Pada 1511 Afonso de Albuquerque menghitung apa yang akan terjadi kalau Malaka jatuh ke tangannya:
"Cairo and Mecca will be ruined, and Venice will be able to obtain no spices except what merchants are able to buy in Portugal"
Kairo dan Mekah akan hancur, dan Venesia tidak akan bisa mendapat rempah kecuali yang sanggup dibeli pedagangnya di Portugal (hal 289).
Sesudah menghitung begitu, ia membantai penduduk Muslim kota itu.
Selat yang dimaksud kalimat tadi masih ada, kapalnya masih lewat tiap hari, dan sekarang jadi salah satu perairan tersibuk di dunia. Lima abad lalu ada orang di ujung barat Eropa yang menghitung bahwa merebut satu kota di tepi selat itu akan membangkrutkan tiga kota di seberang benua. Dan hitungannya tidak jauh meleset. Yang saya bawa dari kalimat itu bukan kejamnya, tapi rapinya hitungan.
Nama jalurnya dibuat orang yang tidak pernah lewat situ
Buku Frankopan berangkat dari satu keterangan kecil yang ia perlakukan sebagai gejala.
Sebutan Jalur Sutra baru muncul pada akhir abad kesembilan belas, dari seorang ahli geologi Jerman bernama Ferdinand von Richthofen, paman penerbang tempur yang berjuluk Baron Merah. Jalurnya sendiri sudah ramai dua ribu tahun sebelum ada yang berpikir untuk menamainya.
"These pathways serve as the world's central nervous system, connecting peoples and places together, but lying beneath the skin, invisible to the naked eye."
Jalur-jalur itu susunan saraf pusat dunia, menyambungkan orang dan tempat, tapi terletak di bawah kulit dan tidak terlihat mata telanjang (hal 18).
Kenapa hal sebesar itu terasa asing? Sebagiannya karena orientalisme. Sudah lama mengendap anggapan bahwa dunia timur itu terbelakang dan tidak layak diteliti sungguh-sungguh. Begitu anggapan itu mengeras, ada lingkaran yang menutup sendiri: buktinya berhenti dikumpulkan, arsipnya berhenti dibaca, lalu tidak adanya bukti dipakai untuk membenarkan anggapan tadi.
Apa yang sebenarnya bisa dijual Eropa
Dalil besar soal poros dunia bukan bagian bukunya yang paling berguna buat saya. Yang berguna angka dan barangnya.
Eropa abad pertengahan bukan pusat apa pun. Frankopan menyebutnya daerah pinggiran yang berubah jadi tumpuan cuma sesudah pelayaran samudra abad kelima belas (hal 20). Sebelum itu Eropa membeli dari tengah, dan hampir tidak punya apa pun yang diinginkan tengah sebagai gantinya.
Hampir tidak punya, tapi bukan tidak punya sama sekali. Satu bab bukunya berjudul Jalan Budak, dan isinya persis itu.
"It was the sale of slaves that paid for the imports that began to flood into Europe in the ninth century."
Penjualan budak itulah yang membayar barang impor yang mulai membanjiri Eropa pada abad kesembilan (hal 159).
Rempah, obat, dan barang mewah yang masuk ke Eropa dibayar dengan orang yang diambil dari Eropa sendiri, diangkut ke selatan oleh pedagang dari utara. Itu keterangan yang jauh lebih telak daripada kalimat mana pun tentang pusat dan pinggiran.
Dari situ pelayaran abad kelima belas juga berubah bunyinya. Selama ini diceritakan sebagai langkah percaya diri sebuah peradaban yang sedang naik. Yang sebenarnya terjadi lebih mirip usaha memutar: mencari jalan ke barangnya langsung, supaya tidak perlu lagi membayar orang yang berdiri di tengah. Columbus tidak sedang menemukan apa pun. Ia sedang menghindari calo.
Dan kekayaan yang datang sesudahnya juga bukan buatan Eropa. Peraknya digali di tempat lain, gulanya ditanam di tempat lain, rempahnya dipetik di tempat lain. Berapa luas tanah orang lain yang dibutuhkan untuk itu dihitung oleh The Great Divergence, dan hasilnya lebih luas daripada tanah yang ada di Eropa.
Kita muncul dengan nama yang diberikan pembelinya
Giliran bagian kita.
Kata Banda tidak muncul sekali pun di buku ini. Ternate juga tidak. Maluku muncul satu kali, dan itu pun di catatan belakang, di dalam judul buku orang lain yang ia kutip. Jawa muncul empat kali, hampir semuanya sebagai ujung sebuah garis: barang dari Vietnam dan Jawa yang sampai ke pelabuhan Laut Merah, uang yang menipis dari Korea sampai Jawa, Laut Jawa sebagai perairan yang harus dijaga armada.
Tapi kita ada di bukunya, dan cukup sering. Yang berganti cuma namanya. Frankopan memakai sebutan the Spice Islands, Kepulauan Rempah, dan sebutan itu dibuat oleh yang membeli, bukan oleh yang menanam.
Bentuk kemunculan kita seragam. Menjelang 1520 kapal Portugis sudah sampai ke Malaka, Kepulauan Rempah, dan Guangzhou. Orang Portugis yang tersisa di Kepulauan Rempah diusir Belanda pada 1605. Lalu 1669: kesultanan Makassar direbut, dan Frankopan menyebutnya potongan terakhir yang dibutuhkan untuk menguasai penuh perdagangan rempah Asia. Kota itu diganti namanya jadi Rotterdam Baru, dan sebuah benteng besar dibangun di sana (hal 322).
Di kalimat itu juga nama negeri ini muncul, dan bentuknya keterangan dalam kurung: kesultanan Makassar, di Indonesia sekarang.
Dua kemunculan lain bentuknya lain lagi. Untuk membuktikan sebesar apa jaringan dagang laut zaman itu, Frankopan memakai satu kapal karam abad kesembilan di lepas pantai Indonesia yang isinya sekitar tujuh puluh ribu barang keramik, ditambah kotak hias, perabot perak, serta batangan emas dan timah (hal 130). Kita jadi bukti, dalam bentuk dasar laut.
Lalu kamus. Fredrik de Houtman menerbitkan kamus dan tata bahasa Belanda–Melayu pada 1603, sesudah dibebaskan dari penjara di Aceh oleh Sultan, tempat ia dengan tekun mempelajari bahasa orang yang menawannya (hal 320). Bahasa yang sedang kamu baca ini pertama kali disusun untuk orang Eropa oleh seorang tawanan.
Ini bukan tuntutan kepada penulisnya. Frankopan sedang meluruskan sejarah yang selama ini diceritakan dari satu tempat, dan untuk melawannya ia harus berdiri di tempat lain. Berdiri di tempat lain bukan berarti berdiri di semua tempat. Buku yang menyebut Banda berikut nama orang yang mengosongkannya justru Why Nations Fail, dan itu buku ekonomi politik, bukan buku jalur dagang.
Lewat tidak sama dengan punya
Yang saya persoalkan dari bukunya kata pusat itu sendiri.
Frankopan memakai satu kata untuk tiga hal yang berbeda: tempat barang lewat, tempat kekayaan menumpuk, dan tempat pengetahuan dibuat. Ketiganya memang pernah berhimpit di Samarkand dan Baghdad, dan itu bagian bukunya yang paling meyakinkan. Tapi ketiganya tidak harus berhimpit, dan di sini memang tidak.
Selat Malaka memang jalur tersibuk, dan yang mengambil untung dari kesibukan itu pelabuhan tempat kapalnya berhenti, bukan perairan yang cuma dilewati. Cengkih dan pala tumbuh di pulau yang tidak pernah menetapkan harganya sendiri.
Dan ada satu hal yang justru diperlihatkan buku ini tanpa dijadikan kesimpulan: duduk di ruas yang paling mahal itu bukan singgasana, tapi sasaran. Malaka direbut karena letaknya. Makassar direbut karena letaknya. Hitungan Albuquerque yang saya kutip di awal bukan hitungan tentang tempat yang berkuasa, melainkan tentang keran yang bisa ditutup. Yang memutuskan menutupnya duduk di tempat lain.
Ini juga menerangkan siapa yang bisa ikut dan siapa yang tidak. Angin musim membuat pelayaran pulang pergi mungkin di perairan kita, dan makin ke timur anginnya melemah sampai jaringnya menipis. Ukuran itu dibongkar sampai ke ongkos angkutnya di The Human Web.
Arah yang dipasang di bab terakhir
Frankopan meluruskan sesuatu yang memang bengkok, dan ia meluruskannya kelewat keras. Hampir tiap bab menemukan titik berat sejarah di suatu tempat antara Laut Tengah dan Cina, dan lama-lama kesimpulannya sudah menunggu sebelum buktinya sampai.
Dua ribu tahun dalam satu jilid juga berarti larinya tidak pernah pelan. Ada abad yang lewat cuma dalam satu alinea, dan pembaca yang belum punya gambaran kasar soal urutan zamannya akan kehilangan pijakan di tengah jalan.
Yang lebih mengganjal penutupnya. Sesudah enam ratus halaman menunjukkan bahwa arah sejarah itu barang yang dipasang belakangan oleh yang menceritakannya, bukunya berhenti dengan memasang arah:
"The Silk Roads are rising again."
Jalur Sutra sedang naik lagi (hal 631).
Bandaranya baru, hotelnya baru, ibu kotanya baru. Semuanya benar dan bisa dicek. Tapi bandara baru itu keterangan tentang harga minyak dan gas hari ini, bukan tentang ke mana dunia sedang bergerak. Alat yang ia pakai untuk membongkar cerita orang lain berhenti dipakai persis di bab terakhir.
Jalurnya sedang dipersempit lagi, dan angkanya ada
Dalil Frankopan, jalur itu yang menentukan, dan yang menguasai jalur menguasai sisanya. Waktu catatan ini disusun ulang, jalurnya sedang menyempit, dan penyempitannya bukan karena perang atau bandit.
Organisasi Perdagangan Dunia menaksir pertumbuhan jumlah barang yang diperdagangkan dunia turun dari 2,4 persen pada 2025 jadi 0,5 persen pada 2026. Pertumbuhan Asia di luar Cina ditaksir melambat ke 3,4 persen. Sebabnya tarif, lalu balasan atas tarif, lalu penghalang yang dipasang negara-negara lain supaya tidak kebanjiran barang yang tidak jadi masuk ke tempat lain.
Yang menyambung ke bukunya bentuknya, bukan angkanya. Sepanjang seribu halaman Frankopan memperlihatkan bahwa jalur perdagangan jarang mati karena barangnya habis. Ia mati karena ada yang memasang pos di tengahnya dan menagih, atau karena ada yang menemukan jalan memutar supaya tidak perlu membayar pos itu.
Sekarang posnya berbentuk tarif dan daftar perusahaan yang dilarang, dan jalan memutarnya berbentuk pabrik yang dipindahkan ke negara ketiga supaya asal barangnya berganti nama.
Kita duduk di salah satu jalan memutar itu. Bagian bagusnya sudah kelihatan berupa pabrik yang datang. Bagian yang belum ketahuan apa yang terjadi pada tempat seperti ini waktu dua pihak yang saling memasang pos akhirnya berdamai, dan jalan memutarnya berhenti perlu.
Hitungan Albuquerque sudah lima ratus tahun lewat, dan pokoknya belum. Yang menentukan bukan siapa yang duduk di tepi selat, tapi siapa yang punya alasan menghitung selat itu.
Kalau hari ini ada yang sedang menghitung ulang, hitungannya tidak akan sampai ke sini sebagai berita. Yang sampai ke sini hasilnya, beberapa tahun kemudian, dalam bentuk harga.
Jalur Sutra dinamai orang yang tidak pernah berdagang di sana. Kepulauan Rempah dinamai pembelinya. Saya belum menemukan sebutan yang kita buat sendiri untuk ruas yang kita duduki, dan barangkali memang tidak pernah ada, sebab yang duduk di atas sesuatu jarang merasa perlu menamai tempat duduknya.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Dua puluh lima bab, dan tiap bab diberi nama satu jenis jalur: jalur agama, jalur bulu binatang, jalur budak, jalur emas, jalur perak, jalur minyak, dan seterusnya. Urut menurut waktu dari zaman Persia kuno sampai sekarang.
Dalilnya satu kalimat: pusat dunia bukan Eropa dan tidak pernah Eropa, melainkan wilayah yang membentang dari Timur Tengah sampai Asia Tengah, dan sejarah dunia jadi jauh lebih masuk akal kalau dilihat dari situ.
Bukunya menutupi dua ribu lima ratus tahun dalam satu jilid, jadi tiap bab bergerak sangat cepat dan padat nama. Bukunya membalik sudut pandang, bukan mendalaminya.
Bab 1 sampai 5: jalur yang lahir
Lima bab pertama soal terbentuknya jalur itu, lalu tentang agama yang lewat di situ. Bab 2 yang paling penting: jalur dagang itu ternyata jalur agama juga, dan Buddha, Kristen mula-mula, Manikeisme, dan Islam semuanya menyebar mengikuti jalur yang sama dengan sutra dan rempah.
Nama jalurnya sendiri baru dikarang seorang ahli bumi Jerman pada abad kesembilan belas, dan tidak pernah dipakai orang yang benar-benar melewatinya.
Bab 6 sampai 12: jalur yang ramai
Bab-bab tentang bulu binatang, perbudakan, Perang Salib, wabah pes, lalu emas dan perak. Bab tentang budak yang paling jarang dibicarakan orang, dan isinya perdagangan manusia dari Eropa timur dan utara ke dunia Islam, yang selama berabad-abad jadi salah satu barang dagangan utama Eropa.
Di bagian inilah letak jawaban atas pertanyaan yang paling menerangkan: sebelum abad kelima belas, apa sebenarnya yang bisa dijual Eropa. Jawabannya tidak banyak, dan sebagian besarnya bukan barang.
Bab 13 sampai 19: jalur yang berpindah ke barat
Bab-bab tentang berpindahnya pusat kekayaan ke Eropa barat sesudah jalur laut dibuka, perak Amerika yang mengalir ke Cina, lalu penjajahan. Wilayah kita muncul di sini, dan muncul dengan nama yang diberikan pembelinya, yaitu berdasarkan barang yang bisa diambil dari situ.
Bab 20 sampai 25: minyak dan sesudahnya
Enam bab terakhir tentang abad kedua puluh: minyak, Perang Dunia, Perang Dingin, Timur Tengah, sampai keadaan sekarang. Bagian ini yang paling banyak dibantah orang, karena tafsirnya paling berani dan buktinya paling padat diringkas.
Yang jadi jantungnya
- Bab 2, karena di situ dalilnya paling terbukti: jalur dagang dan jalur agama memang jalur yang sama.
- Bab tentang perbudakan, karena itu bagian yang paling membalik gambaran tentang Eropa sebelum ia kaya.
- Bab tentang perak, karena di situ terlihat bahwa kekayaan Eropa abad keenam belas sebagian besar cuma lewat, dan berakhir di Cina.
Yang boleh dilewat
- Bab-bab abad kedua puluh sesudah Perang Dingin, yang isinya paling cepat basi.
- Sebagian besar bab yang bentuknya berulang: satu jalur, satu barang, satu deretan nama penguasa.
- Catatan belakang, kecuali kalau memang menelusuri satu klaim.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Kata pusat dipakai bukunya untuk tiga hal yang berbeda tanpa selalu dibedakan: tempat yang paling banyak dilewati barang, tempat yang paling banyak mengambil keuntungan, dan tempat yang paling menentukan jalannya keadaan. Ketiganya sering tidak berada di tempat yang sama.
Wilayah kita contohnya. Ruas jalur yang menghasilkan barang paling mahal di seluruh jalur itu ada di sini, dan itu tidak menjadikan kita pusat dalam arti kedua maupun ketiga. Justru sebaliknya: ruas yang paling mahal biasanya jadi sasaran, bukan singgasana. Lewat tidak sama dengan punya.
Di bab-bab terakhir bukunya mulai memasang arah: pusat itu sekarang katanya sedang kembali ke tempat asalnya. Itu tafsir, bukan kesimpulan dari dua puluh empat bab sebelumnya.
Kalau buru-buru
Bab 1, 2, bab tentang perbudakan, dan bab tentang perak. Empat bab, dan itu sudah cukup: bagaimana jalur itu terbentuk dan siapa yang menamainya, kenyataan bahwa agama menyebar lewat jalur dagang, apa yang sebenarnya bisa dijual Eropa sebelum ia kaya, dan ke mana sebenarnya perak Amerika berakhir.