Kelas seseorang ternyata ditentukan oleh sikap politiknya, dan buku pedomannya tidak pernah dibetulkan.

Rex Mortimer membuka bukunya dengan batasan yang sengaja tidak muluk. Ideologi, katanya, sekumpulan gagasan tersusun yang punya akibat pada tindakan, dan gunanya membentuk lalu memakai organisasi.

Batasan seperti itu menahan seluruh bukunya berdiri di tanah tempat bukti tersedia. Pertanyaannya bukan ajarannya benar atau tidak. Pertanyaannya organisasi yang memegang ajaran itu bisa mengerjakan apa, dan tidak bisa mengerjakan apa.

Tahun 1965 bukan ingatan saya, itu bacaan, dan bacaan soal itu di sini hampir selalu berbentuk peringatan. Buku terbitan 1974 ini bentuknya lain: sebuah partai diperlakukan sebagai pokok penelitian biasa, lengkap dengan pengurus, rapat, perdebatan dalam, dan siasat yang bisa disusun ulang lalu dinilai menurut tujuannya sendiri.

Buku pedoman yang sudah lama berbeda dari pekerjaannya

Temuan yang jadi pusatnya sebuah ketidakcocokan.

Buku pedoman Aidit tahun 1957 menyebut kedudukan ekonomi dan sosial seseorang sebagai penentu hampir tunggal perilaku politiknya. Mortimer menunjukkan dua hal. Pertama, itu tidak cocok dengan kenyataan masyarakat Indonesia yang bisa diamati. Kedua, dan ini yang lebih menentukan, itu sudah tidak cocok juga dengan praktik partainya sendiri sejak 1954.

Yang terjadi di lapangan justru kebalikannya, dan Mortimer menuliskannya di halaman 152:

"So, instead of attitudes being determined by class, the opposite was the case—class was determined by political attitude."

Jadi bukan sikap yang ditentukan oleh kelas. Kebalikannya: kelas seseorang ditentukan oleh sikap politiknya.

Kelompok yang menjalankan program front persatuan digolongkan ke kelas yang menurut teori berwatak begitu. Kawan jadi rakyat, lawan jadi kapitalis birokrat. Dua kata yang seharusnya menerangkan sesuatu berubah jadi cap yang dibagikan menurut kedudukan orang dalam pertengkaran hari itu.

Trotsky punya nama untuk gejala berikutnya, substitutisme, dan Mortimer memakainya apa adanya. Partainya menyamakan diri dengan buruh dan tani, sementara kader intinya kebanyakan datang dari lapisan terpelajar kota dan penduduk desa berstatus lebih tinggi. Sifat proletarnya lebih merupakan cara partai itu menggambarkan diri daripada pengaruh sungguhan kelas pekerja atas kebijakannya.

Temuan itu bukan tentang komunisme. Bentuknya ada di organisasi mana pun yang buku pedomannya sudah lama berbeda dari pekerjaannya sehari-hari. Nilai perusahaan yang dipigura di lobi dan tidak pernah dipakai memutuskan apa pun. Rapat mingguan yang lahir untuk menagih janji, jalan beberapa minggu, lalu pelan-pelan berubah jadi rapat laporan tanpa satu orang pun memutuskan mengubahnya.

Moskow bukan pilihan ajaran

Antara 1959 dan 1962 partai itu lebih condong ke Moskow daripada ke Beijing, dan alasannya tidak berbau doktrin sedikit pun. Bantuan Soviet menentukan dalam menyiapkan kampanye merebut Irian Barat, kampanye itu penting buat Sukarno, dan persekutuan dengan Sukarno satu-satunya perlindungan yang partainya punya.

Cina saat itu masih lemah dan sedang kesulitan ekonomi. Mortimer menambahkan satu sebab lagi dan menyebutkannya terang-terangan: sebagai pihak yang mengaku pelindung minoritas Tionghoa di sini, kedudukan Cina goyah, sebab prasangka rasial terhadap orang Tionghoa terasa kuat sekali justru pada 1959 dan 1960.

Prasangka itu bukan tebakan. Sepuluh tahun kemudian Franklin Weinstein mewawancarai orang-orang yang memegang jabatan di sini, dan mereka mengucapkannya sendiri dengan kata-kata mereka sendiri. Catatannya ada di Indonesian Foreign Policy and the Dilemma of Dependence.

Perbendaharaan kata bukan yang menjatuhkannya

Dalil Mortimer: jarak antara ajaran dan praktik itu membuat partainya tidak sanggup membaca kedudukannya sendiri dengan jernih, sebab perbendaharaan kata yang dipakainya untuk berpikir bukan perbendaharaan kata yang menggambarkan pekerjaannya.

Bagian pertamanya benar. Bagian keduanya terlalu berat ditaruh di atas kata-kata.

Organisasi yang buku pedomannya kedaluwarsa biasanya tetap jalan dengan enak selama sumber tenaganya tidak diusik. Yang menjatuhkan partai ini bukan perbendaharaan katanya, tapi hal yang jauh lebih sederhana: seluruh jaminan keselamatannya bergantung pada satu orang yang mulai sakit, dan mereka tahu itu.

Di seberangnya berdiri sesuatu yang jauh lebih tebal. Herbert Feith, menulis pada tahun-tahun yang sama, mencatat bahwa perangkat negara sudah membesar sampai tidak bisa ditagih siapa pun dari luar dirinya, dan cabang militernya yang paling untung dari pembesaran itu. Kumpulan tulisan tempat pengamatan itu terbit ada catatannya di Sukarno's Guided Indonesia.

Satu pihak punya jumlah anggota. Pihak seberang punya daftar gaji, senjata, dan truk.

Dalang, dan urutan memeriksanya

Buku ini punya dua lampiran, dan justru di situlah kerja terbaiknya. Yang pertama menyusun ulang jam demi jam kejadian 1 Oktober. Yang kedua menimbang siapa yang bertanggung jawab, dan cara menimbangnya patut dicontoh.

Mortimer memasang dulu versi resminya selengkap mungkin: Gerakan 30 September itu bikinan PKI, dijalankan Biro Chusus yang dipimpin dua orang bernama Sjam dan Pono, yang bekerja langsung di bawah perintah Aidit. Kata yang dipakai di persidangan untuk peran itu dalang, dan Mortimer mengutipnya apa adanya.

Baru sesudah versi itu berdiri utuh, ia mulai memeriksanya, dan yang diperiksa bukan niat siapa pun tapi riwayat orang-orangnya.

Untung, komandan batalion pengawal istana, pulang sebagai pahlawan dari Irian Barat, dan waktu ia menikah pada 1964 Suharto datang ke Jawa Tengah untuk hadir. Menjelang kejadian ia sering menemui seorang kiai dan mengambil beberapa jimat, salah satunya jimat kebal. Sahirman, kepala intelijen Divisi Diponegoro, lulus dengan pujian dari sekolah staf dan komando angkatan darat Amerika tidak lama sebelum itu, yang berarti ia sudah lolos penyaringan pengamat CIA.

Lalu keluhannya. Anggaran tentara dipotong pada 1963, dan jatah prajurit dikurangi sampai mereka tidak lagi mendapat gula, margarin, dan rokok. Siaran radio pagi itu berbunyi begini:

"power-mad generals and officers who have neglected the lot of their men, and who above the accumulated sufferings of their men have lived in luxury, led a gay life, insulted our women, and wasted government funds."

Para jenderal dan perwira yang gila kuasa, yang menelantarkan nasib anak buahnya, dan yang di atas penderitaan anak buahnya justru hidup mewah, bersenang-senang, melecehkan perempuan kita, dan menghamburkan uang negara.

Bunyinya bukan bunyi naskah partai. Bunyinya keluhan asrama.

Suharto, yang saat itu memegang Kostrad, menolak melepas dua jenderal ke Halim, lalu membersihkan ibu kota sore harinya tanpa satu pun korban tembak. Bacaan apa pun tentang hari itu harus menyebut bahwa bagian ini dikerjakan cepat dan rapi.

Kesimpulan Mortimer sendiri hati-hati sekali. Para perwira itu memang membentuk kelompok sendiri dengan alasan mereka sendiri, dan Aidit kemungkinan besar menempel pada kelompok yang sudah ada, sesudah mengabarkan kepada Politbironya soal dewan jenderal yang katanya sedang menyiapkan kudeta. Tentang dewan jenderal itu kalimatnya begini:

"it is not convincingly demonstrated either that Aidit, or the other PKI leaders, invented the generals' council or that the party leadership did not in fact believe in its existence and alleged plans."

Tidak pernah ditunjukkan dengan meyakinkan bahwa Aidit atau pemimpin PKI lain mengarang dewan jenderal itu, dan tidak pernah ditunjukkan pula bahwa pimpinan partainya sebenarnya tidak percaya dewan itu ada.

Sebelum menyebut rancangan, periksa dulu apakah kelalaian, kepanikan, dan kebetulan sudah cukup menerangkan. Di sini dua kepanikan bertemu: sekelompok perwira lapangan yang merasa ditinggalkan atasannya, dan seorang ketua partai yang mengira gilirannya datang begitu presiden yang melindunginya mati.

Tan Malaka punya nama untuk kebiasaan menerangkan kejadian lewat kehendak yang tidak kelihatan, dan namanya logika mistika. Catatannya ada di Madilog. Semua pihak di cerita ini menjalankannya. Para perwira percaya ada dewan jenderal yang buktinya tidak pernah ketemu. Tentara sesudahnya menerangkan seluruh kejadian dengan satu dalang.

Yang bergerak sesudahnya, dan yang tidak

Buku ini terbit sebelum sebagian besar arsip terbuka, jadi ada bagian yang sudah tersalip.

John Roosa pada 2006, dengan bahan yang belum ada di tangan Mortimer, terutama catatan yang ditulis Supardjo sesudah kejadian, justru mengembalikan Biro Chusus ke tengah: inti gerakan itu lima orang, Sjam salah satunya, dengan Aidit sebagai sambungan ke pimpinan partai yang di atas tanah. Tapi gerakan sekecil itu tidak pernah berarti seluruh partai berkomplot, dan keyakinan tentang komplotan sebesar itulah, kata Roosa, yang dipakai sebagai alasan pembunuhan massal sesudahnya.

Jadi perdebatannya bergerak dua arah sekaligus. Keraguan Mortimer tentang Biro Chusus sebagian terjawab, dan versi tentang partai yang berkomplot ramai-ramai tetap tidak terbukti. Yang belum selesai sampai sekarang lebih besar lagi: berapa persisnya yang dibunuh, siapa yang mengatur pembunuhan di tiap daerah, dan seberapa banyak yang diketahui pemerintah asing.

Mortimer sendiri bukan penulis netral, dan itu kelihatan di kata pengantarnya. Ketakutan Barat soal Indonesia komunis menurutnya sebagian besar dibesar-besarkan. Di alinea yang sama ia menulis bahwa pemimpin PKI bisa sangat kejam, lalu menambahkan bahwa kekejaman tidak pernah jadi milik komunis saja, dan bahwa kekejaman orang berkuasa berlimpah di Indonesia pada saat ia menulis. Itu terbit pada 1974.

Sudisman di depan hakim yang menghukumnya mati

Buat saya bukan dalilnya yang paling menetap, tapi beberapa alinea di kata pengantarnya.

Sudisman, sekretaris jenderal partai itu, diadili pada 1967 dan dihukum mati. Di depan pengadilan itu ia mengakui bahwa dirinya dan beberapa pemimpin lain terlibat karena mereka takut tentara bergerak lebih dulu. Ia menyebut tindakan itu petualangan, memakai kata itu sendiri, menerima seluruh kesalahannya, dan sekalian menanggung kesalahan lain yang menurutnya dibuat partainya sebelum itu.

Dua hal yang saya hormati dari orang mana pun di dalam sebuah buku: berani menanggung akibat pilihannya, dan jujur pada diri sendiri soal motifnya. Di ruangan itu, dengan hukuman mati sudah di tangan dan tidak ada lagi yang bisa ditawar, Sudisman melewati dua-duanya.

Itu tidak membuat pilihannya benar, dan tidak membuat pengadilannya bersih. Mortimer mencatat bahwa persidangan itu disiapkan dan dijalankan tentara, sebagian buktinya diambil diam-diam, dan sebagian tertuduh mengaku disiksa. Kejujuran yang paling mahal pun keluar dari ruangan yang tidak bisa dipercaya.

Sepuluh jilid, dan satu bab yang katanya tidak ada perkaranya

Desember 2025 Kementerian Kebudayaan meluncurkan sejarah Indonesia versi resmi, sepuluh jilid, disusun 123 penulis. Waktu ditanya soal 1965, menterinya menjawab bagian itu tidak akan diubah, dan menurutnya memang tidak ada kontroversi di situ.

Kalimat terakhir itu yang membuat saya berhenti.

Buku Mortimer terbit 1974, ditulis orang Australia, dan seluruh isinya bukti bahwa bagian itu justru yang paling belum selesai. Siapa yang menggerakkan malam itu masih diperdebatkan sampai sekarang, dan Mortimer sendiri menaruh beberapa kemungkinan berdampingan tanpa memilih. Berapa orang yang dibunuh sesudahnya juga belum ada angkanya yang disepakati, dan taksirannya berjarak ratusan ribu satu sama lain.

Sesuatu yang angka korbannya masih berselisih ratusan ribu susah disebut tidak ada kontroversinya.

Padahal negara yang sama pernah bicara lain. Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2022 membentuk tim penyelesaian non-yudisial, dan pada 11 Januari 2023 presiden yang menjabat membacakan pengakuan atas dua belas peristiwa pelanggaran hak asasi manusia yang berat di masa lalu. Nomor satu di daftar itu peristiwa 1965 sampai 1966.

Jadi ada dua pernyataan resmi yang berdiri berdampingan. Yang satu dibacakan presiden dari naskah resmi dan mengakui peristiwanya sebagai pelanggaran berat yang korbannya perlu dipulihkan. Yang satu diucapkan menteri waktu ditanya, dan tidak menyinggung yang pertama.

Saya tidak tahu isi jilid itu, dan belum membacanya. Yang bisa saya baca sekarang cuma kalimat yang mendahuluinya, dan kalimat itu sudah mengerjakan sesuatu: menyatakan sebuah perkara selesai lebih murah daripada menyelesaikannya, dan hasilnya di kertas kelihatan sama.

Bukunya Mortimer sendiri menerangkan kenapa itu bisa jalan. Yang menang keterangan yang punya penerbitnya, bukan keterangan yang paling lengkap.

Tuduhan yang sampai sekarang paling sering dipakai adalah bahwa ajaran itu barang asing. Aidit sudah menjawabnya, dan jawabannya dikutip Mortimer di halaman 337:

"In my opinion, Indonesian nationalism is much more influenced by Ernest Renan, Karl Kautsky, Karl Radek, Otto Bauer, Sun Yat Sen ... Kemal Ataturk and others than by the thoughts of our ancestors."

Menurut pendapat saya, kata Aidit, kebangsaan Indonesia jauh lebih banyak dipengaruhi Ernest Renan, Karl Kautsky, Karl Radek, Otto Bauer, Sun Yat Sen, Kemal Ataturk dan yang lain daripada oleh pikiran nenek moyang kita.

Soal agama, lanjutnya, tidak perlu banyak dibicarakan. Dari semua agama yang ada dan besar pengaruhnya di Indonesia, tidak satu pun yang asli sini.

Jawaban itu tidak membela apa pun, cuma memindahkan pertanyaannya. Dan pertanyaan yang dipindahkan itu belum ada yang menjawab: kalau memang tidak ada satu pun yang asli, kata asing itu sebenarnya sedang mengerjakan apa.

Baca berikutnya