Pembohong yang paling meyakinkan percaya pada bohongnya sendiri, dan itu bukan alasan untuk jadi sinis.

Susunan buku ini yang bikin bukunya bertahan lebih lama daripada kebanyakan buku sejenisnya.

Tiap bab menerangkan satu bagian dari teori evolusi, lalu memberi contohnya dari hidup Charles Darwin sendiri. Pernikahannya, pilihan kariernya, cara ia menghadapi saingan, sampai catatan yang ia tulis sekitar Juli 1838: dua kolom, yang satu berjudul Marry dan yang satu Not Marry, dan di atas keduanya ia lingkari kata-kata "This is the Question". Di kolom setuju ada anak-anak, kalau Tuhan mengizinkan, dan teman tetap di hari tua.

Akibatnya teorinya selalu sedang diuji ke orang sungguhan yang bukan tokoh karangan, dan kebetulan orang itu yang memulai semuanya.

Bukunya terbit 1994, dan Wright menulisnya sebagai wartawan yang sedang melaporkan sebuah pemberontakan diam-diam di kampus, bukan sebagai ilmuwannya. Saya membacanya sebagai buku yang mesinnya benar dan nadanya lebih murung daripada yang dituntut mesinnya sendiri.

Pengacara di dalam kepala

Bab tentang menipu diri sendiri itu yang masih paling kepakai.

Robert Trivers, di kata pengantar untuk The Selfish Gene, menulis satu alinea yang sampai sekarang dikutip orang:

"...there must be strong selection to spot deception and this ought, in turn, to select for a degree of self-deception, rendering some facts and motives unconscious so as not to betray — by the subtle signs of self-knowledge — the deception being practised."

Pasti ada seleksi yang kuat untuk mengenali tipuan, dan itu pada gilirannya menyeleksi kemampuan menipu diri sendiri sampai kadar tertentu, dengan membuat sebagian fakta dan motif jadi tidak disadari, supaya tipuan yang sedang dijalankan tidak bocor lewat tanda-tanda halus orang yang tahu.

Pembohong yang tahu dirinya berbohong selalu bocor di suatu tempat. Orang yang benar-benar percaya pada ceritanya sendiri tidak bocor sama sekali. Wright memberi pikiran sadar satu peran:

"Like a lawyer, the human brain wants victory, not truth; and, like a lawyer, it is sometimes more admirable for skill than for virtue."

Seperti pengacara, otak manusia mengejar kemenangan, bukan kebenaran; dan seperti pengacara, kadang otak itu lebih pantas dikagumi karena kepandaiannya daripada karena kebajikannya.

Haidt belakangan memakai gambar yang sama dan menyebutnya juru bicara istana, di The Righteous Mind. Dua-duanya bilang hal yang sama: yang bicara di dalam kepala bukan hakim. Begitu ini masuk, banyak perilaku sehari-hari berubah bunyinya. Orangnya tidak munafik. Justru sebaliknya. Ketulusan itulah yang memang mau dihasilkan susunan ini.

Utang budi, dan kenapa rasanya seperti sayang

Menolong sekarang untuk dibalas nanti cuma bisa jalan di antara makhluk yang mengenali muka satu per satu, mengingat siapa berbuat apa, dan tinggal cukup lama berdekatan sampai utangnya jatuh tempo. Manusia luar biasa bagus di ketiganya.

Trivers menamainya reciprocal altruism, tolong-menolong yang berbalas, pada 1971, dan Axelrod membuktikannya di komputer dengan program lima baris bernama TIT FOR TAT. Hitungan lengkapnya ada di The Evolution of Cooperation. Yang ditambahkan Wright soal rasanya. Yang dihasilkan mesin ini bukan buku catatan, tapi seperangkat perasaan: suka, terima kasih, merasa berutang, dan rasa panas waktu tahu sedang dimanfaatkan. Trivers bahkan bertanya kenapa kita jauh lebih berterima kasih pada sepotong roti sesudah tiga hari tersesat daripada pada makan malam gratis, dan jawabannya: rasa terima kasih diatur menurut seberapa besar jasa itu buat kita, sebab sebesar itu pula yang nanti diharapkan kembali.

Pembukuannya sungguhan. Cuma yang mengerjakan perasaan, bukan hitungan, dan karena itu tidak pernah terasa seperti pembukuan.

Kondangan contohnya. Amplop diserahkan di kotak, tidak ada yang menyebut jumlahnya, dan semua orang bilang yang penting doanya. Di rumah, sesudah tamunya pulang, amplopnya dibuka dan dicatat. Bukan karena tuan rumahnya matre. Karena giliran berikutnya akan datang, dan waktu anaknya yang menikah, jumlah yang dulu diterima ikut menentukan jumlah yang dikirim balik. Dan hampir tidak ada yang merasa sedang berdagang. Yang terasa betulan rasa senang waktu diundang, rasa tidak enak kalau tidak datang, dan rasa tersinggung yang susah dijelaskan kalau undangan kita dulu dipenuhi tapi undangan mereka sekarang kita lewatkan.

Kalau yang mengerjakan hitungan, kita akan tahu sedang berhitung, dan begitu ketahuan berhitung seluruh urusannya rusak. Sungkan itu namanya di sini, dan kata itu susah diterjemahkan karena isinya bukan satu perasaan. Yang disebutnya seluruh sistem tadi, sedang menyala di dalam badan.

Kampung Shrewsbury dan kota yang orangnya pindah-pindah

Wright sendiri yang menunjuk syaratnya.

"Axelrod's computer world was a lot like Shrewsbury: the same fairly small group of characters, day after day, all of whom remember how you behaved on the last encounter."

Dunia di komputer Axelrod mirip sekali dengan Shrewsbury, kampung Darwin: sekumpulan kecil orang yang sama, hari demi hari, dan semuanya ingat kelakuanmu waktu terakhir bertemu.

Lalu ia mengubah aturannya: kalau orang boleh sering pindah masuk dan keluar, yang untung justru yang licin dan tulus dari luar, yang berjanji lebih rajin daripada menepati. Dan zaman sekarang, tulisnya, ayah yang mengajari anaknya begitu mungkin sedang membekalinya untuk sukses.

Sampai situ saja saya ikut, dan yang menahan bukan buktinya. Bacaan sinis atas alinea itu: kota merusak, dan kejujuran cuma barang kampung. Yang lebih cocok dengan yang kelihatan di sekitar: mesinnya tetap balas-membalas, yang berganti cuma perantaranya. Dulu yang mengingat kelakuanmu orang sekampung. Sekarang yang mengingat catatan kredit di bank, bintang di aplikasi ojek, ulasan toko daring, dan nama baik yang menyebar di grup alumni lebih cepat daripada di kampung mana pun. Kita tidak berhenti berhitung. Kita cuma menyewa orang lain untuk mengingat hitungannya.

Ini juga pendirian yang saya bawa dari The Selfish Gene. Judulnya yang paling sinis di rak ini, isinya justru bantahan buat yang sinis. Wright, yang seluruh bagian keempat bukunya berjudul sinisme Darwin dan Freud, lebih murung daripada Dawkins, dan kemurungan itu tidak wajib ikut dibeli bersama mesinnya.

Cinta saudara, dan siapa yang membayar harganya

Bab tentang keluarga berdiri di atas hitungan Hamilton: gen yang membuat pemiliknya menolong saudara kandung, yang separuh gennya sama, akan tersebar. Haldane pernah bergurau ia tidak akan mengorbankan nyawa untuk satu saudara, tapi mau untuk dua saudara atau delapan sepupu.

Wright menarik akibat yang jarang disebut:

"Brotherly love in the literal sense comes at the expense of brotherly love in the biblical sense; the more precisely we bestow unconditional kindness on relatives, the less of it is left over for others."

Cinta saudara dalam arti harfiah dibayar dengan cinta saudara dalam arti kitab suci; makin tepat kita mencurahkan kebaikan tanpa syarat ke kerabat, makin sedikit yang tersisa untuk orang lain.

Yang tidak disebut Wright, dan yang terasa tiap hari di sini: tarikan itu tidak bisa dipilih sebelah. Orang yang sama yang datang waktu susah, yang menampung waktu belum punya rumah, yang meminjamkan tanpa surat, itu juga orang yang lima tahun kemudian menitipkan keponakan untuk dicarikan kerja, dan menagihnya lewat rasa tidak enak, bukan lewat kata-kata. Yang melindungi dan yang membebani datang lewat orang yang sama, dan tidak ada cara mengambil satu tanpa yang lain. Bagian itu sudah dibahas dari sisi lembaga di The WEIRDest People in the World. Buku ini menyodorkan mesinnya, dan mesinnya jauh lebih tua daripada lembaga mana pun.

Tahun 1994 kelihatan di bab laki-laki dan perempuan

Bukunya terbit di dasawarsa paling percaya diri buat psikologi evolusi, dan percaya dirinya kelihatan.

Bab-bab tentang laki-laki dan perempuan yang paling lemah. Dasarnya penelitian yang tidak banyak, sebagiannya gagal diulang, dan berkali-kali ia melompat dari "dulu mungkin berguna untuk bertahan hidup" ke "sekarang memang begitu adanya". Dua kalimat yang sama sekali berbeda. Bagian tentang Samoa memakai Freeman untuk menjatuhkan Margaret Mead, dan perkara itu sendiri sampai sekarang belum selesai di kalangan antropolog.

Ada juga masalah bawaan bidang ini, dan Wright mengakuinya sendiri: cerita tentang kenapa satu sifat berguna untuk bertahan hidup bisa disusun untuk hampir semua sifat, termasuk untuk kebalikannya. Ia bilang sebagian cerita jelas lebih bagus dari yang lain dan itu yang menang. Betul, tapi itu ukuran untuk lomba mengarang, bukan untuk ilmu. Ia lebih hati-hati daripada kebanyakan orang sezamannya, dan kelemahan ini melekat pada bidangnya.

Setidaknya ia benar di titik yang paling sering dilewatkan pembacanya: menerangkan dari mana asal sebuah rasa moral sama sekali tidak menjawab apakah rasa itu pantas diikuti.

"We are potentially moral animals — which is more than any other animal can say — but we aren't naturally moral animals. To be moral animals, we must realize how thoroughly we aren't."

Kita hewan yang berpotensi bermoral, dan itu lebih dari yang bisa dikatakan hewan mana pun, tapi kita bukan hewan yang bermoral dari sananya. Untuk jadi hewan bermoral, kita harus sadar seberapa jauh kita bukan.

Di halaman-halaman terakhir Wright mengutip catatan pribadi Darwin: orang jahat mesti dilihat seperti orang sakit, lebih pantas dikasihani daripada dibenci. Seratus lima puluh tahun kemudian Sapolsky sampai ke kalimat yang sama lewat ilmu saraf, dan itu dibahas di Behave.

Buat saya bukan biologinya yang menetap. Ketulusan berhenti bisa dipakai sebagai bukti. Kalau pikiran memang dibangun untuk mempercayai ceritanya sendiri, maka sekuat apa pun keyakinan soal alasan sendiri berbuat sesuatu, keyakinan itu tidak memberi tahu apa-apa soal benar tidaknya.

Susah sekali dipegang, karena rasa sedang jujur pada diri sendiri justru rasa yang dihasilkan susunan ini. Dan mungkin karena itu jujur pada diri soal motif tetap layak dihormati: bukan karena gampang, tapi karena pengacaranya tidak pernah berhenti bicara, dan yang mencoba diam sebentar untuk mendengar pihak seberang sedang mengerjakan hal yang tidak dirancang untuk tubuhnya.

Bidangnya diperiksa ulang, dan hasilnya bercabang

Buku ini terbit 1994, waktu psikologi evolusioner masih terdengar seperti kabar baru. Sesudah itu seluruh psikologi kena pemeriksaan besar-besaran, dan bidang ini ikut diperiksa.

Hasilnya tidak bulat, dan justru itu yang berguna.

Yang bertahan cukup kokoh temuan-temuan yang sebarannya besar dan diulang di banyak negeri, misalnya soal perbedaan rata-rata antara laki-laki dan perempuan dalam hal yang berkaitan dengan pasangan. Yang goyah justru cabang yang paling sering dikutip di media populer, misalnya dugaan bahwa penilaian perempuan atas laki-laki berubah mengikuti daur bulanannya. Percobaan-percobaan semacam itu banyak yang gagal diulang.

Sebagian pembela bidang ini menjawab bahwa keberatan yang datang sebagiannya bukan keberatan ilmu, tapi keberatan politik. Sebagian itu mungkin benar. Sebagian lagi bukan jawaban, cuma cara memindahkan pertanyaannya.

Buat catatan ini yang penting bab mana yang kena. Yang membuat buku ini bertahan justru dalilnya yang paling umum: bahwa kepala kita menyusun alasan sesudah keputusan, dan alasan itu terasa tulus. Yang goyah malah dalilnya yang paling khusus, yang paling gampang dijadikan judul, dan yang paling sering dipakai orang untuk menerangkan kelakuan orang lain di sekitarnya.

Susunan itu bukan kebetulan. Bab yang paling enak dikutip memang yang paling khusus, dan yang paling khusus memang yang paling gampang meleset.

Baca berikutnya