Durant memakai kata wajar untuk menutup pertanyaan yang justru seharusnya dibuka.

Suami istri Durant menghabiskan empat puluh tahun menulis sebelas jilid sejarah peradaban. Di ujung umur, semuanya mereka peras jadi satu buku seratus halaman yang bisa dihabiskan semalam.

Yang mereka kerjakan menjawab satu pertanyaan: sesudah semua itu dibaca, apa yang benar-benar bisa dipetik?

Bentuknya kebalikan persis dari Jerusalem, yang seribu halamannya hampir tidak punya kesimpulan sama sekali. Di sini kesimpulan semua, dan buktinya tertinggal di sebelas jilid yang hampir tidak ada yang membacanya.

Menurut saya buku begini harus dibaca sebagai pendapat orang yang sudah membaca sangat banyak, bukan sebagai buku bukti. Dibaca begitu, isinya bertahan. Dibaca sebagai bukti, bukunya gampang sekali dipakai membenarkan apa saja.

Kita tidak dikecualikan dari alam

Titik berangkatnya satu kalimat di halaman sebelas.

"History is a fragment of biology: the life of man is a portion of the vicissitudes of organisms on land and sea."

Sejarah cuma serpihan dari biologi, dan hidup manusia cuma sepotong dari pasang surut makhluk hidup di darat dan laut.

Dari situ tiga hukum. Hidup itu bersaing, dan kerja sama yang kita banggakan sebagian besarnya cara bersaing yang lebih rapi melawan kelompok lain. Hidup itu memilah, sebab orang tidak lahir sama kuat dan sama tabah. Lalu yang ketiga, yang paling sering dilewati orang: hidup harus beranak. Alam tidak punya guna untuk kelompok yang tidak berkembang biak banyak-banyak, dan berkali-kali dalam sejarah masyarakat yang sudah maju tapi sedikit anaknya tersalip kelompok yang lebih sederhana tapi lebih banyak.

Dan yang berkembang selama ini bukan orangnya. Orang Yunani kuno, dari tubuh dan jiwanya, sama saja dengan kita. Yang berkembang wadahnya: susunan ekonomi, lembaga politik, alat-alatnya.

Kalau begitu, untuk mengerti pertikaian hari ini kita tidak selalu butuh keterangan yang paling baru. Thucydides sudah menulis naskahnya.

Yang dianggap baik bergeser waktu cara mencari makan bergeser

Durant tidak bilang moral itu tidak penting. Yang dia bilang, isi dari baik dan buruk sangat ditentukan cara sebuah masyarakat mencari makan.

Zaman berburu, galak dan berani membunuh demi bertahan bukan dosa. Itu keutamaan yang menyelamatkan nyawa, dan yang ragu-ragu tidak pulang. Datang zaman bertani, dan yang menentukan hidup mati berubah jadi kerukunan sekampung. Galak yang tadi menyelamatkan sekarang mengancam panen, jadi agama dan adat datang menjinakkannya.

Kita punya contohnya sendiri, dan umurnya belum satu abad.

"Banyak anak banyak rezeki" bukan pepatah orang bodoh. Itu hitungan yang benar untuk keluarga tani yang butuh tangan tambahan waktu panen, dan yang tahu sebagian anaknya tidak akan sampai dewasa. Begitu orang pindah ke kota dan anak harus disekolahkan, hitungannya terbalik. Anak berubah dari tenaga jadi biaya. Datang Keluarga Berencana pada 1970-an, masuk sampai ke posyandu dan pertemuan PKK, dengan semboyan dua anak cukup. Dalam dua keturunan, kalimat yang dulu dianggap kebijaksanaan berubah jadi kalimat yang dianggap kuno.

Yang itu sudah selesai bergesernya. Yang menarik justru mencari yang sedang bergeser sekarang, dan menurut saya yang paling kelihatan punya rumah sendiri sebagai tanda seseorang sudah jadi.

Ukuran itu masuk akal waktu tanah masih murah, orang bekerja di satu tempat sampai pensiun, dan menetap seumur hidup di kota yang sama. Sekarang harga rumah lari jauh lebih cepat daripada gaji, dan pekerjaan makin sering berpindah. Hitungan yang dulu menopang ukuran itu sudah tidak berdiri, tapi ukurannya masih dipakai, dan orang yang belum punya rumah di usia tertentu masih ditanya-tanya.

Dua keturunan lagi, pertanyaan itu mungkin akan terdengar persis seperti "kapan nambah anak lagi" terdengar sekarang.

Orangnya tidak berubah. Yang berubah dari mana beras datang, dan berapa harga sepetak tanah.

Rantai yang paling menggoda, dan kalimatnya sendiri yang membatalkannya

Di sini bukunya paling berani, dan paling perlu dilawan.

Durant menulis di halaman lima puluh bahwa penumpukan kekayaan itu akibat wajar dari penumpukan kemampuan. Sebab kecakapan berbeda-beda antarorang, dan di hampir semua masyarakat sebagian besarnya terkumpul pada segelintir.

Lalu dia menarik akibat politiknya. Kalau sebagian besar kemampuan memang ada pada segelintir orang, pemerintahan oleh segelintir orang sama tak terhindarkannya dengan penumpukan kekayaan, dan orang banyak cuma bisa sesekali mengganti segelintir yang satu dengan segelintir yang lain. Dan semua itu terjadi, tulisnya, bukan karena kebejatan orang kaya, tapi karena watak manusia.

Rantai itu rapi sekali, dan saya sendiri sempat menerimanya. Justru itu bahayanya. Sekali diterima, tidak ada lagi yang bisa ditagih kepada siapa pun.

Yang membatalkannya kalimat Durant sendiri, di halaman yang sama.

Dia mengakui bahwa laju penumpukannya berubah-ubah, mengikuti kebebasan ekonomi yang diizinkan adat dan hukum di tempat itu.

Dua kalimat itu tidak bisa berdiri bersama. Watak manusia sama saja di mana-mana. Kalau watak yang menentukan hasilnya, hasilnya mestinya mirip di semua tempat. Kenyataannya jarak si kaya dan si miskin jauh lebih lebar di sebagian negara daripada di negara lain, dan di satu negara yang sama pun angkanya naik turun dari zaman ke zaman, tanpa wataknya berubah sedikit pun.

Kalau watak yang sama menghasilkan keadaan yang berbeda-beda, buat saya yang menerangkan bukan wataknya. Yang menerangkan adat dan hukumnya.

Durant memakai kata wajar untuk menutup pertanyaan yang justru seharusnya dibuka.

Revolusi mengganti wajah, bukan watak kekuasaan

Tanah boleh dibagi ulang, tulisnya di halaman enam puluh delapan, tapi ketidaksamaan manusia segera membangunnya kembali, dan yang naik ke puncak segelintir baru dengan naluri yang sama persis dengan yang baru dijatuhkan.

Revolusi Prancis melahirkan Napoleon. Revolusi Rusia melahirkan Stalin.

Dipakai ke 1998, hasilnya campur, dan campurnya menarik.

Sebagian susunannya benar-benar berubah. Presiden dibatasi dua periode, pers tidak lagi bisa dibredel, kepala daerah dipilih langsung, dan pergantian pemerintahan berkali-kali berlangsung tanpa darah.

Sebagian lagi persis seperti yang dia gambarkan. Yang punya modal dan jaringan pada zaman lama sebagian besar masih punya keduanya sekarang, cuma pintunya berpindah dari istana ke partai dan ke pemilihan daerah. Bahannya ada di Indonesia — The Rise of Capital.

Durant sendiri menaruh harapannya di tempat lain:

"The only real revolution is in the enlightenment of the mind and the improvement of character, the only real emancipation is individual, and the only real revolutionists are philosophers and saints."

Revolusi yang sungguhan cuma terjadi waktu pikiran orang terbuka dan wataknya membaik. Pembebasan yang sungguhan cuma terjadi pada satu orang, satu per satu. Dan orang yang benar-benar revolusioner cuma para filsuf dan orang suci.

Kalimat itu enak dikutip. Dipegang terlalu erat, kalimat itu juga jadi alasan yang rapi untuk tidak pernah menuntut apa pun kepada siapa pun.

Perang, dan umur bukunya

Dari 3.421 tahun sejarah yang tercatat, tulisnya, cuma 268 tahun yang tanpa perang. Kurang dari delapan persen.

Angka itu disodorkan tanpa sumber sama sekali. Tidak disebut 3.421 tahun yang mana, perang siapa, dan apa yang dihitung sebagai perang. Tapi menagihnya terlalu keras juga tidak adil, sebab pokoknya tidak bergantung pada angkanya. Perang memang hampir selalu ada, dan itu benar dengan atau tanpa hitungan.

Yang menurut saya lebih layak dicatat, buat Durant perang bukan kegagalan peradaban. Perang bentuk paling telanjang dari persaingan antarkelompok yang dia bahas sejak halaman pertama. Damai yang panjang bukan keadaan biasa. Damai keadaan luar biasa yang harus dijaga terus-menerus.

Umur bukunya juga kelihatan. Terbit 1968, dan bagian biologinya bersandar pada cara pandang zaman itu yang sudah lama diperdebatkan. Contohnya juga hampir semuanya Eropa dan Amerika. Cina disebut sekilas, India nyaris tidak, Asia Tenggara sama sekali tidak.

Bab terakhirnya bertanya jujur: benar-benar ada kemajuan atau tidak?

Jawabannya tidak putus asa. Kemajuan tidak bisa diukur dari kebahagiaan, sebab anak kecil yang belum tahu apa-apa sering lebih bahagia daripada orang dewasa yang bijak. Teknologi juga tidak berpihak, karena pisau yang sama bisa dipakai memasak atau membunuh. Yang bertambah cuma warisan yang dititipkan ke keturunan berikutnya: bukan cuma gen, tapi pengetahuan, hukum, cerita, dan cara mengerjakan sesuatu.

Kalau itu benar, maka pekerjaan yang paling benar-benar maju bukan yang menemukan sesuatu, tapi yang menyerahkannya ke orang berikutnya.

Dan yang saya bawa dari buku ini satu kecurigaan yang tidak enak. Kalau apa yang kita anggap benar memang mengikuti dari mana beras datang, maka sebagian dari yang hari ini kita pegang erat sebenarnya sedang kedaluwarsa tanpa kita sadari.

Kakek kita ditertawakan karena percaya banyak anak banyak rezeki. Padahal hitungannya benar untuk zamannya.

Pertanyaannya, ukuran mana yang kita pegang sekarang yang nanti bikin cucu kita tersenyum dengan cara yang sama.

Ukuran yang sedang bergeser sekarang, dan angkanya ada

Dalil Durant yang paling saya pegang: yang dianggap patut bergeser mengikuti cara orang mencari makan, dan yang bergeser lebih dulu biasanya kelakuannya, baru sesudahnya alasannya.

Ada satu ukuran yang sedang bergeser sekarang, dan pergeserannya bisa dilihat di angka.

Sampai Maret 2026 pinjaman daring yang beredar di sini 101 triliun rupiah, dan paylater dipakai lebih dari tiga puluh juta orang. Sebagian besar macetnya ditanggung orang berumur sembilan belas sampai tiga puluh empat.

Yang menarik bukan besarnya. Yang menarik hilangnya rasa. Berutang untuk barang yang belum dibutuhkan dulu hal yang disembunyikan orang dari tetangga. Sekarang ia satu ketukan di layar, disebut cicilan, dan tidak ada satu pun bagian dari urusan itu yang mempertemukan yang berutang dengan orang yang mengenalnya.

Durant akan bilang ini bukan kemerosotan akhlak. Ini pergeseran ukuran yang mengikuti pergeseran cara. Waktu berutang harus lewat orang, malunya bagian dari harganya. Waktu berutang lewat aplikasi, bagian itu hilang, dan yang tersisa bunganya saja.

Cucu kita mungkin tersenyum pada bagian yang lain lagi: kenapa kakeknya dulu merasa malu berutang ke tetangga, tapi tidak merasa apa-apa berutang ke perusahaan yang tidak pernah dilihatnya.

Infografis

Infografis The Lessons of History bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya