Diamond berniat menulis buku tentang kerusakan lingkungan, dan yang keluar justru daftar alasan kenapa orang yang sudah tahu tetap tidak bergerak.

Gambut tidak bisa terbakar selama airnya masih ada di dalamnya. Rawa gambut itu spons setebal bermeter-meter, isinya sisa tumbuhan yang tidak sempat membusuk karena terendam ribuan tahun. Buang airnya lewat kanal, dan yang tersisa tumpukan bahan bakar kering yang apinya bisa menjalar di bawah tanah berbulan-bulan tanpa terlihat dari atas.

Waktu saya SD, kabut asap masih jadi berita utama berhari-hari. Sekarang ada angka mutu udara yang bisa dilihat siapa saja di ponsel, ada masker yang dijual di minimarket, dan ada bulan-bulan yang orang sebut musim asap. Beritanya sudah pindah ke sebelah ramalan cuaca.

Diamond punya nama untuk perpindahan itu, dan letaknya di bab empat belas, jauh sesudah semua reruntuhan yang bikin bukunya terkenal.

Sebab yang kelima, dan kenapa itu kemajuan

Diamond mengaku ia mulai menyusun buku ini dengan niat menulis soal kerusakan lingkungan saja, lalu tidak menemukan satu pun keruntuhan yang bisa ditimpakan ke lingkungan sendirian.

Yang akhirnya keluar ada lima kelompok sebab. Empat yang pertama bisa ada, bisa juga tidak: kerusakan lingkungan, iklim yang berubah, tetangga yang memusuhi, dan mitra dagang yang hilang. Yang kelima lain.

"The fifth set of factors—the society's responses to its environmental problems—always proves significant."

Kelompok sebab yang kelima, yaitu cara masyarakat itu sendiri menanggapi masalah lingkungannya, selalu terbukti menentukan (hal 27).

Di Guns, Germs, and Steel sebab dipindahkan dari watak bangsa ke tanah, tanaman, dan hewan, dan apa pun yang tidak muat ke situ dinyatakan nyaris tidak penting untuk keperluan bukunya. Di sini Diamond menarik kembali sebagian dari yang dulu ia keluarkan, dan keputusan orang masuk lagi bukan sebagai hiasan, tapi sebagai satu-satunya sebab yang selalu ada.

Menurut saya itu perbaikan besar, dan bukan karena bunyinya lebih enak. Sebab yang berbentuk keputusan bisa ditanya siapa yang mengambilnya.

Tulang ikan yang tidak ada di tumpukan sampah

Orang Norse di Greenland mati kelaparan di tepi laut yang penuh ikan, dan buktinya justru ada di sampah mereka.

Tulang ikan mengisi kurang dari sepersepuluh persen tulang hewan yang digali di permukiman Norse Greenland. Di permukiman sezaman di Islandia, Norwegia utara, dan Shetland, angkanya antara lima puluh dan sembilan puluh lima persen (hal 316). Di satu situs yang tulang ikannya paling banyak sekalipun jumlahnya cuma 166 potong, dan dua puluh enam di antaranya berasal dari ekor satu ikan kod (hal 317).

Diamond menjejerkan alasan yang mungkin, lalu menutup satu per satu. Dagingnya berlebih sampai tidak perlu makan ikan? Lalu kenapa tulang hewannya dipecah untuk mengambil sisa sumsum. Tulang ikannya lapuk di tanah? Tanah di situ mengawetkan kutu domba dan butiran kotoran domba (hal 318).

Yang tersisa cuma satu keterangan, dan keterangannya bukan soal makanan. Orang Eropa yang beradab, menurut ukuran mereka sendiri, memelihara sapi. Yang memancing orang Inuit, dan orang Inuit mereka pandang rendah.

Mesinnya punya nama yang lebih umum: menalar lewat perumpamaan yang keliru (hal 568). Di keadaan yang belum dikenal, orang bersandar pada keadaan lama yang paling mirip, dan kalau miripnya cuma sekilas, sandaran itu mahal sekali.

Ukuran kecilnya gampang ditemukan. Cara menilai kelayakan kredit disusun untuk orang bergaji: ada slip, ada tanggal terima, ada angka yang sama tiap bulan. Dipakaikan ke pedagang pasar yang uangnya masuk tidak pernah sama jumlahnya, yang terukur bukan kemampuannya membayar, tapi seberapa mirip dia dengan orang bergaji.

Jalan menuju keputusan yang buruk

Bab empat belas judulnya sebuah pertanyaan: kenapa sebagian masyarakat mengambil keputusan yang membinasakan dirinya sendiri. Isinya bukan cerita, tapi daftar, disusun sebagai empat pemberhentian. Gagal menduga sebelum masalahnya datang, gagal melihat waktu masalahnya sudah di depan mata, melihat lalu tidak mencoba, dan mencoba lalu tetap gagal.

Pemberhentian kedua itu yang paling licin, dan Diamond memberinya dua nama. Creeping normalcy, kewajaran yang merayap: keadaan memburuk begitu pelan sampai tiap tahun terasa kira-kira sama dengan tahun sebelumnya, dan orang baru tersentak waktu ingat bahwa tiga puluh tahun lalu keadaannya jauh lebih baik. Lalu landscape amnesia, lupa bentang alam: lupa bahwa pemandangan di sekeliling dulu tidak begini.

Contohnya ia ambil dari dirinya sendiri. Ia datang ke Montana sekali-sekali dan melihat salju di puncak gunung menyusut dari tahun ke tahun. Kawan-kawannya yang tinggal di situ terus-menerus justru kurang menyadarinya, sebab pembanding mereka cuma beberapa tahun terakhir (hal 572).

Rumah yang lantainya sudah ditinggikan tiga kali dalam dua puluh tahun tidak pernah terasa sebagai bencana. Tiap kalinya cuma satu kali menaikkan lantai, dan tiap kalinya ada alasannya sendiri.

Yang menyalakan api dan yang menghirup asapnya

Pemberhentian ketiga itu yang paling padat, dan di situ bukunya berhenti jadi buku lingkungan.

Diamond memakai istilah para ekonom, rational behavior, perilaku yang masuk akal. Sebagian orang menghitung dengan benar bahwa kepentingannya paling terlayani lewat perbuatan yang merugikan orang lain. Bentuknya yang paling dikenal itu tragedi milik bersama, dan hitungan tiap orang di dalamnya memang benar: kalau bukan saya yang mengambilnya duluan, orang lain yang mengambilnya.

Lalu satu kalimat yang menyebut kita apa adanya:

"loggers destroyed most of the lowland forests of the Malay Peninsula, then of Borneo, then of the Solomon Islands and Sumatra, now of the Philippines, and coming up soon of New Guinea, the Amazon, and the Congo Basin."

Para penebang sudah menghabiskan hampir seluruh hutan dataran rendah Semenanjung Malaya, lalu Kalimantan, lalu Kepulauan Solomon dan Sumatra, sekarang Filipina, dan sebentar lagi Papua, Amazon, serta Cekungan Kongo (hal 577).

Menurut Diamond sebabnya bukan kerakusan, tapi jangka waktu. Pemegang izin yang masa berlakunya pendek berperilaku seperti perampok yang berpindah-pindah: habiskan yang ada, jangan tanam apa pun, lalu pergi. Dari situ ia sampai ke kalimatnya yang paling telak:

"Especially if the elite can insulate themselves from the consequences of their actions, they are likely to do things that profit themselves, regardless of whether those actions hurt everybody else."

Terutama kalau kalangan atas sanggup menutup dirinya dari akibat perbuatannya sendiri, mereka cenderung mengerjakan hal yang menguntungkan diri mereka, tidak peduli perbuatan itu merugikan semua orang lain atau tidak (hal 578).

Kebalikannya ia ambil dari Belanda, diucapkan kawannya sendiri sambil menyetir melewati tanah pertanian yang letaknya di bawah permukaan laut:

"It's not the case that rich people live safely up on tops of the dikes while poor people live down in the polder bottoms below sea level. If the dikes and pumps fail, we'll all drown together."

Tidak begitu keadaannya, bahwa orang kaya tinggal aman di atas tanggul sementara orang miskin tinggal di dasar polder di bawah permukaan laut. Kalau tanggul dan pompanya jebol, kita semua tenggelam bersama-sama (hal 696).

Asap gambut bukan tanggul. Izinnya ditandatangani di kota, hitungannya dibuat di kota, dan yang tidak bisa menutup jendela tinggal beberapa jam perjalanan dari titik apinya.

Kegagalan yang diurus Seeing Like a State bentuknya lain: di situ yang keliru orang yang menyusun rencana. Di sini tidak ada yang salah hitung, dan hasilnya tetap begitu.

Taman nasional yang dibangun pemerintahan yang ditakutinya

Di bab tentang Republik Dominika, Diamond terjebak di soal yang tidak nyaman. Joaquín Balaguer, orang lama Trujillo yang daftar perbuatan buruknya panjang, ternyata penguasa yang paling keras melindungi hutan di negerinya. Penegakannya ia serahkan ke tentara, dan pembalakan liar jadi kejahatan terhadap keamanan negara.

Diamond bertanya apakah orang seperti itu boleh disebut pembela lingkungan. Seorang kawan menjawabnya begini: Hitler menyayangi anjing dan menggosok gigi, dan itu bukan alasan buat kita membenci anjing lalu berhenti menggosok gigi.

Sesudah kalimat itu Diamond menoleh ke pengalamannya sendiri. Ia bekerja di sini dari 1979 sampai 1996, dan ia menulis terus terang bahwa ia membenci dan takut pada pemerintahan waktu itu, karena kebijakannya, karena hal yang menimpa kawan-kawannya di Papua, dan karena serdadunya nyaris membunuhnya. Lalu:

"I arrived in Indonesian New Guinea after years of experience in the democracy of Papua New Guinea, and I expected to find environmental policies much more advanced under the virtuous democracy than under the evil dictatorship. Instead, I had to acknowledge that the reverse was true."

Saya tiba di Papua wilayah Indonesia sesudah bertahun-tahun bekerja di Papua Nugini yang demokratis, dan saya menduga akan menemukan kebijakan lingkungan yang jauh lebih maju di bawah demokrasi yang berbudi daripada di bawah kediktatoran yang jahat. Yang terjadi sebaliknya, dan saya harus mengakuinya (hal 472).

Begitulah menurut saya sebuah pemerintahan pantas dinilai. Dari apa yang keluar, satu per satu, bukan dari nama yang menandatanganinya dan bukan pula dari perasaan kita terhadap nama itu.

Satu hal perlu ditambahkan, dan Diamond memang tidak bisa menambahkannya dari tempatnya berdiri. Kawasan yang ditetapkan di peta dan kawasan yang benar-benar dijaga itu dua barang yang berbeda. Batas taman nasional di sini lengkap sampai ke titik koordinatnya, dan yang menentukan nasibnya berapa petugas yang benar-benar ada di lapangan.

Nasib buruk tidak punya kotaknya sendiri

Sampai di sini saya ikut. Yang berikutnya tidak.

Lima kelompok sebab itu terlalu lentur. Begitu sebuah masyarakat habis, kelima kotaknya pasti bisa diisi dengan sesuatu, dan tidak ada susunan kejadian yang sanggup membatalkannya. Kata "runtuh" juga dipakai untuk terlalu banyak hal yang berbeda. Sebagian masyarakat dalam bukunya memang lenyap, sebagian lagi bubar, pindah, atau lebur ke masyarakat lain.

Pulau Paskah jadi contoh yang paling ramai ditawar orang. Diamond menyebut tikusnya sendiri, dan mencatat bahwa tiap biji palem yang ditemukan penggali menunjukkan bekas gigitan tikus (hal 153), lalu tetap menaruh kapak manusia sebagai sebab utamanya. Terry Hunt dan Carl Lipo membalik urutan itu, dan ahlinya masih ribut.

Empat sebab yang pertama bisa datang, bisa juga tidak. Diamond menuliskannya begitu, lalu tidak pernah menamai apa yang mereka punya bersama. Orang Norse kebagian iklim yang mendingin selama beberapa keturunan. Tikopia tidak pernah kebagian.

Akibatnya terasa di seluruh susunan bukunya. Kalau tiap keruntuhan berujung pada cara sebuah masyarakat menanggapi masalahnya, maka tiap masyarakat yang habis pelan-pelan berubah jadi masyarakat yang salah memilih. Orang Norse memang keras kepala. Mereka juga sial.

Diamond bertanya bagaimana sebuah masyarakat menanggapi masalahnya. Why Nations Fail bertanya siapa yang diuntungkan oleh tanggapan itu. Pertanyaan kedua lebih susah dijawab, dan lebih susah dipakai untuk menyalahkan orang yang sudah mati.

Bentang alam yang sedang diganti sekarang

Lupa bentang alam paling gampang ditunjuk kalau sudah lewat. Yang sedang berjalan lebih susah dilihat, dan angkanya sekarang ada.

Sepanjang 2025 hutan yang hilang di Indonesia 433.751 hektar. Tahun sebelumnya 261.575. Naik enam puluh enam persen dalam satu tahun. Papua sendiri kehilangan 60.337 hektar pada 2025.

Sebagian besar tarikannya nikel. Antara 2000 dan 2023 penambangan nikel langsung menghabiskan sekitar 193.830 hektar hutan, ditambah 5.031 hektar lagi untuk pabrik pengolahnya. Sejak pabrik-pabrik itu mulai jalan pada 2016, hutan yang hilang di Sulawesi dan Maluku Utara ikut naik. Juni 2025 Greenpeace mencatat lima ratus hektar hutan di Raja Ampat sudah dibuka, dan bijihnya dikirim ke pabrik di Maluku Utara.

Bentuknya sudah dibedah Diamond di bab tentang perusahaan besar. Merusak jadi pilihan yang masuk akal buat pihak yang tidak ikut menanggung akibatnya, dan tambang punya bentuk yang paling murni: barangnya diangkut keluar, ongkosnya tinggal.

Yang tidak ada di bukunya bagian yang lebih baru. Nikel ini dipakai untuk baterai, dan baterai dipakai untuk memindahkan orang dari bahan bakar yang membakar. Jadi hutannya dibuka atas nama urusan yang tujuannya betul-betul menyelamatkan.

Diamond suka membandingkan masyarakat yang menghabisi dirinya dengan yang tidak. Perbandingan itu mengandaikan ongkos dan hasilnya ada di satu tempat yang sama. Di sini keduanya terpisah jauh, dan saya belum menemukan bagian bukunya yang menerangkan keadaan seperti itu.

Kanal yang mengeringkan gambut itu digali berpuluh tahun lalu, dan galiannya masih ada. Tiap kemarau panjang apinya kembali, tiap kali ada rapat, tiap kali ada janji penataan ulang. Yang benar-benar berubah cuma alat ukurnya, dan sekarang angkanya keluar tiap jam, per kecamatan, terbaca siapa saja dari layar.

Anak yang lahir sesudah kanal itu digali tidak punya pembanding. Buat dia langit bulan September memang begitu warnanya.

Diamond menyebutnya lupa bentang alam. Yang tidak ia sebut, lupa semacam itu bukan cacat ingatan. Lupa itu yang membuat keadaan sekarang terbaca sebagai keadaan biasa, dan keadaan biasa tidak pernah jadi bahan rapat.

Baca berikutnya