Pedagang Cina di Batavia punya modal, jaringan, dan orang; yang tidak mereka punya cuma negara yang bersedia menalangi ongkos meriamnya.

Tambang batu bara Inggris punya masalah air. Galiannya terisi, dan kalau tidak dikuras terus-menerus tambangnya berhenti. Tambang batu bara Cina punya masalah sebaliknya.

"English mines tended to fill with water, so a strong pump was needed to remove that water. Chinese coal mines had much less of a water problem; instead they were so arid that spontaneous combustion was a constant threat. It was this problem—one that required ventilation rather than powerful pumps—that preoccupied the compiler of the most important Chinese technical manual of the period"

Tambang Inggris cenderung terisi air, jadi dibutuhkan pompa yang kuat untuk mengurasnya. Tambang batu bara Cina jauh lebih sedikit soal airnya, dan justru begitu kering sampai batu baranya terancam menyala sendiri setiap saat. Masalah itulah, yang menuntut ventilasi dan bukan pompa yang bertenaga, yang mengisi kepala penyusun buku panduan teknis Cina paling penting pada zaman itu (hal 76).

Mesin uap tidak lahir karena Inggris lebih pintar. Mesin itu lahir karena masalah yang kebetulan berdiri di depan orang Inggris berbentuk air, dan air perlu dipompa.

Keterangan sebesar itu yang bisa diperiksa sampai ke dasar tambangnya jarang ada, dan itu sebabnya saya memakai buku ini.

Membandingkan yang sebanding

Yang memicu perdebatan panjang dari buku ini bukan jawabannya, tapi cara Pomeranz memulai.

Membandingkan Eropa dengan Asia itu membandingkan sebuah benua dengan sebuah karangan. Jadi ia membandingkan yang sebanding: delta Sungai Yangzi melawan Inggris dan Belanda. Ketiganya wilayah yang paling ramai berdagang, paling padat penduduknya, dan pertaniannya paling maju di benua masing-masing.

Dibandingkan begitu, dengan bukti yang tersedia untuk sekitar 1750, perbedaannya hampir hilang. Angka harapan hidup, jumlah kalori yang dimakan, banyaknya gula dan kain yang dipakai, pasar tanah dan pasar tenaga kerja, kecanggihan cara bertaninya. Yang muncul kemiripan, bukan keistimewaan Eropa.

Dari situ keluar satu aturan yang menurut saya bagian paling tahan lama dari bukunya, dan berlaku jauh di luar sejarah. Kalau dua hal masih mirip pada 1750 lalu berpisah sesudahnya, maka apa pun yang sudah ada sebelum 1750 tidak boleh dipakai menerangkan perpisahannya. Bukan hak milik, bukan budaya ilmu pengetahuan, bukan bentuk keluarga, dan bukan pasar.

Yang paling kena dari daftar itu jawaban Why Nations Fail, yang menaruh seluruh beban pada aturan main dan hak milik. Kalau Pomeranz benar soal 1750, hak milik yang aman sudah ada di dua-duanya, dan yang perlu diterangkan justru kenapa yang satu meledak dan yang satu tidak.

Lahan hantu, dan hektar Inggris yang tidak pernah ada

Istilah yang bikin buku ini dikenal itu ghost acreage, lahan hantu, yaitu tanah yang menghasilkan untuk sebuah negara tanpa pernah berada di dalam negara itu.

Gula, kapas, dan kayu dari Amerika memasok Eropa dengan barang yang butuh lahan luas, tanpa memakai lahan Eropa. Ukurannya bukan sedikit. Pomeranz mengutip hitungan Wrigley: untuk menyamai tenaga yang didapat Inggris dari batu bara pada 1815, dibutuhkan hutan seluas kira-kira enam juta hektar, dan delapan setengah juta hektar kalau angka konversinya dibuat kurang hemat (hal 70).

Gula lebih tajam lagi. Satu hektar lahan tebu di daerah tropis menghasilkan kalori sebanyak lebih dari empat hektar kentang, atau sembilan sampai dua belas hektar gandum (hal 286). Tiap sendok gula memindahkan lahan.

Dan Pomeranz tidak menjual angkanya lebih mahal daripada harganya. Sesudah menyebut hitungan Wrigley ia langsung menambahkan bahwa tidak jelas apa sebenarnya yang ditunjukkan angka itu, sebab tanpa batu bara Inggris tidak akan memakai tenaga sebanyak itu sejak awal. Penulis yang memasang keberatan atas buktinya sendiri di kalimat berikutnya layak dibaca pelan-pelan.

Satu hal yang tidak boleh dipisahkan dari istilahnya: lahan itu jadi menghasilkan karena dikerjakan dengan paksa. Lahan hantu datang lengkap dengan orang di atasnya.

Kopi Jawa, dan tanah yang muncul di pembukuan tanpa muncul di petanya

Amerika versi Pomeranz itu gula dan kapas, dan biasanya sampai di situ orang berhenti membaca. Padahal ia menyebut kita sendiri, satu kali, di kalimat yang paling penting untuk kita.

Dalam perdagangan kopi, tulisnya, orang Eropa gagal menguasai pasar yang berpusat di Timur Tengah. Waktu akhirnya mereka berhasil pada abad kedelapan belas, caranya dengan membuat pusat produksi baru di tanah jajahan mereka sendiri: Jawa, St. Domingue, Reunion (hal 193).

Jadi kopi Jawa bukan cerita perkebunan. Itu jalan memutar yang ditempuh karena kalah bersaing di pasar yang sudah ada.

Bentuk paling telanjangnya datang belakangan. Antara 1830 dan 1870, Sistem Tanam Paksa mewajibkan desa-desa di Jawa menyerahkan sebagian tanah dan sebagian tenaganya untuk tanaman ekspor milik pemerintah kolonial: tebu, kopi, nila. Hasilnya dikirim ke Belanda dan dijual di sana. Uangnya disebut batig slot, saldo yang menguntungkan.

Angka berikut ini tidak ada di buku Pomeranz. Sepanjang umur sistem itu, yang masuk ke kas negara Belanda ditaksir sekitar delapan ratus juta gulden, dan pada tahun-tahun puncaknya di dasawarsa 1850-an kira-kira sepertiga pemasukan negara Belanda datang dari sini. Uang itu melunasi utang negara, membiayai jaringan kereta api, dan membayar pekerjaan umum di sebuah negeri yang sebagian besar warganya tidak pernah melihat sawah tempat uang itu tumbuh.

Itu lahan hantu, persis. Tanah dan tenaga muncul di pembukuan sebuah negara tanpa pernah muncul di petanya.

Dan ada bagian yang seharusnya berada di kalimat yang sama, dan biasanya tidak. Pada akhir 1840-an sampai awal 1850-an beberapa daerah di Jawa Tengah, di antaranya Demak dan Grobogan, dilanda kelaparan sementara tanaman ekspornya terus berjalan. Perkiraan yang mati sampai puluhan ribu orang. Sistemnya baru dilonggarkan sesudah itu, dan salah satu pendorongnya Max Havelaar karya Multatuli, yang membuat susunan ini kelihatan oleh pembaca di Belanda yang selama ini menikmati hasilnya tanpa tahu bentuknya.

Batavia, tempat pertanyaannya benar-benar diuji

Bab keempat bukunya hampir tidak pernah masuk ringkasan mana pun, dan sebagian isinya tentang kota yang sekarang bernama Jakarta.

Pomeranz memakai Batavia untuk menguji satu pertanyaan langsung: kenapa Cina tidak punya Dunia Baru-nya sendiri, padahal pedagangnya ada di mana-mana.

Angkanya ia sebut. Pengusaha Cina menguasai pembukaan perkebunan tebu di luar tembok kota Batavia sesudah 1690, dan pada 1710 tujuh puluh sembilan dari delapan puluh empat pemilik penggilingan orang Cina, begitu juga sebagian besar buruhnya (hal 213). Menjelang akhir 1700-an Batavia dan sekitarnya bisa saja sudah berisi seratus ribu orang Cina, lebih banyak daripada penduduk New York, Boston, dan Philadelphia pada 1770 kalau ketiganya dijumlahkan (hal 216).

Jadi tenaganya ada, modalnya ada, jaringannya ada, dan orangnya ada. Yang tidak ada cuma satu hal, dan Pomeranz menyebutnya lugas:

"But colonization was out if there was no way to make consumers of exports pay for it."

Tapi penjajahan tidak mungkin dijalankan kalau tidak ada cara membuat pembeli barang ekspornya ikut membayar ongkosnya (hal 216).

Di situ letak seluruh perkaranya. Pedagang Eropa berlayar membawa izin memakai kekerasan dan hak istimewa di pasar kampung halamannya, dan hak istimewa itu yang menutup ongkos meriamnya. Pedagang Cina di Batavia tidak punya keduanya. Mereka malah dilarang membeli tanah oleh penguasa kolonial, dan sesekali dijadikan sasaran pembantaian, yang di Batavia terjadi pada 1740.

Buat saya di sini dalil dua kebetulan itu retak sendiri. Letak batu bara memang kebetulan. Tapi negara yang bersedia menanggung ongkos kekerasan lalu menagihnya balik dari pembeli gula di dalam negeri bukan kebetulan. Itu susunan yang dibangun bertahap, dan ada orangnya, dan ada yang diuntungkan.

Satu keterangan kecil lagi yang jarang dilihat orang. Pomeranz menyebut jebakan yang nyaris menelan Cina dengan istilah involution, keadaan waktu penduduk terus bertambah di atas lahan yang tidak bertambah, dan tiap tangan tambahan menambah hasil yang makin kecil. Istilah itu ia pinjam dari Clifford Geertz, dan Geertz menyusunnya waktu mempelajari sawah di Jawa.

Upah Inggris yang sudah tinggi sejak 1700

Bantahan yang paling serius datang dari Robert Allen dan Stephen Broadberry, dan bentuknya bantahan angka, bukan bantahan tafsir.

Menurut mereka upah di Inggris sudah jauh lebih tinggi daripada upah di Cina sejak sekitar 1700, dan batu bara di Inggris sudah lebih murah. Gabungan dua keadaan itu persis yang bikin mesin penghemat tenaga kerja layak diciptakan. Kalau tenaga kerja murah dan bahan bakar mahal, tidak ada yang membangun mesin uap, sebab tidak ada yang bisa dihemat.

Kalau itu benar, kemiripan tahun 1750 yang jadi tumpuan seluruh buku ini goyah, dan pemisahannya harus dimundurkan ke zaman yang justru dinyatakan Pomeranz masih mirip.

Ada juga keberatan soal susunannya, dan menurut saya yang ini lebih berat daripada soal upah. Membandingkan satu wilayah di Cina dengan dua negara di Eropa memberi keleluasaan memilih perbandingan yang paling mendukung dalilnya. Memilih Yangzi bukan pilihan netral, dan tidak ada di dalam bukunya alasan yang independen kenapa Yangzi dan bukan wilayah lain.

Pomeranz sudah menjawab panjang lebar dan perdebatannya belum selesai. Yang jelas, dua puluh lima tahun ribut-ribut itu menghasilkan data upah, harga, dan hasil panen yang jauh lebih rapi daripada yang dipunyai siapa pun waktu bukunya terbit. Itu hasil yang paling berguna, dan hampir tidak pernah disebut waktu orang menceritakan perdebatannya.

Perdebatan yang sebenarnya berlangsung di buku ini menyangkut apa yang boleh dihitung sebagai keterangan.

Kalau naiknya Eropa datang dari sesuatu yang melekat pada Eropa, maka ceritanya soal keutamaan, dan tugas semua orang lain menirunya. Kalau naiknya datang dari letak batu bara dan dari sawah orang lain, maka ceritanya soal kebetulan, dan sekaligus soal utang.

Pomeranz tidak berkhotbah soal itu, dan memang tidak perlu. Pertanyaan yang sama, diukur dengan alat yang lain sama sekali, ada di Why the West Rules - For Now, dan soal batu bara yang jadi tumpuan dua-duanya dibongkar sampai ke satuan tenaganya di Energy and Civilization.

Sesudah menutupnya ada satu pertanyaan yang belum mau pergi. Bagian mana dari susunan hari ini yang kelak dibaca orang sebagai lahan hantu? Barang yang sekarang murah karena ongkosnya ditanggung orang lain di tempat lain tidak pernah kelihatan begitu waktu sedang dipakai.

Lahan hantu yang sekarang mulai dihitung orang

Pertanyaan penutup di atas tadi ternyata sedang dijawab sebagian, dan yang menjawabnya sebuah aturan dagang.

Uni Eropa menyusun aturan yang melarang tujuh jenis barang masuk ke pasarnya kalau berasal dari lahan yang dihutankan sesudah 31 Desember 2020. Daftarnya: sapi, kakao, kopi, sawit, karet, kedelai, dan kayu, berikut barang jadinya. Pelakunya harus bisa membuktikan asal lahannya, sampai ke titik koordinat. Pemberlakuannya sempat ditunda setahun, dan sekarang berlaku bertahap: perusahaan besar lebih dulu, perusahaan kecil menyusul.

Buat Indonesia, tujuh barang itu bukan barang sembarangan. Nilai ekspor sawit, karet, kakao, kopi, dan kayu ke Eropa pada 2022 sekitar 6,7 miliar dolar, dan di belakangnya sekitar delapan juta petani kecil.

Yang bikin ini pas dengan bukunya, aturan itu pada dasarnya alat pembukuan lahan. Ia menuntut tiap kilogram minyak sawit membawa keterangan hektar mana yang menghasilkannya. Itu persis hitungan lahan hantu yang dipakai Pomeranz, cuma dikerjakan ke depan, bukan ke belakang, dan oleh pihak yang selama ini jadi pembelinya.

Dan di situ letak yang tidak enak. Yang menyusun aturannya benua yang hutannya sudah lama habis, dengan tanggal batas yang dipilihnya sendiri, dan ongkos membuktikannya jatuh ke petani yang kebunnya dua hektar.

Pomeranz akan menyebut ini babak lanjutan, bukan babak baru. Yang berubah cuma satu: sekarang hektarnya dihitung, dan yang menghitung tetap yang membeli.

Baca berikutnya