Tukar satu detailnya. Kalau kalimatnya tetap mulus, keterangan itu memang tidak memikul apa-apa.

Orang Yunani kuno punya keterangan kenapa ada musim dingin.

Hades menculik Persephone. Ibunya, dewi bumi, berunding sampai anaknya boleh pulang, tapi dengan syarat tiap tahun harus kembali ke dunia bawah. Waktu anaknya pergi, ibunya berduka, dan bumi jadi dingin.

Cerita itu menerangkan. Bahkan bisa diuji, sebab meramalkan musim akan berulang tiap tahun, dan memang berulang.

Lalu Deutsch melakukan sesuatu yang telak. Dia mengarang sendiri versi lain yang sama pasnya. Persephone tidak dilepas, dia kabur. Tiap musim semi, waktu kekuatannya sedang penuh, dia menyerbu dunia bawah dan mendinginkan seluruh guanya dengan udara semi. Udara panas yang terusir naik ke permukaan, dan jadilah musim panas.

Dua-duanya menerangkan gejala yang sama. Kamu bisa tukar dewanya, tukar sebabnya, bahkan balik arah ceritanya, dan tidak ada satu pun yang rusak.

Sekarang bandingkan dengan keterangan yang benar: sumbu bumi miring.

Ubah satu detail kecilnya, dan seluruhnya ambruk. Kalau kemiringannya lain, musimnya lain. Dan keterangan itu meramalkan sesuatu yang bisa membunuhnya sendiri: musim di utara dan selatan harus berlawanan. Seandainya ternyata sama, teorinya mati, dan pembelanya tidak punya tempat kabur.

Itu seluruh ukuran bukunya.

Keterangan yang baik itu yang susah diubah

Tiap bagiannya ada di situ karena memikul beban. Cabut satu, semuanya runtuh. Keterangan yang buruk kebalikannya: tiap bagiannya bisa ditukar, dan kalimatnya tetap jalan mulus, sebab sejak awal memang tidak ada yang menanggung apa-apa.

Ini ukuran yang paling sering saya pakai dari seluruh bukunya, dan gunanya jauh melampaui urusan ilmu.

"Gempa terjadi karena alam sedang murka." Tukar "alam" jadi "penunggu gunung". Tukar "murka" jadi "menegur". Tukar sebabnya jadi maksiat, atau pembangunan, atau apa saja. Kalimatnya tetap terdengar meyakinkan.

Lalu coba pakai ke keterangan yang kita telan tiap hari soal keadaan negeri ini. Berapa banyak yang nama pelakunya bisa ditukar, tahunnya bisa ditukar, partainya bisa ditukar, dan ceritanya tetap enak didengar? Itu bukan keterangan. Itu cetakan yang tinggal diisi.

Mesin yang menghasilkan jawaban punya satu kelemahan khas, dan Deutsch sudah menamainya lima belas tahun sebelum ada yang membutuhkannya. Jawaban mesin gampang sekali diubah. Tukar satu nama fungsi, tukar satu angka, tukar satu alasan, dan kalimatnya tetap rapi, tetap yakin, tetap terdengar masuk akal.

Jadi buat saya cara tercepat mencium jawaban yang salah bukan memeriksanya baris per baris. Cukup coba tukar satu detailnya. Kalau tidak ada yang rusak, jawaban itu memang tidak memikul apa-apa sejak awal.

Tebak dulu, baru dikritik

Dalil keduanya membalik yang biasa kita percaya.

Kita telanjur yakin pengetahuan datang dari pengalaman yang menumpuk. Amati banyak-banyak, cari polanya, tarik kesimpulan. Kita percaya pada jam terbang. Kita percaya pada "yang penting datanya".

Deutsch bilang data tidak pernah bicara. Yang bicara tafsirnya, dan tafsir selalu berangkat dari tebakan tentang dunia. Jadi urutan yang benar terbalik: tebak dulu, lalu kritik tebakan itu habis-habisan, lalu buang kalau salah.

Kalau itu benar, banyak orang yang kita percaya, termasuk yang paling rajin bilang "ini berbasis data", sebenarnya sedang menjual tebakan yang belum cukup dikritik. Dan kita menerimanya bukan karena terbukti, tapi karena tidak ada yang berani bertanya balik.

Mesin yang kita pakai sekarang dibangun justru dengan cara yang Deutsch tolak. Menumpuk data sebanyak-banyaknya, lalu mencari polanya. Kalau dalilnya benar, mestinya dari situ tidak lahir apa-apa yang baru.

Tapi yang saya lihat di lapangan bukan pembatalan dalilnya. Yang terjadi pembagian tugasnya berganti.

Mesin menyodorkan calon jawaban, cepat dan banyak. Orangnya mengkritik dan membuang, dan dua pekerjaan itu sekarang tidak lagi dikerjakan kepala yang sama.

Dan itu menerangkan sesuatu yang kelihatan mustahil: kenapa satu orang bisa mengawasi banyak pekerjaan sekaligus.

Sebabnya sederhana. Mengkritik jauh lebih murah daripada membuat, jadi satu orang sanggup mengkritik jauh lebih banyak daripada yang sanggup dia kerjakan sendiri. Kemampuan orangnya tidak bertambah sedikit pun.

Alat yang dibuat untuk menyalin, lalu berbalik merobohkan

Argumen paling ganjil di bukunya menyangkut daya cipta manusia.

Deutsch berargumen kemampuan membayangkan hal yang belum ada awalnya tumbuh justru untuk tujuan yang berlawanan: menyalin. Di masyarakat purba, bertahan hidup bergantung pada kemampuan meniru tradisi leluhur setepat mungkin. Upacaranya harus persis. Urutannya tidak boleh dibalik. Yang mengarang sendiri dianggap membahayakan semua orang.

Sisanya masih kelihatan sampai sekarang, di tata cara adat yang dijaga turun-temurun tanpa boleh ditawar, dan dijalankan justru oleh orang yang tidak lagi tahu alasan aslinya.

Lalu, tanpa ada yang merencanakan, kemampuan yang sama itu mulai melahirkan pembangkangan, penemuan, seni, dan ilmu.

Alat yang dibuat untuk menjaga keadaan tetap sama, berbalik merobohkannya.

Entah harus kagum atau justru merinding, saya belum bisa memilih.

Soal keberlanjutan, dia memaksa memilih padahal tidak perlu

Deutsch menolak gagasan keberlanjutan yang sekarang jadi kesepakatan moral sedunia. Bukan karena tidak peduli lingkungan, tapi karena melihat kata itu sebagai cita-cita yang diam-diam beku: kita ingin membekukan dunia pada keadaan sekarang, dengan teknologi sekarang, dengan salah paham yang masih kita pegang sampai sekarang.

Jalan keluarnya, katanya, bukan mengurangi tapi menembus. Energi bersih bukan soal memakai lebih sedikit, tapi soal menemukan cara yang cukup baik sampai kelimpahan tidak lagi jadi masalah.

Arah pikirannya masuk akal, dan sejarahnya memang mendukung: yang menyelesaikan masalah besar hampir selalu penemuan, bukan pengiritan.

Tapi menurut saya dia keliru waktu memaksa memilih di antara keduanya.

Mengurangi itu bukan lawan dari menemukan. Mengurangi itu penahan waktu, dan gunanya persis untuk bertahan sampai penemuannya datang. Membuangnya berarti membuang separuh alat yang ada di tangan, dan menyerahkan seluruh nasib pada sesuatu yang belum ada.

Untuk negeri yang gambutnya terbakar dan kota pesisirnya amblas beberapa sentimeter tiap tahun, penahan waktu itu bukan urusan sepele. Itu selisih antara sempat dan tidak sempat.

Seratus dua puluh tujuh gunung, dan satu yang alatnya paling lengkap

Satu kalimat di halaman 248 bunyinya lain kalau dibaca dari sini.

"Quite generally, the distinction between a 'natural' disaster and one brought about by ignorance is parochial."

Secara umum, membedakan bencana "alam" dari bencana yang lahir dari ketidaktahuan itu cuma akibat sudut pandang yang sempit.

Untuk tiap bencana yang dulu dianggap terjadi begitu saja, lanjutnya, sekarang kelihatan banyak pilihan yang tidak diambil orang yang tertimpa, karena memang belum pernah mereka ciptakan.

Jauh sebelum Malthus, tulisnya sehalaman sebelumnya, peradaban sudah mati kelaparan dan orang zaman itu menyalahkan kekeringan. Padahal sebabnya cara mengairi dan bertani yang buruk. Namanya jadi bencana alam sebab pengetahuan yang bisa mencegahnya belum ada.

Di sini ada 127 gunung api aktif, 76 di antaranya tipe yang tercatat pernah meletus sejak tahun 1600. Badan Geologi menaikkan status Anak Krakatau ke Siaga pada 2 Juli 2026. Letusan yang dimulai malam 5 September berlangsung sekitar dua puluh lima jam, delapan bandar udara berhenti beroperasi sepanjang akhir pekan itu, termasuk Soekarno-Hatta, dan lebih dari 270.000 penumpang telantar.

Yang lebih layak dibaca dengan ukuran Deutsch datang empat hari sesudahnya. Seorang ahli gunung api dari UGM ditanya soal alat pantaunya, dan jawabannya fasilitas tiap pos pengamatan berbeda-beda, yang paling lengkap ada di Merapi. Bekas kepala BMKG menyebut sebabnya anggaran, dan PVMBG, yang mengurus pos-pos itu, masih setingkat eselon dua.

Jadi selisih antara bencana alam dan bencana ketidaktahuan, yang di kalimat Deutsch berupa perkara filsafat, di sini berupa daftar belanja alat.

Alat pantau bukan penemuan baru, dan Deutsch sendiri akan menghitungnya sebagai pengetahuan yang sudah ada. Yang tidak ada di sini uang untuk memasangnya merata, dan untuk kekurangan jenis itu halaman 248 diam saja. Di lereng yang posnya tidak lengkap, yang dipegang orang waktu gunungnya mulai bergerak cuma sirene dan jalan yang cukup lebar buat truk.

Tempat argumennya bocor

Deutsch paling kuat waktu sedang membongkar, dan paling lemah waktu sedang menjanjikan.

Ukuran "susah diubah" enak sekali dipakai untuk menilai keterangan yang sudah jadi. Waktu dipakai memilih di antara dua keterangan yang sama-sama masuk akal dan sama-sama rapat, ukuran itu tiba-tiba tidak berbunyi apa-apa. Dia tidak pernah benar-benar menghadapi soal itu.

Dia juga punya kebiasaan menyatakan, bukan menunjukkan. Bab tentang tafsir banyak dunia dalam fisika kuantum ditulis seolah perkaranya sudah selesai, padahal di kalangan fisikawan sendiri itu satu pendapat di antara beberapa. Pembaca tanpa latar fisika tidak punya cara tahu bahwa dia sedang dibawa ke satu pihak dalam perdebatan yang belum reda.

Ada satu tuduhan yang sering dilempar orang ke bukunya, dan saya sendiri sempat ikut memegangnya sebelum dicek. Ternyata meleset. Kata mereka, Deutsch bertumpu pada keyakinan bahwa pengetahuan akan selalu datang tepat waktu, padahal itu persis cara berpikir yang dia larang di bab awal.

Dia tidak pernah menulis begitu. Yang dia tulis, pengetahuan yang tepat akan memecahkannya, dan dia langsung menambahkan bahwa kita tidak bisa memiliki pengetahuan itu cuma dengan menginginkannya. Dalil pokoknya dipagari dengan hati-hati.

Yang tidak dipagari justru pemakaiannya sendiri di bab keberlanjutan. Menolak mengurangi cuma masuk akal kalau penggantinya datang sebelum kerusakannya tidak bisa dibalik lagi. Di situ waktu jadi penentu, dan di situ pula dia berhenti berhati-hati.

Jadi yang bocor bukan dalilnya. Yang bocor satu tempat waktu dia memakai dalilnya sendiri tanpa memasang pagar yang dia pasang di tempat lain.

Yang tinggal bukan optimisme kosong, dan bukan pesimisme.

"Problems are inevitable. Problems are soluble."

Masalah pasti datang. Masalah bisa dipecahkan.

Dua kalimat itu terdengar seperti klise motivasi, sampai kita sadar keduanya bisa benar bersamaan tanpa bertabrakan. Masalah tidak akan pernah habis. Dan masalah bisa diselesaikan.

Yang hampir selalu dipotong orang waktu mengutipnya justru kalimat penjelas tepat sesudahnya. Yang dia maksud bisa dipecahkan adalah pengetahuan yang tepat akan memecahkannya, dan pengetahuan itu tidak datang cuma karena diinginkan.

Bukan semua masalah. Bukan sekarang. Bukan oleh kita. Tapi oleh seseorang, di suatu waktu, dengan pengetahuan yang hari ini belum ada, dan cuma kalau ada yang benar-benar mengerjakannya.

Itu bukan janji. Itu cuma gambaran tentang bagaimana semuanya berjalan sejauh ini.

Ia menolak menyebut yang sekarang sebagai kemajuan

Buku ini terbit 2011, jauh sebelum mesin bahasa jadi barang sehari-hari. Deutsch masih hidup, masih menulis, dan sepanjang 2025 berkali-kali ditanyai soal itu. Jawabannya konsisten, dan tidak menyenangkan siapa pun.

Menurut dia, kemajuan pada kecerdasan buatan yang sekarang bukan kemajuan menuju kecerdasan umum. Dua hal itu, katanya, berjalan di atas asas yang berbeda, dan menambah ukuran mesinnya tidak akan menyeberangkan yang satu ke yang lain.

Alasannya sudah ada di buku ini. Yang membuat pengetahuan bertambah bukan menyusun ulang yang sudah ada, tapi menebak keterangan yang tidak ada di dalam bahannya, lalu berusaha menjatuhkannya.

Calon jawaban dari mesin memang mempercepat pekerjaan, tapi semuanya tersusun dari yang sudah pernah ditulis orang.

Saya tidak tahu ia benar atau tidak, dan tidak ada yang tahu. Yang saya catat cara ia menyusun pendiriannya, dan itu memenuhi ukurannya sendiri: pendiriannya bisa dijatuhkan. Kalau ada mesin yang menghasilkan keterangan baru yang tidak ada di bahan latihannya, lalu keterangan itu bertahan diuji, dalilnya selesai.

Belum ada yang menunjukkan itu. Belum bukan tidak akan.

Infografis

Infografis The Beginning of Infinity bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya