Seorang siswa H.B.S. dipanggil menghadap Bupati B., dan sebelum kakinya sampai ke pendopo ia sudah tahu apa yang harus dikerjakan badannya.
"Apa guna belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan orang-orang Eropa, kalau akhirnya toh harus merangkak, beringsut seperti keong dan menyembah seorang raja kecil yang barangkali butahuruf pula?"
Di dalam, kepalanya yang tak bertopi dipukul lima kali dengan cambuk kuda, dan tiap pukulan harus dibalas sembah terima kasih. Baru beberapa kalimat kemudian Minke mengenali suara parau orang yang sedang selesma itu. Bupati itu ayahnya sendiri, dan panggilannya datang lewat pos.
"Kanjeng Gubermen tak percuma punya dinas pos - mampu menyampaikan suratku dengan tepat pada alamat yang tepat dan selamat padamu...."
Saya terlambat membaca buku ini, jauh sesudah orang lain selesai membicarakannya. Dan yang paling lama tinggal di kepala saya bukan meja makan siang yang selalu dikutip orang. Pendopo itu.
Sebab tidak ada orang Belanda yang menyuruhnya merangkak.
Hafalan yang keluar duluan
Bukan pukulannya yang membuat adegan pendopo itu kuat, tapi apa yang jalan di kepala Minke selagi tangannya bergerak.
"Sahaya Tuanku Gusti Kanjeng Bupati," kata mulutku, dan seperti mesin tanganku mengangkat sembah yang kesekian kali, dan hatiku menyumpah entah untuk ke berapa kali.
Tangannya menuruti tatanan yang sudah lama tertanam di badannya, kepalanya menolak, dan dua-duanya jalan bersamaan tanpa ada yang mengalah.
Bentuk yang sama muncul di adegan yang jauh lebih terkenal. Sambil memperhatikan Nyai Ontosoroh di meja makan siang, Minke mendengar peringatan dari dalam dirinya sendiri:
Terdengar peringatan pada kuping batinku: awas, jangan samakan dia dengan Bunda. Dia hanya seorang nyai-nyai, tidak mengenal perkawinan syah, melahirkan anak-anak tidak syah, sejenis manusia dengan kadar kesusilaan rendah, menjual kehormatan untuk kehidupan senang dan mewah....
Lalu, di napas berikutnya, pengamatannya sendiri membantah tiap kata itu:
Basa Belandanya cukup fasih, baik dan beradab; sikapnya pada anaknya halus, dan bijaksana, dan terbuka, tidak seperti ibu-ibu Pribumi.
Prasangkanya sampai duluan, matanya belakangan. Minke sedang mengulang hafalan, ia belum berhenti mempercayainya, dan ia cuma tidak sanggup mencocokkannya dengan yang ada di depan matanya. Pramoedya tidak menyelesaikan itu untuk pembacanya. Keduanya dibiarkan jalan bersamaan, persis seperti tangan dan hati di pendopo tadi.
Kalimat yang paling banyak dikutip itu sebenarnya teguran
Satu kalimat dari novel ini sudah lepas dari bukunya dan hidup sendiri di kaus, poster, dan pidato wisuda.
"Kau terpelajar, Minke. Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan."
Dikutip sendirian, bunyinya seperti nasihat umum tentang kejernihan berpikir. Di halaman lima puluh empat, kalimat itu teguran, dan yang ditegur Minke sendiri.
Yang mengucapkannya Jean Marais, orang Prancis berkaki satu, bekas serdadu Kompeni yang kehilangan kakinya di Aceh. Minke baru saja menceritakan kepadanya pendapat umum tentang keluarga nyai-nyai, dan Jean menjawab dengan pertanyaan yang tidak bisa dielakkan: kalau pendapat umum itu salah, kenapa harus dihormati? Datang saja dua tiga kali lagi ke sana, katanya, baru ketahuan benar tidaknya.
Seratus empat puluh halaman kemudian orang yang sama menagih. Minke memang datang, malah tinggal di rumah itu, tapi bukan untuk memeriksa pendapat umum tadi. Ia justru menjalankannya, dan Jean Marais menyebutkan itu tepat di depan mukanya.
Jadi kalimat yang sekarang dipakai memuji orang berpendidikan, di dalam bukunya sendiri, dipakai untuk menunjukkan bahwa berpendidikan saja tidak cukup untuk menjalankannya. Dan yang menegur bukan sesama Jawa, bukan pula guru H.B.S., tapi bekas serdadu yang dulu ikut menyerbu kampung di Aceh.
Sahaya di depan Bunda, aku di dalam kepala
Kepada ibunya, Minke memakai sahaya. Dalam narasinya sendiri, ia memakai aku. Kepada bupati di pendopo, sahaya lagi.
Kata gantinya berganti menurut siapa yang mendengar, dan pergantiannya terjadi sebelum isi kalimatnya sempat dipikirkan. Itu bukan kebiasaan bahasa yang netral. Tingkatannya sudah menyatu dengan bahasanya, sehingga tiap orang melatih kedudukannya sendiri tiap kali membuka mulut.
Siapa pun yang tumbuh di lingkungan Jawa masih menjalankannya tiap hari, dan masih tahu persis rasa sungkan yang menentukan kata mana yang keluar duluan.
Waktu Minke bertengkar dengan kakaknya gara-gara buku hariannya dibaca diam-diam, kakaknya melemparkan tuduhan paling telak yang bisa dilemparkan ke orang seperti dia: memang sudah bukan Jawa lagi.
Jawabannya satu kalimat.
"Apa guna jadi Jawa kalau hanya untuk dilanggar hak-haknya?"
Yang memegang cambuk itu pegawai
Novel ini biasa dibaca sebagai perlawanan terhadap penjajahan, dan memang begitu. Saya membacanya sedikit lebih sempit, sebagai daftar rinci tentang cara pemerintahan tidak langsung dijalankan di lapangan.
Belanda hampir tidak perlu hadir. Yang berhadapan langsung dengan orang kampung tetap orang setempat, dan yang memutuskan tetap surat dari atas.
Adrian Vickers menaruh keterangannya dalam satu kalimat: kebijakan itu mengubah raja, bupati, dan bangsawan jadi pegawai negeri, lalu satu kata dipakai untuk dua-duanya, priyayi, sampai arti bangsawan dan arti pegawai sama-sama kabur. Catatannya ada di A History of Modern Indonesia. Di buku yang sama tercatat seorang bupati Jawa Tengah yang ketahuan memeras kepala desa, membuat pinjaman palsu kepada pedagang, dan memakai kas masjid.
Kapan susunan itu mengeras, Peter Carey yang menghitungnya. Sampai akhir abad kedelapan belas raja-raja Jawa masih berdaulat, dan Batavia bahkan sempat dua kali meminta bantuan pasukan kepada mereka. Peralihan ke penjajahan yang sesungguhnya baru mulai di bawah Daendels sejak 1808 dan tuntas oleh Perang Jawa. Catatannya ada di Kuasa Ramalan.
Minke lahir jauh sesudah semuanya selesai. Yang ia hadapi di pendopo cuma sisa yang sudah membatu: kedudukan Jawa yang isinya jabatan kolonial, dijalankan dengan tata cara Jawa, dan dengan cambuk yang dipegang tangan Jawa.
Jadi yang dilihat pembaca di situ bukan kekejaman satu orang. Itu satu jabatan sedang dijalankan menurut aturannya, dan yang menyusun aturannya tidak perlu ada di ruangan.
Sanikem seharga dua puluh lima gulden
Satu tingkat di bawah jabatan itu, semuanya diputuskan di atas kertas.
Nyai Ontosoroh punya nama sebelum jadi Nyai. Sanikem, anak seorang jurutulis.
"Sampul itu berisikan uang dua puluh lima gulden, penyerahan diriku kepadanya, dan janji Ayah akan diangkat jadi kassier setelah lulus dalam pemagangan selama dua tahun."
Perhatikan harganya. Bukan cuma dua puluh lima gulden, tapi satu kenaikan pangkat di kantor tempat ayahnya sendiri menulis surat-surat orang lain.
Sisanya mengikuti bentuk yang sama. Annelies punya ayah yang masih hidup dan tinggal serumah, dan secara hukum tidak punya ayah. Nyai membangun perusahaan yang menghidupi semua orang di situ, dan secara hukum tidak memiliki sepetak pun. Jan Dapperste dipungut sejak kecil oleh keluarga pendeta yang bertahun-tahun mengurus pengangkatan resmi lewat pengadilan dan tidak pernah berhasil, karena hukum perdata Belanda waktu itu tidak mengenal adopsi. Namanya nyata cuma karena orang memakainya. Hukum tidak mengakuinya.
Tidak ada yang butuh tokoh jahat di sini. Yang dibutuhkan cuma kantor pencatatan yang rajin. James C. Scott menamai kemampuan negara membaca warganya itu keterbacaan, dan catatannya ada di Seeing Like a State. Alat itu sendiri tidak salah. Tanpa pencatatan tidak ada akta, tidak ada sertifikat, tidak ada daftar anak yang harus diimunisasi. Di Hindia Belanda bedanya cuma satu: kolomnya sudah diisi sebelum orangnya lahir.
Bentuk itu juga tidak ikut merdeka. Leila Chudori menulis satu novel penuh tentang tiga huruf di kartu tanda penduduk yang menentukan orangnya boleh kerja di mana dan harus lapor ke siapa, dan catatannya ada di Pulang.
Versi hari ini lebih sunyi. Anak yang tidak bisa mendaftar sekolah karena aktanya belum keluar. Orang yang sudah lima belas tahun bekerja tanpa selembar pun surat perjanjian. Bantuan yang batal turun karena nomor induk kependudukannya tidak padan dengan kartu keluarga. Tanah yang digarap turun-temurun sampai muncul sertifikat atas nama orang yang belum pernah menginjaknya.
Orangnya benar-benar ada, suratnya bilang lain, dan yang menang suratnya.
Paruh keduanya kehilangan kesabaran
Minke tidak gampang disukai sampai halaman terakhir. Ia besar kepala, bangga pada sekolahnya, dan memperlakukan ketertarikannya pada Annelies seolah itu bentuk keberanian moral. Pramoedya tahu itu dan membiarkannya kelihatan, tapi novelnya tetap bertumpu pada Minke lebih berat daripada yang sanggup ia pikul.
Annelies sendiri lebih mirip alat cerita daripada orang. Ia digambarkan hampir seluruhnya lewat kecantikan dan kerapuhan, dan hampir tidak diberi keinginan sendiri. Pusat gravitasi buku ini ibunya, dan itu ketahuan dari satu hal: riwayat hidup yang diceritakan panjang lebar di dalamnya cuma riwayat Nyai.
Menjelang akhir, Pramoedya lebih banyak menerangkan daripada bercerita. Persidangannya berubah jadi mimbar, dan pidato yang keluar dari mulut beberapa tokoh sudah tidak berbeda satu sama lain. Yang mau ia sampaikan memang perlu disampaikan, tapi kesabaran yang membuat paruh pertamanya begitu bagus sudah banyak berkurang.
Novel ini diagungkan orang, dan bagian itu jarang disebut.
Dari daftar yang satu ke daftar yang lain
Buku ini dilarang beredar pada 1981, dan yang beredar sesudahnya fotokopian.
Pada 2024 Kementerian Pendidikan meluncurkan program Sastra Masuk Kurikulum, dan Bumi Manusia masuk ke dalam daftar seratus tujuh puluh tujuh judul yang dianjurkan dibaca di sekolah. Februari 2025 seratus tahun kelahiran Pramoedya diperingati di Taman Ismail Marzuki.
Kelihatannya perkaranya selesai, dan sebagian memang selesai. Anak sekarang bisa membelinya di toko buku tanpa ada yang perlu disembunyikan, dan itu bukan hal kecil buat orang yang dulu membacanya sambil menutupi sampulnya.
Yang tidak ikut berganti daftarnya. Dulu ada kantor yang menyusun daftar buku yang tidak boleh dibaca, sekarang ada kantor yang menyusun daftar buku yang dianjurkan dibaca. Kantornya berbeda dan niatnya berbeda jauh. Bentuk pekerjaannya sama: sebuah kementerian memutuskan judul mana yang pantas sampai ke anak orang.
Pramoedya sendiri menulis novel ini tentang mesin yang persis begitu. Yang menang di dalamnya bukan orang yang paling benar, tapi orang yang suratnya paling rapi dan datang dari kantor yang paling tinggi. Kali ini suratnya berpihak kepadanya.
Ada satu catatan lagi yang tidak enak. Sebuah tulisan waktu seratus tahunnya kemarin menyebut novel ini bacaan wajib di sejumlah kampus Amerika, sementara di sini ia masuk daftar anjuran. Anjuran itu boleh tidak diambil, dan saya belum tahu berapa banyak sekolah yang mengambilnya.
Pramoedya menyusun buku ini tanpa kertas, sebagai cerita yang dituturkan berulang-ulang kepada sesama tahanan di Pulau Buru.
Sesudah tahu itu, pengulangan di dalamnya terbaca lain. Bukan karena penulisnya kehabisan bahan, tapi karena begitulah bentuk cerita yang harus sanggup hidup di ingatan orang lain.
Kalau novel ini harus diringkas jadi satu adegan, buat saya adegannya di pendopo. Seorang anak muda yang baru saja belajar soal hak perseorangan, mengangkat sembah kepada ayahnya yang memegang cambuk atas nama sebuah jabatan, dan menyumpah di dalam hati sambil melakukannya.
Cambuknya sudah lama tidak ada. Kantornya masih. Dan rasa sungkan yang membuat tangan Minke naik sebelum kepalanya sempat menolak belum ada yang mencabutnya, saya termasuk.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Novel, dan jilid pertama dari empat yang biasa disebut satu rangkaian. Jadi bukunya memang tidak selesai di halaman terakhir, dan itu memang bentuknya, bukan kekurangannya.
Diceritakan orang pertama oleh seorang pemuda pribumi yang bersekolah di sekolah Belanda pada awal abad kedua puluh. Karena penceritanya dia, seluruh dunia di buku ini terlihat lewat matanya, termasuk hal yang tidak sepenuhnya ia mengerti waktu menceritakannya.
Naskahnya sendiri punya riwayat yang jadi bagian dari isinya: disusun Pramoedya waktu ditahan di Pulau Buru, mula-mula diceritakan lisan kepada sesama tahanan sebelum sempat ditulis, lalu ditulis, lalu setelah terbit dilarang beredar selama puluhan tahun.
Jalan ceritanya
Tiga hal berjalan bersamaan, dan bagusnya novel ini terletak pada bagaimana ketiganya saling mengunci.
Yang pertama, seorang pemuda yang tumbuh di antara dua dunia: sekolahnya berbahasa Belanda dan mengajarinya menghormati kemajuan, sementara asal-usulnya menempatkannya di golongan yang tidak diakui hukum yang sama.
Yang kedua, sebuah keluarga di sebuah perusahaan pertanian: seorang perempuan pribumi yang dijual keluarganya kepada seorang Belanda, yang kemudian mengurus seluruh perusahaan itu sendirian, dan yang menurut hukum tidak punya hak apa pun atas apa yang ia bangun maupun atas anaknya sendiri.
Yang ketiga, hukum kolonial itu sendiri, yang di paruh belakang berhenti jadi latar dan mulai jadi lawan. Bagian akhirnya sebuah perkara di pengadilan, dan itu bagian yang paling menentukan seluruh novel.
Yang jadi jantungnya
- Bagian-bagian yang menceritakan perempuan pemilik perusahaan itu, dari mana ia berasal dan bagaimana ia sampai di situ. Kalau cuma satu jalur yang sempat diikuti, ambil yang ini.
- Bagian akhir, yaitu perkara di pengadilan. Di situ terlihat bahwa yang mengalahkan mereka hukum yang bekerja persis seperti seharusnya, bukan kejahatan seseorang.
- Bagian tentang sekolah dan koran, karena di situ terlihat dari mana pergerakan kebangsaan nanti datang: dari orang yang diajari membaca oleh yang menjajahnya.
Yang boleh dibaca cepat
- Bagian-bagian percintaan di tengah, yang porsinya besar dan yang paling banyak berulang.
- Bagian-bagian yang berisi perdebatan panjang tentang kemajuan dan ilmu, meski di situ juga letak sebagian gagasannya.
Satu hal yang cuma bisa dilihat dalam bahasa aslinya
Novel ini ditulis dalam bahasa Indonesia, dan itu memberi pembacanya di sini sesuatu yang tidak dimiliki pembaca terjemahan.
Perhatikan kata ganti yang dipakai tokohnya untuk menyebut dirinya sendiri. Kata gantinya berganti menurut siapa yang diajak bicara: satu bentuk yang merendah waktu berhadapan dengan orang Belanda atau dengan priayi, satu bentuk yang setara waktu berhadapan dengan orang yang ia anggap sederajat. Tingkatan itu terpasang di dalam bahasanya sendiri, dan berganti-gantinya itu bagian dari ceritanya, bukan gaya bahasa.
Bagian yang perlu diketahui
Novel ini sering dibaca sebagai novel perlawanan, dan itu tidak salah. Yang gampang terlewat, sebagian besar isinya justru pengakuan, bukan perlawanan: tokohnya mengagumi hal-hal yang dibawa orang yang menjajahnya, dan kekagumannya tulus. Ketegangan itu yang membuat novel ini bertahan, dan menghapus salah satu sisinya membuatnya jadi selebaran.
Ingat juga bahwa ini jilid pertama. Beberapa hal yang terasa menggantung di akhir memang sengaja digantung, dan dijawab di jilid-jilid berikutnya.
Kalau buru-buru
Novel ini tidak muat dalam satu malam dan sebaiknya tidak dipotong. Tapi kalau memang harus dipilih, bagian yang menceritakan asal-usul perempuan pemilik perusahaan itu dan bagian perkara di pengadilan bisa dibaca lebih dulu, dan dua bagian itu sudah memuat hampir seluruh yang membuat novel ini penting: bagaimana seseorang bisa membangun segalanya dan tetap tidak punya hak apa pun atasnya, karena hukum memang disusun begitu.