Peterson meninggalkan ideologi karena ideologi memberi tempat sembunyi, lalu membangun rangka yang menampung semua cerita yang pernah ada.

Peterson menyelesaikan buku ini pada 1999. Tidak laku, lalu tergeletak dua puluh tahun sampai namanya jadi bahan pertengkaran di mana-mana. Layak dipisahkan dari semua keributan itu, sebab halaman terbaiknya ada di pembukanya dan sama sekali tidak ada hubungannya.

Peterson menceritakan bagaimana ia kehilangan politiknya. Dulu sosialis, sudah ikut ujian masuk fakultas hukum, sudah membayangkan karier politik. Lalu ia sadar yang sebenarnya ia pegang bukan sosialismenya.

"It was not socialist ideology that posed the problem, then, but ideology as such. Ideology divided the world up simplistically into those who thought and acted properly, and those who did not. Ideology enabled the believer to hide from his own unpleasant and inadmissible fantasies and wishes."

Yang jadi masalah bukan ideologi sosialisnya, tapi berideologinya itu sendiri. Ideologi membelah dunia dengan cara yang sederhana sekali, jadi orang yang berpikir dan bertindak dengan benar dan orang yang tidak. Dan ideologi memberi tempat sembunyi dari keinginan sendiri yang malu diakui.

Enam belas halaman, ditulis lurus, tanpa satu pun istilah yang perlu dijelaskan. Ia berhenti kuliah, dan enam ratus halaman sisanya usaha membangun pijakan pengganti.

Tiga hal biasa yang langsung diberi tiga nama besar

Susunan yang ia tawarkan sebenarnya sederhana. Pengalaman manusia tidak tersusun dari benda dan fakta, tapi dari tiga hal: daerah yang sudah dikenal, daerah yang belum, dan orang yang bolak-balik di antara keduanya.

Daerah yang sudah dikenal itu tempat kebiasaan kita masih manjur dan dugaan kita masih kena. Daerah yang belum dikenal muncul persis pada saat keduanya berhenti manjur. Dan yang bolak-balik itu orang yang dengan kemauannya sendiri masuk ke tempat gelap lalu pulang membawa sesuatu yang bisa dipakai orang sekampung.

Tiga hal itu bisa diterangkan dalam satu alinea, dan memang begitu. Persoalannya, di kalimat yang sama ketiganya sudah diberi nama: Ibu Agung, Bapa Agung, dan Putra Ilahi (hal 17). Nama-nama itu datang sebelum ada satu bukti pun bahwa penamaannya memang perlu, dan sesudah itu tidak pernah dilepas lagi.

Kata Peterson, mitos itu catatan dari susunan tadi, muncul di semua kebudayaan karena keadaan yang digambarkannya keadaan yang dihadapi semua orang, dan kita sudah paham jauh sebelum bisa menjelaskannya.

Kursi di lorong dan lift yang mati

Bagian terkuatnya justru bab-bab tentang hal yang tidak cocok, dan di situ pula bukunya paling konkret.

Peterson memakai contohnya sendiri di kantor. Kamu biasa berjalan menyusuri lorong yang selalu kosong menuju lift, sudah begitu hafal sampai bisa sambil membaca. Suatu hari kakimu tersandung kursi yang ditinggalkan orang di tengah lorong. Itu yang ia sebut hal baru yang biasa: langkahmu berubah sedikit, dan tujuannya tidak berubah sama sekali.

Yang jenis kedua ia ceritakan dari malam hari di gedung tinggi, sendirian, waktu ia turun tiga lantai untuk cari makan dan lift maupun tangganya ternyata tidak bisa dipakai (hal 79 sampai 81). Yang runtuh bukan satu langkah. Yang runtuh anggapan yang selama ini tidak pernah perlu dipikirkan, bahwa antar lantai memang selalu ada jalan.

Bentuk keduanya itu yang kita kenal. Mesin absensi wajah yang tiba-tiba tidak mengenali kita di hari gajian bukan cuma soal telat tercatat. Yang goyah anggapan bahwa nama kita memang ada di dalam daftar. Dan kalau menghadap bagian kepegawaian ternyata harus mulai dari membuktikan bahwa kita bekerja di situ, yang harus dibangun ulang bukan absennya.

Dari situ Peterson menarik hal yang paling kepakai dari seluruh bukunya. Munculnya sesuatu yang tidak masuk hitungan bukan urusan pikiran saja. Rasanya seperti diancam, dan yang diancam bukan satu fakta, tapi rangka yang selama ini memberi tahu kita harus berbuat apa selanjutnya.

Itu menerangkan hal yang membingungkan siapa pun yang pernah mencoba meluruskan kabar di grup keluarga. Orang yang dikoreksi biasanya marah, bukan penasaran. Faktanya memang tidak pernah jadi soal. Rangkanya yang jadi soal, dan itu sebabnya nasihat Grant di Think Again mempan: bertanya membuat orang membongkar rangkanya sendiri, membantah cuma membuatnya dijaga.

Hal yang sama ditulis Eagleman lewat gambaran lain di Incognito. Kesadaran cuma dipanggil waktu harapan meleset, dan bukti favoritnya gagang pintu yang digeser tujuh senti. Peterson sampai ke tempat yang sama sepuluh tahun lebih dulu, lewat mitos, bukan lewat ruang praktik.

Ada satu lagi yang ia dahului. Di halaman 62 ia menulis belahan otak kanan menanggapi hal baru dengan waspada dan menyusun dugaan menyeluruh dengan cepat, sementara belahan kiri memegang kendali selama semuanya berjalan sesuai rencana. Sepuluh tahun kemudian The Master and His Emissary memakai satu buku tebal untuk gagasan itu, dan kena bantahan yang sama beratnya.

Wayang, dan kenapa cocoknya justru bikin curiga

Susunan tadi cocok dengan wayang.

Gunungan ditancapkan di tengah kelir sebelum lakon mulai, dunia masih utuh. Lalu ada yang mengganggu, dunia jadi kacau, dan tengah malam masuk gara-gara, adegan tanpa raja dan tanpa perang, tempat punakawan mengoceh soal apa saja. Sesudah itu tokoh utamanya masuk ke tempat gelap, bertapa, bertemu yang bukan manusia, lalu pulang membawa sesuatu.

Cocok betul. Terlalu cocok.

Banyak bahan Peterson datang dari Mircea Eliade, yang ia kutip di sepanjang bukunya, dan Eliade memang sudah menyusun daftar pola yang berlaku dari Babilonia sampai Flores dan Bali; catatannya ada di The Sacred and the Profane. Wayang tidak ada di daftar itu, dan tetap masuk tanpa perlu satu pun penyesuaian.

Di situ saya tidak ikut. Kalau satu rangka bisa dipasang ke Osiris, ke ritual tahun baru Mesopotamia, ke Bharatayudha, dan ke hampir semua cerita yang pernah dikarang orang, sebenarnya apa yang sudah diterangkannya?

Ukuran yang saya pakai datang dari Deutsch di The Beginning of Infinity: keterangan yang baik itu yang susah diubah. Coba tukar satu bagiannya, dan kalau tidak ada yang rusak, keterangan itu memang tidak memikul apa-apa sejak awal. Tukar Osiris dengan Bharatayudha, tukar gunungan dengan tiang keramat, tukar punakawan dengan pelawak istana mana pun. Rangkanya tetap berdiri, dan itu justru masalahnya.

Dan perkakas Jung yang ia pakai cuma dinyatakan, tidak pernah dibela. Apakah pola-pola ini benar-benar diwariskan, atau cuma ditemukan berulang kali oleh tiap kebudayaan yang menghadapi persoalan yang sama, itu pertanyaan sungguhan yang buktinya masih berimbang di kedua sisi. Bukunya memperlakukannya seperti perkara yang sudah kelar.

Enam puluh delapan bagan dan satu kalimat

Bahasanya susah, dan sebagian besar kesusahannya bukan salah pokok bahasannya. Contohnya satu kalimat di halaman 321:

"The sum total of accurate behaviorally linked representation of the world as forum for action constitutes the structure which reduces the manifold meaning of the experiential plenum to a restricted and therefore manageable domain."

Seluruh gambaran dunia yang kita punya dan sudah terbukti benar waktu dipakai bertindak, itulah yang memotong arti yang terlalu banyak jadi jumlah yang sanggup kita urus.

Kalimat aslinya perlu dibaca tiga kali. Isinya tidak lebih dari itu.

Bagannya enam puluh delapan buah, bernomor rapi, dan menjanjikan ketepatan yang tidak pernah ditepati tulisan di sekitarnya. Istilahnya juga berganti bobot dari bab ke bab, dan yang di bab tiga bukan lagi yang di bab enam.

Padahal Peterson sendiri sudah mencatat gejala itu di pembukanya, waktu bercerita tentang mulai membaca Jung: sering sekali ia tidak paham apa yang sedang dituju Jung, dan tidak mengerti bahasa yang dipakai Jung (hal 15). Ia menuliskan itu sebagai keluhan. Bertahun-tahun kemudian ia menulis dengan cara yang sama.

Petanya sendiri, waktu ada yang menyuruh mengubahnya

Buku ini menyuruh orang terus memperbaiki petanya, dan menyebut penolakan memperbaiki sebagai akar hampir semua celaka.

Ada satu peristiwa yang enak dijejerkan dengan kalimat itu, dan yang mengalaminya penulisnya sendiri.

Perhimpunan psikolog Ontario, tempat izin praktiknya terdaftar, menilai sebagian ucapan Peterson di depan umum, dari soal peralihan jenis kelamin sampai iklim, berisiko sedang bagi masyarakat dan menggerus kepercayaan pada profesinya. Yang dipersoalkan bukan cara ia menangani pasien. Perintahnya ikut program pendampingan supaya lebih berhati-hati waktu bicara di depan umum. Agustus 2023 pengadilan menolak permohonannya membatalkan perintah itu, dan Januari 2024 permohonan bandingnya juga tidak diberi jalan.

Saya bisa berkeberatan pada dua arah sekaligus di sini, dan memang begitu.

Sebuah badan yang mengurus izin praktik lalu menilai ucapan orang di luar praktiknya itu bentuk aturan yang susah diterangkan batasnya. Kalau ukurannya menggerus kepercayaan pada profesi, hampir semua orang yang bicara keras di depan umum bisa kena, dan yang menentukan siapa yang kena tinggal siapa yang melapor.

Sisi satunya juga tidak enak. Orang yang menulis enam ratus halaman tentang kesediaan mengubah peta, waktu disuruh duduk dan meninjau caranya bicara, memakai empat tahun untuk melawan perintah itu sampai ke pengadilan tertinggi.

Dua-duanya bisa benar sekaligus, dan itu yang membuat kejadian ini terus saya ingat. Perintahnya memang aneh. Penolakannya juga bukan penolakan orang yang sedang memeriksa petanya.

Yang tinggal buat saya dua saja.

Pembukanya tinggal karena terus terang soal hal yang jarang diakui orang. Keyakinan politik bisa sedang mengerjakan sesuatu di dalam diri yang tidak ada hubungannya dengan politik, dan orang yang paling keras memegangnya sering yang paling butuh tempat sembunyi.

Kursi di lorong tinggal karena bisa diuji besok pagi. Kalau ada orang menanggapi keterangan baru seperti orang yang sedang diserang, biasanya memang begitulah yang ia rasakan, dan yang ia bela bukan faktanya.

Sisanya enam ratus halaman yang saya belum tahu harus diapakan. Peterson meninggalkan kuliah karena ideologi memberi tempat sembunyi, lalu membangun satu rangka yang menampung semua cerita yang pernah ada. Apakah rangka yang tidak bisa dibantah oleh apa pun itu betul-betul lawan dari yang ia tinggalkan, atau cuma bentuk lain dari benda yang sama, itu yang belum bisa saya jawab.

Baca berikutnya