Memperbanyak yang boleh memilih dan memperbanyak yang harus dijaga itu dua hal berbeda, dan cuma yang kedua yang memperbaiki apa-apa.

Ini bukunya yang berisi rumus. Teori yang sama delapan tahun kemudian ditulis ulang tanpa satu pun persamaan dan jadi jauh lebih terkenal sebagai The Dictator's Handbook. Yang di sini tabel, pembuktian, dan lampiran matematika, dan buat kebanyakan orang memang sebaiknya mulai dari versi larisnya.

Ini laporan uji, bukan buku. Pertanyaannya cuma satu sepanjang delapan ratus halaman: seberapa berat beban yang sanggup ditanggung dalilnya. Dan penulisnya mengukur itu dengan kejujuran yang jarang ada pada orang yang baru menemukan teori.

Teka-teki yang membuka bukunya

Bab pertama dibuka dengan Bolshevik. Di bawah Romanov, orang yang punya suara dalam memilih pemerintah cuma segelintir. Lenin datang dan memberi hak pilih kepada semua orang dewasa.

"The experiment with universal suffrage leaves us with a puzzle. Why would any authoritarian state adopt universal adult suffrage..."

Percobaan hak pilih untuk semua itu meninggalkan satu teka-teki. Untuk apa sebuah negara otoriter memberlakukan hak pilih bagi semua orang dewasa?

Jawabannya jadi tulang punggung seluruh bukunya, dan bentuknya pecahan. W jumlah orang yang tanpa mereka penguasa jatuh. S jumlah orang yang di atas kertas boleh ikut memilih. W dibagi S adalah peluang seseorang masuk ke lingkaran penguasa berikutnya kalau penguasa sekarang tumbang. Makin kecil pecahannya, makin besar risiko tersingkir, dan makin mahal harga berkhianat bagi orang yang sekarang ada di dalam.

"From the perspective of the leader, this is one of the beauties of a rigged electoral system."

Dari sudut pandang penguasa, ini salah satu keindahan sistem pemilu yang hasilnya sudah diatur.

Penulisnya menamainya norma kesetiaan. Hak pilih untuk semua orang bukan hadiah, tapi cara memperbesar penyebutnya. Tiap jenderal, tiap ketua partai, tiap pengusaha di lingkaran dalam jadi tahu ada jutaan orang yang secara resmi bisa menggantikannya, dan kesetiaan yang tahu dirinya gampang diganti tidak pernah menawar mahal.

Angka yang melonjak pada 2005

Ada satu percobaan besar yang berlangsung di sini, dan hasilnya persis seperti ramalan teori ini, termasuk bagian pahitnya.

Sebelum 1998, S besar sekali dan W kecil sekali. Hampir semua orang dewasa memilih tiap lima tahun, dan yang benar-benar menentukan bisa dihitung dalam satu ruangan. Pecahannya nyaris nol, dan sesuai ramalannya, kesetiaan di dalam ruangan itu murah.

Mulai 2005, bupati dan wali kota dipilih langsung. W untuk satu kabupaten melonjak dari beberapa puluh anggota dewan jadi ratusan ribu pemilih.

Teori ini meramalkan dua hal, dan dua-duanya terjadi. Barang umum bertambah: jalan kabupaten, puskesmas, kartu berobat, air bersih mendadak jadi bahan kampanye, karena mendadak jadi cara termurah menjangkau orang sebanyak itu. Dan ongkosnya melonjak buat calonnya. Dulu cukup meyakinkan beberapa puluh orang. Sekarang pembayaran perorangan yang dulu jalan harus dipecah jadi eceran, lewat perantara, dalam bentuk amplop dan sembako menjelang hari pencoblosan.

Politik uang eceran sering dibaca sebagai bukti demokrasi gagal. Menurut hitungan buku ini justru sebaliknya: tanda kelompok yang harus dijaga benar-benar membesar, dan membesarnya kelompok itu yang bikin harganya naik. Yang belum terjawab siapa yang menanggung kenaikan itu, dan dari mana uangnya diambil kembali sesudah menang.

Bukunya juga menyimpan satu peringatan yang jarang ikut dikutip, di halaman 360. Kalau yang diperbesar lebih dulu S, bukan W, rezim peralihan untuk sementara justru bertingkah lebih otoriter, sebab pecahannya mengecil. Memperbanyak yang boleh memilih dan memperbanyak yang harus dijaga itu dua gerakan yang berbeda, dan yang pertama tanpa yang kedua persis resep Lenin.

Satu orang, dua negara

Bagian bukunya yang paling telak buat saya bukan tabel, tapi satu kasus di bab lima. Leopold II jadi raja Belgia dari 1865 sampai 1909, dan pada saat yang sama, dari 1885 sampai 1908, pemilik pribadi Negara Bebas Kongo.

Di Belgia dia bergantung pada pemerintahan yang dipilih, dengan 137.000 pemilih dari hampir enam juta penduduk, dan ikut mendorong hak pilih yang lebih luas lagi. Buruh diberi hak mogok pada 1873. Pada 1886 dia mendukung program pekerjaan umum besar-besaran, jalan dan rel, untuk mengurangi pengangguran. Di Kongo, yang dia miliki seperti orang memiliki kebun, yang dia butuhkan cuma pasukan bayarannya, Force Publique.

"Roads were built only where they facilitated moving rubber to market. Laws protecting women and children or worker rights to strike were unheard of in the Congo Free State, even as Leopold promoted just such legislation in Belgium."

Jalan dibangun cuma di tempat yang memudahkan karet diangkut ke pasar. Undang-undang yang melindungi perempuan dan anak, atau hak buruh untuk mogok, tidak pernah terdengar di Negara Bebas Kongo, padahal di Belgia Leopold sendiri yang mendorong undang-undang semacam itu.

Orangnya satu. Tahunnya sama. Yang berbeda cuma berapa orang yang harus dia jaga di masing-masing tempat, dan penulisnya menegaskan tidak perlu mengandaikan perubahan hati, budaya, atau kepedulian untuk menerangkan selisihnya.

Ini bukti paling bersih yang pernah saya baca untuk dalil bahwa aturan main mengalahkan watak. Bukan karena watak tidak ada, tapi karena aturan menentukan lantai dan langit-langitnya, dan orang yang sama bisa berdiri di dua lantai yang jaraknya sejauh Brussel ke Kongo.

Kalau ditarik ke sini, pemerintahan tidak langsung Belanda memakai susunan yang sama. Bupati yang sama bisa jadi pengayom di mata tuannya di Batavia dan pemungut di mata orang kampung, dan tidak perlu ada dua orang untuk itu.

Sun Tzu dan Weinberger di satu bab

Bab enam membuka dengan dua doktrin perang yang terpaut dua setengah ribu tahun. Sun Tzu menulis untuk raja Wu yang cuma perlu menjaga segelintir panglima. Caspar Weinberger, menteri pertahanan Reagan, berpidato pada 1984 untuk presiden yang harus menjaga jutaan pemilih.

Sun Tzu, dikutip bukunya di halaman 316:

"...when you capture spoils from the enemy, they must be used as rewards, so that all your men may have a keen desire to fight, each on his own account."

Kalau kamu merampas jarahan dari musuh, jarahan itu harus dipakai sebagai hadiah, supaya semua prajuritmu punya hasrat bertempur, masing-masing untuk kepentingannya sendiri.

Weinberger sebaliknya: jangan kirim pasukan kecuali kepentingan nasionalnya vital, dan kalau sudah dikirim, kerahkan berapa pun yang dibutuhkan untuk menang. Sun Tzu menganjurkan satu kali pungutan lalu mundur kalau tidak cukup. Weinberger menganjurkan menambah terus.

Menurut buku ini keduanya bukan soal kebijaksanaan zaman. Keduanya turunan dari ukuran koalisi. Penguasa berkoalisi kecil lebih untung menyimpan uangnya untuk lingkaran dalam daripada menghabiskannya di medan perang, jadi dia bertempur murah dan cepat berhenti. Penguasa berkoalisi besar tidak bisa membayar pemilih satu per satu, jadi kemenangan itu sendiri yang jadi barang umumnya, dan dia berusaha jauh lebih keras.

Di catatan The Art of War, bab pembukuan ongkos yang paling kepakai. Buku ini menerangkan kenapa bab itu ditulis: yang dihitung Sun Tzu bukan ongkos negara, tapi ongkos yang boleh diambil dari jatah orang-orang yang menopang rajanya.

Angka yang penulisnya sendiri sebut kasar

Bagian ini yang membuat bukunya bisa dipegang, dan justru bagian ini yang hilang di versi larisnya.

"The measurement of selectorate size and winning-coalition size, especially in nondemocratic states, is in its infancy. This means the approximations we propose are crude and primitive."

Pengukuran besar kelompok pemilih dan besar koalisi pemenang, terutama di negara yang tidak demokratis, masih bayi. Karena itu taksiran yang kami usulkan kasar dan primitif.

W ditaksir dengan skala lima titik, padahal penulisnya sendiri mengaku besar koalisi itu sambung-menyambung, jadi sebagian pasti ditaksir terlalu besar dan sebagian terlalu kecil. S ditaksir dari cara anggota legislatif dipilih. Dua angka yang jadi inti seluruh teorinya tidak pernah diamati langsung, dan para pengkritik menuduh alat kasar itulah yang mengerjakan sebagian pekerjaan yang dipujikan ke teorinya.

Yang membuat saya tetap menghormatinya: dengan alat sekasar itu hasilnya konsisten di banyak ukuran. Angka kematian kasar rata-rata 16 per seribu di negeri berkoalisi paling kecil, 9 sampai 9,5 di yang paling besar. Buku yang mengaku alatnya kurang dan tetap menunjukkan angkanya lebih bisa dipegang daripada buku yang alatnya tidak pernah disebut.

Satu andaian lagi disebut terus terang di halaman 124. Model ini memberi ruang bagi nilai batin memegang jabatan, dilambangkan Ψ, lalu mengaku lambang itu tidak berperan apa pun dalam hasil umumnya. Penguasa yang memegang keyakinan lalu membayar harganya tidak punya tempat di persamaan ini. Orang seperti itu langka, dan langka bukan berarti tidak ada.

Machiavelli disebut berkali-kali, dan di halaman 17 bukunya berpihak: Hobbes keliru mempercayai raja tunggal, dan Machiavelli benar bahwa republik lebih baik untuk kebebasan dan kestabilan, pendirian yang di rak ini ada di Discourses on Livy. Yang dikutip dari The Prince justru nasihat tentang kawan yang dibeli dengan uang: bisa didapat, tidak bisa diandalkan waktu genting. Buku ini seluruhnya pembukuan dari nasihat itu.

Bantuan luar negeri, dan apa yang terjadi waktu keran ditutup

Salah satu bab bukunya berdalil bahwa bantuan luar negeri lebih tepat dibaca sebagai jual beli antarpenguasa daripada sebagai pertolongan. Yang memberi membeli kebijakan; yang menerima membayar dengan kebijakan itu, dan sebagian bantuannya dipakai membayar lingkaran yang menopangnya.

Dalil itu dapat ujiannya pada 2025.

Januari 2025 pemerintah Amerika membekukan seluruh programnya, membubarkan badan bantuannya, dan memindahkan sisanya ke kementerian luar negeri. Pada Maret 2025 sekitar 86 persen program badan itu dihentikan, seluruhnya sekitar 80,5 miliar dolar. Yang paling habis justru golongan program tentang demokrasi, hak asasi, tata kelola, dan perdamaian: sekitar 97 persen dibatalkan.

Kalau dalil bukunya benar seluruhnya, yang paling terpukul mestinya penguasa yang selama ini dibayar. Yang dilaporkan orang setahun sesudahnya bukan itu. Yang paling cepat rontok organisasi warga, media yang tidak bergantung pada pemerintah, dan orang yang mengurus perlindungan hak asasi, sementara pemerintah yang paling menekan justru dilaporkan makin leluasa.

Jadi dalilnya benar di bagian pertama, dan tidak cukup di bagian kedua. Bantuan memang jual beli. Tapi sebagian dari yang dibeli ternyata ruang buat orang yang bukan penguasa untuk bekerja, dan waktu pembelinya berhenti membeli, yang hilang duluan ruang itu.

Buku ini menghitung penguasa terhadap penguasa. Yang tidak masuk hitungannya orang yang berdiri di antara keduanya, dan yang paling gampang lenyap waktu hitungan itu berubah.

Sesudah tabelnya ditutup, yang tersisa satu pemisahan yang di versi larisnya jadi kabur.

Memperluas siapa yang boleh memilih, dengan sendirinya, tidak memperbaiki pemerintahan. Yang memperbaiki cuma bertambahnya jumlah orang yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan penguasa. Sebuah sistem bisa menggerakkan yang pertama sangat jauh sambil hampir tidak menyentuh yang kedua, dan Lenin menunjukkan itu bisa dilakukan dengan sengaja.

Sejak 2005 dua-duanya kelihatan bergerak di sini. Yang belum bisa saya pastikan, dan alat kasar buku ini juga tidak bisa, apakah yang kedua masih ikut membesar, atau sudah berhenti di angka yang pas untuk dibayar eceran.

Baca berikutnya