Elitenya bukan tidak tahu caranya maju. Mereka tahu persis, dan maju itu merugikan mereka.

Korea Utara dan Korea Selatan ada di semenanjung yang sama. Iklimnya sama, tanahnya sama, dan sampai 1945 mereka satu bangsa dengan budaya yang sama.

Hari ini yang satu jadi salah satu ekonomi paling gesit di dunia. Yang satu lagi rakyatnya bergantung pada bantuan pangan dari luar.

Iklim tidak bisa menerangkan itu. Budaya juga tidak. Yang berbeda cuma aturan mainnya.

Dua jenis aturan main

Yang pertama mereka sebut inclusive institutions, lembaga yang terbuka. Hak milik aman, kontrak ditepati, siapa saja boleh berusaha, dan kalau kamu kerja keras atau menemukan sesuatu, hasilnya jadi milikmu. Karena itu orang mau repot mencoba.

Yang kedua extractive institutions, lembaga yang menyedot. Hasil kerja orang banyak mengalir ke atas, ke segelintir yang memegang aturannya. Izin menentukan siapa boleh berusaha, perkara dimenangkan yang punya kenalan, dan hak milikmu aman cuma selama kamu sendiri aman.

Orang di bawah aturan yang kedua bukannya lebih bodoh atau kurang ambisius. Mereka sudah paham, dengan hitungan yang masuk akal, bahwa mencoba hal baru tidak ada untungnya. Jadi mereka berhenti mencoba.

Bayangkan dua kantor. Di yang pertama ide siapa pun bisa diajukan, kerjanya diakui, dan naik jabatan karena memang berprestasi. Di yang kedua ide bagus otomatis jadi milik atasan, yang menonjol dianggap ancaman, dan naik jabatan ditentukan kedekatan. Tinggal perbesar skalanya jadi satu negara.

Elitenya tahu persis

Ini bagian yang paling susah saya telan.

Kita biasanya mengira pemimpin yang membiarkan negaranya miskin melakukannya karena tidak tahu caranya. Kalau saja mereka diberi tahu, pasti diperbaiki. Jadi obatnya pendidikan, ahli dari luar, bantuan teknis.

"Poor countries are poor because those who have power make choices that create poverty. They get it wrong not by mistake or ignorance but on purpose."

Negara miskin jadi miskin karena orang yang berkuasa mengambil pilihan yang menciptakan kemiskinan. Mereka keliru bukan karena tidak sengaja dan bukan karena tidak tahu, tapi memang disengaja.

Alasannya masuk akal dari tempat mereka berdiri. Kemajuan ekonomi butuh hal-hal baru, dan hal baru selalu merobohkan yang lama. Orang kaya baru lahir, lalu menuntut suara di politik. Buat yang sudah nyaman di atas, itu ancaman langsung.

Jadi kemiskinan massal bukan tanda sistemnya gagal. Sistemnya jalan persis seperti rancangannya.

Bab yang judulnya Rempah dan Pembantaian

Bab sembilan bukunya berjudul membalik pembangunan, dan salah satu bagiannya diberi judul rempah dan pembantaian. Isinya kepulauan kita.

Jan Pieterszoon Coen mendirikan Batavia di Jawa pada 1618 sebagai ibu kota baru VOC. Pada 1621 ia berlayar ke Banda dan membantai hampir seluruh penduduknya.

Yang lebih jarang diceritakan justru apa yang terjadi pada negeri-negeri yang tidak ikut ditaklukkan. Mereka menarik diri. Beberapa negeri berhenti menanam untuk diekspor dan berhenti berdagang sama sekali, sebab menutup diri lebih aman daripada berhadapan dengan Belanda.

Pada 1620 Banten menebangi pohon ladanya sendiri, dengan harapan Belanda jadi tidak tertarik dan meninggalkan mereka.

Saya tidak mau menariknya jadi pelajaran besar. Yang datang punya kapal perang dan meriam. Menebang lada itu yang dilakukan orang yang sudah kehabisan pilihan, bukan tanda watak bangsa, dan mengubahnya jadi perumpamaan itu kemewahan orang yang membacanya dari jauh, empat abad kemudian, sambil duduk.

Yang layak dicatat cuma satu: perubahan ekonomi dan politik yang sedang tumbuh di Asia Tenggara berhenti di tempat, dan berhentinya bukan kebetulan.

Yang tidak dilihat orang yang mengagumi VOC

Bandingkan dengan cara Ray Dalio menceritakan hal yang sama.

Di The Changing World Order ia menyebut VOC enam belas kali dan menelusurinya dari lahir sampai izinnya habis: perusahaan terbuka pertama, bursa saham pertama, sepertiga perdagangan dunia, dividen yang setara satu dari tiap seratus dolar keluaran ekonomi Belanda. Kata pala tidak muncul sekali pun di seluruh bukunya. Begitu juga Banda, begitu juga Coen.

Acemoglu dan Robinson menuliskan ketiganya, dan memberi bagiannya judul yang tidak berusaha halus.

Dan buat saya bedanya bukan soal berapa banyak yang mereka tahu, tapi soal apa yang dianggap layak masuk ke dalam cerita tentang dari mana kemakmuran datang.

Kepulauan yang sama, barang yang lain

Bab rempah tadi soal siapa yang boleh mengambil apa dari kepulauan ini. Pertanyaannya masih dipakai, cuma barangnya berganti.

Pada 10 Juni 2025 pemerintah mencabut empat izin usaha pertambangan nikel di Raja Ampat. Pemegangnya Anugerah Surya Pratama, Mulia Raymond Perkasa, Kawei Sejahtera Mining, dan Nurham. Sebagiannya masuk kawasan lindung.

Yang kelima tidak dicabut. PT Gag Nikel, anak perusahaan Aneka Tambang, tetap beroperasi dengan wilayah kontrak karya 13.136 hektare, dan alasan resminya pengelolaan limbahnya sudah sesuai analisis dampak lingkungan.

Alasan itu bisa saja benar, dan saya tidak punya bahan untuk membantahnya. Tambang di mana pun butuh izin, jadi adanya izin belum menandakan lembaga yang menyedot. Yang mirip buku ini cuma satu hal: empat berhenti, satu jalan terus, dan negara yang memutuskan izinnya juga pemegang saham perusahaan yang lolos.

Revolusi yang cuma mengganti pemain

Kalau soalnya elite yang memegang mesin penyedot, jalan keluarnya kelihatan gampang: gulingkan, ganti dengan yang berpihak ke rakyat.

Sering yang berganti cuma wajah di poster. Mesinnya tetap, dan yang kemarin berteriak di jalan mendapati mesin itu ternyata enak juga dipakai.

Sosiolog Jerman Robert Michels menamainya hukum besi oligarki. Di hampir semua susunan kekuasaan ada tarikan alami ke arah kuasa yang menumpuk di tangan segelintir orang. Bukan karena manusia jahat dari sananya, tapi karena iming-imingnya bergerak dengan pola yang itu-itu saja.

Buku ini menunjukkan berakhirnya penjajahan sesudah Perang Dunia Kedua membuka kesempatan besar untuk berbelok. Di sebagian besar bekas jajahan, yang terjadi justru mesinnya diwarisi utuh.

Nobel yang datang untuk bagian yang paling dikeluhkan

Pada 14 Oktober 2024 Acemoglu dan Robinson dapat Nobel ekonomi, bersama Simon Johnson. Yang disebut panitianya persis tulang buku ini: bagaimana lembaga terbentuk, dan bagaimana lembaga itu menentukan makmur tidaknya sebuah negeri, dengan penjajahan dipakai sebagai percobaan alamnya.

Bantahan yang datang sesudahnya lebih menarik daripada penghargaannya. Mushtaq Khan berkeberatan bahwa yang mereka tunjukkan cuma negeri berpenghasilan tinggi hari ini kebetulan berskor tinggi juga di indeks lembaga bikinan Barat, dan itu belum menerangkan mana yang duluan. Yuen Yuen Ang menambahkan bahwa dalilnya jebol bukan cuma di Cina: Amerika sendiri tumbuh besar sambil korup.

Keberatan ketiga yang paling kena, dan itu soal cara mengukurnya. Koloni dibagi dua, yang didatangi pemukim Eropa dan yang tidak, lalu selisih hasilnya dibaca sebagai selisih lembaga. Koloni pemukim yang keluar sebagai kelompok berlembaga lebih baik itu tempat penduduk aslinya dihabisi lebih dulu. Waktu ditanya, Acemoglu menjawab mereka tidak sedang menanyakan penjajahan itu baik atau buruk, cuma mencatat bahwa siasat penjajahan yang berbeda melahirkan pola lembaga yang berbeda.

Sebagai cara kerja, kalimat itu masuk akal. Dibaca berdampingan dengan bab bukunya sendiri, bunyinya aneh. Bab tentang Banda di buku ini menceritakan penduduk satu kepulauan dihabiskan supaya palanya bisa dipegang satu tangan. Waktu peristiwa itu jadi contoh, ia kejahatan. Waktu peristiwa sejenis masuk ke dalam ukuran, ia berubah jadi siasat penjajahan yang berbeda.

Saya tidak membacanya sebagai kemunafikan. Itu yang biasa terjadi pada ukuran apa pun: begitu sesuatu dijadikan angka, bagian yang tidak muat berhenti kelihatan. Dan buku ini sendiri yang mengajari saya menagih hal itu ke buku lain.

Cina yang bikin ketahuan

Yang paling saya ragukan bukan mesinnya, tapi apakah dalilnya bisa diuji.

Cina sudah empat puluh tahun tumbuh pesat dan mengangkat ratusan juta orang keluar dari kemiskinan, di bawah aturan yang menurut ukuran buku ini jelas menyedot. Jawaban mereka: pertumbuhan seperti itu tidak akan bertahan.

Mungkin benar. Tapi perhatikan bentuk jawabannya. Satu kasus sebesar itu tidak muat ke dalam dalilnya, dan yang dilakukan bukan memperbaiki dalilnya, tapi menunda pembuktiannya ke masa depan yang belum ditentukan kapan.

Itu bukan dalil yang sedang diuji. Itu dalil yang sedang melindungi diri.

Bandingkan dengan buku mereka sendiri yang belakangan, The Narrow Corridor. Di situ yang bergerak disebutkan dua-duanya, kekuatan negara dan kekuatan masyarakat, dan naik turunnya bisa ditengok tanpa lebih dulu melihat kaya-miskinnya. Mesin yang belakangan lebih bisa dipegang daripada yang ini.

Jeffrey Sachs membalas dari arah yang lain. Menurutnya geografi dibuang terlalu cepat: penyakit tropis, tanah yang tidak subur, dan jarak ke pasar dunia menentukan lebih banyak daripada yang mereka akui.

Selesai membacanya, yang tersisa bukan rasa tercerahkan.

Membangun aturan main yang terbuka bukan kerjaan satu generasi. Butuh waktu panjang, ketekunan yang tidak ada serunya, dan yang paling berat, kesanggupan satu masyarakat menahan diri dari godaan menyerahkan semuanya ke satu figur penyelamat.

Selama kita masih menunggu Ratu Adil, entah politisi karismatik, tokoh agama yang dianggap sakti, atau investor asing yang katanya membawa kemakmuran, kita sedang antre masuk ke mesin yang sama, cuma beda yang memegang kendali.

Dan buat saya itu bagian yang paling susah diubah. Bukan karena kurang orang baik, tapi karena menunggu penyelamat jauh lebih murah daripada mengawasi terus-menerus.

Aturan main cuma bisa diubah orang yang sedang diuntungkan aturan yang sekarang. Buku ini jauh lebih banyak menerangkan kenapa itu jarang terjadi daripada bagaimana sesekali ia tetap terjadi.

Infografis

Infografis Why Nations Fail bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya