Pada 1703 terbit sebuah buku berisi empat percakapan antara seorang perwira Prancis dan seorang negarawan Wendat bernama Kandiaronk. Di salah satunya, sesudah lawan bicaranya menerangkan bahwa orang jahat perlu dihukum dan orang baik perlu diganjar supaya masyarakat tidak hancur, Kandiaronk menjawab:
"For my own part, I find it hard to see how you could be much more miserable than you already are. What kind of human, what species of creature, must Europeans be, that they have to be forced to do good, and only refrain from evil because of fear of punishment?"
Buat saya sendiri, susah membayangkan kalian bisa lebih sengsara daripada sekarang. Manusia macam apa, makhluk jenis apa, orang Eropa itu, sampai harus dipaksa dulu supaya berbuat baik, dan cuma menahan diri dari kejahatan karena takut hukuman?
David Graeber dan David Wengrow memakai tujuh ratus halaman untuk berdalil bahwa kalimat semacam itu bukan hiasan sastra, tapi salah satu sumber pemikiran kiri Eropa yang belakangan dihapus dari catatan. Bukunya selesai tidak lama sebelum Graeber meninggal, dan bab pertamanya diberi anak judul: kenapa ini bukan buku tentang asal-usul ketimpangan.
Yang mereka bongkar saya ikuti. Yang mereka pasang di tempatnya tidak.
Kritik yang datang dari seberang lautan
Cerita yang kita terima di sekolah begini: gagasan kebebasan dan kesetaraan dirumuskan di ruang diskusi Eropa, lalu dikirim ke seluruh dunia. Kedua penulisnya berdalil sebagian besarnya datang dari arah sebaliknya.
Sepanjang abad ketujuh belas, misionaris Yesuit di Amerika Utara mencatat perdebatan panjang dengan orang setempat yang menganggap masyarakat Eropa aneh: timpangnya, patuhnya, dan terutama sanggupnya membiarkan orang kelaparan di depan gudang yang penuh. Catatan itu terbit dan laris di Prancis. Pendapat Kandiaronk diterjemahkan ke bahasa Jerman, Inggris, Belanda, dan Italia, dan hampir tiap tokoh besar Pencerahan Prancis lalu mencoba bentuk yang sama: Montesquieu memakai orang Persia, d'Argens orang Cina, Diderot orang Tahiti. Esai Rousseau soal asal-usul ketimpangan, dalam bacaan ini, jadi jawaban atas kritik yang datang kepada orang Eropa, bukan kritik yang mereka temukan sendiri.
Bukunya sendiri menyebut satu hal yang perlu ikut dibawa pembaca.
"As Barbara Alice Mann remarks, despite the almost unanimous chorus of Western scholars insisting the dialogues are imaginary, 'there is excellent reason for accepting them as genuine.'"
Kata Barbara Alice Mann, meski hampir semua peneliti Barat serempak menyatakan dialog-dialog itu karangan, ada alasan yang sangat kuat untuk menerimanya sebagai asli.
Jadi tiang utama bab itu berdiri di atas satu pembacaan yang berlawanan dengan hampir seluruh ahli di bidangnya. Alasannya masuk akal: Kandiaronk memang ada, memang tersohor pandai berdebat, dan keberatan yang ditulis Lahontan cocok dengan keberatan yang tercatat dari penutur bahasa Iroquoia lain pada masa yang sama. Tapi masuk akal bukan bukti, dan bukunya menuliskannya seolah perkaranya sudah selesai. Di tempat buktinya paling tipis, kalimatnya justru paling percaya diri, dan pola itu berulang di beberapa bab lain.
Tiga kebebasan, dan yang mana lebih dulu hilang
"The freedom to abandon one's community, knowing one will be welcomed in faraway lands; the freedom to shift back and forth between social structures, depending on the time of year; the freedom to disobey authorities without consequence – all appear to have been simply assumed among our distant ancestors, even if most people find them barely conceivable today."
Kebebasan meninggalkan kelompok sendiri, dengan tahu bahwa di negeri jauh akan diterima; kebebasan berpindah bolak-balik antara susunan masyarakat yang berbeda, mengikuti musim; kebebasan membangkang tanpa harus menanggung akibat. Ketiganya kelihatannya dianggap biasa saja oleh nenek moyang kita yang jauh, walaupun sekarang hampir tidak terbayangkan lagi.
Urutan runtuhnya itu yang menentukan.
"...while these agrarian kingdoms managed largely to abolish the freedom to ignore orders, they had a much harder time abolishing the freedom to move away."
Kerajaan-kerajaan pertanian itu sebagian besar berhasil menghapus kebebasan mengabaikan perintah, tapi jauh lebih susah menghapus kebebasan pergi.
Yang terakhir itu punya namanya sendiri di sini: merantau. Orang pergi bukan karena terusir, tapi karena tahu di ujung sana ada orang sekampung yang menampung malam pertama. Kebebasan pergi bukan gagasan yang melayang; itu jaringan yang benar-benar jalan, dan jaringan itulah yang membuat kepergian berhenti sama dengan kehilangan segalanya.
Syaratnya sekarang bertambah panjang: surat pindah, kontrak kerja, alamat yang bisa dicantumkan, dan kalau ada anak yang ikut, sekolah yang mau menerima di tengah tahun ajaran. Perantauannya masih ada. Yang menampung sekarang formulir.
Bali sudah ada di dalam bukunya
Dua kali, dan dua-duanya mengerjakan sesuatu.
Yang pertama menjawab pertanyaan: adakah masyarakat yang susunan kastanya lengkap tapi urusan sehari-harinya diputuskan setara? Bali jawabannya. Di atas kertas tidak ada dua orang yang sederajat di sana, dan sebagian besar orang Bali akan bilang memang begitu semestinya tatanan semesta. Tapi urusan banjar, pura, dan sawah dijalankan lewat seka, dan seka menuntut semua ikut duduk dan memutuskan bersama. Yang merasa terlalu tinggi untuk duduk melingkar di tanah bersama tetangga yang derajatnya di bawah boleh saja tidak datang; ia kena denda, dan dendanya dipakai membayar perbaikan atau membiayai pestanya.
Yang kedua merobohkan satu teori lama. Kerajaan, kata teori itu, muncul lebih dulu di lembah sungai karena pengairan yang rumit menuntut ada yang mengatur dari pusat. Bali kebalikannya. Pulaunya kecil dan berapi, penduduknya termasuk paling padat di bumi, sawahnya berpengairan rumit, dan kerajaan-kerajaannya sibuk berebut satu sama lain tanpa sekali pun mengurus airnya. Yang mengurus air justru jaringan pura air, dan pembagiannya diputuskan para petani sendiri lewat musyawarah tahunan.
Contoh itu bukan barang jauh buat pembaca di sini. Subak masih ada, masih jalan, dan masih menentukan giliran air tanpa surat keputusan siapa-siapa.
Kata yang paling kepakai dari buku setebal ini
Satu istilah yang mereka pinjam dari Gregory Bateson, yang mencetaknya pada 1930-an sesudah meneliti sebuah suku di Nugini: schismogenesis, kecenderungan orang dan kelompok menentukan dirinya dengan cara jadi kebalikan tetangganya. Bateson memakainya untuk dua orang yang berdebat soal kecil lalu, sesudah sejam, memegang pendirian jauh lebih keras daripada yang mereka bawa masuk.
Graeber dan Wengrow memperbesarnya sampai ukuran peradaban. Kelompok peramu di California yang menolak perbudakan rumah tangga dan pesta unjuk kekayaan justru tinggal paling dekat dengan tetangga di pantai barat laut yang merayakan dua-duanya. Yang menerangkan penolakan itu bukan alamnya, tapi tetangganya.
Pakai kacamata itu di sini dan banyak hal berpindah tempat. Beda antara dua kampung bersebelahan hampir selalu paling tajam justru di hal yang paling kecil. Beda antara dua cara salat yang paling sering disebut orang bukan yang paling menentukan isinya, tapi yang paling gampang dipakai menandai batas: qunut subuh, jumlah rakaat tarawih. Yang dipilih jadi penanda bukan yang paling penting, tapi yang paling kelihatan dari seberang, dan itu keterangan tentang cara manusia menggambar batas, bukan tentang isi keyakinannya.
Negara yang tidak punya satu pintu masuk
Bab sepuluh berjudul "Why the State Has No Origin", dan itu pembongkaran yang paling terpakai dari seluruh bukunya.
Negara modern, kata mereka, itu gabungan tiga hal yang asal-usulnya sama sekali terpisah: kedaulatan, yaitu siapa yang boleh memakai kekerasan tanpa kena hukuman; administrasi, yaitu siapa yang memegang keterangan; dan gelanggang politik tempat orang berebut kedudukan. Lalu mereka jejerkan bukti bahwa ketiganya muncul sendiri-sendiri, di tempat berbeda, dalam gabungan yang berganti-ganti. Penguasa Mesir awal menggabungkan kedaulatan dengan administrasi. Sebagian masyarakat lain mengembangkan satu saja dan berhenti di situ, tanpa melahirkan apa pun yang layak disebut negara.
Fukuyama menyusun soal yang sama dari ujung berlawanan: tatanan politik butuh negara yang kuat, hukum yang mengikat penguasa, dan cara mencopot yang memerintah, dan ketiganya harus ada bersamaan. Catatannya ada di The Origins of Political Order. Yang dibantah Graeber dan Wengrow bukan daftarnya, tapi anggapan bahwa ketiganya satu paket yang lahir bersama.
Bacaan itu berguna untuk kasus kita. Ketiga barang tadi memang tidak dipasang pada waktu yang sama di sini. Administrasinya dipasang Belanda untuk memungut dan mencatat, kedaulatannya direbut pada 1945, dan gelanggang politiknya dibuka, ditutup, lalu dibuka lagi. Tiga lapis yang jamnya berbeda, dan tidak pernah benar-benar disambung jadi satu.
James Scott mengambil satu potongan dari perkara yang sama dan menjadikannya satu buku, Against the Grain, dan buku ini mengutipnya justru untuk satu kalimat: dulu negara itu barang musiman, dan begitu musim hujan datang jangkauannya menyusut sampai ke tembok istana.
Arah yang mereka pasang ulang
Mereka mencabut satu cerita, lalu memasang cerita lain yang rangkanya sama persis.
Yang dirobohkan: dulu manusia setara, lalu pertanian datang, lalu semuanya jadi timpang, dan tidak ada jalan pulang. Yang dipasang: dulu manusia luwes berpindah-pindah bentuk politik, lalu kita terkunci. Kata "terkunci" sudah memuat arah, dan arahnya sama-sama menurun.
Tidak ada arah di sejarah, cuma perubahan. Temuan dan angkanya saya terima; tafsir arahnya tidak, dan itu berlaku sama ke buku kemajuan maupun ke buku kehilangan.
Jawabannya juga tidak pernah datang. Sesudah lima ratus halaman lebih, waktu pertanyaan pokoknya akhirnya dihadapi, yang keluar ini:
"To some degree this must remain a matter for speculation.… The most we can offer are some preliminary suggestions, or points of departure."
Sampai batas tertentu ini memang harus tetap jadi dugaan. Yang paling bisa kami tawarkan cuma beberapa usul awal, atau titik berangkat.
Itu terus terang, dan itu juga tagihan yang tidak dibayar.
Nadanya yang paling menyulitkan. Yuval Noah Harari mereka kutip sebagai wakil pandangan yang mereka lawan, lengkap dengan kalimatnya soal manusia yang menjebol dinding penjara lalu berlari ke halaman penjara yang lebih luas; catatan bukunya ada di Sapiens. Fukuyama dan Jared Diamond kena lebih keras. Di catatan kaki, keduanya disebut tidak pernah dilatih di bidang yang mereka tulis, lengkap dengan keterangan bahwa Diamond bergelar doktor soal cara kerja kandung empedu. Kalau argumennya memang sekuat itu, gelar orang tidak menambah apa-apa.
Usaha mengukur ketimpangan lintas zaman dengan koefisien Gini juga dibereskan lewat satu catatan kaki berisi lelucon panjang soal ongkos berkemah di lembah Dordogne, ditutup dengan kalimat bahwa memeras sejarah dunia jadi koefisien Gini memang pasti melahirkan hal konyol. Bisa jadi. Tapi yang paling mempan mengubah pikiran saya angka dari sumber yang bisa dicek, dan lelucon bukan bantahan.
Bantahan yang datang sesudah salah satu penulisnya tidak ada
Graeber meninggal 2 September 2020, beberapa minggu sesudah naskah ini rampung, dan bukunya terbit setahun kemudian. Jadi seluruh perdebatan yang menyusul berjalan tanpa dia.
Dua bantahan yang paling perlu diketahui pembaca bukunya.
Daniel Immerwahr menelusuri sumber untuk salah satu bagian yang paling sering dikutip orang, soal orang Eropa yang ditawan penduduk asli Amerika lalu memilih tidak pulang. Sesudah membuka bahan yang dipakai, ia menyebut klaim itu meleset jauh sekali. Kwame Anthony Appiah menembak dari arah yang lebih mendasar: dua penulisnya berulang kali memperlakukan tidak adanya bukti sebagai bukti bahwa sesuatu memang tidak ada.
Keberatan Appiah itu yang paling mengganggu, sebab ia mengenai cara kerjanya, bukan satu kutipan. Bukunya berdiri di atas kesimpulan bahwa banyak masyarakat lama tidak punya penguasa tetap. Sebagian kesimpulan itu ditarik dari tidak ditemukannya tanda-tanda penguasa di galian. Di tanah yang lembap dan asam seperti sebagian besar kepulauan kita, tidak ditemukan itu keadaan biasa, dan tidak menerangkan apa-apa.
Wengrow masih ada dan masih menjawab di berbagai forum. Graeber tidak, dan bagian bukunya yang paling berani kebetulan bagian yang paling butuh dijawab penulisnya sendiri.
Itu tidak membatalkan yang saya bawa pulang di bawah nanti. Kalimat "memang sudah dari sananya" tetap kehilangan tenaganya, dan untuk itu cukup satu contoh tandingan yang kokoh. Yang perlu dijaga jangan sampai bukunya dipakai sebagai daftar fakta.
Yang saya bawa dari bukunya bukan jawabannya, tapi satu barang yang mereka rampas dari lawan bicaranya. Kalimat "memang sudah dari sananya" berhenti jadi jawaban. Susunan yang kita tempati sekarang bukan satu-satunya yang pernah dijalankan manusia, dan buktinya mereka tumpuk sampai susah dibantah.
Begitu kalimat itu dicabut, pertanyaannya justru jadi lebih berat. Kalau bentuknya memang bisa diubah-ubah, kenapa hampir tidak ada yang berhasil mengubahnya kembali.
Kandiaronk tidak menjawab itu. Dua penulisnya juga tidak. Saya belum.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Dua belas bab, tebal, dan tiap bab punya anak judul yang sudah menyebut isinya. Judul bukunya menjanjikan sejarah baru umat manusia, dan sebenarnya isinya lebih sempit dan lebih tajam dari itu: pembongkaran atas satu cerita yang sudah telanjur jadi bawaan, yaitu bahwa manusia mula-mula hidup dalam kelompok kecil yang setara, lalu bertani, lalu berkota, lalu mau tidak mau punya raja dan pegawai.
Kedua penulisnya menyerang cerita itu di tiap sambungannya. Bukan dengan menawarkan cerita pengganti, tapi dengan menumpuk contoh yang tidak muat di dalamnya.
Karena bentuknya begitu, bukunya panjang dan gagasan pokoknya tersebar. Pembaca yang mencari satu dalil yang rapi akan kesulitan.
Bab 1 sampai 3: membersihkan lapangan
Bab 1 menyatakan terang-terangan bahwa ini bukan buku tentang asal-usul ketimpangan, dan menerangkan kenapa pertanyaan itu sendiri sudah keliru. Bab 2 yang paling menarik di bagian ini, dan isinya kritik dari orang Amerika asli terhadap cara hidup orang Eropa yang datang, yang tercatat dalam laporan misionaris. Dalilnya, sebagian gagasan Pencerahan soal kebebasan justru datang dari perdebatan itu, bukan lahir sendiri di Eropa.
Bab 3 mulai membongkar gambaran zaman es sebagai zaman yang seragam dan sederhana.
Bab 4 sampai 7: contoh yang tidak muat
Empat bab yang menumpuk bukti bahwa manusia mula-mula jauh lebih beragam susunannya daripada yang diajarkan. Ada masyarakat pemburu yang punya budak dan ada tetangganya yang tidak. Ada yang berganti susunan menurut musim, tertib dan berhierarki di satu musim lalu longgar dan setara di musim lain. Ada yang sudah kenal tanaman dan sengaja tidak bertani penuh selama ribuan tahun.
Di bab 7 juga dipasang tiga kebebasan yang menurut mereka dulu dimiliki orang dan sekarang hilang: kebebasan pergi, kebebasan tidak menuruti perintah, dan kebebasan menyusun ulang cara hidup bersama.
Bab 8 dan 9: kota tanpa raja
Bab 8 soal kota-kota besar pertama di Mesopotamia, lembah Indus, Ukraina, dan Cina, dan bukti bahwa sebagian dari kota itu berjalan lama tanpa istana, tanpa kuburan mewah, dan tanpa tanda adanya penguasa tunggal. Ini bab yang paling telak terhadap anggapan bahwa kota otomatis melahirkan raja.
Bab 9 soal Amerika, termasuk masyarakat yang sengaja membongkar susunan kekuasaannya sendiri.
Bab 10 sampai 12: negara dan penutup
Bab 10 menolak gagasan bahwa negara punya satu titik lahir. Sebagai gantinya mereka memasang tiga hal yang bisa datang sendiri-sendiri dan tidak selalu bersamaan: kuasa memaksa, penguasaan atas keterangan, dan tarikan pribadi seorang pemimpin. Bab 11 kembali ke kritik yang dibahas di bab 2. Bab 12 penutupnya.
Yang jadi jantungnya
- Bab 8. Kalau satu bab saja yang muat di waktunya, ambil yang ini, karena buktinya paling kuat dan akibatnya paling besar: kota besar tidak selalu melahirkan raja.
- Bab 10, untuk tiga unsur negaranya, karena itu alat yang benar-benar bisa dipakai memeriksa kekuasaan mana pun.
- Bab 7 untuk tiga kebebasannya, terutama kebebasan pergi, yang paling jarang dibicarakan dan paling menentukan.
Yang boleh dilewat
- Bab 11 hampir seluruhnya; isinya mengulang bab 2 dengan bahan tambahan.
- Sebagian besar bab 4 dan 5, yang bentuknya berulang: satu masyarakat, satu bukti, satu kesimpulan yang sudah bisa ditebak.
- Catatan belakang yang sangat panjang, kecuali kalau memang memeriksa klaimnya.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Keduanya menghabiskan sebelas bab mencabut arah dari sejarah, lalu memasangnya kembali di bab terakhir menghadap ke belakang: dulu manusia punya tiga kebebasan, sekarang tidak, dan itu kemunduran. Itu tetap cerita tentang arah, cuma arahnya dibalik. Yang mereka bantah pada orang lain mereka lakukan sendiri di halaman terakhir.
Sebagian klaim arkeologinya dibantah keras oleh ahli di bidang masing-masing sesudah bukunya terbit, terutama soal seberapa jauh bukti lapangan bisa menanggung kesimpulan sebesar yang mereka tarik.
Satu hal berdiri kokoh dan itu yang paling berharga: tidak ada satu jalan yang harus dilalui semua masyarakat, dan banyak susunan yang kita anggap keharusan sebenarnya pilihan yang pernah bisa dibongkar orang.
Kalau buru-buru
Bab 2, 7, 8, 10. Empat bab, dan alurnya utuh: sebagian gagasan kebebasan Eropa datang dari kritik orang di seberang lautan, ada tiga kebebasan yang dulu dimiliki orang dan sekarang tinggal satu setengah, kota besar pernah berjalan lama tanpa raja, dan negara sebenarnya tiga hal yang bisa datang terpisah.