinker—sebuah buku yang, sejak awal, tidak pernah berpura-pura ramah. Isinya adalah ratusan halaman data, grafik, dan argumen yang pada intinya mengatakan satu hal: secara empiris, umat manusia hari ini sedang berada di titik paling sehat, paling aman, paling terdidik, dan paling makmur sepanjang sejarah spesies kita yang 300.000 tahun lebih ini.
Bikin dahi kernyit? Bagus. Mari kita bedah satu per satu.
---
**Pertama: Kamu Baru Saja Spawn, dan Default-nya Memang Berat**
Ini bagian yang paling suka saya pakai untuk mengubah cara orang melihat kemiskinan dan penderitaan.
Coba bayangkan kamu baru buka game survival—sebut saja _Rust_ atau _Don't Starve_. Di detik pertama kamu spawn, kamu tidak langsung dapat rumah beton, lemari es, atau akses ke klinik kesehatan. Kamu muncul di tengah padang kosong, telanjang, lapar, dan siap dimangsa predator kapan saja. Itu adalah _default state_-mu.
Nah, Pinker mengajak kita melihat sejarah manusia lewat lensa yang sama, tapi diperkuat dengan Hukum Termodinamika Kedua—alias hukum Entropi. Alam semesta, secara default, bergerak menuju kekacauan dan kebinasaan. Tidak ada agenda jahat di baliknya. Tidak ada "sistem" yang sengaja menciptakan kesengsaraan. Kemiskinan, kelaparan, dan penyakit bukanlah hasil rekayasa pihak tertentu—mereka adalah kondisi awal, titik nol spesies kita.
Yang luar biasa justru adalah fakta bahwa kita berhasil membangun kantong-kantong keteraturan di tengah entropi itu. Lewat institusi, perdagangan, sains, dan nalar, kita berhasil "naik level" dari baseline yang brutal itu. Kekayaan bukan kondisi alami—kekayaan adalah pencapaian. Dan itu seharusnya terasa jauh lebih memukau daripada sekadar hal yang kita anggap wajar.
---
**Kedua: Kenapa Otak Kita Selalu Merasa Semuanya Makin Parah**
Di sinilah psikologi kognitif masuk dan mulai membongkar ilusi kolektif kita.
Ada dua kecacatan mental yang bekerja secara bersamaan di kepala hampir semua manusia modern. Pertama, _negativity bias_—kecenderungan evolusioner di mana ancaman terasa jauh lebih nyata dan membekas dibanding kabar baik. Ini warisan dari nenek moyang kita yang harus waspada terhadap singa di semak-semak. Melewatkan satu ancaman bisa berarti mati; melewatkan satu buah yang ranum paling-paling cuma bikin lapar sebentar.
Kedua, _availability heuristic_—kita menilai seberapa sering atau seberapa besar suatu kejadian berdasarkan seberapa mudah kita mengingatnya. Dan apa yang paling mudah kita ingat? Tentu saja yang paling dramatis, yang paling banyak diberitakan.
Masalahnya, media massa bekerja persis berdasarkan dua kelemahan ini. Berita melaporkan kejadian—bom meledak, wabah menyebar, konflik meletus. Berita tidak pernah menulis _headline_: "Hari Ini 137.000 Orang Keluar dari Kemiskinan Ekstrem" atau "Angka Kematian Bayi Turun 60% dalam Tiga Dekade." Proses-proses ini terjadi diam-diam, pelan, dan tidak dramatis—jadi tidak layak jual.
Hasilnya? Pinker menyebutnya _progressophobia_: kondisi di mana kita secara psikologis tidak mampu—atau menolak—mempercayai bahwa kemajuan nyata itu ada, meskipun data menunjukkannya dengan jelas.
---
**Ketiga, dan Ini yang Paling Menohok: Siapa yang Paling Keras Menolak Kemajuan?**
Saya perlu sedikit ruang untuk bagian ini, karena di sinilah ironi paling segar dari buku ini muncul.
Kalau kamu tanya siapa kelompok yang paling rajin memproduksi narasi bahwa modernitas itu merusak jiwa, kapitalisme itu iblis, dan kita semua sedang berjalan menuju jurang kehancuran—jawabannya bukan orang miskin yang betul-betul menderita. Jawabannya adalah para intelektual, akademisi, dan kritikus budaya yang hidupnya justru paling banyak menikmati buah dari kemajuan itu sendiri.
Pinker menulisnya dengan cukup tajam:
> *"Intellectuals hate progress. Intellectuals who call themselves 'progressive' really hate progress."*
Mereka menulis esai soal racunnya modernitas dari laptop terbaru mereka. Mereka mengkritik industri farmasi sambil mengonsumsi obat-obatan modern yang menyelamatkan nyawa. Mereka terbang keliling dunia untuk seminar tentang krisis eksistensial peradaban—sebuah ironi yang, kalau dipikir, cukup menggelikan.
Ada anggapan tak tertulis yang beredar di kalangan tertentu: bahwa pesimisme itu tanda kecerdasan dan kepekaan moral, sementara optimisme yang berbasis data dianggap naif, atau lebih buruk lagi, dianggap antek sistem. Padahal kalau para intelektual itu benar-benar disodori pilihan—hidup di era modern ini, atau bertukar tempat dengan masyarakat tradisional praindustri yang "autentik" dan "komunal" tapi buta huruf, rentan mati muda, dan penuh konformitas suku—saya cukup yakin mereka akan menolak dalam hitungan detik.
---
**Catatan Penutup: Bukan Berarti Semua Baik-Baik Saja**
Satu hal yang perlu saya tegaskan sebelum ada yang salah baca: mengakui bahwa dunia telah menjadi tempat yang secara statistik jauh lebih baik bukan berarti menutup mata terhadap masalah yang masih ada.
Perubahan iklim nyata. Ketidaksetaraan masih menganga. Konflik bersenjata belum hilang dari muka bumi. Tapi memandang semua ini sebagai bukti bahwa sistem harus dirobohkan total adalah sebuah reaksi yang, jujur, lebih terasa seperti katarsis emosional daripada solusi yang dipikirkan matang.
Masalah selalu akan ada—entropi alam semesta menjamin itu. Yang membedakan peradaban yang maju dari yang tidak adalah bukan ketiadaan masalah, melainkan kapasitas untuk memecahkan masalah secara inkremental, berbasis bukti, dan tanpa kehilangan nalar di tengah jalan.
Kita ini, pada akhirnya, hanya primata aneh yang entah bagaimana berhasil membangun vaksin, sistem hukum, dan jaringan internet. Itu bukan hal yang kecil. Dan menghargai pencapaian itu bukan berarti kita berhenti peduli—justru sebaliknya.
Jadi sebelum kamu lanjut scroll ke berita berikutnya dan menyimpulkan bahwa kiamat sudah di depan mata, mungkin luangkan dua menit untuk membaca satu grafik soal angka harapan hidup global dalam dua abad terakhir.
Data jarang dramatis. Tapi data hampir selalu lebih jujur dari perasaan.
*Minum tehmu dulu. Baru panik.*