Sriwijaya ada di semua buku pelajaran kita. Kerajaan maritim besar, berpusat di Palembang, penguasa dua selat.
Nama itu baru berumur seratus tahun lebih sedikit sebagai satuan sejarah. Cœdès yang memasangnya, pada 1918, dengan mencocokkan Shih-li-fo-shih dalam catatan peziarah Cina I-ching dengan sekumpulan prasasti batu di Palembang. Potongan-potongannya sudah lama ada. Yang belum ada cuma orang yang menyambungkannya jadi satu kerajaan. Penyunting edisi Inggris bukunya mengutip Paul Wheatley: penemuan itu barangkali sumbangan terbesar yang pernah diberikan orang kepada sejarah Asia Tenggara.
Jadi kerajaan yang paling dibanggakan di pelajaran sejarah kita disusun ulang oleh seorang Prancis yang berkantor di Hanoi, dari catatan seorang biksu Cina, dalam bahasa yang bukan bahasa kita.
Saya membaca buku ini sebagai orang yang tidak punya pilihan lain kalau mau tahu abad ketujuh di pulaunya sendiri.
Tujuh tiang di Kutai, tiga nama, dua keturunan
Bukti paling telak untuk membaca semua ini terbalik ada di halaman empat puluh empat, dan Cœdès sendiri yang menaruhnya di situ.
Di hulu Mahakam, sekitar tahun 400, tujuh tiang batu didirikan atas nama seorang raja. Prasastinya berbahasa Sanskerta.
"The king Mūlavarman, who left Sanskrit inscriptions in Borneo at the beginning of the fifth century, was the son of Asvavarman, whose name is purely Sanskrit, but his grandfather's name was Kundunga, which is certainly not."
Raja Mūlavarman, yang meninggalkan prasasti berbahasa Sanskerta di Kalimantan pada awal abad kelima, anak dari Asvavarman, dan nama Asvavarman itu Sanskerta tulen. Tapi nama kakeknya Kundunga, dan itu jelas bukan Sanskerta.
Di buku sekolah kita ketiganya dieja Mulawarman, Aswawarman, dan Kudungga.
Dua keturunan. Itu jarak antara nama kakek dan nama cucu.
Cœdès menyebutkan caranya juga, di halaman yang sama. Kepala setempat dinaikkan ke tingkat kesatria lewat vratyastoma, upacara Brahmana untuk memasukkan orang luar ke dalam golongan yang sah. Menurutnya cara itu pastilah yang lazim.
Baca pelan-pelan. Ada upacara resmi untuk mengangkat orang luar jadi bangsawan India, dan yang memakainya kepala-kepala di tepi sungai di Kalimantan.
Pola yang sama muncul di Jawa. Sanjaya, pendiri wangsa Mataram pada abad kedelapan, keponakan seseorang bernama Sanna, dan menurut Cœdès nama Sanna terdengar seperti nama Jawa yang di-Sanskerta-kan.
Saya membacanya bukan sebagai kisah kebudayaan yang menyebar, tapi sebagai kisah orang yang membeli perkakas. Negara itu alat, dan alat dinilai dari hasilnya. Gelar Sanskerta menghasilkan sesuatu yang tidak sanggup dihasilkan gelar setempat: seorang kepala di lembah Mahakam jadi bisa dibaca oleh dunia yang jauh lebih luas daripada lembahnya sendiri.
Yang sebenarnya disebut Indianisasi
Cœdès merumuskannya sendiri, dan rumusannya jauh lebih sempit daripada yang biasa orang kira.
"Indianization must be understood essentially as the expansion of an organized culture that was founded upon the Indian conception of royalty, was characterized by Hinduist or Buddhist cults, the mythology of the Purāṇas, and the observance of the Dharmaśāstras, and expressed itself in the Sanskrit language."
Indianisasi harus dimengerti terutama sebagai menyebarnya satu kebudayaan yang tertata, yang berdiri di atas gagasan India tentang keningratan, yang cirinya pemujaan Hindu atau Buddha, mitologi Purana, dan penerapan Dharmasastra, dan yang menyatakan dirinya dalam bahasa Sanskerta.
Perhatikan isi daftarnya: cara bernegara, agama istana, hukum, dan bahasa resmi. Empat-empatnya perkakas memerintah. Tidak ada satu pun yang menyangkut cara orang menanam padi atau membagi warisan di kampung.
Cœdès juga hati-hati pada satu hal yang sering dilupakan orang. Tidak ada penaklukan India. Tidak ada tentara yang datang. Yang datang pedagang, pendeta, dan naskah, dan yang mengambil penguasa setempat, untuk keperluan setempat.
Ia bahkan menolak memihak dalam perdebatan terbesar tentang pokok bukunya sendiri. Di halaman tiga puluh enam ia menulis bahwa karena tidak ada keterangan lebih jauh, sia-sia menengahi pertengkaran antara yang berpendapat masyarakat setempat mempertahankan wataknya sendiri di bawah lapisan tipis India dan yang berpendapat mereka melebur ke dalam masyarakat bercorak India. Di halaman lima puluh tiga ia menyebut para sejarawan sepakat bahwa di bawah lapisan itu sebagian besar penduduk memang mempertahankan pokok kebudayaannya sendiri.
Masalah yang sudah duduk di judulnya
Jadi keberatan saya bukan pada penilaiannya. Yang saya persoalkan rangkanya.
Indianized. Diindiakan. Bentuknya pasif, dan bentuk pasif itu seluruh perkaranya. Kawasan ini jadi permukaan tempat sesuatu terjadi, dan India jadi sesuatu yang terjadi padanya.
Nama yang ia pakai untuk seluruh kawasan menguatkannya lagi. "Farther India", India yang lebih jauh. Pusatnya ditancapkan di tempat lain, dan semua yang ada di sini tinggal jadi jarak dari pusat itu.
Kata kerjanya juga berulang. Halaman tiga puluh tiga menutup bab pembukanya begini:
"These are the ethnic groups upon which we shall see India exercising its civilizing influence."
Inilah suku-suku yang nanti akan kita lihat diberi pengaruh yang memperadabkan oleh India.
Bunyi yang sama ada di halaman delapan belas, waktu ia menyebut negeri-negeri Asia Tenggara sebagai negeri yang diperadabkan India, dan di halaman dua puluh lima.
Tarikan itu paling jelas kelihatan di satu catatan kaki. Di halaman tiga puluh dua Cœdès mendaftar ciri kebudayaan Indonesia sebelum kedatangan India: pengairan sawah, membatik, gamelan, dan wayang. Tiga yang pertama dibiarkan. Yang keempat ditarik kembali di catatannya, dengan alasan bahwa teater bayangan sudah dikenal para ahli teater India yang menulis dalam bahasa Sanskerta.
Saya tidak menuntut apa-apa dari catatan kaki itu. Bisa jadi ia memang benar. Yang layak dicatat cuma arah tarikannya, dan yang ditarik justru yang paling kita anggap milik sendiri.
Kajian sesudahnya menghabiskan berpuluh tahun untuk membalik kata kerjanya. O.W. Wolters mengusulkan istilah localization: istana di sini tidak menerima satu paket, mereka memeriksa apa yang tersedia lalu mengambil bagian yang menyelesaikan persoalan yang memang sudah mereka punya. Hermann Kulke berargumen prosesnya berjalan lewat persaingan antar-penguasa setempat. Sheldon Pollock menggambarkan bahasa kekuasaan bersama yang tidak dimiliki siapa pun dan bisa dimasuki siapa saja.
Dibaca begitu, memakai gelar Sanskerta bukan tunduk. Itu lamaran supaya bisa dikenali.
Kita mengambil, lalu membengkokkan
Cœdès menyebut banyaknya unsur Sanskerta dalam bahasa-bahasa di sini sebagai salah satu tanda Indianisasi. Dibalik, tanda itu justru bukti paling kuat untuk pihak seberang.
Kata-kata yang masuk tidak dibiarkan utuh. Sebagian dibengkokkan sampai artinya jadi milik kita sendiri.
Nagara di India berarti kota. Di sini jadi negara, seluruh negeri. Karya jadi kerja. Duka dan suka dipakai berpasangan dengan cara yang tidak persis sama dengan aslinya. Yang paling jauh melencengnya sengsara, dari saṃsāra, yang di sana berarti daur kelahiran kembali, dan di sini menyusut jadi menderita saja.
Itu bukan salah tangkap. Itu tanda bahwa yang mengambil punya keperluannya sendiri.
Kenapa selalu penguasa pesisir yang jadi pengambilnya, jawabannya ada di peta. Menurut Cœdès, perluasan Sriwijaya ke barat laut ke arah Selat Malaka dan ke tenggara ke arah Selat Sunda menunjukkan dengan jelas incarannya: dua pintu besar antara Samudra Hindia dan Laut Cina. Yang dijual bukan hasil bumi, tapi izin lewat. Ruas jalur dagang dunia yang paling mahal ini nyaris tidak dapat tempat di The Silk Roads.
Dan pola yang sama berulang seribu tahun kemudian. Waktu Islam sampai ke pelabuhan-pelabuhan di sini, yang mengambilnya juga penguasa pesisir, juga tanpa tentara, dan juga karena mengambilnya menyambungkan mereka ke jaringan yang sedang menentukan. Catatannya ada di The Human Web.
Dua kali kawasan ini mengambil susunan dari luar, dan dua kali yang mengambil bukan yang kalah.
Bab pembukanya sudah kedaluwarsa
Bab-bab pembukanya menggolongkan penduduk kawasan ini dengan antropologi ragawi tahun 1940-an. Ciri Australia, Papua-Melanesia, Negrito, Weddoid, Mongoloid, disebar menurut situs dan kerangka, lengkap dengan kutipan dari orang lain tentang kemurnian ras proto-Melayu yang katanya lebih terjaga di pedalaman pulau-pulau besar.
Cara pandang itu sudah lama dibuang, dan membacanya sekarang berat, dengan cara yang sama sekali tidak berhubungan dengan ketelitian Cœdès sebagai peneliti.
Sumbernya juga sempit, dan sempitnya terpaksa. Prasasti Sanskerta dipesan istana. Catatan Cina ditulis negara luar yang punya kepentingannya sendiri. Hampir tidak ada satu pun bahan di buku ini yang datang dari orang yang tidak berada di dekat singgasana.
Itu bukan kekurangan yang bisa ia tambal. Batu yang ditulisi orang kampung memang tidak pernah ada.
Ditulis di Hanoi pada 1944
Buku ini disusun di dalam dunia kajian kolonial Prancis di Indocina, oleh pemimpin lembaga penelitian pusatnya, tepat pada tahun-tahun waktu dunia itu sedang berakhir.
Itu tidak membuat prasastinya berbunyi lain dari bunyinya. Tapi rangka di sekelilingnya, penamaannya, pembabakan zamannya, dan keputusan tentang di mana pusatnya berada, semuanya datang dari suatu tempat.
Tony Day menulis satu buku penuh tentang orang-orang yang meneliti kawasan ini dari kantor pemerintahan yang sedang memerintahnya, dan catatannya ada di Fluid Iron.
Bahannya masih di tanah, dan tetangganya tumpukan batu bara
Buku ini berdiri di atas prasasti dan reruntuhan, dan nilainya memang ada di situ. Jadi ada baiknya menengok bagaimana keadaan bahannya sekarang.
Muara Jambi di Sumatra kompleks percandian terluas di Asia Tenggara, hampir empat ribu hektar. Arkeolog dari berbagai negeri masih menggali di situ, dan hampir tiap musim penggalian keluar temuan yang menggeser gambaran orang tentang kawasan ini. Sejak 2024 tempat itu dipugar besar-besaran dengan anggaran negara sekitar 342 miliar rupiah, sebagian untuk mendorong pengakuan internasional atas nilainya.
Di sekitarnya ada kebun sawit dan tambang batu bara. Beberapa candi dan gundukan bata yang belum digali berada persis di tengah kawasan pabrik dan tempat penimbunan batu bara.
Susunan itu enak dijejerkan dengan keberatan saya di atas tadi. Coedes menyusun kawasan ini dari luar, dengan alat yang dibuat di luar, dan menamai apa yang terjadi di sini dengan kata kerja yang menempatkan kita sebagai penerima.
Sekarang kita mengurusnya sendiri, dengan uang sendiri. Ukuran nilainya masih diambil dari luar, dan yang bersaing dengan situsnya di lahan yang sama juga permintaan dari luar, cuma sekarang bentuknya batu bara.
Yang tetap tidak berubah dari zaman Kudungga: tujuh tiang itu berdiri karena ada yang menganggapnya pantas dicatat, dan yang menentukan pantas atau tidaknya hampir tidak pernah orang yang tinggal di sebelahnya.
Bacaan prasastinya belum ada gantinya, jadi bukunya tetap dipakai. Yang saya tolak cuma kata kerjanya.
Dan itu pun belum selesai. Tujuh tiang di Kutai masih berdiri, tulisannya masih Sanskerta, dan kakeknya masih bernama Kudungga.
Dua keturunan itu terasa seperti apa buat orang yang menjalaninya, tidak ada yang mencatatnya. Kemenangan, atau harga yang harus dibayar supaya kampungnya masuk hitungan orang lain.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Buku rujukan, bukan buku bacaan. Susunannya urut menurut waktu dari sebelum Masehi sampai abad kelima belas, dan tiap bab dipecah jadi bagian-bagian bernomor menurut kerajaan: Funan, Champa, Sriwijaya, Mataram, Angkor, Pagan, Majapahit, dan seterusnya.
Isinya terutama tanggal, nama raja, isi prasasti, dan catatan dari sumber Cina. Hampir tidak ada penalaran panjang. Pembaca yang mencari cerita akan kecewa; yang mencari kapan sebuah kerajaan disebut pertama kali dan di prasasti mana akan mendapat banyak.
Ditulis di Hanoi pada masa perang, dan terbit pertama kali 1944. Umurnya kelihatan, terutama di bab pembukanya.
Bab I dan II: dasarnya
Bab I tentang tanah dan penduduk kawasan ini sebelum apa pun dimulai. Bab II tentang apa yang disebut penulisnya sebagai masuknya pengaruh India: sebabnya, jalannya, dan seberapa dalam ia masuk.
Dua bab ini yang paling menentukan sekaligus paling perlu dibaca dengan hati-hati, karena di situ seluruh cara pandang bukunya dipasang.
Bab III sampai akhir: kerajaan satu per satu
Sisa bukunya berjalan menurut waktu, dan tiap bab memuat beberapa kerajaan yang hidup bersamaan di tempat berbeda. Sriwijaya, Mataram kuno, Kediri, Singasari, dan Majapahit semuanya ada, masing-masing dengan daftar rajanya dan prasasti yang jadi sumbernya.
Cara memakainya bukan membaca berurutan, tapi mencari bagian yang sedang dibutuhkan lalu menelusuri sumbernya lewat catatan kaki. Catatan kakinya justru bagian yang paling berharga.
Yang jadi jantungnya
- Catatan kakinya. Itu terdengar aneh untuk sebuah buku, dan memang begitu bukunya: nilainya terletak pada penunjukan sumber, bukan pada tafsirnya.
- Bagian tentang prasasti-prasasti tertua di kepulauan kita, termasuk yang di Kutai dan yang di Jawa Barat, karena di situ ada bahan yang paling awal yang kita punya tentang diri kita sendiri.
- Bab II, dibaca sebagai contoh cara pandang zamannya.
Yang boleh dilewat
- Bab I hampir seluruhnya. Isinya penggolongan penduduk kawasan ini menurut ilmu tahun empat puluhan, dan sebagian besar sudah lama ditinggalkan.
- Bagian tentang kerajaan yang tidak sedang dicari, karena bentuknya seragam dan padat nama.
- Bagian yang menyusun urutan raja dari sumber yang saling bertentangan, kecuali kalau memang sedang menelusuri satu kerajaan.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Masalahnya sudah duduk di judulnya. Kata yang dipakai untuk menamai seluruh kawasan ini menempatkan India sebagai pemberi dan kawasan ini sebagai penerima yang kosong sebelumnya.
Bahannya sendiri sering mengatakan hal lain. Di prasasti tertua yang kita punya di Kutai, nama kakeknya bukan nama India, nama anaknya sudah setengah India, dan nama cucunya India seluruhnya. Yang terbaca di situ bukan sebuah tempat kosong yang diisi, melainkan sebuah keluarga penguasa yang sudah ada lebih dulu lalu mengambil bahasa, gelar, dan cara baru karena berguna baginya.
Sesudah Coedes, sebagian besar peneliti kawasan ini justru menekankan hal itu: yang datang diambil, dipilih, dan dibengkokkan oleh yang mengambilnya. Buku ini tetap dipakai orang sampai sekarang karena daftar sumbernya, bukan karena cara pandangnya.
Kalau buru-buru
Bab II, lalu bagian tentang prasasti-prasasti tertua di kepulauan kita, lalu bagian tentang Sriwijaya. Tiga potong, dan sisanya boleh ditinggalkan: cara pandang yang jadi tulang bukunya berikut umurnya, bahan tertua yang kita punya tentang penguasa di sini, dan satu kerajaan yang sebagian besar buktinya justru datang dari catatan orang asing.