Sekolah Inpres tidak pernah diuji kecil dulu, dan justru itu yang berhasil.

Seva Mandir, sebuah LSM di Udaipur, mendirikan tiga puluh kemah imunisasi dan memberi sekantong dal dua pon untuk tiap suntikan, ditambah satu set piring baja kalau rangkaiannya tuntas. Angka imunisasi lengkap naik tujuh kali lipat, jadi tiga puluh delapan persen. Ongkos per suntikan malah turun, sebab perawatnya berhenti menunggu kosong.

Sampai di situ ceritanya enak dikutip, dan biasanya memang berhenti di situ. Bukunya tidak.

"the incentives make people come a few more times, but not enough to get the full five shots, despite the free stainless steel plates that wait for them if they complete the course."

Hadiahnya membuat orang datang beberapa kali lebih sering, tapi tidak sampai membuat mereka menuntaskan lima suntikannya, meski piring baja gratis sudah menunggu di ujung.

Saya membaca Poor Economics sebagai buku metode, dan kalimat itulah metodenya. Angka keberhasilan disebut sekalian dengan langit-langitnya, di kalimat yang sama, sebelum ada orang lain sempat menemukannya.

Kegagalan yang mereka terbitkan sendiri

Bagian yang paling jarang dikutip orang justru bab kesepuluh, waktu penulisnya bercerita tentang programnya sendiri.

Data mereka menunjukkan perawat puskesmas di Udaipur tidak masuk separuh waktu. Kepala daerahnya lalu memperketat aturan: satu hari penuh tiap Senin harus di tempat, tidak boleh beralasan kunjungan ke rumah warga, dan tiap perawat dikasih alat cap bertanggal untuk membubuhkan bukti hadir beberapa kali sehari. Yang hadirnya kurang dari separuh, gajinya dipotong.

Kehadiran naik dari tiga puluh persen ke enam puluh persen dalam beberapa bulan. Lalu November datang dan angkanya turun terus. April tahun berikutnya, puskesmas yang diawasi dan yang tidak sama saja buruknya.

Yang naik tajam ternyata bukan kemangkirannya, melainkan hari yang dinyatakan dikecualikan: rapat, pelatihan, dinas luar. Waktu dicari catatan rapat dan pelatihan di tanggal-tanggal itu, tidak ada satu pun yang ketemu. Atasan mereka memilih tidak melihat. Perawatnya menangkap kode itu dengan tepat, dan menyimpulkan selama ini mereka datang terlalu sering. Di ujung penelitian, kehadiran di puskesmas yang diawasi tinggal dua puluh lima persen, lebih rendah daripada yang tidak diawasi sama sekali.

Warga kampungnya tidak protes. Mereka sudah lama berhenti berharap, sampai peneliti yang datang bertanya pun susah menemukan orang yang mau mengakui perawatnya memang tidak pernah ada.

"The program we were working on with the local government and the NGO Seva Mandir was an utter disaster."

Program yang kami kerjakan bersama pemerintah daerah dan LSM Seva Mandir itu gagal total.

Sebabnya baru jelas waktu kepala Seva Mandir menerangkan isi pekerjaan yang tertulis di kertas. Masuk enam hari seminggu. Tanda tangan, ambil tas obat, jalan kaki sampai lima kilometer ke dusun, di udara tiga puluh delapan derajat. Datangi rumah satu per satu, periksa perempuan usia subur dan anak-anaknya, bujuk beberapa orang yang tidak berminat supaya mau disterilkan. Lima enam jam begitu, jalan kaki balik, tanda tangan keluar, naik bus dua jam ke rumah.

Tidak ada orang yang sanggup menjalankan itu tiap hari. Karena semua orang diam-diam tahu itu, isi pekerjaan yang sebenarnya jadi ditentukan sendiri oleh perawatnya. Di depan penulisnya mereka bilang terus terang, jangan harap kami datang sebelum jam sepuluh. Jam buka yang tertulis di papan depan puskesmas, jam delapan.

"This is what we call, for short, the 'three Is' problem: ideology, ignorance, inertia."

Inilah yang kami sebut, ringkasnya, persoalan tiga I: keyakinan, ketidaktahuan, dan kelembaman.

Aturannya lahir dari bayangan tentang perawat sebagai pekerja sosial yang penuh pengabdian, disusun tanpa tahu keadaan di lapangan, lalu hidup terus di atas kertas karena tidak ada yang merasa perlu mengubahnya. Aturan yang tidak bisa dijalankan bukan aturan yang lemah. Aturan begitu menyerahkan keputusannya ke orang yang paling bawah, lalu menyalahkan orang itu waktu keputusannya kelihatan.

Sekolah Inpres tidak pernah diuji kecil dulu

Seluruh cara kerja buku ini berdiri di atas satu kebiasaan: coba dalam ukuran kecil, ukur dengan kelompok pembanding, baru perbesar.

Tapi temuan mereka yang paling besar tentang Indonesia justru datang dari program yang mustahil diuji kecil. Sesudah rejeki minyak 1973, Suharto membangun sekolah dasar besar-besaran lewat Inpres, seluruh negeri sekaligus, dengan patokan sederhana: daerah yang anaknya paling banyak tidak bersekolah didahulukan. Esther Duflo mengukurnya bertahun-tahun kemudian dengan membandingkan upah orang yang masih keburu masuk sekolah baru itu dengan upah orang yang cuma lewat beberapa tahun lebih tua. Tiap tambahan satu tahun sekolah dasar menaikkan upah sekitar delapan persen, sebanding dengan angka yang biasa ditemukan di Amerika.

Penulisnya hati-hati menaruhnya. Suharto dipakai sebagai contoh bahwa kebijakan yang baik untuk orang miskin kadang lahir di lingkungan politik yang buruk, dan bukan sebagai penilaian atas rezimnya. Sekolah dibangun karena sekolah alat yang ampuh untuk menyebarkan satu paham, satu bahasa, dan rasa satu bangsa. Bersamaan dengan itu sejuta kader desa dilatih membawa cara mengasuh anak yang lebih baik, dan gizi buruk pada anak turun separuh antara 1973 dan 1993.

Di sini jawaban saya tidak sepenuhnya sama dengan jawaban bukunya. Mencoba dulu memang cara paling murah untuk salah, dan kalau kelirunya ketahuan waktu yang ikut masih sepuluh orang, yang harus dibetulkan sepuluh orang. Tapi kesempatan itu lebih sering tidak tersedia daripada tersedia. Tenggat biasanya sudah ditetapkan sebelum pertanyaannya sempat diajukan, dan pekerjaan datang dari atas dalam bentuk yang sudah jadi, tinggal dijalankan. Sekolah Inpres juga tidak bisa diuji di lima kecamatan dulu selama dua tahun; anak yang menunggu keburu lewat umurnya.

Yang jarang ikut disebut waktu metode ini dipuji: penulisnya peneliti yang punya waktu, dana, dan izin untuk menunggu dua tahun sebelum menyimpulkan. Itu kemewahan, dan kemewahan itu bagian dari metodenya.

Televisi yang dibeli, televisi yang diberikan

Di sebuah desa terpencil di Maroko, penulisnya bertanya kepada Oucha Mbarbk kenapa ia membeli televisi, antena parabola, dan pemutar DVD, padahal keluarganya sendiri mengaku kurang makan. Ia tertawa.

"Oh, but television is more important than food!"

Televisi itu lebih penting daripada makan.

Angkanya menguatkan tawa itu. Di Udaipur, tempat hampir tidak ada orang punya televisi, orang paling miskin membelanjakan empat belas persen anggarannya untuk perayaan, baik yang keagamaan maupun yang bukan. Di Nikaragua, tempat lima puluh enam persen rumah tangga desa punya radio dan dua puluh satu persen punya televisi, nyaris tidak ada rumah tangga yang melaporkan pengeluaran untuk perayaan sama sekali. Yang dibeli sebenarnya sama: alasan untuk tidak bosan.

Televisi yang kedua ada di sebuah desa di Jawa. Suami Ibu Emptat sakit mata sampai tidak bisa lagi menganyam. Ia pinjam seratus ribu rupiah ke rentenir kampung, dan waktu penulisnya bertemu dia, dengan bunga berbunga utangnya sudah satu juta. Anaknya berhenti sekolah karena obat asma tidak terbeli.

Anak perempuannya yang sudah bekerja memberi dia sebuah televisi. Bukan biaya berobat. Bukunya menerangkan hitungan si anak tanpa menghakimi: menanggung biaya kesehatan orang tua berarti jadi satu-satunya anak yang menanggung urusan yang tidak ada ujungnya, dan tidak ada jaminan saudara-saudaranya ikut. Televisi selesai sekali beri, kelihatan oleh semua orang, dan tidak menuntut apa-apa bulan depan.

Hitungan itu ada juga di sini, dan bunyinya sama persis di kuping siapa pun yang pernah ikut urunan keluarga besar: yang gampang terkumpul itu ongkos hajatan, bukan ongkos cuci darah.

Otot yang tidak pernah libur

Bagian yang paling saya pegang dari buku ini bukan soal uang sama sekali.

"we rarely need to draw upon our limited endowment of self-control and decisiveness, while the poor are constantly being required to do so."

Kita jarang perlu menguras persediaan pengendalian diri dan ketegasan kita yang terbatas itu, sementara orang miskin ditagih memakainya terus-menerus.

Gaji yang dipotong otomatis, imunisasi yang jadi syarat masuk sekolah, air yang sudah diberi kaporit sebelum sampai ke keran: semua itu keputusan benar yang sudah diambilkan lebih dulu, dan yang menikmatinya tidak pernah merasa sedang diambilkan keputusan. Yang tidak punya semua itu harus memutuskan ulang tiap hari, dengan persediaan tenaga yang sama terbatasnya.

Bukunya menambahkan dua hal yang melengkapi gambarannya. Pertama, pengendalian diri seperti otot: makin dipakai makin capek. Kedua, dan ini yang paling nyelekit:

"There are ways to get around self-control problems, but to make use of them usually requires an initial act of self-control."

Ada jalan untuk mengakali lemahnya pengendalian diri, tapi memakai jalan itu biasanya menuntut satu tindakan pengendalian diri di awalnya.

Saya termasuk yang susah menunda. Uang di tangan saya cenderung terpakai sebelum sempat mengendap, dan yang menolong bukan tekad, tapi potongan yang jalan sendiri sebelum uangnya sempat saya lihat. Memasangnya cuma perlu satu sore. Sore itu yang mahal, dan bukunya benar bahwa yang paling butuh justru yang paling sering kehabisan tenaga untuk menyediakannya.

Kalau begitu, sisa yang biasa kita sebut "ya orangnya begitu" jadi lebih kecil daripada yang kita kira. Bukan hilang. Cuma jarang ditagih dari sebagian orang.

Yang tidak bisa dijawab kemah imunisasi

Percobaan lapangan menjawab pertanyaan yang bentuknya sempit: kalau dal dibagikan di Udaipur, berapa tambahan anak yang datang disuntik. Jawabannya bisa dipegang, dan itu bukan hal kecil.

Yang tidak bisa ditarik dari situ pertanyaan yang lebih besar. Kenapa puskesmasnya kosong sejak awal, kenapa isi pekerjaan yang mustahil itu tidak pernah diubah selama puluhan tahun, dan siapa yang selama ini tidak dirugikan oleh keadaan itu. Angus Deaton menyerang persis di sambungan ini, dan catatannya ada di The Great Escape: tanpa tahu resepnya, kita tidak pernah bisa naik dari "proyek ini berhasil" ke "yang begini berhasil".

Banerjee dan Duflo tidak berpura-pura tidak mendengar. Bab terakhirnya membahas panjang lebar dalil Acemoglu dan Robinson di Why Nations Fail, lengkap dengan hukum besi oligarki dan warisan lembaga bikinan penjajah, lalu menolak satu bagiannya saja: menurut mereka, kebanyakan kegagalan bukan hasil persekongkolan elite untuk menjaga kuasanya, tapi hasil rancangan kebijakan yang cacat dan tidak pernah ada yang membetulkan.

Saya condong ke pihak mereka di titik itu, dan bukan karena optimis. Menuduh ada yang merancang selalu terdengar lebih pintar daripada menyebut kelalaian, padahal kelalaian hampir selalu sudah cukup menerangkan. Perawat yang tidak masuk tidak perlu ada yang merancangnya. Cukup isi pekerjaan yang mustahil, atasan yang memilih tidak melihat, dan warga yang sudah lelah menagih.

Enam ratus empat puluh desa yang sudah dikerjakan di sini

Setahun sesudah bukunya terbit, Banerjee menerbitkan percobaan lapangan di enam ratus empat puluh desa Indonesia, bersama Vivi Alatas, Rema Hanna, Benjamin Olken, dan Julia Tobias. Pertanyaannya satu dan sangat praktis. Kalau bantuan mau dibagikan, siapa yang lebih jitu menunjuk orang miskin: daftar yang disusun dari data aset, atau warga sekampung yang diminta mengurutkan tetangganya sendiri dari paling berada sampai paling melarat.

Jawabannya tidak enak buat kedua pihak. Diukur dengan garis dua dolar sehari, daftar dari data aset memang sedikit lebih tepat. Selisihnya tipis, dan alasannya yang menarik: warga sekampung tidak sedang salah menunjuk, mereka memakai pengertian miskin yang lain. Dugaan bahwa daftarnya disetir orang berpengaruh di kampung tidak terbukti. Dan orang sekampung jauh lebih puas dengan hasil pilihannya sendiri. Empat tahun kemudian kelompok yang sama menambahkan satu temuan lagi: menyuruh orang mendaftar sendiri, meski cuma perlu sedikit repot, menyaring lebih baik daripada mendaftarkan semuanya otomatis, sebab yang merasa tidak akan lolos memilih tidak usah datang.

Jadi soal siapa yang berhak dapat sudah pernah diuji di sini, di desa kita sendiri, pakai pembanding, dan hasilnya diterbitkan.

Sekarang ada program yang menghadapi soal itu persis. Makan Bergizi Gratis jalan sejak 6 Januari 2025. Tahun pertamanya tujuh puluh satu triliun rupiah untuk 17,9 juta orang. Tahun ini mula-mula ditetapkan 335 triliun untuk 82,9 juta orang, sebagian besarnya diambil dari pos anggaran pendidikan, lalu dipangkas jadi 268 triliun. Sampai Mei sudah terserap 88 triliun lewat hampir tiga puluh ribu dapur.

Yang juga sudah terhitung ada di sisi sebelah. Sampai 10 Mei 2026 Kementerian Kesehatan mencatat 445 kejadian dugaan keracunan dengan 37.673 orang kena, 2.348 di antaranya sampai dirawat inap. Hitungan JPPI sampai pertengahan Agustus 43.838 orang di 36 provinsi.

Keberatan saya ada di tempat lain. Bagian di atas sudah menyebut kenapa uji kecil sering memang tidak tersedia, dan Sekolah Inpres contohnya sendiri. Yang mengganjal ukurannya: keberhasilannya baru akan dinilai sesudah setahun berjalan, oleh lembaga di luar pemerintah. Diukur begitu, yang keluar nanti angka anak yang gizinya membaik. Yang tidak akan pernah keluar berapa bagian dari perbaikan itu yang memang datang dari programnya, sebab tidak ada kelompok yang tidak kebagian untuk dijadikan bandingan, dan sesudah delapan puluh dua juta orang ikut, kelompok itu tidak bisa lagi diadakan.

Empat ratus halaman buku ini menganjurkan satu kebiasaan yang ongkosnya kecil sekali: sisihkan sebagian yang tidak kebagian, supaya nanti ada yang bisa dibandingkan. Saya tidak tahu apakah itu masih bisa dipasang di tengah jalan, dan saya juga tidak tahu siapa yang berwenang memutuskannya.

Yang saya bawa pulang cuma satu perubahan kecil, dan bentuknya pertanyaan, bukan resep.

Bukan lagi kenapa orang mengambil keputusan yang kelihatan konyol, tapi berapa ongkos mengambil keputusan yang benar dari tempat orang itu berdiri, dan siapa yang selama ini membayarkan ongkos itu untuk saya tanpa pernah saya sadari.

Yang belum saya temukan jawabannya bagian sesudahnya. Buku ini jelas sekali soal apa yang menolong seratus orang di satu kabupaten selama dua tahun. Yang tidak dijawabnya: apa yang harus dikerjakan orang yang cuma punya satu kesempatan, satu anggaran, dan tenggat bulan depan.

Infografis

Infografis Poor Economics bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya