Ada pekerjaan yang diinterupsi sepanjang hari bukan karena bocor, tapi karena itu memang bahan bakunya.

Newport menjual satu janji: kalau kamu sanggup fokus dalam waktu panjang tanpa gangguan, kamu akan punya keunggulan yang makin langka. Bukunya lalu berisi cara melakukannya.

Jadi mari diukur seperti itu. Bukan seberapa dalam gagasannya, tapi berapa banyak resepnya yang masih kepakai enam bulan sesudah dibaca, oleh orang yang kerjanya di kantor yang bukan miliknya.

Diagnosisnya tepat, dan angkanya ada

Ini bagian terkuat bukunya, dan layak dibaca meski resepnya nanti tidak terpakai.

Sophie Leroy, guru besar bisnis di Minnesota, menerbitkan makalah pada 2009 dengan judul yang jujur sekali: "Why Is It So Hard to Do My Work?" Temuannya dia sebut sisa perhatian. Tiap kali pindah dari satu urusan ke urusan lain, dari dokumen ke grup WhatsApp kantor, dari balas pesan ke rapat dadakan, sebagian perhatian tertinggal di urusan yang lama.

Yang bikin temuan ini berat bukan bahwa sisanya ada, tapi akibatnya. Makin tebal sisanya, makin buruk hasil kerja berikutnya. Jadi bukan sekadar terganggu sebentar lalu pulih. Kalikan delapan jam kerja, lima hari seminggu, bertahun-tahun, dan yang jalan bukan produktivitas. Yang jalan kepala yang terbiasa setengah tenaga dan tidak lagi merasa ada yang salah.

Lalu kenapa hampir tidak ada kantor yang meributkannya?

Musim gugur 2012, Tom Cochran, direktur teknologi Atlantic Media, gerah pada waktu yang habis untuk surel, lalu benar-benar menghitungnya. Hasilnya perusahaannya membayar lebih dari satu juta dolar setahun cuma untuk ongkos tenaga mengurus surel, sekitar sembilan puluh lima sen tiap pesan dikirim atau diterima. Kata Cochran sendiri, cara berkomunikasi yang katanya gratis dan tanpa gesekan ternyata ongkos tersembunyinya setara membeli satu Learjet kecil.

Hampir tidak ada perusahaan yang menghitung sejauh itu, dan Newport menyebut sebabnya lubang hitam pengukuran. Kerugian akibat perhatian terpecah jatuh ke wilayah yang memang susah diukur, jadi tidak ada yang berteriak. Yang gampang diukur justru yang keliru.

Satu kutipan yang dia pinjam dari Winifred Gallagher, dan artinya jauh melampaui urusan kerja:

"Who you are, what you think, feel, and do, what you love — is the sum of what you focus on."

Siapa dirimu, apa yang kamu pikirkan, kamu rasakan, kamu kerjakan, dan apa yang kamu cintai, semuanya jumlah dari apa yang kamu perhatikan.

Kalau kenyataan yang kita rasakan memang dibentuk oleh apa yang kita perhatikan, maka menggeser layar tiga jam tiap malam bukan cuma buang waktu.

Ada pekerjaan yang memang tidak butuh kedalaman

Ada satu pengakuan di bukunya yang jarang ikut dikutip orang, dan menurut saya justru itu yang paling menentukan cara membacanya.

Newport membahas Jack Dorsey, yang bekerja di meja berdiri yang siapa pun boleh mendatanginya, berpindah dari rapat ke rapat, membiarkan dirinya diinterupsi sepanjang hari. Newport mengakui terus terang bahwa kerja Dorsey sama sekali tidak mendalam. Lalu dia menambahkan, kerja itu juga tidak bisa disebut dangkal.

Jadi dia tahu dalilnya punya pengecualian.

Buat saya pengecualian itu lebih besar daripada yang dia akui. Ada pekerjaan yang isinya memang memutuskan, menjual, menengahi, dan menyambungkan orang. Untuk pekerjaan seperti itu, diinterupsi bukan kebocoran. Itu justru bahan bakunya. Orang yang menutup pintu sepanjang hari malah gagal mengerjakannya.

Menuntut semua orang bekerja mendalam berarti menyamaratakan pekerjaan yang sifatnya memang berbeda. Dan buku panduan yang memakai satu ukuran untuk semua orang sedang melakukan kesalahan yang sejenis dengan yang dikritiknya sendiri.

Delapan kotak di dua layar

Buku ini terbit 2016, dan ada satu jenis pekerjaan yang sekarang saya jalani tiap hari yang waktu itu belum ada.

Dua layar di meja. Tiap layar dibagi empat. Delapan kotak, dan di tiap kotak ada agen yang sedang mengerjakan sesuatu: memperbaiki yang rusak, membangun yang belum ada. Bukan saya yang mengetik barisnya, tapi yang mengawasi kedelapannya.

Coba ukur itu dengan dua definisi Newport, dan dua-duanya tidak muat.

Kerja mendalam, katanya, kegiatan yang dijalankan dalam pemusatan tanpa gangguan sampai batas kemampuan berpikir. Yang terjadi di meja itu kebalikannya persis. Perhatiannya dipecah delapan, dan interupsinya bukan gangguan yang menyelinap masuk, melainkan seluruh isi pekerjaannya.

Tapi kerja dangkal juga tidak. Definisinya tugas yang tidak menuntut banyak pikiran, bersifat administratif, tidak menciptakan nilai baru, dan gampang ditiru siapa saja. Memutuskan mana dari delapan keluaran itu yang layak dipakai dan mana yang harus dibongkar ulang bukan pekerjaan administratif, dan sama sekali tidak gampang ditiru.

Jadi ada kotak ketiga yang tidak disediakan bukunya. Dorsey satu keganjilan yang Newport sempat catat. Ini bukan keganjilan. Ini jenis pekerjaan yang jumlahnya sedang bertambah cepat.

Yang berubah letak barang langkanya.

Sepanjang bukunya, Newport mengandaikan perhatian itu bahan yang dibelanjakan untuk memproduksi hasilnya. Begitu produksinya diserahkan ke mesin, yang langka bukan lagi jam tanpa gangguan, tapi kesanggupan menilai dengan cepat: mana keluaran yang benar, mana yang kelihatan benar, dan mana yang harus dibuang sebelum sempat menempel di mana-mana.

Untuk pekerjaan itu, kedalaman tidak berbentuk tiga jam tanpa notifikasi. Bentuknya cukup tahu untuk mencium yang salah dalam hitungan detik.

Dan di sini ada yang tidak enak, yang tidak boleh dilewati begitu saja.

Kesanggupan mencium yang salah itu tidak turun dari langit. Ia datang dari bertahun-tahun mengerjakannya sendiri, pelan, satu per satu, persis dengan cara yang dianjurkan Newport. Yang mengawasi delapan kotak hari ini sedang membelanjakan tabungan yang dikumpulkan dengan cara lama.

Pertanyaannya, tabungan itu bertambah atau berkurang selama kita mengawasi.

Saya belum punya jawabannya, dan sepertinya belum ada yang punya. Tapi pertanyaan itu jauh lebih penting daripada seluruh perdebatan soal notifikasi.

Resep yang jalan, gratis, dan tidak butuh izin siapa pun

Ritual tetap. Tempat yang sama, jam yang sama, aturan yang sama. Bukan karena mistis, tapi supaya otak tidak perlu memutuskan apa pun sebelum mulai. Paling gampang dijalankan pagi sebelum jam kantor, atau setelah magrib kalau rumahnya ramai.

Ritual tutup hari. Satu kalimat yang diucapkan waktu berhenti kerja, plus daftar apa yang belum selesai supaya kepala berhenti mengulangnya. Kedengarannya konyol sampai dicoba dua minggu.

Melatih diri bosan. Percuma melatih fokus kalau tiap ada jeda satu menit kita langsung buka ponsel. Antre di kasir, nunggu ojol, macet di lampu merah, itu semua jatah latihan. Biarkan bosan.

Cara tukang memilih alat. Jangan pakai aplikasi karena "ada gunanya juga". Pakai kalau manfaatnya untuk hal yang paling penting dalam hidupmu lebih besar daripada kerugiannya.

Dari empat itu, yang menurut saya paling mungkin bertahan justru yang terakhir. Tiga yang pertama menuntut dijalankan berulang tiap hari, dan yang menuntut diulang tiap hari selalu punya hari waktu tidak dijalankan. Yang keempat diputuskan sekali. Aplikasi yang tidak lolos dicabut, dan urusannya selesai.

Cuma ada satu pekerjaan awal yang tidak enak, dan Newport tidak menyediakannya. Ukurannya bertumpu pada hal yang paling penting dalam hidupmu, dan sebagian besar orang tidak pernah benar-benar menyebutkannya. Tanpa daftar itu tidak ada yang bisa ditimbang. Ukurannya benar, bahan bakunya yang tidak ada, dan dia mengakui ini tidak bisa dijadikan rumus lalu jalan terus.

Resep yang mentok di kenyataan kita

Di sini bukunya mulai terasa ditulis untuk orang lain.

"Minta jatah kerja dangkal ke atasanmu." Newport menyarankan menghadap atasan dan menyepakati berapa persen waktu boleh dipakai untuk hal remeh. Coba lakukan di kebanyakan kantor di sini, dan yang didapat bukan kesepakatan, tapi catatan diam-diam bahwa kamu susah diatur.

"Jadilah susah dihubungi." Mustahil di tempat yang grup WhatsApp-nya adalah struktur organisasi. Pesan atasan jam sebelas malam bukan gangguan yang bisa ditolak. Itu bagian dari pekerjaan, dan semua orang tahu meski tidak ada yang menulisnya di kontrak.

"Jadwalkan tiap menit dalam sehari." Jalan buat orang yang mengendalikan kalendernya sendiri. Tidak jalan buat orang yang rapatnya bisa muncul setengah jam sebelum mulai.

"Produktivitas berjadwal tetap": selesai jam lima, titik. Bagus sekali, dan sepenuhnya bergantung pada apakah atasanmu setuju. Newport seorang profesor tetap. Dia punya kemewahan yang tidak dimiliki hampir semua pembacanya.

Ada satu lagi yang perlu disebut, dan ini bukan bantahan terhadap bukunya. Ini keterangan tentang tempat kita membacanya.

Di banyak lapangan kerja di sini, yang paling menentukan siapa dapat apa memang bukan seberapa dalam seseorang bisa fokus, melainkan siapa yang dia kenal. Itu ciri pasar kerja di sini, dan Newport tidak punya kewajiban menerangkannya.

Yang perlu dijaga cuma satu: keadaan itu jangan dijadikan hukum umum, dan jangan dijadikan alasan berhenti. Kenalan bisa membukakan pintu, dan yang menentukan apakah kita masih di dalam beberapa tahun kemudian tetap hasil kerjanya.

Bagian yang bisa dilewati

Newport menyebutnya gerakan besar: mengubah keadaan sekeliling secara berlebihan, kalau perlu dengan mengeluarkan uang banyak, supaya otak menerima tanda bahwa pekerjaan ini serius.

Contoh utamanya J.K. Rowling. Awal 2007, sedang tersendat menyelesaikan buku terakhir Harry Potter, dia pindah ke suite hotel mewah dekat Kastil Edinburgh.

Mungkin memang mempan. Tapi buat orang yang menulis di meja makan sesudah anaknya tidur, cerita seperti itu tidak menyemangati. Yang tersampaikan cuma pengingat bahwa penulisnya dan pembacanya sedang membicarakan dua dunia yang berbeda.

Delapan tahun kemudian ia memindahkan keberatannya

Keberatan di bagian atas tadi ternyata ikut dipindahkan penulisnya sendiri.

Maret 2024 Newport menerbitkan Slow Productivity. Isinya tiga anjuran: kerjakan lebih sedikit hal, jalankan dengan kecepatan yang wajar, dan biar mutu keluarannya yang jadi ukuran. Resepnya tidak banyak berubah. Yang berpindah tempat soalnya. Di buku ini yang bocor perhatian orangnya. Di buku yang baru yang bocor jumlah pekerjaan yang ditumpuk ke satu orang, ditambah kebiasaan menilai orang dari kelihatan sibuknya, yang ia namai produktivitas pura-pura.

Perpindahan itu penting buat pembaca di sini. Buku ini menyuruh saya memperbaiki cara saya bekerja. Yang baru mengakui sebagian besar yang perlu diperbaiki memang tidak ada di tangan saya.

Ia juga ditanya berkali-kali soal kecerdasan buatan, dan jawabannya tidak seru: menurutnya alat semacam itu tidak akan dengan sendirinya membuat kerja kepala jadi jauh lebih produktif. Kalau ukurannya tetap kelihatan sibuk, alat yang lebih cepat cuma memperbanyak yang kelihatan. Delapan kotak di dua layar tadi memang menambah keluaran, dan tidak satu pun dari kedelapannya mengurangi jumlah proyek yang datang bulan depan.

Layak dibaca atau tidak

Ambil diagnosisnya, ambil empat resep yang tidak butuh izin siapa pun, lewati sisanya. Buku ini paling berguna buat orang yang punya kendali atas jamnya sendiri: yang kerja lepas, yang punya usaha, yang sedang menulis skripsi. Buat karyawan yang jam dan perhatiannya milik orang lain, sebagian besar isinya cuma bikin sadar bahwa masalahnya bukan di dirinya.

Saya masih sering membuka ponsel tanpa alasan jelas di tengah kerja. Saya masih kalah dari notifikasi. Bedanya sekarang saya tahu persis apa yang sedang terjadi di dalam kepala waktu itu, dan tahu bahwa sebagian dari itu memang bukan salah saya.

Infografis

Infografis Deep Work bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya