Tiga titik pikir dari sejarah panjang spesies yang kebanyakan gaya.

Buku ini sudah selesai dibicarakan orang sebelum saya sempat membukanya, dan saya masuk dengan curiga bakal kecewa.

Yang menahan ternyata bukan klaim besarnya. Beberapa hari sesudah selesai, selembar lima puluh ribuan di dompet mendadak terasa aneh. Bukan aneh karena palsu. Aneh karena tidak ada yang palsu tentangnya, dan tetap saja seluruh nilainya bergantung pada orang lain ikut percaya.

Barang yang tidak ada, tapi menggerakkan semuanya

Kenapa manusia bisa membangun kota sementara simpanse tidak? Bukan karena kita lebih pintar satu per satu. Simpanse yang dilatih di laboratorium primata Universitas Kyoto bahkan mengalahkan mahasiswa dalam tes mengingat susunan angka yang cuma ditampilkan sekejap.

Jawaban Harari: kita satu-satunya makhluk yang sanggup percaya bersama-sama pada sesuatu yang tidak ada wujudnya.

Otak kita cuma sanggup mengurus sekitar seratus lima puluh hubungan yang benar-benar berarti. Lewat dari itu, nama-namanya mulai kabur. Coba hitung sendiri: berapa orang yang kalau berpapasan di jalan kamu tahu kabarnya, bukan cuma tahu mukanya. Angkanya akan lebih kecil dari yang kamu kira.

Tapi dengan otak seukuran itu kita menjalankan negara yang pada 2025 berpenduduk lebih dari dua ratus delapan puluh juta.

Perekatnya cerita. Republik Indonesia tidak bisa ditunjuk. Kamu tidak bisa menendangnya. Yang ada cuma orang, gedung, kertas, dan kesepakatan yang dijaga oleh kesepakatan lain. Begitu juga rupiah, PT, sertifikat tanah, dan gelar yang kamu tempel di belakang nama. Semua itu nyata dalam satu arti yang sangat sempit: cukup banyak orang memperlakukannya sebagai nyata, dan memperlakukannya begitu pada waktu yang bersamaan.

Bagian "semua ini karangan" belum apa-apa. Yang bikin merinding: karangan itu jalan. Orang mati membelanya. Orang bekerja empat puluh tahun demi secarik surat dari bank.

Bab yang paling saya tandai

Kita diajari bahwa bercocok tanam adalah lompatan besar. Dari mengembara jadi menetap, dari untung-untungan jadi terkendali.

Harari membalik itu dan menyebutnya penipuan terbesar dalam sejarah.

Alasannya begini. Pemburu-pengumpul yang masih hidup hari ini, bahkan di tempat yang paling tidak ramah seperti Kalahari, bekerja tiga puluh lima sampai empat puluh lima jam seminggu. Orang di negara kaya bekerja empat puluh sampai empat puluh lima jam. Di negara berkembang, enam puluh sampai delapan puluh. Makanannya berganti-ganti menurut musim dan tempat. Rangka mereka, dibanding rangka petani awal, menunjukkan badan yang lebih sehat dan gigi yang lebih utuh.

Lalu orang mulai bertani, dan hampir semuanya memburuk. Jam kerja berlipat. Menu menyempit sampai tinggal satu butir yang diulang tiap hari. Penyakit menular datang karena manusia dan ternak tidur berdekatan. Punggung mulai bermasalah karena membungkuk.

Yang naik cuma satu: jumlah orang. Satu petak sawah menghidupi lebih banyak mulut daripada satu petak hutan, meski tiap mulutnya hidup lebih berat. Dan seleksi alam memang tidak menghitung enak atau tidak enak. Yang dihitung cuma berapa yang selamat sampai sempat punya anak.

Dari situ Harari menarik kalimat yang paling sering dikutip orang: bukan kita yang menjinakkan gandum, gandum yang menjinakkan kita. Tugas kita menyebarkan benihnya ke seluruh bumi, upahnya hidup yang lebih payah.

Di sini saya berhenti agak lama, karena yang muncul di kepala saya bukan gandum. Yang muncul sawah. Padi menuntut air yang diatur, tanggul yang dijaga, giliran yang disepakati, dan orang yang memutuskan giliran itu. Subak di Bali sampai hari ini berdiri di atas urusan tersebut. Dan begitu ada yang mengatur air, ada juga yang bisa menahan air.

Bertani tidak cuma mengubah menu makan. Bertani melahirkan orang yang sanggup menahan hidup orang lain.

Polanya belum berhenti sampai sekarang. Surel dibikin supaya urusan cepat selesai. Sekarang orang membalas pesan kantor jam sebelas malam sambil bilang tidak apa-apa. Yang tadinya kemudahan pelan-pelan jadi kewajiban, dan tidak ada satu hari pun yang bisa ditunjuk sebagai hari pergantiannya.

Dalil paling berani, dan paling rapuh

Sepertiga terakhir bukunya bertanya sesuatu yang jarang ditanyakan buku sejarah: sesudah semua kemajuan itu, apa kita jadi lebih bahagia?

Jawaban Harari: tidak, dan tidak akan. Batasnya ada di badan sendiri, bukan di dunia luar. Senang itu urusan hormon, dan hormon punya titik istirahat yang selalu menarik kita balik. Naik jabatan bikin senang beberapa minggu. Kena PHK bikin hancur beberapa bulan. Sesudah itu, sebagian besar orang kembali ke suasana hati yang kurang lebih sama dengan sebelumnya.

"People are made happy by one thing and one thing only – pleasant sensations in the body."

Orang jadi bahagia oleh satu hal saja, dan cuma satu: rasa enak di badannya sendiri.

Kalau itu benar, orang yang baru pindah ke apartemen di Jakarta Selatan dan petani abad kedua belas yang baru selesai memasang atap rumbia sedang merasakan hal yang mirip. Bangunannya beda jauh. Zat kimianya tidak.

Harari menutup bagian ini dengan satu pertanyaan:

"Is there anything more dangerous than dissatisfied and irresponsible gods who don't know what they want?"

Adakah yang lebih berbahaya daripada dewa yang tidak pernah puas, tidak mau bertanggung jawab, dan tidak tahu sendiri maunya apa.

Yang ia maksud kita. Kita sudah bisa mengubah gen, membelah atom, dan menaruh benda di orbit, sambil masih membawa perasaan yang dibentuk untuk mengurus rombongan kecil di padang rumput.

Tapi di sini Harari paling gampang dibantah. Perhatikan "satu hal saja, dan cuma satu". Harari menulis soal hormon dengan nada sepasti waktu ia menulis soal rangka petani, padahal yang satu punya galian dan yang satu lagi lebih banyak dugaan. Titik istirahat kebahagiaan itu memang ada dalam bacaan psikologi, tapi masih diperdebatkan, dan ada penelitian panjang yang menunjukkan sebagian orang tidak pernah kembali ke titik semula sesudah kejadian besar. Kesimpulan "jadi percuma" tidak bisa ditarik semudah itu.

Yang perlu kamu tahu sebelum percaya penuh

Ini buku rangkuman, dan rangkuman punya penyakit bawaan: perdebatan hilang di dalamnya. Waktu Harari menulis "para ahli sepakat", kamu tidak punya cara memeriksa ahli yang mana dan siapa yang tidak sepakat.

Angka jam kerja tadi contohnya. Harari menyebut Kalahari, dan angka itu berasal dari penelitian di sana pada 1960-an. Cara menghitungnya dibantah orang: waktu mengolah makanan, memperbaiki alat, dan berjalan jauh tidak semuanya ikut masuk hitungan. Bukan berarti kesimpulannya runtuh. Berarti angkanya tidak sekokoh bunyinya di halaman.

Yang paling mengganjal justru bukan yang ada di dalamnya. Buku yang judulnya sejarah seluruh umat manusia ini menyinggung tempat kita dengan cara yang aneh.

Sriwijaya tidak ada sama sekali. Majapahit ada satu kali, dan dipakai sebagai pembanding untuk menunjukkan bahwa imperium laut Eropa jauh lebih besar jangkauannya. Selebihnya kita muncul sebagai Homo soloensis di Lembah Solo, sebagai manusia kerdil di Flores, dan sebagai ujung timur sebaran manusia purba. Lalu hilang, sampai muncul lagi ratusan halaman kemudian sebagai penduduk Jawa, Sumatra, dan Malaka yang penderitaannya tidak dipedulikan pemodal VOC di Amsterdam.

Kita hadir sebagai fosil, lalu sebagai korban. Di antara keduanya kosong. Jalur rempah yang selama berabad-abad jadi alasan orang Eropa berlayar sampai ke sini cuma lewat sebagai latar, dan garis besarnya berangkat dari Afrika, mampir di Mesopotamia, lalu bergegas ke Eropa dan menetap di sana sampai halaman terakhir.

Itu bukan kesalahan fakta. Itu pilihan sudut, dan pilihan sudut selalu ada harganya. Buat pembaca di sini, harganya lumayan: kamu membaca sejarah spesiesmu sendiri sebagai penonton.

Bukunya yang baru, dan keberatan yang sama persis

September 2024 Harari menerbitkan Nexus, riwayat jaringan informasi dari zaman batu sampai kecerdasan buatan. Dalilnya, yang menyatukan manusia dalam jumlah besar selalu jaringan informasi, dan jaringan itu tidak pernah menyebarkan kebenaran; yang disebarkannya yang mengikat.

Itu sambungan yang wajar dari buku ini, dan keberatannya juga sambungan yang wajar.

Peninjaunya menyebut ia melewati bagian-bagian yang tidak enak supaya ceritanya tetap rapi, dan menyusun sejarah dengan memilih contoh yang cocok. Satu kalimat dari salah satu tinjauannya menempel di kepala saya: kalau soal masa lalu saja ia sudah seceroboh ini, kenapa ramalannya soal masa depan mesti lebih dipercaya.

Yang paling telak justru dari orang terdekatnya. Pembimbing tesisnya di Oxford pernah menyebut bekas muridnya berhasil lolos dari pemeriksaan fakta. Bukan karena ada yang menutupi. Bukunya memang berjalan di ruang yang tidak ada penjaganya: terlalu besar untuk diperiksa satu ahli, dan terlalu laris untuk diabaikan.

Saya tidak menariknya dari rak. Bagian fiksi bersama masih yang paling mengubah cara saya membaca hal lain, dan itu tetap berdiri.

Tapi ada sesuatu yang lucu di sini, dan saya kira ia sendiri akan mengakuinya. Buku yang menerangkan bahwa cerita yang paling menyatukan orang itu yang paling enak dipercaya bersama-sama, bukan yang paling benar, ternyata contohnya sendiri.

Ambil yang mana

Layak, dengan catatan. Baca bagian fiksi bersama dan bagian pertanian pelan-pelan, itu yang paling kuat dan paling mengubah cara pandang. Baca bagian kebahagiaan sebagai pendapat yang menarik, bukan sebagai temuan. Dan jangan jadikan ini buku sejarah terakhir yang kamu baca, karena bukunya justru paling berguna sebagai buku pertama.

Satu hal yang belum selesai buat saya. Kalau semua yang menopang hidup bersama memang cuma cerita yang disepakati, pertanyaannya bukan bagaimana keluar dari cerita itu. Tidak ada di luar. Pertanyaannya siapa yang selama ini menulis kelanjutannya, dan kenapa kita jarang sekali bertanya begitu.

Saya belum punya jawabannya.

Infografis

Infografis Sapiens bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya