Kebenaran itu lebih kuat, kata Aristoteles, dan kalah cuma kalau cara memutuskannya rusak.

Plato membenci retorika. Di Gorgias Socrates menyebutnya sanjungan dan menyandingkannya dengan masak-memasak: keduanya seni palsu, yang satu membuat makanan buruk terasa enak, yang satu lagi membuat gagasan buruk terdengar meyakinkan. Aristoteles belajar padanya dua puluh tahun, lalu menulis buku ini, dan kalimat pertamanya langsung menolak perbandingan itu: retorika itu pasangan dialektika, bukan pasangan dapur.

Pembelaannya sering dikutip terbalik, jadi biar bunyinya sendiri yang bicara. Bab 1.1:

"rhetoric is useful, [first] because the true and the just are by nature stronger than their opposites, so that if judgments are not made in the right way [the true and the just] are necessarily defeated [by their opposites]."

Retorika berguna, pertama-tama karena yang benar dan yang adil secara alami lebih kuat daripada lawannya, sehingga kalau keputusan tidak diambil dengan cara yang benar, yang benar dan yang adil pasti kalah.

Jadi bukan kebenaran lemah dan perlu ditolong. Kebenaran menurutnya justru lebih kuat, dan kalahnya cuma terjadi kalau cara memutuskannya rusak. Seluruh buku ini alat untuk membetulkan cara memutuskan itu. Saya membacanya sebagai panduan, dan panduan diukur dari berapa banyak yang masih kepakai sesudah semangat membacanya habis. Yang kepakai ternyata banyak, dan tempat pakainya rapat, kampanye, dan kolom komentar.

Tiga jalan, dan tiga syarat di jalan pertama

Orang diyakinkan lewat tiga hal: watak yang tampak dari yang bicara, keadaan perasaan pendengar, dan argumennya sendiri. Yang pertama paling sering disalahpahami, dan Aristoteles menutup salah pahamnya di 1.2.4:

"this should result from the speech, not from a previous opinion that the speaker is a certain kind of person"

Watak itu harus lahir dari pidatonya, bukan dari anggapan yang sudah ada sebelumnya bahwa pembicaranya orang macam itu.

Lalu kalimat yang mengagetkan dari seorang murid Plato: watak, katanya, boleh dibilang bentuk keyakinan yang paling berkuasa. Bukan argumen.

Di Buku Dua ia merinci watak itu jadi tiga syarat: pembicara tampak berakal sehat, tampak baik, dan tampak berkehendak baik pada pendengarnya. Kalau salah satu hilang, orang yang benar pun tidak dipercaya.

Saya memakai tiga syarat itu sebagai daftar periksa tiap kali sebuah hitungan yang benar ditolak di rapat. Hampir selalu yang gagal syarat ketiga. Angkanya beres, penyajinya jelas cakap, tapi orang di seberang meja tidak yakin angka itu disodorkan demi mereka. Dan Aristoteles benar bahwa itu tidak bisa dipinjam dari nama baik yang dibawa masuk ke ruangan. Harus lahir di dalam ruangan itu, dari cara bicaranya sendiri.

Premis yang diisi pendengar sendiri

Satuan argumennya ia sebut entimem: penalaran yang salah satu premisnya sengaja tidak diucapkan, sebab pendengar akan mengisinya sendiri. Contohnya sederhana. Untuk membuktikan Dorieus menang lomba berhadiah mahkota, cukup bilang ia menang Olimpiade; tidak perlu ditambahkan bahwa hadiah Olimpiade itu mahkota, sebab semua orang tahu.

Premis yang tidak diucapkan itu tempat sebagian besar pekerjaan terjadi, dan tempat sebagian besar masalah bersembunyi.

Kampanye di sini hampir seluruhnya entimem. Calon disebut anak petani, atau pernah nyantri, atau lahir di kampung ini, dan kalimatnya berhenti di situ. Premis keduanya, bahwa anak petani akan berpihak pada petani, tidak pernah diucapkan, jadi tidak pernah bisa dibantah. Pendengar yang mengisinya, dan orang membela kesimpulan yang ia bantu bangun sendiri jauh lebih keras daripada kesimpulan yang disodorkan jadi.

Pesan berantai di grup keluarga jalan dengan cara yang sama. Yang dikirim cuma satu kejadian. Premis yang menghubungkannya ke kesimpulan besar sudah ada di kepala penerimanya, dan pengirimnya tahu itu.

"Kamu siapa"

Bagian tentang watak paling terasa kalau dipasang ke cara orang berdebat di sini.

Ada yang menyampaikan hitungan soal satu kebijakan. Balasan pertama hampir tidak pernah menyentuh hitungannya. Yang keluar: memangnya kamu siapa, sudah pernah mengurus negara belum, lulusan mana.

Dibaca dengan Aristoteles, itu perpindahan medan yang sangat hemat tenaga, dari argumen ke watak, dan hemat karena di sini watak memang menanggung beban paling berat di antara tiga jalan tadi. Gelar dipakai lengkap, garis keturunan disebut, kedudukan diletakkan di depan nama. Semua itu bahan yang sedang dipakai sebelum kalimat pertama diucapkan.

Akibat baiknya ada: di masyarakat yang saling kenal, riwayat orang memang keterangan yang berguna. Akibat buruknya lebih berat: orang yang benar tapi tidak punya kedudukan tidak didengar, dan orang yang punya kedudukan tidak perlu benar.

Aristoteles akan mengenali dua-duanya, dan justru itu yang ia larang di 1.2.4: watak yang dibawa dari luar pidato. Schopenhauer menaruh serangan ke orangnya sebagai akal nomor tiga puluh delapan, yang paling belakang, karena menurutnya itu tanda orang sudah kehabisan bahan. Catatannya di The Art of Being Right.

Marah itu balasan atas hinaan yang kelihatan

Buku Dua memuat daftar perasaan, dan tiap perasaan dibedah seperti mesin yang punya bahan masukan. Marah dibatasi di 2.2.1:

"Let anger be [defined as] desire, accompanied by [mental and physical] distress, for apparent retaliation because of an apparent slight that was directed, without justification, against oneself or those near to one."

Marah itu keinginan, disertai rasa tertekan, untuk membalas secara kelihatan, gara-gara penghinaan yang kelihatan dan dianggap tidak beralasan, yang ditujukan kepada diri sendiri atau orang dekat.

Perhatikan kata yang diulang: kelihatan. Bukan hinaan yang sungguhan, cukup yang tampak begitu. Dan bukan balasan yang sungguhan, cukup yang tampak. Itu resep lengkap untuk kolom komentar. Yang paling banyak dibagikan bukan yang paling benar, tapi yang paling terasa sebagai hinaan kepada kelompok pembacanya, dan balasan yang dicari bukan yang mengubah apa-apa, cukup yang kelihatan oleh orang lain.

Bab tentang orang muda menambahkan satu baris yang kena telak pada saya waktu masih lebih muda: mereka mengira tahu segalanya dan bersikeras soal itu, dan itu sebabnya mereka mengerjakan segalanya berlebihan.

Lalu Buku Tiga membuka dengan pengakuan yang pahit baginya. Cara penyampaian, katanya, urusan yang rendah kalau dipikir dengan benar, tapi harus diperhatikan, bukan karena benar, tapi karena perlu, sebab pendengarnya sudah rusak. Buku yang seluruhnya soal argumen mengakui di bab terakhirnya bahwa yang menentukan sering bukan argumen, dan menyebut alasannya tanpa ditutup-tutupi. Siapa pun yang pernah melihat hitungan yang benar kalah oleh video tiga puluh detik tahu ia sedang bicara tentang apa.

Pendengar yang tidak memutuskan apa-apa

Jenis retorika menurutnya cuma tiga, dan pembagiannya bukan menurut isi pidato, tapi menurut pendengarnya. Pendengar yang memutuskan soal masa lalu: pengadilan. Pendengar yang memutuskan soal masa depan: majelis. Dan pendengar yang tidak memutuskan apa-apa, cuma menonton: pidato pujian dan celaan.

Pembagian itu menerangkan kenapa panduan berdebat yang bagus sering tidak jalan di tempat umum. How to Have Impossible Conversations menyusun resep untuk dua orang di satu meja, dan resepnya memang jalan, sebab di meja itu lawan bicara adalah pendengar yang akan memutuskan sesuatu. Di kolom komentar tidak ada yang memutuskan. Semua orang penonton, dan yang bicara sedang tampil di depan penonton. Menurut pembagian Aristoteles, itu jenis ketiga: yang kelihatannya perdebatan kebijakan sebenarnya pertunjukan tentang siapa yang pantas dikagumi, dan resep untuk jenis pertama tidak akan mengubahnya.

Di sini juga tempat bukunya bocor, dan ia yang membukanya sendiri. Di 1.1.5 ia memuji negara yang tata kelolanya baik, tempat undang-undang melarang pembicara keluar dari pokok perkara, dan mencatat bahwa di negara seperti itu para penulis buku pidato tidak akan punya bahan. Seluruh seninya, dengan kata lain, untuk negara yang aturannya tidak seketat itu. Kalau keputusannya diambil di tempat lain, atau tidak diambil sama sekali, bukunya berhenti punya alamat.

Catatan kuliah yang tidak pernah dirapikan

Yang kita baca bahan kuliah, dan George Kennedy, penerjemah edisi Oxford ini, terus terang soal keadaannya. Aristoteles tidak pernah merevisi keseluruhannya. Sebagian bab ditulis pertengahan 350-an SM lalu diubah sedikit dua puluh tahun kemudian, dan sikapnya pada retorika sendiri bercabang: ia ingin muridnya mengerti bahayanya seperti yang digambarkan Plato, sekaligus sanggup membela diri di depan umum. Kennedy juga mencatat ia kemungkinan mengajar retorika kepada Alexander yang waktu itu sekitar tiga belas tahun.

Dua keberatan Kennedy layak dibawa. Aristoteles tampaknya tidak pernah menyusun teorinya dari pidato sungguhan; ia membangunnya dari pemahamannya tentang politik dan etika, padahal pidato yang diterbitkan sudah tersedia. Dan karena kurang berpengalaman di pengadilan, ia tidak pernah menyusun cara menentukan apa sebenarnya yang dipersengketakan di sebuah perkara, dan itu, menurut Kennedy, salah satu sebab buku ini jarang dipakai sekolah pidato di zaman kuno sesudahnya.

Jadi buku yang paling lengkap tentang meyakinkan orang ditulis oleh orang yang jarang berdiri di pengadilan, dari kepala, dan hampir tidak dipakai para ahli pidato sesudahnya. Yang memakainya justru kita, dua ribu tiga ratus tahun kemudian, untuk mengenali apa yang sedang dilakukan kepada kita.

Pendengar yang bisa diukur dulu sebelum diajak bicara

Seluruh isi buku ini bertumpu pada satu keadaan yang Aristoteles anggap wajar: pembicara berdiri di depan orang banyak dan menyusun satu pidato untuk mereka semua. Ia mengajarkan cara menakar pendengar, dan takarannya kasar: tua atau muda, kaya atau tidak, sedang marah atau sedang takut.

Sebuah percobaan yang terbit pada 2025 di Nature Human Behaviour memindahkan keadaan itu.

Orang diminta berdebat pendek soal perkara sosial dan politik, dan lawan bicaranya diacak: kadang manusia, kadang program bahasa. Kalau programnya tidak diberi keterangan apa pun tentang lawan bicaranya, hasilnya kira-kira setara manusia. Kalau ia diberi keterangan pribadi lawan bicaranya, ia lebih meyakinkan pada 64,4 persen kesempatan, dengan kenaikan peluang sekitar delapan puluh satu persen dibanding lawan manusia.

Selisih itu datang seluruhnya dari kemampuan menyesuaikan diri dengan orang yang sedang dihadapi.

Itu takaran pendengar yang diajarkan Aristoteles, dikerjakan sampai ke perorangan, seketika, dan sebanyak yang dimau. Yang di bukunya butuh pengalaman bertahun-tahun dan cuma bisa dilakukan sekali untuk satu ruangan, sekarang bisa dikerjakan sejuta kali sekaligus, tiap orang dapat versinya sendiri.

Dan syarat ketiga yang saya keluhkan di bawah nanti jadi lebih repot lagi. Kehendak baik yang dibuat tampak dulu sudah susah dibedakan dari yang sungguhan. Sekarang yang membuatnya tampak bisa jadi tidak punya kehendak apa pun.

Dibaca berdampingan dengan Schopenhauer, dua buku ini melengkapi satu sama lain. Aristoteles menyusun daftar yang meyakinkan orang dan mengandaikan kita memakainya untuk perkara yang kita percayai. Schopenhauer menyusun daftar di medan yang sama dan mengandaikan kita tidak.

Yang masih mengganjal buat saya syarat ketiga tadi, kehendak baik pada pendengar. Menurut Aristoteles itu pun bisa dibuat tampak, sama seperti dua syarat lainnya, dan ia menyediakan caranya. Cara membedakan yang dibuat tampak dari yang sungguhan belum saya temukan di bukunya, dan kalau pendengar bisa membedakannya, seluruh buku ini tidak perlu ditulis.

Baca berikutnya