Grant membagi cara berpikir kita jadi empat peran, dan tiga di antaranya sudah kita jalankan tanpa pernah memilihnya.
Penceramah, yang menjaga ajaran. Jaksa, yang menyerang untuk menang. Politikus, yang mengejar persetujuan orang banyak. Ketiganya sedang mencari pembenaran, bukan kebenaran. Peran keempat yang dia anjurkan: ilmuwan, yang menganggap pendapatnya sendiri cuma dugaan, dan justru menunggu dibantah.
Lalu dia menaruh satu kalimat yang bikin banyak pembacanya tersinggung.
"Being good at thinking can make you worse at rethinking."
Jago berpikir justru bisa bikin orang payah waktu harus berpikir ulang.
Itu bukan sindiran yang dia karang. Dasarnya penelitian soal titik buta bias, yaitu kecenderungan melihat bias pada orang lain sambil merasa diri sendiri bersih. Lalu ada makalah lanjutan yang judulnya sudah menjawab sendiri: kecanggihan berpikir tidak mengurangi titik buta itu. Makin encer otak seseorang, makin bagus juga alat yang dia punya untuk membela apa yang sudah telanjur dia yakini.
Sampai di sini bukunya bicara soal isi kepala kita sendiri, dan bagian inilah yang paling sering dikutip orang.
Padahal bagian yang paling kuat buktinya justru bukan itu.
Yang paling berbukti justru bukan soal berpikir, tapi soal bertanya
Yang paling kuat dari bukunya bukan soal cara kita berpikir, tapi soal cara membuat orang lain berpikir ulang. Grant menyebutnya motivational interviewing, dan dasarnya satu kalimat: kita hampir tidak pernah bisa membuat orang berubah, yang bisa kita kerjakan cuma menolong dia menemukan alasannya sendiri.
Caranya tiga. Bertanya terbuka. Mendengarkan sungguhan, bukan menunggu giliran bicara. Lalu mengakui keinginan dan kesanggupan orangnya. Ada yang keempat untuk menutup percakapan: merangkum alasan orang itu dengan kata-kata kita, lalu memeriksa apakah ada yang salah tangkap.
Angkanya nyata, dan bukan dari satu percobaan kecil. Di bangsal bersalin, 72 persen ibu berencana memvaksin anaknya. Sesudah satu sesi percakapan seperti itu, naik jadi 87 persen. Dan dua tahun kemudian, anak-anak mereka lebih banyak yang vaksinnya sudah lengkap, selisihnya 9 persen. Cara ini sudah diuji lebih dari seribu kali lewat percobaan terkendali. Daftar percobaannya saja, tanpa isi, sudah setebal enam puluh tujuh halaman.
Tempat yang paling mirip di sini posyandu. Ibu-ibu yang datang tiap bulan, kader dan bidan yang sudah hafal namanya, dan waktu yang sebenarnya cukup untuk bertanya alih-alih menceramahi.
Bandingkan dengan empat peran tadi. Yang satu itu kerangka yang enak diceritakan, yang satu lagi cara kerja yang sudah diuji seribu kali. Dan yang beredar di mana-mana justru yang pertama.
Menurut saya cara ini juga lebih mempan di sini daripada di tempat asalnya ditulis.
Di lingkungan yang menjaga perasaan orang, membantah langsung menutup pintu sebelum kalimat kedua keluar. Yang dibela bukan lagi pendapatnya, tapi kehormatannya di depan yang lain. Bertanya membuka jalan keluar yang tidak ada dalam perdebatan: orangnya bisa berubah tanpa ada satu saat pun dia terlihat kalah.
Siapa pun yang pernah mencoba meyakinkan orang tua sendiri soal vaksin waktu pandemi tahu kenapa cara pertama selalu gagal. Makin banyak tautan yang dikirim ke grup WhatsApp keluarga, makin keras pertahanannya. Yang berubah bukan pikirannya, cuma jam tidurnya.
Dan cara ini bisa dicoba minggu ini juga, tanpa izin siapa pun, dengan hasil yang kelihatan dalam satu percakapan.
Dua jenis perselisihan, dan cuma satu yang merusak
Grant memisahkan ribut soal orangnya dari ribut soal gagasannya. Lebih dari seratus penelitian, atas delapan ribu tim, menunjukkan yang pertama memang merusak mutu kerja. Yang kedua tidak. Kalau takarannya sedang dan datangnya di awal, mutu keputusannya justru naik.
Wright bersaudara jagonya. Mereka bisa berdebat sampai panas tanpa sekali pun jadi urusan pribadi. Kata mekanik mereka, keduanya sebenarnya tidak pernah benar-benar marah, tapi memang bisa panas sekali.
Dari situ Grant menganjurkan mengumpulkan jaringan penantang, orang-orang yang berani membantah kita. Pentagon dan Gedung Putih punya sebutannya sendiri, murder board, panitia yang tugasnya menembak jatuh rencana. Lawannya yang dia sebut HIPPO, singkatan dari Highest Paid Person's Opinion, dan itu yang sebenarnya jadi kesimpulan sebagian besar rapat.
Nasihatnya benar, dan hampir tidak bisa dipakai kebanyakan pembacanya.
Nasihat itu lahir dari tempat yang lain. Di kebanyakan kantor di sini, membantah atasan di depan orang bukan tanda percaya diri, tapi awal dari karier yang mandek. "Tidak enak sama Pak" itu aturan tak tertulis yang jauh lebih kuat daripada bagan organisasi mana pun, dan rapat yang katanya minta masukan sering sudah diketuk sebelum orang masuk ruangan.
Mau mengumpulkan penantang, harus punya kuasa memilih siapa yang duduk di meja. Yang tidak punya kuasa itu bukan sedang memilih penantang. Dia sedang jadi penantang, dan itu pekerjaan yang jauh lebih mahal. Beda jauh antara menyewa orang untuk mengkritik kita dan mengkritik orang yang menggaji kita.
Bias dua kubu
Ini bagian yang paling jarang dibahas orang, padahal paling kepakai.
Kepala kita suka memeras hal yang sebenarnya bertingkat-tingkat jadi dua kotak saja, dan Grant menyebutnya bias dua kubu. Yang menarik, dia bilang menyajikan "dua sisi" bukan obat perpecahan, justru bagian dari penyakitnya. Kalau dua pendapat paling ujung ditaruh berhadapan, orang tidak jadi menimbang. Orang malah makin gampang memilih kubu, lalu berhenti berpikir.
Cocokkan dengan cara hampir semua perkara disajikan di sini. Satu narasumber pro, satu kontra, waktunya sama panjang, dan penontonnya sudah tahu harus berpihak ke mana sebelum acaranya setengah jalan. Menjelang pilkada bentuknya makin telanjang, dan kolom komentarnya sudah terbelah sebelum acaranya mulai. Yang tidak pernah disebut, seberapa kuat sebenarnya dasar masing-masing. Padahal justru di situ bedanya menimbang dan memilih tim.
Yang bisa dilewat
Paruh akhirnya soal sekolah dan organisasi. Perusahaan yang membangun budaya berani salah, sekolah yang menyuruh anak menulis ulang buku pelajarannya. Enak dibaca, dan tidak ada satu pun yang bisa dikerjakan pembaca sendirian.
Istilah confident humility juga terdengar bagus di panggung dan hampir tidak berbunyi apa-apa waktu dibawa pulang. Percaya pada kesanggupan sendiri sambil tetap rendah hati soal apa yang sekarang kita tahu. Susah dibantah, dan susah juga dipakai.
Ada satu angka kecil di bukunya yang paling menenangkan.
Grant mengutip para peramal terbaik dari Superforecasting, dan menyebut mereka memperbarui ramalannya lebih dari empat kali per pertanyaan. Bukan puluhan. Empat.
Jadi jaraknya tidak sejauh yang terlihat. Yang memisahkan orang yang jitu dari orang kebanyakan bukan kerendahan hati tanpa batas. Cuma kesediaan menengok ulang, beberapa kali saja.
"If knowledge is power, knowing what we don't know is wisdom."
Kalau pengetahuan itu kuasa, tahu apa yang belum kita ketahui itu kebijaksanaan.
Kalimatnya berbunyi seperti tulisan di kalender, dan tetap susah dibantah. Di zaman ketika apa pun bisa dicari dalam sepuluh detik, yang langka bukan lagi pengetahuan. Yang langka itu kesediaan mengaku belum tahu.
Selesai membacanya, yang saya bawa bukan cara memperbaiki kepala sendiri. Bagian itu memang paling susah diperiksa hasilnya. Yang saya bawa satu kebiasaan yang hasilnya kelihatan dalam satu percakapan: berhenti menyodorkan alasan, mulai bertanya, lalu benar-benar diam dan mendengarkan.
Bukunya berjudul Berpikir Ulang, dan yang paling ampuh di dalamnya ternyata bukan cara membuat diri sendiri berpikir ulang. Cara memberi orang lain ruang untuk melakukannya.
Bidang yang jadi sumber bukunya dapat ujiannya sendiri
Buku semacam ini berdiri di atas penelitian orang lain, dan pembacanya tidak punya cara memeriksa satu per satu. Jadi ada baiknya menengok apa yang terjadi pada bidang itu sesudah bukunya terbit.
Juni 2023 tiga peneliti yang mengelola sebuah blog menerbitkan bukti dugaan pemalsuan data pada empat makalah seorang guru besar Harvard yang bidangnya, kebetulan sekali, kejujuran. Juli 2023 beberapa makalahnya ditarik. Penyelidikan sekolahnya menyimpulkan ia melakukan kecurangan penelitian dengan sengaja atau setidaknya sembrono, dan laporannya baru terbuka ke umum pada 2024 lewat gugatan yang ia ajukan sendiri. Pada 2025 gelar guru besarnya dicabut, yang menurut pihak kampusnya baru pertama kali terjadi dalam beberapa dasawarsa. Ia membantah semuanya.
Yang perlu ditandai bukan kecurangannya. Yang perlu ditandai siapa yang menemukannya.
Bukan penilai makalah waktu makalahnya masuk. Bukan rekan sebidang yang mengutipnya ratusan kali. Bukan kampusnya. Yang menemukan tiga orang di luar rantai itu, yang kerjanya mengunduh berkas data dan memeriksanya baris per baris, dan yang tidak dibayar siapa pun untuk itu.
Bukunya bilang kesediaan berpikir ulang itu keutamaan pribadi yang bisa dilatih. Kejadian ini menyarankan hal lain: yang membetulkan sebuah bidang biasanya orang yang tidak sedang berutang apa-apa kepadanya.
Infografis
Buka ukuran penuh
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Sebelas bab dalam empat bagian, dan susunannya melebar seperti lingkaran: dimulai dari isi kepala sendiri, lalu ke satu orang lain, lalu ke kelompok dan lembaga, ditutup satu bab soal jalan hidup. Makin ke belakang, makin sedikit yang bisa dikerjakan pembacanya sendirian.
Bagian yang paling terkenal dari buku ini bukan bagian yang paling kuat buktinya. Yang beredar di mana-mana bagian satu, yang datanya paling banyak bagian dua.
Bagian Satu: Berpikir ulang untuk diri sendiri, bab 1 sampai 4
Empat bab tentang kenapa kepala kita menolak mengubah pendapatnya sendiri.
1. Penceramah, jaksa, politikus, dan ilmuwan
Kerangka yang paling banyak dikutip orang dari buku ini. Tiga peran pertama sama-sama mencari pembenaran; yang keempat memperlakukan pendapatnya sendiri sebagai dugaan yang menunggu dibantah.
2. Menemukan takaran percaya diri yang pas
Bab yang membedah dua kegagalan yang berlawanan: merasa jago padahal belum, dan merasa tidak layak padahal sudah. Di sini Dunning dan Kruger muncul, dan Grant menariknya lebih jauh daripada versi yang beredar di media sosial.
3. Nikmatnya jadi salah
Bab tentang kenapa mengakui salah terasa seperti kehilangan, dan dari mana rasa itu datang. Grant memakai istilah ego totaliter untuk bagian dalam diri yang tugasnya menyensor kabar buruk tentang dirinya sendiri.
4. Perselisihan yang membangun
Ribut soal orangnya dibedakan dari ribut soal gagasannya, dengan dukungan lebih dari seratus penelitian atas delapan ribu tim. Dari sini lahir anjuran mengumpulkan jaringan penantang.
Bagian Dua: Membuka pikiran orang lain, bab 5 sampai 7
Bagian paling berbukti, dan paling langsung bisa dipakai.
5. Berdansa dengan lawan
Cara berdebat yang menang, disusun dari rekaman perunding ulung dan dari juara debat dunia. Intinya sedikit alasan yang kuat mengalahkan banyak alasan yang lemah, dan pertanyaan mengalahkan pernyataan.
6. Meruntuhkan prasangka
Cara mengurangi permusuhan antarkelompok dengan menggoyahkan cap yang dipakai, bukan dengan membantahnya.
7. Bertanya, bukan menceramahi
Bab paling berguna di seluruh buku. Isinya cara mewawancarai orang supaya ia menemukan alasannya sendiri untuk berubah, lengkap dengan angka dari bangsal bersalin dan lebih dari seribu percobaan terkendali yang sudah menguji caranya.
Bagian Tiga: Berpikir ulang bersama-sama, bab 8 sampai 10
Tiga bab tentang kelompok, sekolah, dan kantor. Bab 8 soal percakapan yang memanas, dan di situ ada bias dua kubu, yaitu kebiasaan memeras perkara yang bertingkat-tingkat jadi dua kotak berhadapan. Bab 9 soal mengajar murid meragukan buku pelajarannya. Bab 10 soal membangun kantor yang orangnya berani mengaku salah, dengan bencana pesawat ulang-alik Columbia sebagai contoh utamanya.
Bagian Empat: Penutup, bab 11
Satu bab tentang rencana karier dan rencana hidup. Istilah yang dibawanya penguncian jati diri, yaitu memilih akan jadi apa terlalu dini lalu terjebak di dalamnya. Ditutup ajakan meninjau ulang rencana hidup seperti meninjau ulang pendapat.
Yang jadi jantungnya
- Bab 7. Kalau cuma satu bab yang sempat dibaca dari seluruh buku, ambil yang ini. Cuma bab itu yang menawarkan cara kerja yang bisa dicoba minggu ini dan hasilnya kelihatan dalam satu percakapan.
- Bab 8, untuk bias dua kubunya. Sekali dikenali, susunan hampir semua acara bincang-bincang televisi di sini langsung terbaca berbeda.
- Bab 4, tapi dengan catatan: nasihatnya menuntut kuasa memilih siapa yang duduk di meja.
Yang boleh dilewat
- Bab 9 dan bab 10 hampir seluruhnya. Enak dibaca, dan tidak ada satu pun yang bisa dikerjakan pembaca tanpa memegang sekolah atau perusahaan.
- Bab 11 kalau sedang tidak menimbang pindah kerja. Isinya berdiri sendiri dan tidak menyangga bab mana pun.
- Bab 2 boleh dipercepat kalau Dunning dan Kruger sudah dikenal; bagian barunya cuma di seperempat terakhir.
Kalau buru-buru
Bab 1, bab 7, bab 8. Tiga bab, dan alurnya tetap tersambung: kepala kita bertahan karena sedang mencari pembenaran, orang lain tidak bisa didorong berubah tapi bisa ditolong menemukan alasannya sendiri, dan cara sebuah perkara disajikan menentukan apakah orang menimbang atau langsung memilih kubu.