Mengutamakan keluarga itu bawaan; negara yang tidak pandang bulu itu bikinan, dan barang bikinan minta dirawat.

Pertanyaan yang jadi buku ini datang ke Fukuyama di pesawat. Dua jam dari Port Moresby ke Brisbane, dan dalam dua jam itu, tulisnya, orang melintasi beberapa ribu tahun perkembangan politik.

Di Melanesia, orang besar membagikan rezeki kepada kerabatnya. Itu memang pekerjaan orang besar sejak dulu. Yang berubah cuma barangnya: dulu babi dan uang kerang, sekarang hasil konsesi tambang dan kayu.

Lalu datang pikirannya yang kedua, dan pikiran itu yang bikin bukunya jadi. Keliru kalau masyarakat modern dikira sudah jauh melewati Melanesia, sebab politikus yang membagikan rezeki kepada kerabat dan pendukungnya ada di mana-mana, termasuk di Kongres Amerika (hal 14).

Saya tidak perlu naik pesawat untuk melihat dua ujung itu. Cukup satu musim pilkada.

Tiga hal yang harus ada bersamaan

Tatanan politik, menurut Fukuyama, butuh tiga hal, dan sulitnya karena ketiganya harus ada berbarengan. Negara yang cukup kuat memaksakan keputusannya di seluruh wilayah. Hukum yang mengikat penguasa, bukan cuma yang diperintah. Dan cara bagi yang diperintah untuk mencopot yang memerintah.

Ketiganya berkali-kali dicapai sendiri-sendiri. Cina punya birokrasi yang tidak pandang bulu sejak 221 SM, seribu tahun lebih dulu daripada Eropa, dan tidak pernah punya dua yang lain. India lebih dulu punya hukum berdasar agama yang mengikat rajanya, jauh sebelum punya negara yang kuat, dan negaranya tetap lemah sampai Inggris datang.

Yang jarang dikutip dari buku ini justru satu kalimat di halaman 19:

"The mere fact that a country has democratic institutions tells us very little about whether it is well or badly governed."

Bahwa sebuah negeri punya lembaga demokratis hampir tidak memberi tahu apa-apa soal negeri itu diperintah dengan baik atau buruk.

Buat saya itu kalimat yang paling boleh dipegang dari seluruh bukunya. Negara itu alat, dan alat dinilai dari hasilnya, bukan dari bentuknya.

Anak-anak yang diambil dari desanya

Bab terbaiknya soal bagaimana beberapa masyarakat berhasil keluar dari pemerintahan berdasar kekerabatan, dan jawaban Utsmani yang paling mencengangkan.

Kira-kira tiap empat tahun, petugas menyebar ke wilayah Balkan mencari anak laki-laki Kristen berumur dua belas sampai dua puluh tahun. Fukuyama menyamakan mereka dengan pemandu bakat sepak bola: terlatih menilai badan dan kepala seorang anak sekali lihat, masing-masing memegang kuota yang ditetapkan dari Istanbul. Anak yang paling menjanjikan dibawa dalam rombongan seratus sampai seratus lima puluh, namanya dicatat dua kali, waktu diambil dan waktu tiba, supaya orang tua tidak bisa menebus di tengah jalan. Kira-kira tiga ribu anak setahun (hal 234).

Sepuluh persen teratas dididik di istana, dan sebagian sampai jadi wazir agung. Menurut hukum mereka budak, dan justru itu maksudnya. Anak yang diambil dari desanya pada umur dua belas tidak punya saudara untuk dititipi jabatan, tidak punya tanah warisan, dan tidak punya siapa-siapa untuk diwarisi. Anak perempuan tidak kena pungutan itu; mereka dibeli di pasar budak dari perompak Balkan dan Rusia selatan, lalu jadi istri dan selir pejabat tinggi. Fukuyama menyambungkannya dengan penjaga negara dalam Republik Plato, yang juga tidak boleh punya keluarga, dengan alasan yang sama persis (hal 246).

Yang mengagumi kecerdikannya biasanya berhenti sebelum kalimat ini:

"...the official would return to Istanbul with his captives and the families would never see their children again."

Petugas itu pulang ke Istanbul membawa tangkapannya, dan keluarganya tidak akan pernah melihat anak-anak itu lagi.

Kekerabatan melindungi dan membebani lewat orang yang sama, dan dua-duanya tidak bisa dipisah. Utsmani tahu itu, lalu memotong keduanya sekaligus, pada anak orang lain. Negara yang tidak pandang bulu memang bisa dibangun. Bukunya cukup terus terang soal siapa yang membayar.

Kata yang muncul tiap tahun di koran kita

Sumbangan paling berharga buku ini satu gagasan: kemunduran politik itu bukan runtuh, tapi kembali. Fukuyama menamainya repatrimonialization, kembalinya urusan negara jadi urusan keluarga (hal 107), dan di halaman 535 ia menerangkan kenapa tarikannya tidak pernah habis:

"The favoring of family or friends with whom one has exchanged reciprocal favors is a natural form of sociability and is a default manner of human interaction."

Mengutamakan keluarga dan kawan yang pernah saling berbalas budi itu bentuk pergaulan yang alami, dan cara bawaan manusia berhubungan.

Jadi yang bikinan bukan nepotismenya. Yang bikinan justru lembaga yang tidak pandang bulu, dan barang bikinan minta dirawat.

Kita punya kata sendiri untuk gejala ini, dan kata itu muncul tiap musim pemilihan: dinasti politik. Bupati selesai dua periode, lalu istrinya yang maju, atau anaknya, atau adiknya. Tidak ada aturan yang dilanggar. Pemilihannya sungguhan, suaranya sungguhan, dan sering menang telak.

Pemilihnya juga bukan orang bodoh. Buat orang yang tinggal di kabupaten itu, kenal dengan keluarga yang berkuasa sering satu-satunya jalan yang benar-benar bisa dipakai kalau ada urusan. Yang mereka pilih pintu yang mereka tahu bisa diketuk. Selama pintu resminya tidak bisa diketuk, pintu keluarga akan selalu menang, dan Fukuyama sudah menerangkan kenapa: yang satu bawaan, yang satu bikinan.

Lengkap sampai desa, di atas kertas

Fukuyama menyebut Indonesia lima kali, semuanya sekilas: kesulitan membangun negara di Papua (hal 11), oligarki keuangan yang disandingkan dengan Amerika (hal 24), transisi otoriter bersama Turki, Korea Selatan, dan Taiwan (hal 543), pertumbuhan di bawah Suharto (hal 556), dan kediktatoran yang goyah sesudah krisis 1997–1998 (hal 559). Wajar, bukunya berhenti di ambang Revolusi Prancis.

Jadi ini bacaan saya sendiri atas kasus kita, dengan alat dari bukunya.

Tiga syaratnya ada semua, dan ada sampai ke desa. Ada negara dengan kantor di tiap kecamatan, ada undang-undang yang mengikat presiden, ada pemilihan yang bisa mencopot siapa saja. Di kertas kita lengkap. Yang sering kosong isinya: kantor yang buka tapi urusannya selesai lewat orang dalam, aturan yang berlakunya bergantung siapa yang ditegur, pemilihan yang mencopot orang tapi tidak mencopot keluarganya.

Kerangka Fukuyama menerangkan ini lebih tepat daripada kata korupsi. Yang terjadi bukan negara yang mundur dari keadaan yang pernah baik. Bentuk modernnya dipasang belakangan di atas isi yang tidak pernah diganti, dan asal pemasangan itu pemerintahan tidak langsung zaman Belanda: administrasi modern di atas, bupati dan kepala desa yang memerintah dengan cara lama di bawah. Cerita itu ada di The Narrow Corridor, dan buku ini memberi kata untuk hasilnya. Menurut ukuran Fukuyama kita bahkan tidak sedang mengalami kembalinya urusan keluarga, sebab belum pernah ada masa lembaganya benar-benar lepas dari keluarga lebih dulu.

Ada satu kalimat Fukuyama soal India yang juga kena ke sini. Di halaman 231 ia menulis, justru tirani sepupu yang memungkinkan orang India menolak tirani tiran: masyarakat yang kuat di bawah mengimbangi negara yang kuat di atas. Kekerabatan yang mengisi kantor-kantor kita itu juga yang menampung orang waktu negaranya tidak datang. Dua sisi itu satu barang, dan tidak bisa dipilih salah satu.

Yang bisa lari, dan yang tidak

Bagian tentang lahirnya negara pertama lebih hati-hati daripada judulnya. Fukuyama mengakui para ahli cuma bisa menduga, lalu menjejerkan lima keterangan: kontrak sosial, irigasi, tekanan penduduk, perang, dan yang terakhir circumscription, keadaan terkurung (hal 108). Yang terakhir dari Robert Carneiro: negara cuma bisa lahir di tempat yang orangnya tidak bisa ke mana-mana.

"In uncircumscribed, low-population-density situations, weaker tribes or individuals can simply run away."

Di tempat yang tidak terkurung dan penduduknya jarang, suku atau orang yang lebih lemah tinggal kabur saja (hal 113).

Lalu ada bagian pendek berjudul "States as Organized Criminals" (hal 258), yang meminjam Charles Tilly: penguasa memakai keahliannya mengatur kekerasan untuk memeras yang lain. Fukuyama menyebutnya, lalu meninggalkannya, sebab bukunya lebih tertarik pada bagaimana negara jadi baik daripada bagaimana negara jadi ada. James Scott mengambil dua bahan yang ditinggalkan itu dan menjadikannya satu buku, Against the Grain: negara pertama berdiri di tempat panennya bisa dihitung dan orangnya tidak bisa pergi.

Sampai ke Denmark, dengan cara yang tidak bisa ditiru

Fukuyama memakai istilah dua peneliti Bank Dunia untuk tujuan seluruh bukunya: "getting to Denmark" (hal 30), sampai ke negeri yang tiga syaratnya lengkap dan jalan. Begitu tujuan ditetapkan, sejarah tiap bangsa berubah jadi ukuran seberapa jauh mereka sudah berjalan di satu jalan yang sama.

Di sini saya tidak ikut. Tidak ada arah, yang ada cuma perubahan, dan Denmark sendiri buktinya. Fukuyama menceritakan jalannya di halaman 512 dan 513: absolutisme dibangun pada 1660 sesudah kalah perang dari Swedia, dewannya dibubarkan, lalu Prusia merampas Schleswig dan Holstein pada 1864 dalam perang singkat, dan Denmark yang mengecil sesudah itu yang jadi Denmark. Negeri tujuan itu sampai ke tujuannya lewat dua kekalahan yang tidak direncanakan siapa pun. Itu fortuna, dan fortuna tidak bisa dijadikan peta.

Cakupannya juga lebar sekali, dan Fukuyama mengaku sendiri hampir seluruhnya disusun dari tulisan orang lain, dengan kemungkinan salah fakta dan salah tafsir di sepanjang jalan. India tipis dibanding Cina, bidangnya sendiri. Dan soal gereja Eropa yang mematahkan kekerabatan, Joseph Henrich menuliskannya jauh lebih lengkap di The WEIRDest People in the World.

Penulisnya menjawab sendiri, lima belas tahun kemudian

Pertanyaan di penutup nanti kebetulan dijawab Fukuyama, dan yang ia bedah negerinya sendiri.

Sepanjang 2025 dan 2026 ia berulang kali menyatakan bahwa tatanan bernegara Amerika sedang dibongkar, dan bahwa perimbangan antarlembaga di sana sejauh ini gagal menahan presidennya. Itu kemunduran persis seperti yang ia terangkan di buku ini: lembaganya masih berdiri lengkap, isinya yang berpindah tangan.

Jawaban yang akhirnya ia pegang layak dicatat. Sesudah semua uraian tentang negara, hukum, dan pertanggungjawaban, penahan yang ia sebut paling bisa diandalkan cuma satu, dan bentuknya kecil sekali: pemilihan. Ia menaruh harapannya pada pemilihan sela November 2026, dan menyebut terlalu dini menyerah pada perimbangan yang ada.

Buat saya jawaban itu justru enak karena kecilnya. Orang yang menulis tiga jilid tentang asal-usul tatanan politik, waktu ditanya apa yang menahan kemunduran, tidak menyebut budaya, tidak menyebut nilai, dan tidak menyebut pemimpin yang baik. Yang ia sebut hari waktu jabatan bisa dicabut orang banyak.

Itu tidak menjawab pertanyaan saya soal ruang rapat, dan memang tidak bisa. Rapat mingguan tidak punya pemilihan.

Sisanya gagasan tentang kemunduran, sebab gagasan itu mencabut satu kenyamanan: anggapan bahwa mutu lembaga itu seperti gerigi yang cuma bisa maju.

Fukuyama menyebut yang menahannya kerja terus-menerus orang yang biasanya tidak dapat pujian apa pun. Saya percaya itu benar, dan bentuk kecilnya gampang ditemui. Sebuah rapat mingguan yang dibuat untuk menagih janji jalan beberapa minggu, lalu kendur jadi rapat laporan, dan tidak ada satu hari pun yang bisa ditunjuk sebagai hari berubahnya.

Kalau tarikan itu jalan di satu ruang rapat dalam hitungan minggu, apa yang bisa menahannya di satu negeri dalam hitungan keturunan, saya belum tahu.

Baca berikutnya