Kalimat pertama bukunya pertanyaan Hobbes: dalam keadaan seperti apa kerja sama bisa muncul di antara orang-orang yang mementingkan diri sendiri, tanpa kekuasaan yang memaksa dari atas.
Hobbes menjawab tidak bisa, dan dari jawaban itu lahir alasan kenapa perlu pemerintah yang kuat. Axelrod tidak membantahnya dengan argumen. Dia mengadakan turnamen komputer.
Yang ada di tangan saya laporan percobaan, bukan buku gagasan. Dan di laporan percobaan, yang paling layak dibongkar bukan kesimpulannya, tapi aturan mainnya.
Aturan mainnya, dan dua hal yang dibuang lebih dulu
Dua pemain. Tiap langkah, masing-masing memilih satu dari dua: ikut kerja sama, atau berkhianat.
Kalau dua-duanya ikut, masing-masing dapat tiga. Kalau dua-duanya berkhianat, masing-masing dapat satu. Kalau yang satu berkhianat sementara yang lain ikut, yang berkhianat dapat lima dan yang dikhianati dapat nol.
Untuk satu langkah, berkhianat selalu lebih menguntungkan, apa pun pilihan lawannya. Tapi kalau dua-duanya menghitung begitu, dua-duanya pulang membawa satu, padahal kalau sama-sama menahan diri dua-duanya pulang membawa tiga.
Ronde pertama, empat belas peserta ditambah satu program yang memilih secara acak. Tiap peserta dipertandingkan melawan semua peserta lain, termasuk melawan kembarannya sendiri, lima laga masing-masing dua ratus langkah. Seluruhnya 120.000 langkah, 240.000 pilihan.
Yang menang program paling pendek yang masuk, dikirim Anatol Rapoport, guru besar psikologi di Toronto. Di tabel peserta, kolom panjang program di barisnya berisi angka empat dan kolom nilai berisi 504,5. Aturannya dua kalimat: langkah pertama ikut kerja sama, sesudah itu tiru apa pun yang dilakukan lawan pada langkah sebelumnya.
Ronde kedua diadakan sesudah hasil ronde pertama diumumkan, jadi tiap peserta tahu apa yang harus dikalahkan. Enam puluh dua peserta dari enam negara, sebagian besar bukan ahli teori permainan tapi penggemar komputer yang membaca pengumumannya di majalah pemakai komputer kecil. Lebih dari satu juta langkah. Balas setimpal menang lagi.
Ada dua hal yang dibuang Axelrod sebelum satu pun program dijalankan, dan dua-duanya disebut terang-terangan di halaman 27.
Yang pertama, tidak ada cara bagi pemain untuk membuat ancaman atau janji yang mengikat. Untuk butir ini ia menunjuk langsung ke The Strategy of Conflict. Seluruh perkakas Schelling, yaitu keterikatan yang sengaja diperlihatkan supaya lawan menghitung lalu mundur, dicabut dari meja.
Yang kedua, tidak ada nama baik. Pemain tidak bisa mengamati lawannya sedang berhadapan dengan orang lain. Satu-satunya keterangan yang dia punya cuma riwayat pertemuan mereka berdua.
Dua hal yang dibuang itu persis dua hal yang jadi tumpuan dunia kita. Justru karena keduanya dibuang, hasilnya berarti. Yang diukur turnamen itu lantai paling bawahnya.
Pemenang yang tidak pernah sekali pun mengungguli lawannya
Halaman 107 memuat satu kalimat yang mengubah arti seluruh turnamennya.
"Yet TIT FOR TAT never once scored better in a game than the other player! In fact, it can't."
Padahal balas setimpal tidak pernah sekali pun mendapat nilai lebih tinggi daripada lawannya di satu laga pun. Memang tidak bisa.
Sebabnya ada di aturannya sendiri. Program itu tidak pernah berkhianat duluan, dan tidak pernah berkhianat lebih banyak daripada lawannya. Jadi hasil terbaik yang bisa dia capai melawan siapa pun cuma seri.
Dia memenangkan turnamen tanpa mengalahkan satu pun peserta.
Nilainya tidak datang dari selisih. Nilainya datang dari mutu hubungan yang dia hasilkan, dan mutu itu dia hasilkan justru dengan membiarkan lawannya keluar sama bagusnya. Dari situ Axelrod menurunkan nasihat pertamanya di halaman 105, dan nasihat itu satu kata: jangan iri. Di permainan yang berulang panjang, keberhasilan lawan hampir jadi syarat bagi keberhasilan kita sendiri.
Di kantor, yang dihitung orang hampir selalu selisih: kenaikan sendiri dibanding kenaikan meja sebelah, bagian yang dapat proyek dibanding bagian yang tidak. Yang berhitung begitu sedang memainkan permainan yang lain, dan permainan itu memang bisa dimenangkan. Sekali.
Sepertiga giliran jaga
Di bab empat tidak ada komputernya sama sekali, dan bab itu yang membuat sisanya bisa dipercaya.
Di sepanjang beberapa ruas garis depan pada 1914 dan 1915, satuan dari kedua pihak berhenti berusaha membunuh satu sama lain. Bukan lewat perjanjian, sebab berbicara dengan musuh hukumannya mati. Lewat menahan diri yang menumpuk sedikit demi sedikit. Dalam catatan kakinya Axelrod mengutip taksiran Tony Ashworth: keadaan seperti itu terjadi di kira-kira sepertiga dari seluruh giliran jaga parit oleh divisi Inggris.
Seorang prajurit mencatat pada musim panas 1915 bahwa menembaki jalan di belakang parit musuh, yang pasti penuh gerobak ransum dan pedati air, gampang sekali. Jalan itu tetap dibiarkan sepi.
"After all, if you prevent your enemy from drawing his rations, his remedy is simple: he will prevent you from drawing yours."
Toh kalau kita menghalangi musuh mengambil ransumnya, obatnya gampang: dia akan menghalangi kita mengambil ransum kita.
Yang menahan susunan itu peragaan, bukan ancaman. Penembak jitu Jerman menembaki satu titik di dinding rumah berkali-kali sampai berlubang, untuk memberi tahu bahwa kalau mau, titik itu bisa saja kepala orang. Meriam sesekali menjatuhkan beberapa peluru dengan ketepatan tinggi, untuk memperlihatkan bahwa diamnya mereka pilihan. Dan waktu benar-benar ada yang melanggar, balasannya sering dua atau tiga kali lipat, bukan setimpal.
Yang membongkarnya justru perintah dari atas untuk menyerbu parit lawan, dan alasan perintah itu mempan disebutkan Axelrod di halaman 84. Serbuan tidak bisa dipura-purakan sudah dilakukan padahal tidak, dan tidak bisa dijalankan sambil diam-diam bekerja sama, sebab tidak ada yang bisa dipertukarkan sesudahnya, tidak prajurit hidup dan tidak mayat.
Komandan yang menyusun perintah itu tahu persis apa yang sedang dia matikan.
Siapa yang mengingat, dan siapa yang memungut
Warung berani memberi utang. Bon ditulis di buku tulis, kadang cuma diingat. Tidak ada perjanjian, tidak ada jaminan, tidak ada cara menagihnya lewat pengadilan. Yang membuatnya jalan bukan kebaikan hati penjualnya dan bukan kejujuran bawaan pembelinya, tapi kepastian bahwa mereka akan bertemu lagi besok, dan lusa, dan tahun depan.
Orang yang tidak pernah menyerobot antrean di warung langganannya bisa menyerobot di rest area jalan tol. Wataknya tidak berganti dua jam sekali. Yang berbeda cuma satu hal: di tempat pertama dia akan datang lagi minggu depan, di tempat kedua dia tidak akan pernah kembali.
Dari situ gampang sampai ke kesimpulan yang murung, bahwa makin banyak urusan kita yang sekali jalan, makin habis kerja samanya. Saya tidak ikut sampai ke sana, dan buku ini sendiri yang menyediakan alasannya.
Di catatan The Selfish Gene saya menulis bahwa yang berganti perantaranya, bukan mesinnya. Axelrod menyebutkan dua hal yang menentukan panjang pendeknya bayangan masa depan: seberapa sering dua pihak bertemu, dan seberapa cepat pengkhianatan ketahuan. Yang kedua ia tegaskan di bab penutup. Makin pendek waktu yang dibutuhkan untuk mengetahui pilihan lawan, makin mantap kerja samanya.
Dua-duanya bisa dibeli dari luar sekarang, dan tidak satu pun mengurus akhlak.
Bintang di aplikasi ojek tidak mengukur kebaikan siapa pun. Yang dikerjakannya menyambung satu perjalanan ke perjalanan berikutnya, dengan penumpang yang berbeda, sampai orang yang tidak akan kita temui lagi tetap jadi lawan main yang berulang. Ulasan toko daring memendekkan waktu ketahuan dari bertahun-tahun jadi satu hari. Catatan kredit mengumpulkan riwayat gagal bayar dari tempat-tempat yang tidak saling kenal, lalu menaruhnya di depan petugas yang belum pernah melihat orangnya.
Ketiganya cuma mengembalikan syarat yang dibuang Axelrod dari turnamennya, dan mengembalikannya kepada orang asing.
Tagihannya tidak ada di buku ini. Buku bon warung dipegang warungnya sendiri, dan tidak ada yang memungut apa pun dari situ. Catatan yang mengingat untuk kita sekarang punya pemilik. Pemiliknya memungut potongan dari tiap perjalanan, menentukan sendiri apa yang dicatat dan apa yang tidak, dan sanggup mencoret nama seseorang tanpa menyebutkan alasannya. Bayangan masa depan yang dipanjangkan dengan cara itu bukan milik dua pihak yang sedang bertransaksi. Pemiliknya pihak ketiga.
Pemenangnya bergantung pada siapa yang ikut
Balas setimpal terdengar seperti hukum alam kalau cuma hasilnya yang dibaca. Bantahannya ada di buku yang sama.
Ada siasat bernama TIT FOR TWO TATS, yang baru membalas kalau lawan berkhianat dua kali berturut-turut. Di halaman 113 Axelrod menghitung bahwa siasat itu akan memenangkan ronde pertama seandainya ikut. Di ronde kedua siasat itu benar-benar ikut, dikirim ahli biologi evolusi dari Inggris bernama John Maynard Smith, dan hasilnya peringkat dua puluh empat.
Aturannya tidak berubah. Lapangannya yang berubah. Pelajaran yang benar dari ronde pertama berubah jadi jebakan di ronde kedua, justru karena semua orang sudah mempelajarinya.
Dua keberatan lagi. Yang pertama sudah ditulis Axelrod sendiri, di halaman yang sama waktu ia memuji kecepatan membalas: satu pengkhianatan yang sebenarnya cuma salah tangkap menghasilkan pembalasan bersahut-sahutan yang dua-duanya terjebak di dalamnya. Yang datang dari luar bukunya temuan sesudahnya, bahwa siasat yang sedikit lebih pemaaf mengungguli balas setimpal begitu kemungkinan salah tangkap ikut dihitung. Itu penting, sebab dunia nyata isinya salah tangkap.
Sasaran keberatan kedua justru bab yang tadi saya sebut paling bagus. Permainannya dua pemain, dan parit itu bukan dua pemain. Pihaknya banyak, ada bentuk komunikasi meski tanpa kata, dan ada komandan di luar permainan yang sanggup menghentikan semuanya. Bukti yang paling meyakinkan di buku ini juga bukti yang paling tidak cocok dengan modelnya.
Turnamennya diulang, pesertanya program bahasa
Turnamen Axelrod dijalankan pada 1979 dan 1980, dan pesertanya program yang ditulis orang dengan aturan yang tegas. Sejak 2025 orang mulai mengulanginya dengan peserta jenis baru: program bahasa besar, yang disuruh menyusun sendiri siasatnya.
Cara mengujinya beragam. Ada yang menyuruh programnya menulis siasat dalam bahasa biasa, lalu diterjemahkan jadi kode dan diadu semua lawan semua. Ada yang menaruh siasat-siasat itu ke dalam populasi dan membiarkannya berkembang.
Dua hasil yang paling perlu dicatat.
Pertama, kesimpulan pokok bukunya tidak jatuh. Siasat yang bersahabat dan tidak mendahului menyerang tetap keluar dengan hasil setara kerja sama saling menguntungkan, dan siasat yang galak menurunkan perolehan kedua belah pihak.
Kedua, dan ini yang membuat saya menaruhnya di sini. Sebagian program itu susah menjalankan siasat sesederhana balas apa yang dilakukan lawan giliran sebelumnya, secara konsisten, padahal siasat itu ada di bahan bacaan yang dipakai melatihnya. Dan tiap merek program punya kecondongannya sendiri: yang satu lebih gampang bersahabat, yang lain lebih gampang galak, dengan soal yang sama persis.
Dua hal itu bersama-sama enak sekali dibaca. Aturan bukunya bertahan waktu diuji peserta yang bentuknya sama sekali lain. Dan yang menentukan hasilnya, seperti di penutup bawah nanti, tetap siapa yang ikut, bukan seberapa pintar pesertanya.
Kerja sama tidak butuh orang yang lebih baik. Yang dibutuhkan masa depan yang cukup berarti.
Maka apa pun yang memendekkan bayangan itu berbahaya, dan yang memendekkannya biasanya justru hal yang kelihatan tertib. Di halaman 163 Axelrod menyebut satu: pejabat di organisasi besar dipindah tiap kira-kira dua tahun, dan itu memberi mereka alasan kuat untuk terlihat bagus dalam waktu pendek tanpa peduli keadaan yang diwariskan ke penggantinya. Usulnya, penilaian seorang pejabat harus memuat juga keadaan yang ia tinggalkan untuk orang berikutnya.
Saya belum tahu siapa yang bersedia mengerjakan penilaian macam itu. Orang yang menyusunnya juga dipindah tiap dua tahun.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Tipis, dan susunannya paling jelas di rak ini: satu bab memasang perkaranya, dua bab menceritakan percobaannya, dua bab memeriksa apakah hasilnya muncul juga di dunia nyata, dua bab berisi saran, satu bab penutup.
Buku ini beda dari buku gagasan lain karena isinya hasil pertandingan, bukan pendapat. Axelrod mengundang ahli dari berbagai bidang untuk mengirimkan siasat berupa program komputer, lalu mengadu semuanya dalam satu permainan yang diulang berkali-kali. Seluruh bukunya tumbuh dari hasil itu.
Bab 1: perkaranya
Permainannya dipasang di sini, dan perlu dimengerti benar sebelum lanjut. Dua pihak, tiap giliran boleh bekerja sama atau berkhianat, dan mengkhianati selalu lebih menguntungkan untuk giliran itu saja. Kalau cuma dimainkan sekali, mengkhianati jelas pilihan yang masuk akal. Yang jadi pertanyaan bukunya: apa yang terjadi kalau permainannya diulang terus dan kedua pihak tahu masih akan bertemu lagi.
Dua hal sengaja dibuang dari permainan itu, dan itu perlu diingat sepanjang membaca: tidak ada yang bisa memaksa, dan tidak ada yang bisa berjanji.
Bab 2 dan 3: hasil pertandingannya
Bab 2 menceritakan siasat yang menang, dan siasat itu paling pendek di antara semua yang dikirim: mulai dengan bekerja sama, lalu tiap giliran berikutnya tirukan apa yang lawan lakukan giliran sebelumnya. Bab 3 memeriksa kenapa ia menang, dan menyusun empat sifat yang dimiliki semua siasat yang berhasil: tidak pernah memulai pengkhianatan, membalas dengan cepat, memaafkan sesudah dibalas, dan gampang ditebak lawannya.
Satu hal yang jarang ikut disebut waktu buku ini dikutip: siasat pemenangnya tidak pernah sekali pun mengungguli lawan mainnya dalam satu pertandingan langsung, dan menurut aturannya sendiri memang tidak bisa. Siasat itu menang karena mengumpulkan angka tertinggi dari seluruh pertandingan, bukan karena mengalahkan siapa pun.
Bab 4 dan 5: di dunia nyata
- Bab 4 yang paling terkenal, dan isinya kejadian di parit-parit Perang Dunia Pertama. Dua pasukan yang saling berhadapan berbulan-bulan diam-diam berhenti saling membunuh, tanpa satu pun perjanjian, semata karena tahu besok pagi masih akan berhadapan lagi. Yang membubarkannya bukan perintah damai, tapi perintah yang membuat pasukannya sering berganti.
- Bab 5 mencari pola yang sama di dunia hewan dan bakteri.
Bab 6 sampai 8: sarannya
Bab 6 berisi saran untuk pemain: jangan iri pada hasil lawan, jangan memulai pengkhianatan, balas keduanya, dan jangan terlalu pintar. Bab 7 berisi saran untuk orang yang mengatur permainannya: perpanjang bayangan pertemuan berikutnya, ubah besarnya ganjaran, dan ajarkan orang untuk peduli pada satu sama lain.
Yang jadi jantungnya
- Bab 1 dan 2 dibaca berpasangan, karena tanpa aturan mainnya hasilnya gampang disalahartikan.
- Bab 4. Untuk waktu yang cuma cukup satu bab, ambil yang ini: itu bukti bahwa kerja sama bisa tumbuh tanpa persahabatan, tanpa perjanjian, bahkan di antara orang yang diperintahkan saling membunuh.
- Bab 6, untuk saran jangan iri, yang paling melawan naluri dan paling terpakai.
Yang boleh dilewat
- Bab 5 kalau biologi bukan yang dicari; isinya menguatkan, bukan menambah.
- Bab 7 sebagian, karena sarannya ditujukan untuk orang yang punya kuasa mengatur aturan main, dan sebagian besar pembacanya tidak punya itu.
- Kata pengantar edisi baru, kecuali kalau ingin tahu apa yang berubah sesudah pertandingan-pertandingan berikutnya.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Hasilnya sangat bergantung pada siapa yang ikut bertanding. Siasat yang menang di kumpulan peserta tertentu bisa kalah di kumpulan yang berbeda, dan itu diakui di bagian belakang bukunya sendiri. Jadi kesimpulannya bukan bahwa siasat itu selalu terbaik, tapi bahwa ia bertahan baik di lingkungan yang isinya beragam.
Dua hal yang dibuang dari permainannya, paksaan dan janji, justru dua hal yang paling banyak menentukan urusan manusia sungguhan.
Kalau buru-buru
Bab 1, 2, 4, 6. Empat bab, dan seluruh isi bukunya sudah di tangan: aturan mainnya, siasat pendek yang menang, bukti bahwa hal yang sama terjadi di parit sungguhan tanpa satu pun perjanjian, dan empat sifat yang membuat sebuah siasat bertahan.