Semua orang akan mencicipi madu di ujung lidah, dan kitab ini menghitung semuanya kecuali lidah rajanya.

Tiga kitab di rak ini ditulis untuk dipakai penguasa, dan saya membaca ketiganya dengan cara yang sama: sebagai panduan, tanpa berlagak cuma mengamati dari jauh. The Prince dan The Art of War sudah begitu. Kautilya tidak akan diperlakukan lain.

Bedanya, yang ini paling tidak cocok dijadikan kutipan dinding. Machiavelli menyuruh penguasa memilih ditakuti. Sun Tzu menghitung ongkos perang sampai ke lem dan cat. Kautilya menulis tarif bea masuk, dua puluh persen dari nilai barang, lalu jatah pakan kuda dan gajah, lalu berapa persen beras susut kalau digiling, dibedakan menurut jenis berasnya. Buku pegangan yang isinya benar-benar pegangan.

Justru karena itu panduan ini yang paling bisa diperiksa. Yang menyuruh ditakuti tidak bisa dibantah. Yang menulis angka bisa.

Madu di ujung lidah

Seluruh kitab ini berdiri di atas satu anggapan, dan L.N. Rangarajan, penerjemahnya, merumuskannya di halaman 140: tidak ada seorang pun yang memegang kuasa yang bisa dipercaya tidak akan menyalahgunakannya. Bukan sebagian besar. Tidak ada.

Kautilya sendiri mengatakannya lewat dua perumpamaan berturut-turut di bab 2.9:

"Just as it is impossible not to taste honey or poison that one may find at the tip of one's tongue, so it is impossible for one dealing with government funds not to taste, a little bit, of the King's wealth."

Sebagaimana mustahil tidak mengecap madu atau racun yang sudah ada di ujung lidah, mustahil pula orang yang mengurus uang negara tidak mencicipi, sedikit saja, kekayaan raja.

"Just as it is impossible to know when a fish moving in water is drinking it, so it is impossible to find out when government servants in charge of undertakings misappropriate money."

Sebagaimana mustahil tahu kapan ikan yang berenang sedang meminum airnya, mustahil pula tahu kapan pegawai yang mengurus sebuah pekerjaan sedang menggelapkan uangnya.

Dari anggapan itu lahir daftar yang membuat buku ini terkenal di kalangan pemeriksa keuangan: satu ayat, 2.8.21, yang merinci empat puluh cara pegawai mencurangi kas negara, mencurangi rakyat, atau dua-duanya sekaligus. Rangarajan harus menyusunnya jadi tabel supaya bisa dibaca.

Machiavelli memulai Discourses on Livy dari anggapan yang sama persis, delapan belas abad kemudian: siapa pun yang menyusun republik harus mengandaikan semua orang jahat dan akan memakai kejahatannya begitu ada kesempatan. Dua orang, dua benua, satu titik berangkat. Yang berbeda bangunan yang didirikan di atasnya.

Gaji tertinggi bukan harga kecakapan

Daftar gaji di bab 5.3 memuat dua angka yang jaraknya jauh: 48.000 pana setahun untuk jabatan tertinggi, 60 pana untuk yang terendah. Delapan ratus banding satu, dan itu belum menghitung tunjangan.

Yang menerangkan seluruh kitab ini alasannya, bukan angkanya. Gaji sebesar itu diberikan, kata naskahnya, supaya penerimanya tidak tergoda tawaran musuh dan tidak memberontak. Panglima dibayar 48.000 dengan alasan yang sama. Komandan empat sayap pasukan dibayar 8.000 supaya sanggup membawa anak buahnya.

Jadi gaji tertinggi di negara Kautilya bukan harga kecakapan. Gaji itu harga kesetiaan, dan dihitung dari besarnya godaan yang harus dikalahkannya.

Kita kenal hitungan ini. Tiap kali lembaga penegak baru dibentuk dan pertanyaan pertama yang muncul soal remunerasi pegawainya, argumen yang keluar persis argumen Kautilya: gajinya harus cukup tinggi supaya tidak bisa disuap. Tidak ada yang bilang gajinya tinggi karena pekerjaannya sulit. Yang disebut selalu godaannya. Bab 5.3 sedang dijalankan di sini tanpa pernah dibaca.

Dan jaringnya tidak berhenti di gaji. Pegawai diawasi mata-mata. Mata-mata diawasi mata-mata lain: keterangan baru dianggap benar kalau tiga mata-mata yang berbeda menyebut hal yang sama, dan agen yang terus-menerus tidak bisa diandalkan disingkirkan. Tiap lapis mengawasi lapis di bawahnya, dan tiap lapis diandaikan sedang mencicipi madu.

Penilaian dari luar datang tiap awal tahun. Transparency International merilis indeks persepsi korupsi 2025 pada 10 Februari 2026: skor Indonesia 34 dari 100, peringkat 109 dari 180 negara, turun sepuluh tingkat dari tahun sebelumnya. Lembaga penegak dengan gaji yang dihitung dari godaannya sudah berdiri lebih dari dua puluh tahun, undang-undangnya diubah pada 2019, dan skor Indonesia tidak pernah lewat empat puluh. Kautilya tidak akan heran. Jaring yang ia pasang memang rapat, tapi ada satu kursi yang sejak awal tidak ia masukkan ke dalamnya.

Kursi yang tidak diawasi siapa pun

Di sini pendirian saya terhadap kitab ini, dan pendirian itu bukan penolakan.

Anggapannya saya terima. Orang yang memegang uang orang lain memang akan mencicipi, dan sistem yang dibangun tanpa menghitung itu akan bocor. Yang perlu diperiksa hal lain: sampai mana jaring pengawasan serapat itu menjangkau.

Jawabannya di kursi raja. Pegawai diaudit, mata-mata diaudit silang, dan pertapa yang keluar malam ditangkap karena mata-mata biasa menyamar jadi pertapa. Raja diikat oleh satu kalimat:

"In the happiness of his subjects lies the king's happiness; in their welfare his welfare."

Kebahagiaan raja terletak pada kebahagiaan rakyatnya, kesejahteraannya pada kesejahteraan mereka.

Rangarajan memasang kalimat itu sebagai pembuka seluruh terjemahannya, dan kalimatnya memang indah. Tapi itu nasihat, dan sisa kitabnya bukan nasihat. Sisa kitabnya tata cara: siapa memeriksa siapa, berapa dendanya, tiga saksi baru dihitung benar. Untuk semua orang ada tata caranya. Untuk satu-satunya orang yang diandaikan sama tidak bisa dipercayanya dengan yang lain, cuma ada kalimat.

Pertanyaan yang selalu dibawa ke kitab semacam ini: aturan ini menahan siapa, dan yang menyerukannya ikut kena atau tidak. Danda, tongkat hukuman yang jadi tulang punggung seluruh buku, menahan semua orang kecuali tangan yang memegangnya.

Machiavelli di Discourses sampai di persoalan yang sama dan mengambil jalan sebaliknya. Obatnya bukan agen rahasia yang melapor ke satu orang, tapi tuduhan terbuka di depan banyak hakim, sebab yang sedikit selalu memutus untuk kepentingan yang sedikit. Kautilya memusatkan semua laporan ke atas. Machiavelli menyebarkannya ke bawah. Dua-duanya berangkat dari orang jahat, dan cuma satu yang menghitung bahwa orang di puncak termasuk di antaranya.

Ada satu lagi yang tidak masuk pembukuan, dan bentuknya sama dengan yang dilewatkan Sun Tzu. Sun Tzu menghitung lem dan cat, tapi tidak pernah menghitung ongkos menyesatkan orang sendiri. Kautilya menghitung sampai upah pesuruh pengadilan, seperdelapan pana, tapi tidak menghitung apa jadinya negeri tempat tiap pertapa, tiap pedagang, tiap janda kaya bisa saja agen. Naskahnya memperlihatkan akibatnya tanpa sadar: karena mata-mata menyamar jadi pertapa, pertapa sungguhan ikut dicurigai. Kepercayaan yang dijaga jaring itu dimakan oleh jaringnya sendiri.

Negara di atas daun lontar

Naskahnya hilang berabad-abad dan kembali dengan cara yang hampir seperti cerita. Pada 1904 seberkas daun lontar beraksara Grantha, lengkap dengan potongan tafsir lama, sampai ke tangan R. Shamasastry di Mysore. Terjemahan Inggrisnya terbit pada 1915.

Siapa yang menulisnya jauh kurang pasti daripada siapa yang menemukannya. Tradisi India, dari sumber Brahmana, Buddha, sampai Jain, sepakat Kautilya yang menjatuhkan wangsa Nanda dan mendudukkan Chandragupta Maurya di Magadha sekitar 321 SM. Yang meragukan menaruh naskahnya paling lambat 150 Masehi. Rangarajan menyebut kajian statistik atas teksnya oleh Trautmann pada 1968, yang menyimpulkan buku ini disusun satu orang tapi tidak punya satu pencipta, lalu menyebut dasar teorinya rapuh. Beberapa halaman kemudian ia menulis bahwa tiap sarjana punya sudut pandangnya sendiri, kalau bukan prasangkanya. Dua kalimat itu ada di buku yang sama, dan dua-duanya benar.

Yang kita baca juga bukan urutan aslinya. Rangarajan menyusun ulang seluruh naskah menurut pokok bahasan, karena urutan buku ajar yang dihafal lisan bukan urutan yang kita pakai sekarang. Jadi Arthashastra yang beredar dalam bahasa Inggris setidaknya separuhnya Arthashastra Rangarajan.

Dan tiap zaman membaca yang ingin dibacanya. Dewan menteri di naskah ini pernah dibaca sebagai Dewan Penasihat Raja Inggris, sebagai parlemen, dan sebagai monarki konstitusional. Kesimpulan Rangarajan datar: yang ingin melihat demokrasi di India kuno menemukannya di sini, dan yang cuma melihat monarki mutlak juga menemukannya di sini. Ia juga mencatat satu hal yang mati-matian dibantah para penerjemah India sebelumnya: naskahnya memberi Brahmana hak istimewa, dari kebal siksaan dan hukuman mati sampai gratis naik perahu tambang. Untuk pengkhianatan, orang lain dibakar; Brahmana dibutakan.

Rangarajan sendiri mengingatkan jangan mengira gambaran di buku ini berlaku untuk seluruh masa India kuno, dan berapa luas negeri Kautilya pun masih harus ditebak dari luar naskahnya. Yang kita pegang rancangan negara yang lengkap sampai tarif perahu tambang, dan seberapa jauh rancangan itu pernah jalan tidak ikut tertulis di daun lontarnya.

Saya kenal bentuk itu. Negara yang bagannya lengkap sampai desa, aturannya tertulis sampai ke tarif, dan yang benar-benar jalan tidak ada yang tahu persis. Kautilya menulis negara kertas paling rapi yang pernah dibuat, dan dari situ satu hal jadi jelas soal negara kertas kita sendiri: yang kurang bukan kelengkapan rancangannya.

Denda, negara, menteri

Lapisan Kautilya tidak berhenti di India, dan tidak perlu dicari jauh.

Kata negara itu nagara. Menteri itu mantri, jabatan yang dibahas panjang di bagian dewan penasihat. Saksi itu sakshi. Dan denda, kata yang dipakai polisi lalu lintas sampai hari ini, itu danda, tongkat hukuman yang jadi pokok seluruh kitab ini. Kita mengurus negara dengan kosakata yang sudah ada di daun lontar itu, dan kebanyakan tidak sadar sedang mengutip.

Perumpamaannya pun sudah jadi milik kita. Bab 1.4 menerangkan apa yang terjadi kalau hukuman tidak dijalankan:

"Unprotected, the small fish will be swallowed up by the big fish. In the presence of a king maintaining just law, the weak can resist the powerful."

Tanpa perlindungan, ikan kecil ditelan ikan besar. Di hadapan raja yang menegakkan hukum yang adil, yang lemah bisa melawan yang kuat.

Matsyanyaya, hukum ikan. Kita menyebutnya hukum rimba, dan artinya sama persis.

Susunan kerajaannya juga pernah dipakai di sini: pusat yang kuasanya paling penuh lalu menipis ke luar, dan daftar daerah dalam Nagarakretagama yang mencatat siapa mengakui, bukan siapa diduduki.

Dua siasat kecilnya bahkan masih dijalankan tanpa perlu dikutip. Waktu negara butuh uang tambahan, kata Kautilya, agen rahasia harus membuka pengumpulan dana dengan menulis angka besar di sebelah namanya sendiri, supaya yang lain sungkan menulis lebih kecil. Rangarajan langsung menyandingkannya dengan presiden dan perdana menteri zaman sekarang yang membuka sumbangan dengan angka pribadi yang besar. Dan negara boleh menyelenggarakan perayaan keagamaan palsu dengan bantuan agen supaya orang mengeluarkan uangnya. Bentuknya di sini tidak perlu disebut. Kamu sudah pernah menyumbang di salah satunya.

Yang membedakan Kautilya dari Machiavelli bukan kadar kejamnya. Rangarajan menolak julukan Machiavelli India dan bilang julukan itu tidak adil untuk keduanya. Saya setuju, dengan alasan yang lebih sederhana: yang satu menulis nasihat, yang satu lagi menulis tarif.

Dan justru tarif yang membuat kitab ini bisa dipegang dari bawah. Nasihat cuma bisa dipakai yang punya kuasa. Daftar tarif, daftar empat puluh cara, daftar alasan gaji, bisa dibaca siapa saja yang sedang diperiksa olehnya, dan dari situ ketahuan apa yang sedang dilakukan kepada kita, dan atas anggapan apa.

Anggapan itu madu di ujung lidah. Kautilya benar bahwa semua orang akan mencicipi. Yang belum saya temukan di seluruh seribu halamannya cuma satu: siapa yang memeriksa lidah orang yang menulis daftarnya.

Empat puluh cara mengetahui, dan alat yang sekarang dibeli negara

Yang paling banyak halamannya di kitab ini bukan soal perang. Yang paling banyak soal mengetahui: siapa yang harus diawasi, dengan cara apa, lewat siapa, dan dengan bayaran berapa. Kautilya menyusun jaringan pengintai sampai ke bentuk penyamarannya.

Perkara itu masih ada, dan sekarang alatnya bisa dibeli.

Amnesty International menemukan tanda kuat bahwa kepolisian dan badan siber di sini membeli perangkat pengawasan dan penyadap dari luar negeri, antara lain dari Israel, Yunani, Singapura, dan Malaysia. Elsam menghitung anggaran yang berkaitan dengan pengawasan di angka 36,1 triliun rupiah, dan menduga negeri ini juga jadi salah satu simpul dalam rantai peredarannya. Sampai sekarang belum ada pejabat yang mengakui pembeliannya.

Yang beda dari kitab Kautilya bukan alatnya. Yang beda pembukuannya.

Kautilya menulis daftarnya terbuka: siapa dibayar berapa, untuk mengawasi siapa, dan atas alasan apa. Rajanya tahu, menterinya tahu, dan orang yang membaca kitabnya juga tahu. Justru itu yang saya sebut di atas tadi sebagai alasan kitab ini bisa dipegang dari bawah.

Yang sekarang tidak punya daftar. Anggarannya ada di pos yang tidak dirinci, alatnya dibeli lewat perantara, dan yang memakainya tidak pernah menyebut namanya sendiri.

Jadi pertanyaan penutup di atas tadi berlaku dua kali lipat. Kautilya setidaknya menuliskan daftarnya.

Baca berikutnya