Islam sampai ke sini tanpa satu pun tentara, dan yang mengantarkannya angin yang berbalik arah dua kali setahun.

Perjalanan dagang rempah dari Belanda ke Jawa makan waktu setahun pada 1650. Pada 1850 tiga bulan, itu pun kalau anginnya bagus. Pada 1920, tiga minggu (hal 237).

Buat dua McNeill, tiga angka itu isi sejarah dunia. Bukan siapa yang naik takhta dan siapa yang turun, tapi berapa lama sebuah barang, sebuah kabar, atau sebuah kuman butuh waktu untuk sampai, dan siapa saja yang bisa dijangkaunya.

"What drives history is the human ambition to alter one's condition to match one's hopes."

Yang menggerakkan sejarah keinginan manusia mengubah keadaannya supaya cocok dengan harapannya.

Kalimat itu terdengar seperti kalimat penyemangat sampai bagian keduanya dibaca. Apa yang diharapkan orang, dan cara mereka mengejarnya, ditentukan oleh keterangan, gagasan, dan contoh yang kebetulan sampai kepada mereka. Harapan pun ada ongkos angkutnya.

Ayah dan anak menulisnya bersama, dan di antara mereka berdua terkumpul hampir seabad memikirkan sejarah dunia. Saya memakai buku ini sebagai versi pendek yang bisa dipegang, dan alasannya satu: tiap babnya menambah satu mesin baru, bukan mengulang bab sebelumnya dengan contoh yang lain.

Enam jaring, dan bukti bahwa yang pertama benar-benar ada

Jaring pertama setua bahasa. Rombongan kecil yang direkatkan obrolan, tukar barang, dan hubungan sesekali dengan rombongan sebelah.

Buktinya yang paling rapi. Manusia menyebar ke semua benua kecuali Antartika, dan sampai sekarang kita tetap satu jenis makhluk. Itu cuma mungkin kalau rombongan-rombongan tadi terus bertukar keturunan dan pasangan di sepanjang seluruh sebarannya, tanpa putus, selama puluhan ribu tahun. Busur dan panah juga menyebar ke hampir seluruh dunia, kecuali Australia.

Lalu, kira-kira dua belas ribu tahun lalu, pertanian membuat penduduk jadi rapat, dan di dalam jaring longgar tadi tumbuh jaring-jaring kecil yang jauh lebih sering bersentuhan. Lalu jaring kota, mulai kira-kira enam ribu tahun lalu di Sumer, tempat kota jadi persimpangan sekaligus gudang untuk keterangan, barang, dan penyakit. Lalu Jaring Dunia Lama, dua ribu tahun lalu, membentang dari sebagian besar Eurasia sampai Afrika utara. Lalu pelayaran samudra menyatukan dua belahan bumi dalam lima ratus tahun terakhir. Lalu telegraf, dan jaring itu mulai dialiri listrik.

Percepatannya bisa disebut dengan satu angka. Kabel telegraf dari Britania ke India selesai pada 1870, dan pesan yang tadinya butuh sampai delapan bulan berubah jadi lima jam (hal 236).

Angin yang memutuskan siapa ikut

Laut musim di Samudra Hindia, di kepulauan kita, dan di Laut Cina Selatan punya sifat yang tidak dimiliki laut lain. Anginnya bertiup tetap dari satu arah selama setengah tahun, lalu berbalik selama setengah tahun sisanya (hal 52). Kapal yang berangkat bisa pulang. Itu syarat pertama sebuah jalur bisa jadi jalur tetap, bukan sekali jalan.

Jauh sebelum orang Eropa datang, pelaut dari wilayah yang sekarang Indonesia sudah sampai ke Madagaskar, paling lambat tahun 500, membawa pisang, ubi, dan talas yang ternyata tumbuh lebih baik di sana daripada milet dan sorgum Afrika (hal 116).

Lalu bagian yang jarang ikut dikutip. Jawa dan Sumatra berada di dalam jaring itu dengan mantap. Makin ke tenggara jaringnya menipis, sebab angin musimnya melemah makin jauh dari daratan Asia. Pedalaman Kalimantan dan seluruh Papua tetap di luar (hal 168, 174).

Satu ukuran yang sama menerangkan yang ikut dan yang tidak ikut, dan itu jarang. Guns, Germs, and Steel menerangkan kenapa Eurasia unggul, lalu mentok waktu ditanya kenapa Cina kalah dari Eropa. Di sini keterangannya jalan ke dua arah dengan satu ukuran, yaitu ongkos angkut.

Dan petanya belum benar-benar berubah. Yang menentukan sekarang bukan angin, tapi jalur kapal peti kemas, kabel serat optik, dan menara pemancar. Bentuk petanya mirip sekali: padat di barat, menipis ke timur, paling tipis di pedalaman. Palapa Ring dibangun persis untuk menambal ujung yang tipis itu, dan namanya diambil dari sumpah abad keempat belas. Hampir tujuh ratus tahun, dan yang dikerjakan masih soal yang sama.

Agama yang datang naik kapal

Bab agamanya tempat dalil bukunya paling kelihatan sedang bergerak.

Begitu penaklukan oleh tentara Muslim melambat, perluasannya berlanjut dalam bentuk lain: ke mana pun pedagang Muslim pergi, agamanya ikut. Dua McNeill mencatat bahwa waktu Islam bertemu Yahudi, Hindu, Kristen, atau Buddha, kesetiaan yang sudah mapan memperlambatnya, sementara di masyarakat yang belum punya tradisi kitab perpindahan sering berlangsung cepat. Orang Turki di stepa barat hampir seluruhnya jadi Muslim Sunni menjelang tahun 1000, dan yang membawanya pedagang, bukan tentara. Di Eropa utara Kekristenan menyebar lewat jalan yang mirip, cuma pembawanya rahib dan pendeta.

Untuk kita kalimatnya lugas. Berpindah ke Islam memudahkan Jawa dan Sumatra ikut serta dalam perdagangan Samudra Hindia (hal 168). Pada abad keempat belas dan kelima belas, Semenanjung Malaya dan pulau-pulau utama di sini sudah di bawah pemerintahan Muslim, dan sesudah sebuah kerajaan Hindu di Jawa tengah runtuh pada 1526, tulis mereka, cuma Bali yang tidak ikut terserap (hal 154).

Tidak ada penaklukan, dan justru itu yang menentukan bentuk akhirnya. Yang datang lewat jalur dagang tidak punya tentara untuk membersihkan apa yang sudah ada duluan. Itu sebabnya sampai sekarang di banyak tempat di sini selamatan berjalan berdampingan dengan salat, dan tidak ada yang merasa sedang menjalankan dua hal yang bertabrakan. Bandingkan dengan Amerika Latin, tempat agamanya datang bersama penakluk.

Ada satu keterangan lagi di bab itu yang lebih jarang dibicarakan. Agama keselamatan, tulis mereka, memindahkan harapan dari pertolongan di dunia ini ke ganjaran di dunia yang lain, dan pemindahan itu cocok sekali dengan hidup kota. Kota membuat orang saling bergantung pada keahlian masing-masing, dan ketergantungan itu goyah, timpang waktu keadaan sedang baik, dan ambruk waktu keadaan sedang buruk. Harapan bahwa perkaranya akan diluruskan nanti membuat ketimpangan hari ini lebih bisa ditanggung.

Keterangan itu lebih hemat daripada yang biasa kita dengar, dan keterangan yang lebih hemat memang didahulukan. Yang tidak diterangkannya kenapa orang yang keadaannya sudah enak pun ikut memegangnya seerat itu.

Laju yang naik, arah yang tidak ikut ditanya

Angkanya saya terima. Susunannya tidak.

Buku ini menyebut sendiri apa saja yang dibawa jaringnya:

"If a cooperative framework can be maintained, the larger the web gets, the more wealth, power, and inequality its participating populations exhibit."

Selama kerja samanya bisa dijaga, makin besar jaringnya, makin banyak kekayaan, kekuasaan, dan ketimpangan yang muncul pada penduduk yang ikut di dalamnya (hal 23).

Kekayaan dan ketimpangan disebut dalam satu tarikan napas, sebagai dua hasil dari satu mesin. Itu terus terang, dan layak dihargai. Sesudah kalimat itu bukunya tetap menceritakan pengetatan jaring sebagai jalan cerita yang maju terus.

Perbudakan contohnya yang paling telanjang, dan bukunya tidak menghindarinya. Jaring yang mengangkut cengkih dan pala mengangkut orang juga. Lalu penghapusannya berjalan lewat jaring yang sama: gagasan hak asasi, petisi yang ditandatangani ratusan ribu orang di Inggris, dan budak-budak yang memaksakan perkaranya sendiri.

Yang paling saya catat bagian pembayarannya. Waktu Britania menghapus perbudakan, yang dibayar ganti rugi para pemiliknya, sejumlah kira-kira sepertiga sampai setengah anggaran tahunan negara itu (hal 273). Di Hindia Belanda penghapusan resminya baru 1868 (hal 275).

Jadi jaringnya memang mengangkut apa saja yang ditaruh di atasnya, termasuk pembatalan atas muatannya sendiri. Tagihannya tetap mendarat di tempat yang sama.

Sambungan menerangkan laju perubahan dengan sangat baik. Sambungan tidak menerangkan arahnya. Jalan raya tidak memutuskan siapa yang lewat dan siapa yang harus minggir. Susunan buku ini, jaring yang makin rapat dari bab ke bab, sudah setengah cerita tentang kemajuan sebelum satu pun kalimat kemajuan diucapkan.

Dua abad terakhir yang dipadatkan

Seluruh sejarah manusia dalam kira-kira tiga ratus lima puluh halaman berarti tidak ada yang sempat diperiksa dari dekat. Pembaca yang menguasai satu zaman akan menemukan zamannya jadi satu alinea.

Yang paling terasa dua abad terakhir. Revolusi Industri diceritakan sebagai kisah Britania, lalu Jerman dan Amerika, sementara tempat lain muncul sebagai lokasi yang kebetulan disinggahi kejadian itu. Penawarnya ada di rak yang sama. Energy and Civilization membongkar mesinnya sampai ke satuan tenaga, The Great Divergence menolak bahwa Eropa berangkat dari titik yang lebih tinggi dan menaruh pemisahannya pada batu bara dan Dunia Baru, dan Why the West Rules - For Now menyusun satu indeks sendiri supaya Timur dan Barat bisa diukur dengan alat yang sama.

Separuh penyakit dari jaring yang sama diurus William McNeill sendirian, dua puluh lima tahun lebih dulu, di Plagues and Peoples.

Jaringnya punya benang, dan benangnya bisa digunting

Kata jaring di buku ini dipakai sebagai alat berpikir. Belakangan kata itu ternyata bisa dibaca harfiah, dan bentuk harfiahnya ternyata tipis sekali.

Hampir seluruh perpindahan keterangan antarbenua hari ini lewat kabel serat optik di dasar laut. Bukan satelit, dan bukan udara.

6 September 2025 beberapa kabel di Laut Merah dekat Jeddah putus, dan seketika lalu lintas keterangan di sebagian Asia dan Timur Tengah melambat. India dan Pakistan ikut kena, dan salah satu perusahaan awan besar mengumumkan pelanggannya di Timur Tengah akan merasakan jeda yang lebih panjang. Di Laut Baltik ceritanya lain lagi. Sebuah kajian menghitung sepuluh kabel putus sejak 2022, tujuh di antaranya antara November 2024 dan Januari 2025, dan penyelidik di beberapa negara menduga sebagiannya disengaja, dengan cara sesederhana menyeret jangkar di dasar laut.

Susunan itu menambahkan satu hal yang tidak ada di buku ini. Bukunya menceritakan jaring yang makin rapat dan makin cepat, dan menganggap kerapatan itu satu arah.

Ternyata jaring yang paling cepat dalam sejarah manusia juga jaring yang paling gampang diputus, dan alat memutusnya bukan teknologi baru. Jangkar kapal sudah ada sejak jaring yang kedua.

Pertanyaan yang saya tinggalkan di bawah nanti soal siapa yang memegang ujung-ujungnya. Sekarang ada satu lagi yang lebih pendek: siapa yang tahu di mana benangnya lewat, dan berapa banyak dari mereka yang punya jangkar.

Setahun, tiga bulan, tiga minggu, lalu sekejap.

Yang berubah waktu tempuhnya. Yang belum berubah siapa yang duduk di ujung mana, dan siapa yang menentukan apa di ujung sebelah. Jaring memang alat berpikir yang bagus, dan jaring juga barang yang dipakai orang untuk menangkap sesuatu. Siapa yang memegang ujung-ujungnya tidak pernah jadi pertanyaan bukunya.

Untuk mengerti seberapa cepat dunia berubah, buku ini yang paling bisa saya pegang. Ke arah mana perubahannya jatuh, jaringnya diam saja.

Baca berikutnya