Zuckerman ahli sosiologi agama. Ia tinggal setahun di Denmark, bolak-balik ke Swedia, dan mewawancarai hampir 150 orang biasa tentang apa yang sebenarnya mereka percayai: 103 orang Denmark, 39 orang Swedia, 7 pendatang.
Ia ke sana karena dua negara itu kenyataan yang merepotkan.
Keduanya termasuk masyarakat yang paling sedikit beragama yang pernah diukur. Dan keduanya juga termasuk yang paling tertib, paling setara, paling sehat, dan paling aman. Kalau agama memang syarat supaya masyarakat bisa bermoral dan berjalan, dua negara itu seharusnya tidak ada.
Ini laporan lapangan, dan diam-diam juga ujian untuk satu dugaan yang sudah lama saya pegang tentang apa yang sebenarnya menahan agama.
Seberapa jauh bedanya
Ada jajak pendapat antarnegara yang menanyakan apakah politikus yang tidak percaya Tuhan tidak pantas memegang jabatan umum. Enam puluh empat persen orang Amerika setuju. Orang Denmark delapan persen. Orang Swedia lima belas persen.
Perdana menteri Denmark waktu itu, Anders Fogh Rasmussen, menyebutkannya terus terang: agama itu urusan pribadi, dan memang harus begitu.
Ada satu contoh kecil yang menyampaikan maksudnya lebih baik daripada angka. Anak perempuan Zuckerman, umur enam tahun, sedang bermain ayunan di sekolahnya di California waktu temannya bertanya apakah ia percaya Tuhan. Ia bilang tidak. Temannya berhenti berayun, bilang ia akan masuk neraka, lalu pergi dan tidak pernah mau berayun bersamanya lagi.
Di Denmark yang terjadi kebalikannya. Justru orang yang menyatakan keyakinannya di depan umum yang jadi aneh. Sarah, dua puluh tahun, kasir toko di sebuah desa kecil, bilang anak muda menganggap agama semacam pantangan: kalau bilang bangga jadi Kristen, kamu yang diejek. Torben, yang percaya Alkitab kata demi kata, pindah sekolah berkali-kali karena diganggu, dan mengaku masih membawa bekasnya.
Agama sebagai kebudayaan
Gagasannya yang paling kepakai menerangkan hal yang kelihatan bertentangan di datanya sendiri.
Delapan puluh tiga persen orang Denmark tetap membayar iuran gereja nasional tiap tahun, dan hampir delapan puluh persen orang Swedia masih jadi anggota yang menyumbang, padahal gereja Swedia sudah dipisah dari negara pada tahun 2000. Di sisi lain, cuma dua belas persen orang Denmark dan sembilan persen orang Swedia datang ke gereja sebulan sekali di luar pernikahan, pemakaman, dan pembaptisan. Yang menganggap Alkitab kata demi kata firman Tuhan tujuh persen dan tiga persen, dibanding tiga puluh tiga persen di Amerika. Yang percaya neraka sepuluh persen, terendah di dunia.
Angka soal percaya Tuhan sendiri berantakan menurut siapa yang bertanya: satu survei lima puluh satu persen orang Denmark, survei lain dua puluh empat persen. Zuckerman menaruh semuanya di catatan kaki, lengkap dengan nama penelitinya, dan itu cara yang benar.
Lise, yang sedang bertunangan, ditanya apakah anaknya nanti akan dibaptis dan ikut penguatan.
"It's the norm. It's what we do."
Sudah lazim. Memang begitu yang kami lakukan.
Zuckerman menyebutnya agama sebagai kebudayaan: keanggotaan yang sudah terpisah dari keyakinan, dan tetap berjalan tanpanya. Dari pembaptisan sampai iuran gereja, dari penguatan sampai nikah di gereja, semua itu, tulisnya, paling tepat dibaca sebagai tradisi sekuler dengan hiasan agama.
Kita punya kolomnya
Bagian itu langsung menyambung ke kolom agama di kartu tanda penduduk, yang sudah dibahas di catatan Breaking the Spell. Kolom itu mencatat pengakuan, bukan kepercayaan, dan yang dicatat Zuckerman di Denmark bentuk yang susunannya sama persis. Boyer sampai ke pembedaan yang sama waktu menulis tentang Jawa di Religion Explained: secara "resmi" tiap orang masuk satu golongan, dan tanda kutipnya ia pasang sendiri.
Tapi ada satu perbedaan yang menentukan. Di Denmark keanggotaan itu sukarela, dan orang bebas bilang ia tidak percaya. Iuran gerejanya bisa dihentikan dengan mengisi formulir, dan ada yang diwawancarai memang berhenti begitu mulai kena pajak. Di sini kolomnya wajib, pilihannya enam, dan mengatakan isinya tidak sesuai dengan yang sebenarnya dipercaya bukan hal yang gampang diucapkan di banyak tempat.
Susunannya sama. Yang berbeda ruang geraknya.
Ujian untuk dugaan saya sendiri
Dugaan yang sudah ada di catatan A Little History of Religion begini: yang menahan agama bukan pertanyaan besar tentang asal dan tujuan, tapi lahir, mati, menikah, dan orang yang menemani waktu susah.
Denmark ujian yang bersih untuk itu, sebab keyakinannya sudah dicabut dan sisanya bisa dilihat telanjang. Yang tersisa persis daftar tadi: pembaptisan, penguatan, nikah di gereja, pemakaman. Salah satu yang diwawancarai, yang sama sekali tidak percaya, tetap memakai gereja untuk pemakaman:
"in connection with the big events in the human life, you need, very often, some rituals just to say now it's done like it has to be done."
Untuk peristiwa-peristiwa besar dalam hidup manusia, orang sering butuh semacam ritual, cuma untuk menyatakan bahwa sekarang sudah selesai, seperti yang semestinya.
Separuh dugaan itu lolos. Separuh lagi ternyata berpindah tangan.
Jens, salah satu yang diwawancarai, menerangkan sendiri: nelayan di pantai barat Jutlandia dulu yang paling beragama di Denmark karena hidupnya paling keras, dan begitu negara kesejahteraan datang, dengan layanan kesehatan, sekolah gratis, pelatihan kerja, dan rumah yang terjangkau untuk semua, kebutuhan pada penghiburan agama surut. Yang menemani waktu susah tidak hilang. Yang menemani sekarang negara, lewat perawat hospis dan tunjangan yang cair tanpa perlu ada yang mendoakan.
Jadi Denmark bukan masyarakat tanpa agama. Denmark masyarakat yang salah satu tugas agamanya sudah diambil alih lembaga lain, dan tugas yang tidak bisa diambil alih tetap di gereja, dijalankan orang yang tidak percaya.
Bab yang menjawab kenapa
Buku ini sering dibaca seolah tidak menjawab kenapa Skandinavia jadi begini. Bab keenam justru khusus untuk itu, dan lebih hati-hati daripada judulnya.
Zuckerman menyodorkan beberapa keterangan dan menimbangnya. Gereja Lutheran yang disubsidi negara selama berabad-abad jadi monopoli yang malas menjual, sementara di Amerika ratusan gereja bersaing memperebutkan jemaat. Denmark pernah punya undang-undang tahun 1683 yang mewajibkan semua orang ke gereja tiap Minggu, dan di Swedia orang yang tidak hafal katekismus bisa ditolak izin menikahnya: agamanya dipaksakan dari atas, dan yang dipaksakan dari atas gugur bersama paksaannya. Agama juga tidak pernah dibutuhkan sebagai benteng jati diri di sana, tidak seperti Katolik Irlandia di bawah Inggris atau Polandia di bawah kekuasaan asing.
Yang paling ia percayai keterangan Norris dan Inglehart: makin aman hidup sebagian besar orang, dari penyakit, kemiskinan, dan kekacauan, makin sedikit yang beragama. Ia menyebut analisis mereka sangat meyakinkan. Indeks perdamaian 2007 menaruh Denmark di urutan ketiga dunia, Swedia ketujuh, Amerika sembilan puluh enam.
Perhatikan arah panahnya. Kalau keterangan itu benar, dan Zuckerman sendiri menganggapnya paling kuat, maka Skandinavia tidak aman karena tidak beragama. Skandinavia tidak beragama karena sudah aman lebih dulu. Judul bukunya berbunyi seolah panahnya menunjuk ke arah sebaliknya, dan sebagian besar pembacanya membawa pulang arah yang salah itu.
Batas datanya juga ia sebut sendiri. Hampir semua orang yang ia wawancarai didapat lewat kenalan, sebab orang Denmark tidak tertarik bicara soal agama dengan orang asing. Dua negara kecil, kaya, dan sampai tiga puluh tahun lalu termasuk yang paling seragam penduduknya di dunia Barat. Yang bisa ditarik dari situ pernyataan tentang cara agama berjalan sebagai kenyataan sosial, bukan resep untuk siapa pun.
Yang datang jam dua pagi
Dari sini bacaannya jadi begini.
Di catatan The WEIRDest People in the World ada satu kalimat: waktu susah, yang benar-benar datang kerabat, bukan lembaga. Di Denmark lembaganya datang. Di sini negaranya lengkap di atas kertas sampai ke tingkat desa, dan waktu ada yang meninggal jam dua pagi, yang datang tetap tetangga dan jamaah, yang tahu harus mengerjakan apa dalam urutan yang sudah ada sejak dulu. Kartu jaminan kesehatan ada di dompet; yang mengangkat jenazah dari kamar tidur tetap orang yang sama.
Selama begitu, pengakuan dan keyakinan di sini tidak akan berpisah seperti di Denmark, dan bukan karena orang di sini lebih saleh. Yang menemani waktu susah dan yang menyelenggarakan lahir-mati-nikah masih satu pihak yang sama, dan orang tidak melepaskan pihak yang masih datang.
Kalau cara kerja yang diuraikan Zuckerman benar, agama di sini tidak akan longgar lewat perdebatan, dan tidak lewat buku semacam ini. Ia baru bergeser kalau ada yang lain yang benar-benar datang jam dua pagi. Sejauh ini belum ada, dan tanda-tandanya belum kelihatan.
Angka kita sendiri, dan arah yang tidak searah
Ada dua hasil survei tentang anak muda di sini yang kalau dijejerkan bikin dahi berkerut.
Yang pertama, penelitian PPIM UIN Jakarta: dua angkatan yang paling muda justru yang paling jarang menjalankan ritual keagamaannya, dan makin tua seseorang makin rajin ritualnya. Judul laporannya sendiri sudah merangkumnya, kira-kira ritual tidak, konservatif iya.
Yang kedua, survei ISEAS di Asia Tenggara: 95,3 persen anak muda Indonesia menyebut agama sebagai hal yang penting, dan itu yang tertinggi di kawasan.
Dua-duanya bisa benar sekaligus, dan justru di situ letak yang menarik.
Buku ini berdiri di atas satu anggapan yang tidak pernah ditulis sebagai anggapan: kalau ritual berkurang, pegangan pada ajarannya ikut mengendur, dan tempatnya diambil hal lain. Denmark begitu.
Di sini yang mengendur ritualnya, dan pegangan pada ajarannya justru mengeras. Yang berkurang datang ke masjid tiap Jumat. Yang bertambah kesediaan menyebut sesuatu sebagai tidak boleh.
Kalau dua hal itu memang bisa bergerak berlawanan, maka ukuran yang dipakai Zuckerman untuk menyebut Denmark tidak beragama, yaitu jarang beribadah dan jarang menyebut Tuhan, sedang menghitung sesuatu yang lain daripada yang ia kira sedang dihitungnya.
Temuan yang selamat dari semua keberatan itu lebih sempit daripada judulnya, dan lebih menarik.
Pengakuan dan keyakinan dua hal yang terpisah. Keduanya bisa berpisah sepenuhnya, dan sebuah masyarakat bisa berjalan berketurunan-keturunan dengan yang satu tanpa banyak yang lain, asal ada pihak lain yang mengambil alih tugas yang ditinggalkan.
Saya tidak sedang bilang kita seharusnya jadi Denmark. Yang belum saya tahu justru soal Denmark sendiri: apa yang datang jam dua pagi di Aarhus, sesudah gereja tidak lagi dipercaya dan kantor negara sudah tutup.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Sembilan bab, tipis, dan bentuknya berselang-seling. Bab bernomor ganjil berisi bahasan, bab bernomor genap berisi petikan wawancara dengan orang Denmark dan Swedia, disajikan hampir apa adanya lengkap dengan jeda dan keraguan mereka.
Susunan itu yang membuat bukunya enak dibaca sekaligus membuat sebagian kesimpulannya ringan. Wawancaranya bahan, bukan bukti yang bisa dihitung.
Zuckerman tinggal empat belas bulan di Denmark untuk mengerjakannya, dan mewawancarai sekitar seratus lima puluh orang.
Bab 1: perkaranya
Bab pembuka yang memasang pertanyaannya: kalau agama memang diperlukan supaya masyarakat tertib dan orangnya berbuat baik, kenapa dua negara yang penduduknya paling sedikit percaya justru termasuk yang paling tertib, paling aman, dan paling sedikit angka kejahatannya.
Bab ini yang paling banyak memuat angka, dan yang paling jelas menyatakan sasaran bantahannya.
Bab 3 dan 5: mati dan hidup tanpa agama
Bab 3 tentang bagaimana orang di sana memikirkan kematian dan arti hidupnya. Jawabannya sering penolakan memikirkannya, bukan jawaban yang tegas, dan Zuckerman jujur mencatat itu.
Bab 5 tentang apa artinya sekuler bagi mereka: tidak terlalu memikirkan agama, bukan menolaknya.
Bab 6: kenapa
Bab yang mencoba menjawab kenapa di sana bisa begitu. Jawabannya beberapa: gereja yang jadi bagian negara sehingga tidak perlu bersaing, kesejahteraan yang merata sehingga tidak banyak yang perlu ditakuti, dan sejarah yang tidak pernah menjadikan agama tanda perlawanan.
Bab 8: agama sebagai kebudayaan
Bab yang paling menarik di seluruh buku, dan yang paling terpakai di luar Skandinavia.
Dalilnya, orang di sana melepas keyakinannya dan menyimpan upacaranya. Mereka tetap membaptis anaknya, tetap menikah di gereja, tetap dimakamkan secara gereja, tetap ikut hari raya, dan tetap membayar iuran gereja. Yang tinggal bukan iman, tapi keanggotaan dan penanda hidup.
Urutan itu penting: yang paling awal hilang keyakinannya, dan yang paling akhir bertahan upacara yang menandai kelahiran, perkawinan, dan kematian.
Bab 9: kembali ke Amerika
Bab penutup yang membandingkannya dengan Amerika, dan paling terikat pada perdebatan di sana.
Yang jadi jantungnya
- Bab 1, untuk angka dan pertanyaannya.
- Bab 8. Andai cuma satu bab yang bisa dibaca, ambil yang ini, karena isinya bisa diuji di mana saja, termasuk di sini.
- Bab 6, untuk tiga alasan yang ditawarkannya, meski ketiganya perlu ditimbang lagi.
Yang boleh dilewat
- Bab-bab wawancara boleh dibaca sebagiannya saja. Bentuknya seragam, dan tiga sampai empat petikan sudah cukup memberi gambaran.
- Bab 9 hampir seluruhnya kalau perdebatan Amerika bukan yang dicari.
- Lampiran cara penelitiannya, kecuali kalau memang ingin menakar seberapa kuat kesimpulannya.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Kesimpulan bukunya berdiri di atas dua negara yang keadaannya sangat khusus: kecil, kaya, merata, dan sudah lama tidak punya perkara agama yang membelah. Menariknya jadi kesimpulan umum tentang manusia terlalu jauh, dan Zuckerman kadang melakukannya.
Wawancaranya juga bahan yang lunak. Seratus lima puluh percakapan bisa menerangkan bagaimana orang di sana bicara tentang agama, dan tidak bisa mengukur berapa banyak yang benar-benar berpikir begitu.
Pengamatannya tentang urutan apa yang hilang lebih dulu dan apa yang bertahan paling lama tetap kuat. Itu bisa diperiksa di tempat lain, termasuk di sini, dan bentuk pengujiannya jelas: yang mana yang lebih dulu ditinggalkan orang, keyakinannya atau upacaranya.
Kalau buru-buru
Bab 1, bab 6, bab 8. Tiga bab, dan alurnya cukup: angka yang membantah anggapan bahwa masyarakat butuh agama untuk tertib, tiga alasan kenapa keadaan di sana bisa begitu, dan urutan yang paling terpakai dari seluruh buku, yaitu keyakinan yang hilang lebih dulu sementara upacaranya bertahan paling lama.