Dia menulis sendiri takaran isinya: sekian yang baik supaya egonya tenang, sekian yang jelek supaya bukunya laku.

Yang mengusulkan buku ini Duta Besar Amerika. Yang menuliskan wartawan Amerika. Yang menerbitkan penerbit Amerika. Dan orang yang di sampulnya disebut penyambung lidah rakyat Indonesia mendiktekan seluruhnya dalam bahasa Inggris, lalu rakyatnya menerima hasilnya sebagai terjemahan.

Semuanya ada di bab pertamanya, yang judulnya memang Alasan Menulis, dan tidak satu pun dari itu dibongkar orang lain. Sukarno menyebutkannya sendiri, tanpa disudutkan siapa pun.

Saya membaca bukunya bukan untuk tahu apa yang terjadi, tapi untuk melihat seseorang menyusun dirinya sendiri di depan umum. Bab pertama itu yang memberi tahu kita bahan apa yang sedang kita pegang.

Nasi goreng di Bogor

Percakapannya berlangsung di bungalow kecil di pekarangan Istana Bogor, bukan di istananya. Hartini memasak nasi goreng ayam. Sukarno berbaju santai, tidak bersepatu, dan makan dengan tangan. Tamunya Howard Jones, Duta Besar Amerika, yang oleh Sukarno disebut kawan yang tercinta.

Jones yang membuka soalnya: sudah waktunya Anda menuliskan sejarah hidup Anda. Jawabannya seperti biasa, tidak.

Bertahun-tahun sebelumnya juru bicaranya, Nyonya Rochmulyati Hamzah, menawarkan seorang wartawan CBS di tengah seratus wartawan asing yang sedang berkerumun. Sukarno membentaknya, lalu menyebut satu syarat yang tidak diminta siapa pun:

kalau aku pada satu saat menulis riwayat hidupku, aku akan kerjakan dengan seorang perempuan.

Cindy Adams datang ke Jakarta pada 1961 bersama suaminya, pelawak Joey Adams, yang memimpin Misi Kesenian Presiden Kennedy ke Asia Tenggara. Satu wawancara cukup. Waktu Jones mengangkat soal itu lagi, jawabannya: dengan satu syarat, aku mengerjakannya dengan Cindy Adams.

Soal bahasanya pun ia akui sendiri.

Tambahan lagi, aku akan melakukannya dalam bahasa Inggris, bahasa asing bagiku. Terkadang aku membuat kesalahan dalam tata bahasa dan seringkali aku terhenti karena merasa agak kaku.

Suara aku yang membuat orang masih membaca buku ini sudah lewat tiga tangan sebelum sampai ke kita: diucapkan dalam bahasa yang bukan bahasanya, dicatat orang yang tidak bisa memeriksa isinya, lalu dikembalikan ke bahasa Indonesia oleh orang ketiga. Ejaan lamanya, kalimat panjangnya yang berirama, pengulangan yang dipakai sebagai tenaga: sebagian dari itu milik penerjemahnya, dan tidak ada cara memisahkannya dari sini.

Resep bukunya ia tulis di dalam bukunya

Di meja yang sama, Sukarno menerangkan kenapa ia lama menolak, dan alasannya bukan alasan yang biasa dipakai orang untuk merendah.

Untuk membuat otobiografi yang sesungguhnya si penulis hendaknya dalam keadaan yang susah seperti Rousseau ketika dia menulis pengakuan-pengakuannya dan pengakuan yang demikian ternyata sukar bagi saya. Banyak tokoh yang masih hidup akan menderita, apabila saya menceriterakan semuanya. Dan banyak pemerintahan-pemerintahan, dengan mana saya sekarang mempunyai hubungan yang baik, akan mendapat serangan sejadi-jadinya apabila saya menyatakan beberapa hal yang ingin saya ceriterakan.

Sesudah itu ia menyebutkan takaran isinya, dan takaran itu sebaiknya dibaca sebagai daftar isi.

Otobiografiku hanya mungkin jika ada perimbangan dari kedua-duanya. Sekian banyak yang baik-baik supaya dapat menenangkan egoku dan sekian banyak yang jelek-jelek sehingga orang mau membeli buku itu.

Sedikit orang berani menulis resep bukunya sendiri di dalam bukunya. Sesudah dua kalimat itu pertanyaannya berubah: bukan lagi apakah isinya benar, tapi apa yang masuk takaran dan apa yang tidak.

Dua ukuran, dipakai ke suaranya sendiri

Nama besar tidak menambah bobot apa pun. Orang di dalam buku saya nilai dengan dua ukuran: berani menanggung akibat pilihannya, dan jujur pada diri soal motifnya. Yang menghabiskan kepercayaan cuma satu, menyalahkan orang lain atas pilihan sendiri.

Untuk ukuran kedua, suaranya di sini lolos dengan cara yang jarang. Ia menyebut egonya sendiri sebagai alasan ia tidak mungkin jadi budak Moskow. Ia mengaku bersyukur hujan turun waktu ia mendarat di Bali pada musim kering, karena kalau tidak, pengaruhnya akan berkurang. Orang yang mengakui hal-hal seperti itu tentang dirinya sendiri tidak sedang berbohong soal apa yang ia kejar.

Untuk ukuran pertama, hasilnya lain. Waktu foto dirinya berdansa di Manila jadi berita, kalimat yang ia pakai:

Sudah barang tentu lagi-lagi reputasiku menyebabkan aku menjadi korban keadaan.

Yang paling jelas justru kejadian kecil. Sesudah membentak Rochmulyati sampai perempuan itu lari pulang, ia menyesal, memanggilnya kembali, dan minta maaf. Sampai di situ bagus. Lalu bentakan tadi ia terangkan begini: kalau aku meradang, itu berarti aku mencintaimu. Dan alinea berikutnya menaikkan kebiasaan pribadi itu jadi asas:

Itu sebabnya, mengapa persoalan-persoalan Asia harus diselesaikan dengan cara Asia.

Satu kebiasaan membentak bawahan berubah jadi keterangan tentang peradaban dalam dua kalimat. Susunan yang sama muncul waktu ia bicara soal perempuan, termasuk lelucon yang ia ulang kepada tamu bahwa perempuan seperti pohon karet dan tidak baik lagi sesudah tiga puluh tahun. Semuanya ia terangkan sebagai pembawaan seniman.

The Dictator's Handbook memasang kalimatnya di halaman 15: ini cerita tentang politik, bukan tentang watak orangnya. Buku Cindy Adams kebalikannya persis. Ratusan halaman kepribadian tetap tidak menerangkan kenapa keputusannya bergerak ke arah yang itu, sementara hitungan tentang siapa yang harus dijaga supaya kursinya aman menerangkannya dalam beberapa halaman.

Kenapa condong ke Timur, menurut dia sendiri

Keterangan resminya bebas aktif, antiimperialisme, poros yang baru. Keterangan yang ia berikan sendiri di bab pertama lain sekali.

Negara-Negara Sosialis tak pernah mengizinkan seorangpun mengejekku dalam pers mereka. Negara-Negara Sosialis selalu memujiku.

Lalu daftarnya: Khrushchev mengirimi dia jam dan puding dua minggu sekali, dan memetikkan apel serta hasil panen terbaiknya. Sesudah itu barisan terima kasih, dan yang ia ucapkan itu katanya terima kasih, bukan komunisme.

Dua puluh tahun kemudian Franklin Weinstein mewawancarai orang-orang yang benar-benar menjalankan politik luar negeri di sini, dan jawaban mereka tidak ada hubungannya dengan siapa yang berbuat manis. Catatan soal itu ada di Indonesian Foreign Policy and the Dilemma of Dependence. Yang keluar dari mulut mereka justru hitungan dingin orang yang tahu negaranya lemah.

Dua keterangan itu tidak saling membatalkan. Yang satu menerangkan kenapa kebijakan itu berbentuk begitu di tangan orang itu. Yang satu lagi menerangkan kenapa bentuknya bertahan sesudah orangnya tidak ada.

Nelayan yang berjalan kaki dua puluh tiga hari

Ada deret cerita di bab pertama yang mestinya bikin penulisnya berhati-hati. Ia justru menuliskannya dengan senang.

Seorang nelayan tua berjalan kaki dua puluh tiga hari cuma untuk sujud dan mencium kakinya. Seorang petani kelapa bermimpi harus meminta air kepada Bapak untuk anaknya yang sakit keras. Sukarno mengambil air ledeng dari dapur, dan seminggu kemudian anak itu sembuh. Di Bali orang percaya ia penjelmaan Wisnu, dan hujan turun tiap kali ia datang.

Peter Carey menunjukkan di Kuasa Ramalan bahwa harapan akan datangnya Ratu Adil sudah ada duluan dan tinggal menunggu orangnya. Diponegoro mengisi lowongan itu pada 1825. Bedanya di sini, yang mengumumkan lowongan itu sudah terisi justru orangnya sendiri, di dalam bukunya, dengan tiga contoh berturut-turut.

Dan tetap saja ia tidak menutupi hitungannya. Soal hujan di Tampaksiring ia menulis terus terang bahwa kalau hujan tidak turun, pengaruhnya berkurang. Ukuran kedua ia lewati lagi di situ.

Yang dibantah orang yang ikut di dalamnya

Adams tidak memeriksa apa yang diceritakan kepadanya, dan itu memang bukan pekerjaannya. Dua tahun kemudian ia menerbitkan buku sendiri tentang pengalaman menyusunnya, My Friend the Dictator.

Yang lebih berat datang dari dalam. Pada 1968, di jurnal Indonesia terbitan Cornell, Gatot Mangkupradja, salah satu pendiri PNI, menerbitkan tulisan yang judulnya menyebut dirinya koreksi atas otobiografi Sukarno. Sesudah itu kesaksian Gatot sendiri, terutama soal surat permohonan pembentukan PETA yang katanya ia tulis dengan darahnya sendiri, ikut diragukan orang dan jadi perdebatan panas pada 1970-an.

Jadi begitulah bentuk bahannya. Satu versi dibantah versi lain, dan versi yang membantah juga tidak bersih.

Angkanya juga disodorkan tanpa satu pun sumber. Ia menulis bahwa Indonesia sekarang bangsa yang seratus persen bebas buta huruf di bawah umur empat puluh lima, dari enam persen dua puluh tahun sebelumnya, dan bahwa anak-anak sekarang dua inci lebih tinggi daripada angkatan sebelumnya. Tiga angka, satu alinea, nol keterangan dari mana.

Dan Marhaenisme, sebutan yang ia pakai seumur hidup, berdiri di atas satu percakapan di pematang dengan seorang petani muda waktu ia berumur dua puluh. Percakapan itu diceritakan oleh orang yang memberi nama itu, empat puluh tahun sesudahnya, di dalam buku yang takarannya sudah ia sebutkan sendiri.

Ende, lima ribu jiwa, dua kapal pos sebulan

Bukunya paling kuat justru di bab ketika Sukarno bukan pusat apa-apa.

Kampung nelayan berpenduduk lima ribu jiwa, dipilih Gubernur Jenderal jadi penjara terbuka tempat ia seharusnya menghabiskan sisa umurnya. Tidak ada telepon, telegraf, listrik, air leding. Dua kapal pos sebulan, jadi surat dan koran datang dua kali. Jalannya ditebas menembus hutan dan tidak diaspal; di musim hujan lumpurnya jadi bungkah-bungkah, lalu mengeras waktu matahari memancar terik. Kalau mandi ia membawa sabun ke Wola Wona. Kampung tempat rumahnya berdiri begitu kecil sampai daerah rambahannya tidak punya nama.

Di situ mertuanya, Ibu Amsi, tidur pada suatu malam dan tidak bangun-bangun selama lima hari. Sukarno yang menggoyang-goyang badannya, dan Sukarno juga yang membawanya ke kuburan.

Sikap mendramatiskan dirinya mereda, dan yang mengambil alih sesuatu yang lebih mirip pengamatan. Bahkan di sana hitungannya jalan terus. Waktu Inggit bertanya kenapa harus Flores, jawabannya bukan keluhan.

Di Digul ada 2.600 orang yang dibuang. Tentu aku akan memperoleh kehidupan yang enak di sana. Dapatkah kau bayangkan, apa yang akan diperbuat Sukarno dengan 2.600 prajurit yang sudah disiapkan itu?

Tuduhannya dicabut, dan cara mencabutnya

Buku ini terbit 1965. Dua tahun kemudian keluar ketetapan MPRS nomor XXXIII, yang salah satu pertimbangannya menyebut Sukarno melindungi tokoh-tokoh PKI. Ketetapan itu yang menempel pada namanya selama sisa hidupnya dan berpuluh tahun sesudahnya.

Pencabutannya berjalan pelan sekali, dan bentuknya perlu diperhatikan.

Pada 2012 ia diberi gelar pahlawan nasional lewat keputusan presiden. Pada November 2022 presiden yang menjabat menyatakan bahwa dengan gelar itu, syarat setia dan tidak berkhianat sudah dianggap terpenuhi. Baru pada Agustus 2024 pimpinan MPR menegaskan ketetapan tadi memang sudah tidak berlaku.

Lima puluh tujuh tahun, dan tidak satu pun dari tiga langkah itu memeriksa tuduhannya. Yang dikerjakan menyatakan sebuah surat sudah tidak berlaku, lalu menyimpulkan tuduhan di dalamnya ikut gugur.

Bukunya sendiri mengerjakan hal yang bentuknya mirip, dari arah berlawanan. Sukarno tidak menunggu ada yang menimbang. Ia menerbitkan timbangannya sendiri lebih dulu, dalam bahasa asing, tahun tanahnya mulai bergerak.

Jadi dua-duanya berjalan tanpa pemeriksaan. Yang satu tuduhan tanpa persidangan, yang satu pembelaan tanpa lawan bicara, dan yang kalah dalam dua-duanya orang yang mau tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Jalan yang dipakai untuk Sukarno pada 2012, gelar lewat keputusan presiden, dipakai lagi pada November 2025, kali ini untuk orang yang menggantikannya. Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025 ditetapkan pada 6 November 2025 dan diserahkan empat hari kemudian di Istana Negara. Isinya sepuluh nama yang diberi gelar pahlawan nasional. Dua di antaranya bekas presiden, Soeharto dan Abdurrahman Wahid. Satu lagi Marsinah, buruh pabrik arloji di Sidoarjo yang ditemukan mati pada Mei 1993 dengan bekas penyiksaan, dan perkaranya tidak pernah selesai.

Ketiganya ada di satu lembar keputusan yang sama. Surat bisa menaikkan nama dan bisa menurunkannya, tapi tidak bisa memeriksa. Memeriksa butuh pengadilan, arsip yang dibuka, atau setidaknya orang yang ditanyai di bawah sumpah, dan tidak satu pun dari itu diperlukan untuk menerbitkan sebuah keputusan presiden.

Di bab pertama Sukarno menulis bahwa buruk baiknya seseorang cuma bisa ditimbang sesudah ia mati. Lalu ia terbitkan timbangannya sendiri pada tahun tanahnya mulai bergerak, dalam bahasa asing, lewat penerbit asing, dengan takaran yang ia tentukan sendiri.

Versi itulah yang sampai sekarang paling banyak dipegang orang di sini, termasuk oleh orang yang tidak pernah membacanya. Diukur dari berhasil atau tidaknya, bukunya berhasil.

Saya belum punya cara menyebut hasil seperti itu tanpa terdengar sedang memuji atau sedang menuduh.

Baca berikutnya