Satu perbuatan, ditanya kenapa berkali-kali, sampai tidak ada lagi tempat menaruh salah. Saya berhenti satu langkah lebih awal.

Cara Sapolsky menyusun buku ini yang jadi isi argumennya, dan caranya bisa diringkas dalam satu kalimat.

Ambil satu perbuatan. Ada orang menarik pelatuk. Lalu tanyakan: satu detik sebelumnya, apa yang terjadi di otaknya? Mundur lagi: beberapa detik sampai beberapa menit sebelumnya, apa yang ia lihat dan cium? Mundur lagi: berjam-jam sebelumnya, hormon apa yang sedang tinggi? Bertahun-tahun sebelumnya, ia remaja seperti apa, anak-anak seperti apa? Mundur terus sampai ke kandungan, ke gen, ke kebudayaan tempat ia besar, ke sejarah nenek moyangnya.

Tiap bab pertanyaan yang sama, cuma jaraknya digeser. Bukunya sembilan ratus halaman karena jawaban yang lengkap memang sepanjang itu.

Penulisnya mengaku pesimis bawaan, dan baru sesudah punya anak memaksa diri mencari bukti bahwa keadaan tidak seburuk itu. Saya membacanya sebagai buku yang cara bertanyanya jauh lebih berharga daripada jawaban terakhirnya.

Ayam yang menyeberang jalan

Sapolsky membuka dengan lelucon lama. Kenapa ayam menyeberang jalan? Ahli hormon menjawab karena kadar estrogennya, ahli mekanika tubuh menjawab karena tulang kakinya jadi tuas, ahli evolusi menjawab karena jutaan tahun ayam yang menyeberang lebih banyak keturunannya. Semuanya benar, dan semuanya cuma satu ember.

"In other words, when you think categorically, you have trouble seeing how similar or different two things are."

Begitu berpikir dengan kotak-kotak, kita jadi susah melihat seberapa mirip atau seberapa beda dua hal sebenarnya.

Kotaknya sendiri sering sewenang-wenang. Bahasa yang berbeda memotong warna di tempat yang berbeda, dan orang menaksir jarak dua warna lebih jauh kalau kebetulan namanya beda. Sesudah garisnya ada, kita lupa garisnya kita sendiri yang menggambar.

Rapat sesudah ada kejadian di kantor persis begini. Satu kejadian, empat ember. Bagian SDM bilang ini soal orangnya, bagian sistem bilang ini soal prosedurnya, atasannya bilang ini soal mental, yang bersangkutan bilang ini soal beban kerja. Tidak ada yang bohong, dan tidak ada yang bertanya kejadiannya sendiri itu apa. Seluruh buku ini usaha untuk menolak memilih ember.

Zat kimianya tidak membawa arti, dan remnya dipasang paling akhir

Temuan yang terkenal ada semua di sini. Yang berguna justru yang pelan.

"...testosterone is far less relevant to aggression than usually assumed."

Testosteron jauh lebih sedikit hubungannya dengan sifat galak daripada yang biasa dikira orang.

Testosteron tidak menciptakan galak. Yang dikuatkannya perilaku apa pun yang di lingkungan itu bikin orang dipandang tinggi. Kalau yang bikin dipandang tinggi kemurahan hati, testosteron bikin orang makin royal.

Oksitosin lebih kena lagi. Hormon yang di berita disebut hormon cinta ini memang menambah hangat, tapi cuma ke orang sendiri.

"Oxytocin exaggerates Us/Them-ing."

Oksitosin memperbesar jarak antara kita dan mereka.

Dua-duanya menunjuk ke satu kesimpulan yang dipakai Sapolsky sepanjang buku: zat kimianya tidak membawa arti apa-apa. Yang memberi arti keadaan di sekelilingnya.

Lalu ada bagian otak yang tugasnya menahan. Definisi Sapolsky untuk korteks depan cuma satu kalimat: bagian ini yang membuat kita mengerjakan hal yang lebih susah waktu itu memang yang benar. Dan "benar" di situ, ia tegaskan, bukan benar secara moral. Berbohong dengan rapi juga butuh korteks depan.

"This chapter's key fact is that the final brain region to fully mature (in terms of synapse number, myelination, and metabolism) is the frontal cortex, not going fully online until the midtwenties."

Fakta kunci bab ini: bagian otak yang paling akhir matang, dihitung dari jumlah sambungan, selubung sarafnya, dan metabolismenya, adalah korteks depan, dan bagian itu baru benar-benar menyala di pertengahan dua puluhan.

Umur tujuh belas kita sudah boleh memegang SIM dan mencoblos. Rem yang tugasnya menahan diri baru selesai dipasang delapan tahun kemudian. Tawuran pelajar tidak butuh keterangan yang lebih rumit dari itu, dan tidak jadi lebih ringan karenanya.

Kita dan mereka, diputuskan sebelum sempat berpikir

Wajah dari ras lain yang dilihat lima puluh milidetik sudah cukup menyalakan amigdala, jauh sebelum orangnya sadar sedang melihat apa. Kelompoknya boleh sembarang. Lempar koin, bagi orang jadi kubu kepala dan kubu ekor, dan dalam hitungan menit masing-masing sudah lebih percaya pada kubunya sendiri. Yang dikerjakan kepala sesudahnya, kata Sapolsky sambil mengutip Haidt, menyusun alasan supaya rasa yang sudah ada kelihatan masuk akal. Mesin itu dibahas panjang di The Righteous Mind.

Kabar baiknya, "kita" itu banyak dan bisa berganti cepat. Sapolsky menyebut dirinya sendiri: vertebrata, mamalia, laki-laki, ilmuwan, kidal, penggemar satu tim bola. Mana yang dipakai bergantung siapa yang ada di depannya.

Orang Jawa mengalami ini di lidah. Begitu tahu lawan bicaranya siapa, lebih tua atau lebih muda, orang dalam atau orang luar, tingkatan bahasanya berganti tanpa dipikir, dan berganti lagi begitu ada orang ketiga masuk ruangan. Pertanyaan pertama ke orang yang baru dikenal di sini hampir selalu "aslinya mana?", dan jawabannya menentukan bahasa apa yang dipakai satu detik kemudian. Kita dan mereka bukan cuma ada di kepala. Di sini pembagian itu terpasang di tata bahasa.

Rem yang rusak, dan siapa yang memeriksa remnya

Bab tentang hukum pidana dan kehendak bebas itu yang paling ditunggu, dan Sapolsky sendiri memberi judulnya nada bercanda, seolah minta maaf sebelum masuk.

Ia menawarkan tiga pilihan: kehendak bebas penuh, tidak ada sama sekali, atau di antaranya. Yang pertama, katanya, tidak akan dibela seperseribu persen orang pun kalau dipaksa mengikuti akibat logisnya. Yang ketiga yang dipegang hampir semua orang, dan seluruh bab ini usaha menunjukkan bahwa yang ketiga cuma yang pertama yang pemalu. Contohnya epilepsi. Dulu orang yang kejang dibakar sebagai sekutu setan. Sekarang dilarang menyetir kalau obatnya belum jalan, dan tidak ada yang merasa larangan itu kemenangan moral.

"...words like 'evil' and 'soul' will be as irrelevant as when considering a car with faulty brakes, that they will be as rarely spoken in a courtroom as in an auto repair shop."

Kata seperti "jahat" dan "jiwa" akan sama tidak ada urusannya seperti waktu kita menghadapi mobil yang remnya rusak, dan akan sama jarangnya terdengar di ruang sidang seperti di bengkel.

Perhatikan: mobil yang remnya rusak tetap ditarik dari jalan. Sapolsky tidak sedang membebaskan siapa pun. Yang ia buang cuma rasa puas waktu menghukum.

Sampai di situ saya ikut. Contohnya kejadian yang berulang di sini. Pencuri motor tertangkap warga, lalu dikeroyok sampai mati. Keterangan yang biasa: warganya sudah kehilangan rasa kemanusiaan. Kalau ditanya dengan cara Sapolsky, keterangannya berlapis. Beberapa detik sebelumnya, satu teriakan "maling" dari orang yang mereka kenal. Berbulan-bulan sebelumnya, berapa laporan kehilangan yang tidak pernah kembali. Bertahun-tahun sebelumnya, berapa kali mereka lihat orang berduit lolos dari perkara yang jauh lebih besar. Tanpa lapis-lapis itu, satu-satunya obat yang terpikir menasihati warga supaya sabar, dan nasihat tidak menyentuh satu pun sebabnya.

Yang tidak saya ikuti langkah terakhirnya, dan alasannya bukan dari ilmu saraf. Kalau rantai itu dipegang sampai ujung, tidak ada lagi orang yang bisa disebut menanggung akibat pilihannya sendiri, sebab pilihannya bukan miliknya. Padahal itu satu-satunya sifat yang layak dihormati pada siapa pun, dan kebalikannya, menyalahkan keadaan atas pilihan sendiri, justru yang paling cepat menghabiskan kepercayaan. Rantai Sapolsky, dijalankan penuh, menjadikan yang kedua keterangan yang paling benar dan yang pertama mustahil.

Ada alasan yang lebih dekat lagi. Rantai penjelasan yang panjang itu, di ruang sidang, barang yang harus dibeli. Yang mampu membayar ahli mendapat rantainya, lengkap dengan keterangan bahwa remnya memang sudah rusak sejak lahir. Yang tidak mampu cuma mendapat pasalnya. Mobil dan bengkel itu perumpamaan yang bersih selama montirnya tidak ikut memilih mobil mana yang mau diperiksa.

Tiga penelitian yang sudah goyah sebelum bukunya terbit

Satu penulis yang mengurus ilmu saraf, hormon, gen, perilaku kera, antropologi, sampai ilmu politik pasti menipis di bidang orang lain, dan bagian yang menipis susah ketahuan karena cara menulisnya sama mantapnya di semua bab.

Tiga contoh, semuanya dari psikologi sosial, semuanya sudah dipersoalkan sebelum buku ini terbit pada 2017.

Hakim pembebasan bersyarat yang mengabulkan enam puluh persen permohonan sehabis makan dan nyaris nol persen menjelang makan. Sapolsky menyebutnya penelitian yang luar biasa dan memakainya dua kali. Urutan perkaranya belakangan diketahui tidak acak, dan soal itu sudah dibahas di catatan Thinking, Fast and Slow, yang penulisnya juga memakainya.

Kemauan yang habis seperti bensin. Sesudah otak bagian depan dipaksa kerja keras, orang jadi lebih pelit dan kurang jujur, dan pulih kalau diberi minuman manis. Sapolsky menyandarkannya pada Baumeister. Setahun sebelum bukunya terbit, dua puluh tiga laboratorium mengulang percobaan pokoknya bersama-sama dan tidak menemukan apa-apa.

Dan di catatan kakinya, sikap tubuh berkuasa yang katanya menaikkan testosteron. Penulis pertama penelitian itu sendiri sudah menarik diri dari temuannya setahun sebelum Behave terbit.

Sapolsky bisa hati-hati. Waktu membahas Milgram dan penjara Stanford, ia menyebut sendiri kontroversinya, membuang yang tidak tahan, dan menyimpan intinya. Ke tiga yang di atas kehati-hatian itu tidak dibawa.

Bukunya juga melelahkan. Itu bukan kecelakaan, tapi tetap ongkos. Sedikit sekali yang sampai halaman terakhir, padahal argumennya baru utuh buat yang sampai ke sana.

Kasus Charles Whitman, penembak dari menara Texas yang sesudah mati ditemukan tumornya, muncul juga di sini, dan untuk itu Sapolsky mengutip tulisan Eagleman. Yang membangun seluruh usul hukumnya di atas kasus itu ada di Incognito.

Sesudah bukunya ditutup, bukan ilmu sarafnya yang menetap. Yang menetap satu kebiasaan bertanya: sebelum menaruh salah di satu tempat, mundur dulu satu langkah, lalu satu langkah lagi.

Yang belum selesai cuma soal berhentinya. Sapolsky mundur sampai tidak ada lagi tempat menaruh salah. Saya berhenti lebih awal, di orang yang menarik pelatuk, bukan karena rantainya putus di situ, tapi karena kalau kata itu dihapus yang tersisa cuma bengkel, dan saya belum tahu siapa yang boleh dipercaya memegang bengkelnya.

Ia sendiri tidak berhenti

Tujuh tahun sesudah buku ini, Oktober 2023, Sapolsky menerbitkan Determined. Isinya tepat langkah yang di atas tadi saya tolak ambil: kehendak bebas tidak ada sama sekali, tidak sedikit pun, dan hukuman sebagai pembalasan harus dibongkar seluruhnya.

Bantahannya datang dari dua arah yang berbeda, dan dua-duanya enak dibaca.

Kieran Setiya, yang memang filsuf, memuji bagian ilmunya lalu mencatat bahwa Sapolsky nyaris tidak menyentuh dua ribu tahun perdebatan filsafat tentang kata yang jadi judul bukunya. Keberatan sejenis diringkas begini oleh Adam Piovarchy: Sapolsky mengira pertanyaannya pertanyaan ilmu, padahal sebagiannya tidak.

Yang kedua lebih repot dibantah. Bulan yang sama, Kevin Mitchell menerbitkan Free Agents, dan ia juga ahli saraf. Bahan yang ia sisir kira-kira sama, dan kesimpulannya kebalikan. Dua orang, satu rak bacaan, dua jawaban.

Itu sendiri sudah jawaban untuk sesuatu. Kalau bukti yang sama menghasilkan dua kesimpulan yang berlawanan di tangan dua orang yang sama-sama menguasai bahannya, maka yang memutuskan bukan lagi buktinya.

Dan saya masih berhenti di tempat yang sama, bukan karena hitungan rantai Sapolsky keliru. Saya cuma belum tahu siapa yang boleh dipercaya memegang bengkelnya.

Baca berikutnya