Penawarnya cuma satu kalimat, dan kalimat itu cuma bisa diucapkan dari kursi yang lebih tinggi.

Berne memberi batasan yang ketat untuk kata yang kemudian terjual jutaan eksemplar:

"A game is an ongoing series of complementary ulterior transactions progressing to a well-defined, predictable outcome."

Permainan itu rangkaian tukar-menukar yang saling melengkapi, punya maksud tersembunyi, dan bergerak menuju hasil akhir yang sudah jelas dan bisa ditebak.

Tiga syarat, dan ketiganya harus ada: berulang, maksudnya tidak diucapkan, dan ujungnya sudah diketahui dua-duanya. Kalau salah satu tidak ada, itu bukan permainan. Itu basa-basi, atau ritual, atau memang cuma percakapan yang buruk.

Buku ini terbit 1964, lahir dari catatan klinis, dan sampai hari ini dibaca orang sebagai buku panduan. Saya membacanya begitu juga, dengan ukuran buku panduan: dari sekian puluh permainan yang didaftar, berapa resep yang masih kepakai enam bulan kemudian, dan berapa yang bisa dijalankan orang yang jam kerjanya bukan miliknya sendiri. Berne sendiri menaruh peringatan yang jarang dikutip: pengertian yang memadai atas sebuah permainan cuma bisa didapat di ruang terapi. Buku panduan yang mengaku tidak bisa dijalankan tanpa terapis, lalu laku jutaan sebagai buku panduan. Tegangan itu yang jadi bahan catatan ini.

Iya, tapi

"Kenapa Tidak Begini, Iya Tapi" contoh yang bikin bukunya terkenal, dan Berne menyebutnya permainan yang paling sering dijalankan orang sedunia, di pertemuan sosial, rapat panitia, dan kelompok terapi (hal 55). Ini juga permainan pertama yang ia bedah, asal mula seluruh gagasannya (hal 108).

Ada orang menyodorkan masalah. Ada yang menawarkan jalan keluar. Ditolak dengan alasan yang masuk akal. Ditawarkan lagi, ditolak lagi. Akhirnya para penolong kehabisan usul dan diam. Hasil akhirnya bukan jalan keluar, karena jalan keluar memang tidak pernah dicari. Hasil akhirnya bukti bahwa masalahnya tidak ada obatnya, dan orang yang menyandangnya bukan orang yang gagal.

Yang lebih tajam, penolongnya juga sedang bermain. Berne menamai permainan mereka "Saya Cuma Mau Menolong", dan menyebut "Iya Tapi" sebagai kebalikannya persis: di ruang terapi satu terapis banyak pasien, di sini satu pasien banyak terapis (hal 113).

Grup WhatsApp mana pun yang isinya teman lama punya satu orang yang mengeluh soal kerjaannya tiap beberapa minggu. Tiap kali ada yang mengusulkan sesuatu, dan tiap kali ada alasannya kenapa tidak bisa. Sesudah beberapa tahun semua orang hafal urutannya, dan tetap dijalankan sampai habis.

Di sini Berne memberi resep pertama, dan ini yang paling kepakai dari seluruh bukunya. Penawarnya bukan usul yang lebih bagus. Penawarnya berhenti menolong:

"That is a difficult problem. What are you going to do about it?"

Itu soal yang berat. Kamu sendiri mau berbuat apa?

Kalau bentuknya "si A tidak jalan", jawabannya cukup "sayang sekali" (hal 113). Dua-duanya sopan, dan dua-duanya membuat permainannya kehilangan lawan main. Adam Grant sampai ke cara yang sama dari arah lain, lewat wawancara motivasional, dan menguraikannya lebih panjang di Think Again.

Daftar keberatan yang tidak pernah habis

Batasan yang dipasang Berne di awal justru paling berguna waktu dipakai untuk menolak menyebut sesuatu permainan.

Minggu pertama keluhannya soal tanggal yang kebalik, hari ditaruh di tempat bulan. Dibetulkan hari itu juga. Minggu kedua soal urutan kolomnya yang tidak sama dengan buku besar. Dibetulkan lagi. Minggu ketiga soal hasil cetaknya yang jadi dua lembar, padahal yang lama muat satu lembar.

Tiga-tiganya benar, dan tiga-tiganya saya betulkan. Minggu keempat datang yang keempat.

Gampang sekali membaca deretan itu sebagai Iya Tapi yang dibalik. Yang menawarkan jalan keluar orangnya sama terus, yang menolak sama terus, dan sesudah beberapa putaran semua orang di ruangan hafal ujungnya.

Diadu ke tiga syarat Berne, bacaan itu tidak lolos. Berulang, iya. Ujungnya sudah sama-sama diketahui, mungkin. Maksud yang tidak diucapkan, hampir tidak pernah ada. Tidak ada yang perlu disembunyikan: orangnya tidak mau cara kerjanya berubah, dan itu keberatan biasa.

Menyebutnya permainan malah bikin perkaranya lebih susah. Permainan menuntut penawar. Keberatan menuntut jawaban.

Cara memisahkannya murah. Betulkan cacat yang disebut, lalu tunggu satu minggu. Kalau keluhannya berhenti di situ, memang cacat itu perkaranya. Kalau yang datang keluhan baru yang bentuknya sama dan letaknya pindah, yang diributkan bukan cacatnya. Yang diributkan cara kerja yang berubah, dan cacat cuma alasan yang paling sopan untuk menyebutnya.

Bedanya menentukan siapa yang harus mengerjakan apa. Cacat dibereskan yang membuat alatnya. Cara kerja yang berubah tidak bisa dibereskan sendirian, dan menambal cacat berikutnya cuma menunda perundingan yang memang harus terjadi.

Tiga derajat, dan berapa sapaan yang terutang

Resep kedua Berne alat pemilah. Permainan tingkat pertama diterima di lingkungan pemainnya. Tingkat kedua tidak meninggalkan kerusakan tetap, tapi pemainnya lebih suka menyembunyikannya. Tingkat ketiga dimainkan sungguh-sungguh, dan berakhir di meja bedah, di ruang sidang, atau di kamar mayat (hal 61). Berne juga terang: kalau permainannya ramah dan tidak merugikan, tidak ada alasan untuk tidak ikut (hal 113).

Ini yang menyelamatkan bukunya dari jadi alat curiga. Sebagian besar yang berjalan di kantor dan di ruang tamu tingkat pertama, dan Berne tidak menyuruh menghentikannya. Ia menulis alasannya di bab awal, dalam satu kalimat yang sengaja dibikin kasar: kalau kamu tidak dibelai, sumsum tulang belakangmu mengerut (hal 15). Manusia butuh diakui, dan sapaan itu pembukuannya. Dua kenalan yang berpapasan saling berutang tepat empat sapaan tiap kali (hal 37): halo, apa kabar, baik, sampai nanti. Kurang dari itu ada yang tersinggung. Lebih dari itu ada yang curiga.

Pertanyaan Lebaran, "kapan nikah", "kapan nyusul", dibaca dengan pembukuan itu jadi lain. Pertanyaannya tidak pernah mengharapkan jawaban, dan yang ditanya tahu itu. Yang sedang dibayar jumlah sapaan yang terutang antara dua orang yang setahun tidak bertemu, berikut urutan siapa sudah sampai di tahap mana. Itu ritual, bukan permainan, dan menyebutnya permainan justru salah pakai istilah Berne. Baru jadi permainan kalau ujungnya sudah diatur: kalau pertanyaan itu disiapkan supaya jawaban apa pun disusul pertanyaan berikut dari daftar yang sama, sampai yang ditanya kehabisan.

Lihat sudah sekeras apa saya berusaha

"Lihat Sudah Sekeras Apa Saya Berusaha" mengubah usaha jadi benteng yang selamat apa pun hasilnya. Tesisnya, kata Berne: mereka tidak bisa mendorong-dorong saya. Tujuannya: pembenaran (hal 101). Potret paling pendeknya ada di bagian belakang buku, tentang orang yang terlambat ke kantor dan sengaja tiba dengan napas terengah (hal 171).

Rapat penagihan janji mingguan yang pernah saya jalankan pelan-pelan jadi ini. Beberapa minggu pertama isinya janji dan tagihan. Sesudah itu tiap orang datang membawa keterangan tentang usahanya, dan yang menagih ikut bermain: tiap minggu jadi orang yang menagih, sampai tidak ada lagi yang benar-benar ditagih. Rapatnya masih ada. Namanya berganti jadi rapat laporan, dan semua orang lega.

Saudaranya "Kaki Kayu": apa yang kamu harapkan dari orang yang keadaannya seperti saya (hal 151). Di sini bentuknya sudah jadi kalimat sehari-hari, "namanya juga", disusul apa saja: orang daerah, anak baru, sistemnya memang begitu. Sekali kalimat itu diterima, tidak ada lagi yang bisa diminta.

Yang membantah datang dari Berne sendiri, dan ini adil: orang yang keadaannya memang berat dan tetap memikul tanggung jawabnya berhak atas sedikit pamer (hal 100). Tidak semua "lihat sudah sekeras apa saya berusaha" permainan. Sebagian memang laporan.

Resep yang cuma jalan dari kursi yang lebih tinggi

Ujian keduanya lebih berat. Seluruh penawar Berne satu bentuk: menolak ikut bermain, atau memotong bayarannya (hal 50). Itu mengandaikan orang yang menolak memang bebas menolak.

Terapis bebas. Teman sebaya bebas. Bawahan tidak. Kalau yang membawa masalah ke meja itu atasan, lalu menolak tiap jalan keluar yang disodorkan, jawaban "Bapak sendiri mau berbuat apa?" bukan penawar. Itu surat pengunduran diri. Menawarkan jalan keluar yang sudah tahu akan ditolak bagian dari pekerjaan, dan semua orang di ruangan tahu.

Berne mencatat ini di satu tempat saja, soal permainan "Pemabuk", waktu ia mengaku penawarnya sulit dijalankan karena orang yang menolak semua peran itu akan membangkitkan rasa tidak suka di sekelilingnya (hal 73). Ia menulis untuk masyarakat yang menganggap bicara terus terang itu bisa dan pantas. Di banyak rumah dan kantor di sini, jalan memutar itu satu-satunya jalan yang tersedia. Menyebut masalah dengan namanya di depan orang yang lebih tua bisa memutus hubungan yang harus bertahan puluhan tahun. Sebagian dari yang Berne sebut permainan sebenarnya alat: cara menyampaikan yang tidak boleh disebut tanpa ada yang kehilangan muka. Ongkosnya ada. Tapi bukan ongkos yang ia bayangkan, dan penawarnya bukan yang ia sediakan.

Yang ia takutkan sendiri, dan yang terjadi

Analisis transaksional tidak pernah dibuktikan dengan cara ilmu biasa dan sekarang nyaris hilang dari praktik klinis. Tiga kedudukan itu, Orang Tua, Orang Dewasa, Anak, dinyatakan, tidak ditunjukkan, dan batasnya bergeser tergantung bab. Daftar permainannya tidak bisa dibantah: percakapan apa pun bisa diberi nama sesudah kejadian, dan tidak satu pun bisa dibuktikan bukan permainan.

Berne melihat bahaya lain, dan menulisnya di halaman 66: supaya gagasan permainan tidak jadi murahan seperti begitu banyak istilah psikiatri, ia tegaskan itu gagasan yang sangat tepat batasnya. Satu halaman kemudian ia membela nama-nama kasarnya, sebab lebih tepat daripada bahasa ilmiah (hal 67). Dua keinginan itu tidak bisa dipegang bersamaan. Nama yang enak diucapkan yang menjual bukunya, dan nama yang enak diucapkan juga yang membuat istilahnya jadi milik semua orang di meja makan: jauh lebih gampang diarahkan ke luar daripada ke dalam. Pembaca selesai membaca sanggup menempelkan nama permainan ke semua orang, dan tidak bertambah sedikit pun kemampuannya melihat dirinya sendiri. Kenapa motif paling gampang disembunyikan justru dari pemiliknya, keterangannya ada di The Elephant in the Brain: bagian kepala yang menyusun alasan resmi memang yang paling telat dikabari.

Bab penutupnya, "Sesudah Permainan, Apa?", dibuka dengan kalimat paling gelap di seluruh buku:

"...human life is mainly a process of filling in time until the arrival of death, or Santa Claus, with very little choice, if any, of what kind of business one is going to transact during the long wait..."

Hidup manusia sebagian besar cuma mengisi waktu sampai kematian datang, atau Sinterklas, hampir tanpa pilihan soal urusan apa yang mau dikerjakan selama menunggu.

Jalan keluarnya ia sebut otonomi: sadar, spontan, dan akrab (hal 170). Tiga kata yang bagus, dan itu bagian bukunya yang paling tipis, sebab tidak ada satu pun resep untuk sampai ke sana selain berhenti bermain.

Jadi dari buku setebal ini yang saya bawa dua. Satu ukuran untuk mengenali: kalau sebuah percakapan selalu berakhir di tempat yang sama persis, ujung itu sedang memberi apa, dan kepada siapa. Dan satu kalimat penawar, yang cuma bisa dipakai kalau kursinya memungkinkan. Kadang jawabannya tidak ada, dan memang cuma percakapan yang buruk. Cukup sering, bukan.

Bagian yang tidak bisa dibaca lagi tanpa keterangan tahun

Buku ini terbit 1964, dan sebagian isinya perlu diberi tanggal sebelum dibaca.

Berne menaruh beberapa permainan yang pemainnya perempuan dengan nada yang hari ini terbaca sebagai memandang rendah, dan ia memasukkan hubungan sesama jenis ke dalam daftar hal yang perlu ditangani. Yang terakhir itu bukan pendapat pribadinya saja. Waktu ia menulis, panduan resmi penyakit jiwa di negerinya memang menggolongkannya begitu, dan baru dicabut sembilan tahun kemudian.

Saya menyebutnya bukan untuk menghakimi orang yang sudah mati. Yang menarik justru bahwa bukunya sendiri menyediakan alat untuk membaca perkara itu.

Seluruh isi buku ini soal susunan yang dijalankan orang tanpa sadar, yang terasa wajar dari dalam, dan yang baru kelihatan bentuknya kalau ada yang menamainya dari luar. Golongan resmi yang dipakai Berne persis begitu. Ia memakainya seperti orang memakai keterangan cuaca, tanpa merasa sedang mengambil sikap apa pun.

Jadi hal yang paling menerangkan dari buku ini kebetulan hal yang tidak ia tulis. Orang yang paling terlatih mengenali permainan yang dijalankan orang lain tetap tidak melihat papan yang sedang ia duduki sendiri.

Baca berikutnya