Judulnya sudah seluruh isinya. Gajah itu alasan yang berdiri di tengah ruangan, kelihatan semua orang, dan justru karena itu tidak pernah disebut. Kata dua penulisnya, gajah itu tidak cuma ada di percakapan. Gajah yang sama ada di dalam kepala kita sendiri, dan pemilik kepalanya orang terakhir yang diberi tahu.
Cara kerja mereka begini. Ambil satu kelakuan yang semua orang setuju penting. Perhatikan bahwa alasan yang diucapkan orang tidak cocok dengan cara mereka benar-benar berbuat. Lalu tanyakan alasan seperti apa yang cocok.
Itu cara yang sudah lama saya pakai untuk membaca buku apa pun, jadi yang diuji di sini bukan caranya. Yang diuji sampai mana cara itu boleh dibawa sebelum jadi senjata makan tuan.
Juru bicara yang paling telat dikabari
Bukunya bersandar pada satu kalimat Robert Trivers, ahli biologi evolusi, yang dikutip berulang-ulang:
"We deceive ourselves the better to deceive others."
Kita menipu diri sendiri supaya lebih pandai menipu orang lain.
Dasarnya bukan moral. Pembohong yang tahu dirinya berbohong bocor di suatu tempat: di mata, di jeda, di tangan. Orang yang sungguh percaya pada ceritanya sendiri tidak bocor sama sekali. Jadi bagian kepala yang bertugas menerangkan tindakan kita ke orang lain justru paling berguna kalau tidak tahu apa-apa. Simler dan Hanson, meminjam dari Dennett, Haidt, dan Kurzban, menamai bagian itu Juru Bicara (Press Secretary, hal 110): modul yang menyusun alasan resmi, dan apa yang tidak diketahuinya tidak bisa terlepas ke wartawan. Di halaman 92 kesimpulannya ditarik sampai habis: kita, manusia, harus menipu diri. Yang menolak ikut akan kalah dari yang ikut.
Bahasa tubuh mereka pakai sebagai bukti pertama, dan itu pilihan yang cerdik, sebab tidak ada orang yang punya kepentingan di sana. Badan mengirim tanda sepanjang hari, letak tangan, jarak, tawa yang jatuh tepat, dan kita nyaris tidak sadar sedang mengirim apa. Pemain teater dan penyidik polisi bisa belajar membacanya, jadi ini bukan soal mustahil. Yang menerangkannya justru gunanya: bahasa tubuh yang disengaja langsung terbaca palsu. Penjual yang habis membaca buku bahasa tubuh lalu mulai menepuk bahu pelanggannya lebih buruk daripada sebelum membaca. Badan lebih bisa dipercaya daripada mulut persis karena badan ada akibatnya. Yang maju menerjang harus siap berkelahi.
Tanda yang mahal, dan seni yang sengaja tidak berguna
Syarat pokoknya cuma satu: tanda cuma membawa keterangan kalau memalsukannya mahal. Dari situ banyak kelakuan yang kelihatan mubazir jadi masuk akal.
Seni contoh yang paling bersih. Mengikuti Ellen Dissanayake, mereka menyebut seni sebagai apa pun yang dibuat istimewa, untuk diperhatikan, bukan untuk dipakai. Kendi tanah liat bukan seni. Kendi yang sama dengan ukiran yang tidak ada gunanya, itu seni. Tidak bergunanya bukan efek samping. Justru itu yang bikin pertunjukannya berarti. Dan gambar cadas tertua kedua yang mereka sebut ada di Indonesia, umurnya sekitar empat puluh ribu tahun (hal 199); rujukan yang mereka pakai gua di Sulawesi.
Tawa dijelaskan dengan rangka yang sama. Robert Provine menghitung orang tertawa tiga puluh kali lebih sering waktu bersama orang lain daripada waktu sendirian (hal 144). Tawa bukan tanggapan atas lelucon. Tawa tanda ke orang di sekitar bahwa yang barusan terjadi aman. Siapa pun yang pernah duduk di rapat waktu atasan melucu sudah tahu ini, dan sudah tahu tawanya sendiri tidak ada hubungannya dengan lucu.
Percakapan juga. Kalau bicara cuma tukar keterangan, orang mestinya berebut mendengar, bukan berebut bicara. Yang terjadi sebaliknya, dan menurut mereka sebabnya bicara itu memamerkan isi tas: bukan keterangannya yang dijual, tapi bukti bahwa kita bisa mengeluarkan sesuatu yang berguna dari tas itu kapan saja (hal 167). Grup WhatsApp keluarga yang tiap pagi dikirimi tautan yang tidak pernah diminta tidak sedang menyebarkan berita. Yang sedang dikirim isi tas.
Papan nama di dinding masjid
Bab amal yang angkanya paling telak. Orang memberi lebih banyak kalau dilihat. Dua orang yang mengetuk pintu mendapat lebih banyak daripada satu, dan satu orang yang menatap mata mendapat lebih banyak daripada yang tidak (hal 226). Sementara lembaga yang terbukti paling banyak menolong per dolarnya justru sepi: GiveWell menaksir Against Malaria Foundation menyelamatkan satu nyawa dengan sekitar 3.500 dolar (hal 221), dan lembaga seperti itu bukan yang antre didatangi penyumbang.
Ada satu bentuk yang tiap Jumat bisa dilihat orang di sini. Panitia pembangunan memasang papan berisi daftar nama penyumbang beserta jumlahnya. Dibaca dengan kacamata bukunya, papan itu jelas alat pertandaan. Menyumbang diam-diam tidak bisa dipalsukan orang lain, tapi juga tidak bisa dilihat siapa pun. Menyumbang dengan nama di dinding harganya jelas, dan karena itu keterangannya bisa dipercaya.
Tapi orang di sini sudah tahu soal ini jauh sebelum ada teori pertandaan. Perdebatan soal sedekah yang disembunyikan dan yang ditampakkan sudah berumur ratusan tahun, dan dua-duanya punya pembelanya. Yang tersembunyi menjaga niat. Yang tampak mengajak orang lain ikut. Masyarakatnya sudah lama tahu ada dua hal yang jalan bersamaan, dan sudah menyusun aturan main untuk mengurusnya. Buku ini menemukan lagi hal itu dengan istilah baru, lalu menyajikannya seolah baru ketahuan.
Ijazah, resep dokter, dan surat suara
Tiga bab di bagian belakang yang membuat barang sehari-hari kelihatan mesinnya.
Sekolah. Kalau yang dibayar majikan ilmunya, gaji mestinya naik setara tiap tambahan tahun sekolah. Yang terjadi, tahun terakhir yang berbuah ijazah dihargai jauh lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya, dan itu punya nama, efek kulit domba (sheepskin effect, hal 241), dari bahan tempat ijazah dulu dicetak. Yang dibeli majikan bukan yang dipelajari, tapi bukti bahwa orangnya sanggup menuntaskan sesuatu yang membosankan selama bertahun-tahun. Lowongan yang menulis "minimal S1, semua jurusan" sudah mengaku itu dengan terus terang.
Obat. Percobaan acak berskala besar menemukan orang yang diberi layanan kesehatan gratis memakai jauh lebih banyak obat dan tidak jadi lebih sehat (hal 14). Sebutan mereka untuk sisanya: pameran kepedulian. Waktu orang tua sakit, yang ditimbang keluarga besar jarang apakah obatnya tepat. Yang ditimbang apakah anaknya sudah membawanya ke rumah sakit yang mahal.
Suara. Cuma 29 persen orang dewasa Amerika tahu nama wakilnya di parlemen. Ditanya berapa persen anggaran negara yang dipakai untuk bantuan luar negeri, tebakan yang lazim 25 persen; yang pantas menurut mereka 10 persen; angka sebenarnya 0,6 persen (hal 287). Jadi yang dituntut kenaikan lima belas kali lipat, diucapkan sebagai tuntutan pemotongan. Pemilih bertingkah seperti pendukung kesebelasan, bukan seperti orang yang menimbang kesebelasan mana yang pantas menang. Baliho di perempatan sudah mengaku juga. Isinya wajah, warna, dan lambang, bukan yang akan dikerjakan. Yang dikirim pernyataan berada di pihak siapa, ke orang yang sudah sepihak.
Tiga tempat saya berhenti ikut
Sampai di sini saya ikut hampir seluruhnya, dan justru karena itu batasnya perlu ditarik hati-hati.
Yang pertama soal bentuk. Rangkanya nyaris tidak bisa dibantah: alasan apa pun yang diucapkan orang bisa dibaca ulang sebagai kedok, dan tidak ada bukti yang diizinkan menghitung ke arah sebaliknya. Bukunya sendiri mengaku, waktu mau mencari contoh lain, bahwa standar buktinya harus dilonggarkan (hal 118). Alat yang bisa menerangkan semua hal sedang tidak menerangkan apa-apa.
Yang kedua soal nada. Orang bisa benar-benar ikhlas dan sekaligus senang namanya tertulis di dinding. Dua-duanya sungguhan, pada saat yang sama. Bukunya tahu itu, lalu tetap condong ke bacaan yang paling sinis di tiap bab, padahal argumennya sendiri tidak menuntut itu.
Yang ketiga yang paling saya pegang. Kalau Juru Bicara memang selalu orang terakhir yang dikabari, jujur pada diri sendiri soal motif bukan hal yang mustahil. Yang benar, harganya mahal, dan bukunya sendiri membuktikan harga itu bisa dibayar. Di halaman 178 penulisnya menulis tentang buku ini sendiri:
"To put it baldly, we want to impress you; we're seeking prestige."
Terus terang saja, kami ingin membuat kalian terkesan; kami mengejar gengsi.
Kalimat itu tidak membatalkan bukunya. Kalimat itu satu-satunya tempat bukunya lulus dari ujiannya sendiri, dan itu cukup untuk menunjukkan ujiannya bisa dilewati. Bagian kepala yang menyusun alasan resmi memang pengacara, bukan hakim; Haidt menggambarkannya sebagai penunggang di punggung gajah di The Righteous Mind, dan buku ini mengutipnya. Tapi pengacara yang tahu dirinya pengacara sudah setengah jalan.
Kalau namanya dicopot
Ujian itu gampang diucapkan dan mahal dijalankan, jadi lebih baik dicoba di perkara yang sedang berjalan.
Alat yang saya pasang di kantor dipakai orang tiap hari, dan yang datang balik hampir selalu daftar cacatnya. Alasan resmi saya soal itu rapi: alatnya jalan, orang terbantu, dan pendapat orang tentang saya bukan urusan saya.
Alasan resmi itu bocor di satu tempat. Kalau memang begitu, komentar tadi tidak akan terasa apa-apa. Kenyataannya terasa, dan terasanya cukup lama untuk masih bisa dipanggil lagi berbulan-bulan kemudian.
Trivers menerangkan kenapa bagian yang menyusun alasan resmi tadi orang terakhir yang dikabari. Yang tidak disediakan bukunya cara memeriksa diri sendiri dengan alat itu, sebab bukunya jauh lebih tertarik memeriksa orang lain.
Pertanyaannya bisa disusun sendiri, dan bentuk yang paling murah begini. Kalau alat itu tetap jalan persis sama, dipakai orang yang sama, dan tidak seorang pun tahu siapa yang membuatnya, masih mau dikerjakan atau tidak.
Jawaban jujurnya tidak membatalkan apa pun. Alatnya tetap berguna, dan yang membuatnya tetap boleh senang namanya disebut. Yang berubah cuma satu. Sesudah ketahuan ada dua hal yang dikejar sekaligus, keluhan orang gampang dikembalikan ke tempatnya: keterangan tentang alatnya, bukan penilaian atas orang yang membuatnya.
Papan nama di dinding masjid tadi gampang sekali dibaca dari kursi penonton. Papan nama sendiri baru kelihatan sesudah ada yang menyenggolnya.
Yang tersisa buat saya sebuah pertanyaan, bukan kesimpulan.
Kalau suatu saat kita mendapati diri sedang bersikeras menjelaskan kenapa kita berbuat sesuatu, kekerasan itu sendiri keterangan. Bukan bukti apa-apa. Tapi pantas diperhatikan, karena bagian diri yang sedang bersikeras itu justru yang paling telat dikabari.
Robert Wright menyusun alasan yang sama soal menipu diri dua puluh tahun lebih awal, dan bagus dibaca berdampingan. Catatannya ada di The Moral Animal.
Papan di dinding masjid itu tetap terbaca tiap kali lewat. Saya belum bisa memutuskan apakah membacanya dengan cara ini membuat saya lebih mengerti, atau cuma lebih curiga. Buku ini tidak menolong memutuskan yang itu.
Alat buatan penulisnya, dan untuk apa orang memakainya
Salah satu penulis buku ini, Robin Hanson, sudah hampir empat puluh tahun mengusulkan satu alat: pasar tempat orang bertaruh atas kejadian yang belum terjadi, supaya harganya bisa dibaca sebagai perkiraan bersama. Gagasannya persis isi bukunya. Orang bicara satu hal dan mempercayai hal lain, dan cara memisahkannya menyuruh mereka mempertaruhkan uang.
Selama puluhan tahun alat itu tidak ke mana-mana. Pada 2025 ia tiba-tiba jadi arus utama di Amerika, dan cara ia jadi arus utama bagian yang menarik.
Dua perusahaan terbesarnya menembus pasar bukan lewat ramalan politik atau kebijakan. Mereka menembus lewat taruhan pertandingan olahraga. Sesudah itu datang gugatan yang menyebut keduanya sebenarnya perjudian yang menyamar, dan satu negara bagian membuat pengoperasiannya jadi kejahatan berat dengan ancaman lima tahun penjara.
Hanson sendiri konsisten dan tidak berpura-pura kaget. Waktu ditanya soal larangan perdagangan orang dalam di dua pasar itu, jawabannya justru orang dalam memang harus ikut bertaruh, sebab itu satu-satunya cara harganya jadi tepat.
Buat catatan ini, urutan tadi lebih berguna daripada seluruh bab tentang sedekah dan sekolah. Alat yang dirancang untuk memaksa motif keluar dari persembunyian akhirnya laku karena dipakai untuk hal yang motifnya paling tidak disembunyikan siapa pun.
Kalau bukunya benar, itu bukan kegagalan alatnya. Itu bukti yang paling bersih.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Tujuh belas bab dalam dua bagian yang sangat berbeda tugasnya. Bagian satu, enam bab, memasang alatnya dan menerangkan kenapa kita menyembunyikan alasan kita yang sebenarnya, termasuk dari diri sendiri. Bagian dua, sepuluh bab, memakai alat itu pada sepuluh urusan sehari-hari, satu bab satu urusan.
Bagian dua bisa dibaca acak, dan memang sebaiknya begitu. Tiap bab bentuknya sama: sebutkan alasan resmi sebuah kegiatan, tunjukkan bahwa alasan itu tidak cocok dengan yang orang benar-benar lakukan, lalu tawarkan alasan tersembunyinya.
Bagian Satu: kenapa kita menyembunyikannya, bab 1 sampai 6
- Bab 1 sampai 3 memasang dasarnya lewat perilaku hewan, persaingan, dan aturan tak tertulis. Yang penting dipahami: manusia satu-satunya hewan yang aturan kelompoknya ditegakkan oleh siapa saja, bukan cuma oleh yang paling kuat.
- Bab 4 soal curang, dan kenapa curang yang paling awet adalah yang dikerjakan sambil tetap terlihat menaati aturan.
- Bab 5 bab terpenting di bagian ini. Dalilnya, kita menipu diri sendiri bukan karena cacat, tapi karena itu cara paling murah untuk meyakinkan orang lain. Yang tidak tahu tidak akan keceplosan.
- Bab 6 soal alasan-alasan palsu yang disusun kepala kita sesudah keputusannya diambil, dan bab ini yang paling banyak memakai bukti dari percobaan otak.
Bagian Dua: sepuluh urusan sehari-hari, bab 7 sampai 16
Sepuluh bab yang masing-masing berdiri sendiri: bahasa tubuh, tertawa, percakapan, belanja, seni, sedekah, sekolah, kesehatan, agama, dan politik.
Beberapa yang paling menyangkut kita:
- Bab 10 soal belanja sebagai cara mengirim tanda ke orang lain.
- Bab 12 soal sedekah, dan kenapa yang diberikan sering yang paling kelihatan oleh orang lain, bukan yang paling menolong penerimanya.
- Bab 13 soal sekolah, dan dalilnya bahwa sebagian besar guna sekolah ada pada tanda bahwa orangnya sanggup bertahan dan patuh, bukan pada pengetahuannya.
- Bab 14 soal pengobatan, dan angka yang paling mengganggu di seluruh buku: penambahan layanan kesehatan sering tidak menghasilkan penambahan umur yang sepadan, dan sebagian besar yang kita cari dari dokter sebenarnya tanda bahwa ada yang peduli.
- Bab 15 soal agama, yang diperlakukan sebagai cara menunjukkan kesetiaan lewat pengorbanan yang mahal.
Yang jadi jantungnya
- Bab 5. Untuk waktu yang cuma cukup satu bab, ambil yang ini, karena seluruh bagian dua berdiri di atasnya.
- Bab 12 dan 13, dua bab yang paling gampang diuji sendiri dengan menengok ke sekeliling.
- Bab 10, karena tanda yang mahal menerangkan banyak hal yang biasanya cuma jadi bahan olok-olok.
Yang boleh dilewat
- Bab 8 dan 11 kalau waktunya sempit; keduanya paling lemah buktinya dan tidak menyangga bab lain.
- Bab 16 soal politik, yang isinya paling terikat keadaan Amerika.
- Bab 1 sampai 3 boleh dibaca cepat; isinya dasar yang sudah sering ditemui di buku lain di rak ini.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Alat ini bisa dipakai untuk membongkar apa saja, dan justru itu bahayanya. Sekali diterima bahwa tiap alasan resmi menyembunyikan alasan lain, tidak ada lagi pernyataan yang bisa diterima apa adanya, termasuk pernyataan penulisnya sendiri. Yang bertahan paling kokoh dari bukunya bab-bab yang menyediakan angka. Bab yang cuma menyodorkan tafsir lebih sinis jauh lebih cepat luntur.
Kalau buru-buru
Bab 5, 10, 12, 13. Empat bab, dan alatnya sudah di tangan: kita tidak tahu alasan kita sendiri karena memang lebih menguntungkan begitu, belanja itu mengirim tanda, memberi sering diatur oleh siapa yang melihat, dan ijazah menjual sesuatu yang bukan isinya.